Kamis, 04 Agustus 2016

Tentang saya dan N.E.E.T.




Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”. [1]

Prolog
IMHO, pembelajaran yang terbaik adalah pembelajaran yang dilakukan oleh seseorang sesuai dengan umurnya, karena kematangan usia mereka ketika menerima ilmu juga menentukan kualitas ilmu yang mereka terima. 

Tentang saya dan N.E.E.T.

Di Indonesia, zaman sekarang begitu banyak sekolah yang menyediakan fasilitas kelas ‘akselerasi’. Saya tidak mau memberikan pendapat tentang baik buruknya, tetapi tetap saja standar tersebut berbeda dengan negara lain. Tentu setiap sistem memiliki positif negatif. Tetapi, rasanya kita tidak perlu terburu-buru dalam mengembangkan seseorang. Biarkan mereka berkembang pada masanya, tak perlu dipaksakan.

Saya bukanlah alumni dari kelas akselerasi manapun. Kalau boleh dibilang, saya adalah masuk kelas akselerasi zaman TK, karena 4 tahun lebih sudah lulus dari jenjang taman kanak-kanak. Akhirnya saya masuk SD pada umur belum genap 5 tahun karena hal tersebut. Mencari sekolah yang mau menerima pun katanya susahnya minta ampun. Tetapi Allah bertakdir lain. Ternyata kepala sekolah di dekat rumah saya dulu adalah mantan guru SD ibu saya dulu. Akhirnya beliau menerima saya, karena saya sudah bisa membaca.

Sebagai akibatnya, walaupun saya sekolah 12 tahun tanpa ada akselerasi sedikitpun, saya lulus pada umur 16 tahun, belum genap menjadi 17 tahun. Padahal, di perguruan tinggi Jepang, umur untuk anak yang akan ikut kuliah pada jenjang strata satu adalah umur 18 tahun. Mungkin, salah satu tujuannya adalah menunggu kematangan umur si anak.

Lalu, apa yang akan saya lakukan? Apakah lanjut sekolah? Atau….Menjadi N.E.E.T. atau Hikikomori???

N.E.E.T. adalah sebuah akronim dari ‘Not in Education Employment or Training’. Well, bisa juga disebut pengangguran sih, cuma kedengarannya istilah ini lebih keren ketimbang sekadar mengatakan pengangguran. Tetapi, pengangguran tetaplah pengangguran. Dalam waktu kurang lebih 9 bulan…ibu mengandung dan melahirkan kita ke dunia. Ehh salah, maksudnya dalam waktu kurang lebih 9 bulan, saya merasakan bagaimana hidup menjadi seorang pengangguran.

FYI,  jumlah N.E.E.T. menurut data yang ada, jumlah mereka di Jepang ada sekitar 640.000 orang, yang besarnya sama dengan 0.5% dari populasi Jepang. Dan jumlah N.E.E.T yang ada tersebut sebagian besar orang berusia 25 sampai 34 tahun, yang bekisar 60% dari jumlah N.E.E.T secara keseluruhan.[2]

Saking boomingnya istilah ini, sampai ada yang membuat sebuah Anime berjudul Welcome to N.H.K. (Nihon Hikikomori Kyokai) yang bercerita tentang seorang NEETer yang sedang ditolong untuk melepaskan diri dari hal tersebut.

Kembali ke cerita saya, akhirnya di dalam proses menunggu sampai bolehnya kuliah, saya menghabiskan waktu untuk menganggur, yah simpelnya menjadi N.E.E.T. atau pengangguran, menghabiskan waktu untuk menonton berbagai macam judul Anime, sambil belajar banyak hal tentunya. Misalnya belajar bahasa Jepang, belajar untuk masuk universitas, dan lain-lain. Btw, yang berminat berbicara masalah Anime dengan saya, silahkan saja hehehe.

Pada saat itu saya tinggal di apartment khusus keluarga. Uniknya, karena orang yang tinggal di situ orang yang harus berkeluarga. Karena pada setiap hari rabu dan jum'at mereka menyediakan fasilitas belajar bahasa Jepang. Akhirnya saya pun ikut. Tapi, ternyata teman sekelas saya ibu-ibu semua. Ada ibu-ibu Korea, India, dll. Tidak jarang les bahasa Jepang yang niatnya untuk belajar bahasa Jepang, malah digunakan untuk menggoda anak-anak unyu yang dibawa sama ibu-ibu. Di tempat les itu saya banyak belajar, tetapi karena forumnya diskusi, tidak jarang saya belajar tentang belanjaan, diskon, dsb yang menjadi pembahasan ibu-ibu dan guru les yang mengajar. Saya pun sekarang merasa kalau saya ikut hal seperti ini selama 3 tahun, tahun keempatnya mungkin saya memutuskan diri untuk jadi bapak-bapak rumah tangga.

Tulisan ini mungkin kesannya sangat gaje (alias ga jelas). Tapi saya berharap banyak pelajaran yang bisa diambil darinya.

References: 
[1] Al Jawabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah artikel https://muslimafiyah.com/kurang-kegiatan-positif-dan-banyak-waktu-luang-pemuda-bisa-rusak.html#_ftnref1

[2] http://jpninfo.com/11831

Photo courtesy to https://www.facebook.com/tsurayyavisual/?hc_location=ufi
Read More

Selasa, 24 Mei 2016

Kuliah di negara maju (minoritas muslim)

Banyak orang yang memandang kuliah di negara maju (yang minoritas muslim) sebuah kemuliaan. Tapi, terkadang kita lupa risiko yang mungkin didapatkan dari melakukannya. Kalau tidak memiliki basis agama yang benar, maka tidak jarang gaya hidup orang di negara tersebut, atau bahkan orang-orang dari negara lain pada komunitas belajar akan mempengaruhi kita.
Tidak jarang saya melihat orang yang kuliah di luar negeri selulusnya dari SMA yang memiliki pemikiran liberal pada dirinya tanpa dia sadari. Saya sudah melihat banyak contoh, jadi saya bukan mengatakan ini tanpa basis yang kuat. Dugaan kuat saya adalah karena usia remaja yang merupakan usia mencari jati diri, yang sayangnya mereka gunakan pada 'tempat' yang salah.
Ternyata, tidak hanya yang selepas SMA saja, bahkan yang melanjutkan studi S-2, S-3, tidak jarang berubah menjadi berpemikiran liberal selepas dari studi dari negara-negara tertentu. Mengapa? Bisa jadi sebenarnya hal tersebut terjadi karena dari awal memang mereka telah berpikiran liberal, atau bisa jadi dikarenakan mereka gagal fokus. Gagal fokus di sini maksudnya adalah karena apa yang mereka dapatkan melenceng dari apa yang mereka tuju. Misalnya, niat mereka yang awalnya adalah memperoleh ilmu dunia demi menyambung hidup atau mengembangkan diri, tetapi mereka ikut terseret oleh arus kehidupan dan pergaulan di luar negeri sana.
Harus saya akui, bahwa kuliah di luar negeri akan membuka cakrawala berpikir seseorang, yang tadinya berpikir sempit akan menjadi lebih fleksibel karena telah teruji untuk membiasakan hidup di lingkungan heterogen. Hal tersebut juga menyebabkan kita lebih kritis dalam menanggapi sesuatu, tidak 'taklid' terhadap doktrin apa yang dikatakan oleh seseorang, walaupun orang tersebut adalah guru atau orang tua kita sendiri. Hal ini justru memicu seseorang untuk menjadi liberal, karena mereka menganggap bahwa akal pikirannya adalah hal absolut yang tidak bisa dibantah.
Karenanya, basis pemikiran agama yang kuat dibutuhkan oleh seseorang sampai benar-benar mampu menolak segala syahwat dan syubhat yang mungkin didapatkan selama berada di luar negeri. Tentu tidak lupa, untuk membawa serta pasangan yang mengingatkan kita ketika salah jalan karena terbawa arus pergaulan yang mungkin juga terlahir karena rasa kesepian yang harus dibunuh karena kesendirian.
Saya merasa benar-benar bersyukur dengan kajian Golden Week lalu, yang membahas tentang 'Menjadi Islam di Jepang'. Mengingat saya benar - benar sampai ke sini tanpa punya ilmu agama yang mumpuni, dan merasa begitu banyak fitnah dan cobaan yang saya dapatkan, terutama di tahun-tahun awal, yang Alhamdulillah mampu teratasi seiring berjalannya waktu.
Saya tidak akan menyalahkan orang tua yang telah membawa saya ke sini, karena berbicara dengan kata 'lau' atau juga berarti 'seandainya' itu akan membuka pintu syaithan. Tetapi banyak hal positif yang saya dapatkan di sini, seperti mengenal Islam lebih dalam, belajar banyak hal termasuk di dalam studi maupun organisasi sosial, dll saya jadikan sebagai alasan untuk terus menambah syukur. Tetapi, saya tidak pernah lepas dari rasa kewajiban untuk memperingatkan mereka yang memiliki keluarga, entah itu adik, anak, dsb untuk mempertimbangkan banyak hal, terutama psikologis mereka sebelum melepasnya ke luar negeri.
Terakhir, untuk menjadi bahan renungan....Seberapa banyak sih ilmu yang kita dapatkan di negara maju tersebut akan bermanfaat di dalam kubur kita? Ingat saudaraku, hidup kita tidak akan lama...
Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua
Read More

Sabtu, 07 Mei 2016

Catatan Kajian Golden Week part 2: Prinsip dan Metode Mendidik Anak Menurut Para Ulama Bagi Orang Tua

Bismillahirrahmanirrahim


Hari Kamis, 5 Mei 2016, kami mengikuti sebuah kajian yang bertepatan dengan liburan golden week di Jepang. Pada kesempatan ini, kami sempat mencatat beberapa faedah yang kami dapatkan dari kajian tersebut. Berikut ini adalah pembahasannya.



Akhir-akhir ini, di Indonesia sedang booming pemberitaan tentang adik kita Musa, yang ikut di dalam kompetisi hafalan Qur’an di Mesir beberapa waktu yang lalu. Akhirnya banyak orang-orang yang memasukkan anaknya ke pondok-pondok tahfidz dengan tujuan agar memperbanyak hapalan. Tentu hal tersebut adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, tujuan utama dari hal tersebut (mengajarkan Qur’an) adalah agar anak-anak mampu untuk melakukan shalat.



Mengapa mendidik anak?


  • Anak adalah perhiasan dunia yang akan memberi manfaat bagi orang tuanya 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً



“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Qs.al-Kahfi: 46)


Berarti kehadiran anak itu sendiri sudah menjadi sebuah perhiasan dunia, akan tetapi jika tidak dipoles maka dia tidak akan bermanfaat bagi orang tuanya di akhirat kelak. 


Sebaik-baik hal yang dinikmati seseorang, adalah hasil yang didapatkan dari usahanya sendiri. Seperti halnya ketika kita bekerja, tentu kita akan lebih menghargai sesuatu jika hal yang kita dapatkan itu merupakan hasil dari keringat kita sendiri. Begitu juga dengan anak, karena anak itu adalah bagian dari usahanya. 



Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” Dari sebab istighfar anakmu kepadamu”. [1] 


Di dalam sebuah riwayat disebutkan,dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakek ayahnya yaitu Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash, ada seorang yang menemui Nabi lalu mengatakan, 



“Sesungguhnya ayahku itu mengambil semua hartaku.” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk jerih payah kalian yang paling berharga. Makanlah sebagian harta mereka.” (HR. Ibnu Majah, no. 2292, dinilai sahih oleh Al-Albani). 



Dan juga hadits yang tentunya sudah sangat masyhur berikut,  Dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.



Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya. (HR. Bukhari dan Muslim)



Tentu, kita akan ‘kecolongan’, jika menyerahkan pendidikan anak yang masih mampu kita lakukan kepada orang lain semisal guru TPA, pesantren, dll. 



Terkadang kita masih bingung, sebenarnya pengertian anak yang baik itu seperti apa? Pengertian anak baik adalah anak yang akhlaknya bersih, adabnya baik, dan anak ini bisa menyempurnakan agama dirinya sendiri, orang lain, dan orang tuanya.


  • Anak adalah tanggung jawab kepemimpinan orang tua



Selain manfaat yang bisa kita dapatkan dari mereka, sebagai orang tua kita juga memiliki tanggung jawab atas apa yang dilakukan anak.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 


“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi) 


Lalu, apakah yang harus diajarkan kepada anak-anak ?


  • Akidah yang benar


  1. Rasulullah mengajarkan Iman sebelum Al-Qur’an, tetapi kita mengajarkan Qur’an sebelum iman.
  2. Yang perlu diajarkan pada anak-anak ketika dia mulai bisa berbicara, adalah kalimat tauhid, laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah
  3. Setelah mengajarkan mereka berbicara, maka selanjutnya adalah memilihkan mereka teman
  4. Sesungguhnya agama sang anak tergantung pada agama sang guru 


  • Al-Qur’an


  1. Harus langsung kepada guru, agar bisa mempelajari lafalnya secara langsung
  2. Tidak tergesa-gesa dalam menghapalkan


  • Perintah kepada shalat dan ilmu tentang thaharah


  1. Ilmu thoharoh, pada umur-umur awal mereka wajib belajar tentang wudhu, setelah umur dewasa mereka mesti belajar tentang hal-hal yang perlu mereka lakukan untuk mandi janabah


  • Mengajarkan ilmu-ilmu syar’i yang berguna baginya


  1. Aurat
  2. Tidak boleh menyentuh lawan jenis setelah baligh
  3. Tidak boleh mencuri, berdusta, dll


  • Mengajarkan puasa


  1. Shalat tarawih, 
  2. Pembatal-pembatal puasa 
  3. Dan lain-lain


  • Akhlak dan adab yang baik (terutama perempuan)


  1. Di antara adab yang paling penting untuk dipelajari dalam islam adalah adab kepada orang tua (hadits tentang yang tidak menghormati orang tua dan menyayangi yang lebih muda)


  • Mengajarkan anak hal-hal yang baik dan menjauhkan mereka dari yang buruk


  1. Memerintahkan untuk hal-hal yang sunnah
  2. Melarang dari hal-hal yang diharamkan


  • Mengajarkan anak berpakaian yang baik

Dan yang terpenting adalah


Orang tua HARUS memberi contoh dalam proses pendidikan tersebut...



[1] Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/294, 2954, dan dikeluarkan Ahmad di dalam Musnad, 2/509. *dicopas dari https://almanhaj.or.id/3032-buah-hati-antara-perhiasan-dan-ujian-keimanan.html
Read More

Catatan Kajian Golden Week part 1: Menjadi Seorang Muslim di Jepang

Bismillahirrahmanirrahim


Hari Kamis, 5 Mei 2016, kami mengikuti sebuah kajian yang bertepatan dengan liburan golden week di Jepang. Pada kesempatan ini, kami sempat mencatat beberapa faedah yang kami dapatkan dari kajian tersebut. Berikut ini adalah pembahasannya.



Kehidupan sebagai muslim di Jepang terdapat banyak kesulitan. Masalah makanan, minuman, dan lain-lain. Tetapi, yang menjadi kesulitan terbesar adalah kesulitan dalam bertauhid. Misalnya saja, ketika kita ikut-ikutan mempersembahkan koin di dalam kuil sepertinya yang dilakukan oleh orang Jepang.



Di dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji)  sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.” Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.” [1]



Lalu, yang menjadi pertanyaan, bolehkah seseorang muslim tinggal di Jepang? Jawabannya adalah tidak boleh



Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari muslim yang tinggal di negeri yang nampak nyata kemusyrikannya. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,  



dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir bin Abdullah sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Saya berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal bersama-sama dengan orang-orang musyrik” Mereka bertanya : “Kenapa wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Tidak boleh saling terlihat api keduanya” [2]



Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku membaiatmu agar engkau beribadah kepada Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap muslim, serta memisahkan diri dari orang musyrik. [3]



Tetapi, pada kasus-kasus tertentu, melakukan perjalanan bahkan tinggal di negeri kafir pun diperbolehkan, seperti yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah semisal pada saat melarikan diri ke habasyah atau untuk mengirimkan delegasi-delegasi kaum muslimin ke negara-negara kafir untuk berdakwah.



Namun, sebelum melakukan hal tersebut perlu untuk menimbang maslahat dan mudharatnya. Di dalam ilmu ushul fiqh, kita mempelajari bahwa di dalam menimbang suatu permasalahan kita harus meninggalkan sesuatu yang mudharatnya lebih besar ketimbang maslahat yang bisa didapatkan. Yang perlu digaris bawahi, mudharat yang dimaksud adalah mudharat pada diri sendiri.



Karenanya, ketika kita berniat ke Jepang, selain memastikan bahwa ada maslahat yang bisa kita dapatkan darinya, kita juga harus menimbang syubhat dan syahwat yang ada di sini. 



Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin , bepergian ke negeri kufur itu boleh, tetapi harus memenuhi tiga syarat berikut:


  1. Memiliki ilmu yang dapat menjaganya dari syubhat
  2. Memiliki kekuatan agama yang diharapkan dapat menjaganya dari syahwat
  3. Adanya keperluan atas hal tersebut (bahkan, status hukum ilmu yang tadinya mubah bisa berubah menjadi fardhu kifayah)
Lalu, ilmu apa sajakah yang dibutuhkan? Ilmu yang dapat menjaga diri dari syubhat dan syahwat secara garis besar ada dua,

  1. Ilmu akidah, yang termasuk di dalamnya rukun iman dan rukun islam
  2. Ilmu syariat yang membentengi dirinya dari hal-hal yang mungkar (haram dan maksiat).
Lalu, bagaimana dengan yang sudah terlanjur di Jepang?

PELAJARILAH AGAMA ANDA, sebelum semuanya TERLAMBAT…

[1] Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud hal. 15, dari Thoriq bin Syihab dari Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 1: 203, Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya 6: 477, 33028. Hadits ini mauquf shahih, hanya sampai sahabat. Lihat tahqiq Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal. 49, terbitan Darus Salam. *dicopas dari https://rumaysho.com/3014-hanya-karena-sesaji-berupa-lalat-membuatnya-masuk-neraka.html

[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Kitabul Jihad, bab “Larangan Membunuh Orang yang Menyelamatkan Diri Dari Bersujud”, dan At-Tirmidzi, Kitabus Siar, bab “Makruhnya Tinggal Di Antara Orang-Orang Musyrik” *dicopas dari https://almanhaj.or.id/999-syarat-tinggal-di-negeri-kafir.html

[3] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i


Read More

Kamis, 31 Maret 2016

Menerjemahkan dokumen berbahasa Jepang dengan menggunakan aplikasi google translate pada iPhone

Bismillahirrahmanirrahim
Berikut ini cara untuk menerjemahkan dokumen berbahasa Jepang dengan menggunakan aplikasi google translate pada iPhone (mungkin juga ada pada android, tetapi berhubung saya tidak punya jadi saya tidak tahu pasti).
1. Siapkan dokumen yang akan diterjemahkan
2. Buka aplikasi google translate, lalu klik icon kamera yang ada di bawah ini
3. Setelah itu klik icon album yang ada bagian kiri bawah
4. Pilih foto dari dokumen yang ingin diterjemahkan
5. Lalu akan muncul gambar seperti yang ada di bawah ini,
6. Setelah proses pembacaan selesai, anda punya dua pilihan ;
  • Menerjemahkannya word by word dengan cara menyentuh sebagian kata atau kalimat dengan jari seperti di bawah ini,
  • Menerjemahkan seluruh tulisan yang ada di foto dengan menekan tombol yang saya tunjukkan di bawah ini,
Setelah itu akan muncul hasilnya seperti gambar di bawah ini, lalu klik tanda panah putih di dalam lingkaran biru

Lalu, akan muncul hasil seperti yang ada di bawah ini.
IMHO, menerjemahkan kata/kalimat satu per satu lebih mudah dilakukan, terutama jika kita sudah paham ‘grammar’ bahasa Jepang. Selain itu, jika anda memiliki kemampuan lisan untuk bertanya dalam bahasa Jepang, tentu akan lebih baik jika ditanyakan pada orang-orang Jepang terdekat di sekitar anda.
Akhir kata, semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Read More

Rabu, 23 Maret 2016

Tawadhu'

Abu Hurairah meriwatkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikan(derajat)nya.” (HR. Muslim)

Tawadhu' karena Allah mengandung dua makna:
1. Tawadhu' terhadap agama Allah, jangan bersikap sombong terhadap agama-Nya dan jangan sombong untuk menjalankan hukum-hukumnya.
2. Tawadhu' terhadap hamba-hamba Allah karena Allah, bukan karena takut kepada mereka, bukan pula karena mengharapkan apa yang ada di sisinya, akan tetapi karena Allah Ta'ala.

Kedua makna tersebut benar. Barangsiapa tawadhu' karena Allah, maka Allah Ta'ala akan angkat derajatnya di dunia dan di akhirat. Ini merupakan perkara yang banyak disaksikan bahwa orang yang bertawadhu' mendapatkan posisi tinggi di hati orang-orang, namanya baik, dan orang-orang pun mencintainya.*)

Semoga Allah melapangkan hati kita agar kita lebih mampu untuk bersikap tawadhu', untuk meraih keridhaan Allah, dan semoga Allah menghindarkan kita dari kesombongan, yang sekecil apapun kita memilikinya akan menghindarkan kita dari surga.

Sumber: diketik ulang dari terjemahan Syarah Riyadush Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bab Rendah Hati kepada Sesama Mukmin
Read More

Senin, 25 Januari 2016

Mendekati Bapak si Cewek

Teringat sebuah kalimat dari sebuah ceramah, "Dulu, pada zaman Rasulullah, ketika para sahabat yang memiliki anak wanita ingin menikahkan anaknya, maka yang dia lakukan adalah mencari lelaki shaleh, dimanapun itu, entah di masjid atau tempat lainnya."
Kalau dipikirkan lagi, orang yang akan menerima lamaran si wanita adalah ayahnya atau walinya, lalu mengapa harus ada istilah pacaran untuk mendekati sang wanita? Bukankah hal itu adalah hal yang sia-sia? Karena dibalik sebuah hubungan juga pasti ada kebohongan, saling menutup-nutupi hanya membaguskan diri sebatas pandangan? Seandainya si wanita akhirnya jatuh cinta pada anda tetapi ternyata orang tuanya sangat tidak suka kepada anda, bukankah anda sedang mengajarkan seseorang untuk menjadi anak yang membangkang kepada orang tuanya?
Saya juga teringat kisah tentang seseorang yang saya kenal, yang telah lama pacaran dengan pacarnya, namun akhirnya sang pacar malah dinikahkan dengan wanita lain pilihan ayahnya...Hmm...Artinya, sebuah ikatan bernama 'pacaran' pun tidak akan pernah menjadi jaminan yang kuat.
Di antara keuntungan 'mendekati' bapak si cewek
1. Melawan arus mainstream, karena macarin sang cewek sudah terlalu mainstream
2. Tidak perlu takut mendekati zina
3. Bisa sekalian nambah relasi dan menyambung ukhuwah
4. Kalau mau merayu pake metode 'bapak kamu', tinggal nyari pekerjaan si bapak dan bilang ke dia kayak gini;
"Bapak dosen yah?"
Si bapak bakalan jawab
"Kok tahu?"
Trus jawab aja
"Anak bapak telah mengajarkan saya cinta"
Kalau merayu kayak gini, nggak bakal ada juga yg klepek2 kecuali si bapak yang emang ganjen, tapi kayaknya nggak mungkin sih...
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.
Featured