Sabtu, 10 Desember 2011

Haya' atau rasa malu...

Bismillahirrahmanirrahim...Baru aja pulang dari kelas hadits, sekalian disebarkan agar bisa bermanfaat bagi orang lain Insya Allah...Semoga Allah menjaga keikhlasanku...Ehh...Alhamdulillah, nemu sebuah sumber dimana kontennya hampir sama dengan yang tadi diajarkan, jadi gak perlu ngetik terlalu banyak...Tinggal ditambah2in aja...Kalau mau lebih lengkap lagi, silahkan cek sumbernya...Artikel ini saya udah potong2 sebagian soalnya...*sumber ada dibawah...

Dimulai dengan menuliskan sebuah hadits yang diambil dari Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”(HR. Bukhari)
Nah, kita kadang bertanya-tanya, apakah pengertian dari haya', atau apa sebenarnya definisi dari haya' itu sendiri? Berikut ada beberapa penjelasan dari Ulama tentang pengertian haya',

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.

Al-Junaid rahimahullâh berkata, “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.’”[Madârijus Sâlikîn (II/270). Lihat juga Fathul Bâri (X/522) tentang definisi malu.]
Kesimpulan definisi di atas ialah bahwa malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain.[Lihat al-Haya' fî Dhau-il Qur-ânil Karîm wal Ahâdîts ash-Shahîhah (hal. 9).]

Salah satu keistimewaan dari hadits ini sendiri adalah karena hal ini adalah ajaran para Nabi sejak Nabi Adam 'Alaihissalam sampai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Dan seperti kita tahu, ajaran para nabi, sejak nabi pertama hingga nabi terakhir, ada yang sudah sirna dan ada yang tidak. Dan di antara ajaran yang tidak pernah sirna adalah rasa malu. Hal ini menunjukkan bahwa rasa malu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama. Oleh karena itu harus mendapat perhatian yang mendalam.

Malu itu sendiri memiliki banyak keutamaan, berikut ini adalah keutamaan malu:

1). Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.
“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” (Muttafaq ‘alaihi)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.
“Malu itu kebaikan seluruhnya.”
[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37/60), dari Shahabat ‘Imran bin Husain]
Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit.

2). Malu adalah cabang keimanan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.”
[Shahîh: HR.al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abû Dâwud (no. 4676), an-Nasâ-i (VIII/110) dan Ibnu Mâjah (no. 57), dari Shahabat Abû Hurairah. Lihat Shahîhul Jâmi’ ash-Shaghîr (no. 2800).]

3). Allah Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang malu.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.”
[Shahîh: HR.Abû Dawud (no. 4012), an-Nasâ-i (I/200), dan Ahmad (IV/224) dari Ya’la Radhiyallahu 'anhu]

4). Malu adalah akhlak para Malaikat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.

“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.” [Shahîh: HR.Muslim (no. 2401)]

5). Malu adalah akhlak Islam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940)]

6). Malu sebagai pencegah pemiliknya dari melakukan maksiat.

Ada salah seorang Shahabat Radhiyallahu 'anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya, “Sungguh, malu telah merugikanmu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.

“Biarkan dia, karena malu termasuk iman.”
[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 24, 6118), Muslim (no. 36), Ahmad (II/9), Abû Dâwud (no. 4795), at-Tirmidzî (no. 2516), an-Nasâ-i (VIII/121), Ibnu Mâjah (no. 58), dan Ibnu Hibbân (no. 610) dari Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu.]

Abu ‘Ubaid al-Harawi rahimahullâh berkata, “Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karena rasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman yang mencegah antara dia dengan perbuatan maksiat.” [Fathul Bâri (X/522).]

7). Malu senantiasa seiring dengan iman, bila salah satunya tercabut hilanglah yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.

“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”

[Shahîh: HR.al-Hâkim (I/22), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/223), al-Mundziri dalam at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3827), Abû Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (IV/328, no. 5741), dan selainnya. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3200).]

8). Malu akan mengantarkan seseorang ke Surga.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.”[Shahîh: HR.Ahmad (II/501), at-Tirmidzî (no. 2009), Ibnu Hibbân (no. 1929-Mawârid), al-Hâkim (I/52-53) dari Abû Hurairah t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 495) dan Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3199).]

Sifat malu itu sendiri bisa dimiliki dengan dua cara, ada yang memang natural sejak lahir, dan ada juga yang didapatkan.
1). Malu yang merupakan tabiat dan watak bawaan
Malu seperti ini adalah akhlak paling mulia yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إلاَّ بِخَيْرٍ.

“Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” [Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37)]

Malu seperti ini menghalangi seseorang dari mengerjakan perbuatan buruk dan tercela serta mendorongnya agar berakhlak mulia. Dalam konteks ini, malu itu termasuk iman. Al-Jarrâh bin ‘Abdullâh al-Hakami berkata, “Aku tinggalkan dosa selama empat puluh tahun karena malu, kemudian aku mendapatkan sifat wara’ (takwa).”[Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/501).]

2). Malu yang timbul karena adanya usaha.

Yaitu malu yang didapatkan dengan ma’rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla ) dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari iman. Siapa saja yang tidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabi’at maupun yang didapat dengan usaha, maka tidak ada sama sekali yang menahannya dari terjatuh ke dalam perbuatan keji dan maksiat sehingga seorang hamba menjadi setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dengan tubuh manusia. Kita memohon keselamatan kepada Allah Azza wa Jalla.[Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 181)]

Dan sifat malu itu ada yang baik, ada juga yang buruk, dan sifat malu yang buruk adalah malu yang menyebabkan kita menyimpang dari ajaran Islam. Berikut ini ada penjelasan tentang 'Malu' yang menyimpang dari syariat Islam:

Qâdhi ‘Iyâdh rahimahullâh dan yang lainnya mengatakan, “Malu yang menyebabkan menyia-nyiakan hak bukanlah malu yang disyari’atkan, bahkan itu ketidakmampuan dan kelemahan.
Adapun ia dimutlakkan dengan sebutan malu karena menyerupai malu yang disyari’atkan.”[26] Dengan demikian, malu yang menyebabkan pelakunya menyia-nyiakan hak Allah Azza wa Jalla sehingga ia beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agamanya, menyia-nyiakan hak-hak dirinya sendiri, hak-hak orang yang menjadi tanggungannya, dan hak-hak kaum muslimin, adalah tercela karena pada hakikatnya ia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. [Lihat Qawâ’id wa Fawâid (hal. 182)]

Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syar’i, malu mengaji, malu membaca Alqur-an, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim, malu untuk shalat berjama’ah di masjid bersama kaum muslimin, malu memakai busana Muslimah yang syar’i, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela karena akan menghalanginya memperoleh kebaikan yang sangat besar.

Tentang tidak bolehnya malu dalam menuntut ilmu, Imam Mujahid rahimahullah berkata,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.

Artinya : “Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu.” [Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri secara mu’allaq dalam Shahîh-nya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ' fil ‘Ilmi dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jâmi’ bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/534-535, no. 879).]
Ummul Mukminin ‘Âisyah radhiyallâhu ‘anha pernah berkata tentang sifat para wanita Anshâr,

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ ، لَـمْ يَمْنَعْهُنَّ الْـحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِـي الدِّيْنِ.

Artinya : “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshâr. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu Agama.” [Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahîhnya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ' fil ‘Ilmi secara mu’allaq.]

Para wanita Anshâr radhiyallâhu ‘anhunna selalu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika ada permasalahan agama yang masih rumit bagi mereka. Rasa malu tidak menghalangi mereka demi menimba ilmu yang bermanfaat.

Manfaat Malu

Buah dari rasa malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Siapa saja yang memiliki rasa malu hingga mewarnai seluruh amalnya, niscaya ia akan berlaku ‘iffah. Dan dari buahnya pula adalah bersifat wafa' (setia/menepati janji).

Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena, manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah dan saat berhubungan sosial dengan orang lain.

Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup. [Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ' (hal. 55).]

Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya; siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia; siapa yang dibenci manusia pasti ia akan disakiti; siapa yang disakiti pasti akan bersedih; siapa yang bersedih pasti memikirkannya; siapa yang pikirannya tertimpa ujian, maka sebagian besar ucapannya menjadi dosa baginya dan tidak mendatangkan pahala. Tidak ada obat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu; tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya dan berucap apa saja yang disukainya.” [Ibid (hal. 55).]

Kesimpulan

Rasa malu itu banyak sekali manfaatnya. Karena rasa malu yang menjaga diri kita dari maksiat, dan rasa malu pula yang menjaga diri kita dari menjatuhkan harga diri kita dihadapan orang lain. Rasa malu-lah yang menjamin kita untuk tidak bermaksiat disaat kita sendang sendiri. Dan rasa malu pula yang menjaga kita untuk tidak berbuat maksiat dihadapan orang lain. Namun, beda derajatnya jika kita hanya malu untuk tidak berbuat maksiat hanya dihadapan orang lain, tapi kita tidak malu melakukan maksiat dihadapan Allah, karena ini adalah salah satu tanda kemunafikan. Rasa malu lah yang menjadi pembeda antara Nabi Adam dan Iblis ketika berbuat kesalahan. Ketika Nabi Adam 'Alaihissalam berbuat kesalahan, beliau malu kepada Allah dan segera bertaubat kepada Allah. Berbeda dengan syaithan, dia berbuat kesalahan, dan mencari pembenaran atas kesalahan yang dia lakukan, dengan membuat perbandingan antara dia dan Adam 'Alaihissalam.




Referensi: http://almanhaj.or.id/content/2557/slash/0
Read More

Sabtu, 03 Desember 2011

Mutiara Hatim

Ilmu adalah mata pencaharian paling utama, gelar paling mulia, simpanan paling berharga, dan buah termanis yang dapat dipetik, tidak ada seorang ‘pekerja’pun yang mendapatkan ‘gaji’ yang lebih berharga dari ilmu yang dapat menuntunnya ke jalan yang benar serta menyelamatkannya dari kesesatan. Barang siapa yang dimudahkan menuntut ilmu niscaya Allah Ta’ala akan memudahkan jalannya menuju surga.
Para salafuhs shalih tiada pernah menyia-nyiakan waktunya melainkan hanya untuk ilmu. Demikian halnya dengan kisah sarat hikmah dari Hatim rahimahullah. Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Balkhyrahimahullah, bahwa dia pernah bertanya kepada Hatim: “Sudah berapa lama engkau menyertai aku. Lalu apa saja pelajaran yang bisa engkau serap?”
Hatim menjawab: “Ada delapan macam:
1. Aku suka mengamati manusia. Ternyata setiap orang ada yang dicintainya. Namun jika dia sudah dibawa kekuburannya, toh dia harus berpisah dengan sesuatu yang dicintainya. Maka kujadikan yang kucintai adalah kebaikanku, agar kebaikanku itu tetap menyertaiku di kuburan.
Jiwa manusia akan menjadi baik jika mereka senantiasa ingat akan tempat kembalinya. Jika seorang hamba ingat bahwa ia akan berbantalkan tanah sendirian dalam kuburnya tanpa ada teman yang menghiburnya, tanpa disertai orang yang dicintainya; ingat bahwa tidak ada yang berguna selain amal shalihnya, ingat bahwa seluruh manusia tidak berdaya meringankan sedikitpun siksa kubur darinya, ingat bahwa seluruh urusannya berada di tangan Allah Ta’ala, ketika itulah ia yakin bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amalnya hanya kepada Allah semata, Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri.
Kebaikan adalah sesuatu yang sangat berguna bagi setiap jiwa kelak di akhirat. Semua jiwa akan berpisah dengan apa yang menyertainya tatkala di dunia kecuali 3 hal, sebagaimana sabda Rasulullahshallallahu’alaihi wa’ala alihi wasallam,
Jika seseorang mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akannya.” (HR.Muslim).
Salah satu contoh kebaikan adalah amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan untuk melakukan kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Ini merupakan bentuk peningkatan derajat seseorang dan perbuatan baik kepada orang lain. Eksistensinya akan menjamin kesejahteraan umat, melanggengkan setiap kenikmatan, menyebarkan rasa aman, menjamin terijabahnya do’a dan menolak segala makar dan tipu daya musuh. Melalui hal ini segala budi pekerti dan sifat mulia tumbuh berkembang di masyarakat, diiringi dengan surutnya setiap dosa dan kemungkaran.
2. Kurenungi firman Allah subhanahu wa ta’ala, “… dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.” (QS. An-Nazi’at: 40). Maka sebisa mungkin aku mengenyahkan hawa nafsu, hingga jiwaku menjadi tenang karena taat kepada Allah Azza wa Jalla.
Hawa nafsu merupakan faktor terbesar yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah Ta’ala, sehingga dalam hal ini manusia dikelompokkan dalam dua kriteria, yakni pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangkan pertarungan melawannya. Ia mampu mengekangnya, menundukkannya dan nafsu pun tunduk di bawah perintahnya.
Amirul mukminin Ali Bin Abi Thalib berkata: “Medanmu yang pertama adalah nafsumu. Jika kamu menang atasnya maka kamu atas yang selainnya lebih mampu. Dan jika kamu kalah di dalamnya, niscaya kamu atas yang selainnya lebih kalah lagi, maka cobalah mengalahkan nafsumu terlebih dahulu.”
Setiap mukmin mempunyai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah). Dia tenang di pintu ma’rifah terhadap asma’ dan sifat Allah Ta’ala dengan berdasarkan kabar dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dia tentram atas takdir Allah Ta’ala, menerima dan meridhainya, tidak benci dan berkeluh kesah, tidak pula terguncang keimanannya, tidak berputus asa atas sesuatu yang lepas darinya, pun tidak berbangga atas apa yang dimilikinya, sebab semua musibah dan kenikmatan telah ditakdirkan oleh-Nya jauh sebelum musibah dan kenikmatan itu sampai kepadanya, bahkan sebelum ia diciptakan.
3. Setelah kuamati aku tahu bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang bernilai dalam pandangannya, lalu dia pun akan menjaganya. Kemudian kuamati firman Allah Ta’ala: “Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96). Oleh karenanya, setiap kali aku mempunyai sesuatu yang berharga, maka aku segera menyerahkannya kepada Allah Ta’ala, agar dia kekal di sisi-Nya.
Setiap pakaian yang kita gunakan pasti akan hancur, makanan yang kita makan akan habis, kecuali harta yang kita nafkahkan di jalan Allah Ta’ala, itulah hakekat harta yang kita miliki. Shadaqah ibarat benteng antara seseorang dengan api neraka. Orang yang ikhlas dan menyembunyikan shadaqahnya akan mendapat naungan pada hari kiamat tat kala tiada naungan selain naungan Allah Azza wa Jalla. Kemudian ia dipanggil untuk memasuki Baabus Shadaqah –salah satu pintu surga untuk orang-orang yang gemar bershadaqah-.
Orang yang bakhil (kikir) seakan terkurung dari semua amal sosial, terhalang dari banyak kebaikan, dan tidak pernah merasa lega. Dadanya sempit dan nafasnya pun sesak, ia jarang terlihat senang dan selalu dirundung kesedihan, hajatnya hampir tidak pernah terlaksana dan hampir tiada seorangpun sudi menolongnya. Allah Ta’ala berfirman,
Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).
Seorang penyantun yang beriman akan dekat kepada Allah Ta’ala dan dicintai manusia dan kaum kerabatnya. Ia dekat dengan surga dan jauh dari api neraka. Namun orang yang kikir pasti dijauhi manusia. Ia pun dekat dengan neraka dan jauh dari surga.
4. Kulihat banyak orang yang kembali kepada harta, keturunan, kemuliaan dan kedudukannya. Padahal semua ini tidak ada artinya apa-apa. Lalu kuamati firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13). Karena itu aku beramal dalam lingkup takwa, agar aku menjadi mulia di sisi-Nya.
Kebanyakan dari manusia sangat berbangga atas harta yang mereka miliki, keturunan yang ia punyai serta pangkat, jabatan dan kedudukan yang ia dapatkan. Mereka menilai segala sesuatu berdasarkan ketiga hal tersebut. Seseorang akan dinilai mulia jika di dalam dirinya terdapat salah satu atau ketiga hal tersebut. Mempunyai rumah mewah dan mobil mengkilat adalah suatu kepastian bagi mereka bahwa dia adalah orang yang paling mulia, meskipun ia senantiasa bergelimang dalam kemaksiatan. Lain halnya dengan orang yang miskin papa, walaupun ia orang yang ahli ilmu dan ibadah, mereka menilai bahwa ia adalah orang yang paling hina di dunia ini. Sungguh suatu yang sangat terbalik keadaannya.
Dunia adalah sesuatu yang sangat hina di hadapan Allah Ta’ala. Seandainya di dunia ada kemuliaan seberat sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan minum setetespun kepada orang kafir. Demikian halnya perumpamaan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ala alihi wasallam tentang dunia yang diibaratkan dengan bangkai kambing yang cacat, tidak berharga sama sekali.
Takwa adalah segala-galanya. Dengannya Allah akan mencintai dan meridhainya. Allah Ta’ala akan memberikan solusi dari setiap permasalahan yang menimpa manusia jika mereka bertakwa. Tiadalah kebaikan yang paling baik melainkan bertakwa kepada Rabb yang Maha Pencipta, Pengatur dan Maha Memiliki.
5. Kulihat manusia sering iri dan dengki. Lalu kuamati firman Allah Ta’ala: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Zukhruf: 32). Karena itu kutinggalkan sifat iri dan dengki.
Hasad merupakan salah satu penyakit hati. Ia adalah penyakit yang banyak menjangkiti mereka yang saling bersaing; baik karena kebencian salah seorang dari mereka atas yang lain, atau karena yang satu lebih unggul dari pesaingnya. Hasad termasuk salah satu celah pintu masuk syetan yang sangat berbahaya, selain itu ia juga merupakan salah satu sifat tercela orang Yahudi.
Hasad adalah suatu bentuk penentangan terhadap Allah Ta’ala, karena orang yang hasad tidak suka terhadap nikmat Allah yang Dia berikan kepada salah seorang hamba-Nya. Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala menyukai nikmat yang Dia berikan kepada hamba-Nya tadi, sedang si pendengki menginginkan hilangnya nikmat tersebut, maka ia telah menentang takdir Allah Azza wa Jalla, dan menentang apa yang Allah suka dan yang Allah benci.
Ibnul Qayyim mengatakan: “Di antara masalah yang paling berat dan sulit bagi hawa nafsu, yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang mendapat karunia besar dari Allah Ta’ala adalah memadamkan kedengkian si pendengki yang jahat dan selalu mengganggu, dengan berbuat baik kepadanya. Jadi semakin bertambah kedengkian, kejahatan, dan gangguannya, Anda justru harus bertambah baik kepadanya, bertambah prihatin dan semakin gigih menasehatinya.”
6. Kulihat manusia saling bermusuhan. Lalu kuamati firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya syetan itu musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian).” (QS. Fathir: 6). Karena itu aku tidak mau bermusuhan dengan mereka dan hanya syetan semata yang kujadikan musuh.
Tiadalah kewaspadaan yang sangat harus dimiliki kecuali terhadap syetan. Waspada terhadap segala gangguannya, waspada terhadap segala tipu dayanya dan waspada terhadap segala makarnya. Ia tidak akan pernah berhenti hingga manusia mengikuti jalan kesesatannya. Ia benar-benar musuh yang sangat pantas untuk dimusuhi, karena ia-lah sumber dari permusuhan.
Manusia saling bermusuhan tak lain hanyalah akibat sulutan api yang dikobarkan oleh syetan. Pun mereka akan berbaikan jika mereka mau menyiramkan air kepada api yang dipercikkan oleh syetan. Oleh karenanya, tiadalah gunanya jika harus bermusuhan dengan manusia jika semua itu disebabkan oleh syetan. Hendaknya pertemanan dan permusuhan di antara manusia tak lain haruslah karena Allah Ta’ala, bukan karena yang lain agar syetan tertutup untuk membalikkan keadaan. Yang seharusnya menjadi musuh dijadikan teman dan yang seharusnya menjadi teman dijadikan musuh.
7. Kulihat manusia menghinakan diri mereka untuk mencari rezeki. Lalu aku amati firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki.” (QS. Hud: 6). Karena itu aku menyibukkan diri dalam perkara yang memang menjadi kewajibanku dan kutinggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya.
Bekerja untuk mencari rezeki telah menjadi pemikiran kebanyakan manusia; dari si Kecil yang ‘menyanyikan’nya sampai si Tua yang masih terus mengejarnya. Demikian pula sebagian besar problematika kehidupan, topik pembicaraan dan berbagai kejadian, selalu saja berputar dalam persoalan yang bernama ‘mencari rezeki’. Namun demikian, seorang mukmin yang cerdas senantiasa mengembalikan urusan rezeki tersebut kepada ‘si empunya’ rezeki, yakni Allah subhanahu wa ta’ala.
Rezeki yang sudah ditetapkan menjadi bagian kita, maka ia akan pasti sampai kepada kita dalam kondisi selemah apapun; demikian sebaliknya. Oleh karenanya janganlah terlalu membuang-buang waktu dan susah-susah memikirkan rezeki yang sudah dijamin untuk kita. Jangan hanya karena mencari rezeki kita menghinakan diri dengan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, sehingga ada ungkapan nista yang muncul akhir-akhir ini: “Cari yang haram saja susah apalagi yang halal.
Seorang mukmin yang tangguh adalah ia tetap berusaha mengais rezeki yang disediakan Allah Ta’ala tanpa mengabaikan tawakkal kepada-Nya. Janganlah terlalu ambisius dalam mewujudkan keinginan, karena yang demikian itu dapat mengeluarkan seseorang dari koridor tawakkal. Tatkala manusia tamak untuk merealisasikan keinginannya, maka manusia akan percaya 100% atas segala usahanya dan lupa berserah diri.
Ingatlah, kadangkala Allah Ta’ala menutup suatu jalan bagi manusia lantaran hikmah-Nya, namun Dia akan membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagi kita dikarenakan rahmat dan karunia-Nya. Maka barangsiapa yang ingin menjadi orang yang paling tangguh, hendaklah ia bertawakkal kepada Allah; dan barangsiapa yang ingin menjadi orang yang paling berkecukupan hendaklah ia lebih percaya terhadap apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri.
8. Kuamati mereka mengandalkan perdagangan, usaha dan kesehatan badan mereka. Tapi aku mengandalkan Allah dengan bertawakkal kepada-Nya.
Tawakkal merupakan sebuah tingkat kedudukan (manzilah) yang amat tinggi dari berbagai tingkat kedudukan yang ada dalam Islam. Allah pun menjadikan tawakkal sebagai salah satu sebab untuk mendapatkan kecintaan-Nya. Di dalam sikap tawakkal terkandung ridha Allah yang Maha Penyayang, serta benteng kokoh dari godaan syetan.
Barangsiapa berhasil mewujudkan sikap tawakkal maka ia akan masuk surga tanpa hisab. Adapun nilai-nilai duniawi maka kadangkala justru diperoleh oleh orang yang santai dan justru kadang-kadang luput dari kejaran orang yang sungguh-sungguh; kadangkala ia justru menjadi bagian mereka yang ‘gagal’ dan meleset dari perhitungan mereka yang ‘sukses’, tidak ada yang lebih mendekatkan seseorang dari yang ia tuju tersebut melainkan tawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Tawakkal membuahkan ketentraman dalam hati, menstabilkan jiwa, melumpuhkan tipu daya musuh, dan ia merupakan sebab utama yang menjadikan seseorang mampu menolak gangguan dan aniaya orang lain yang tidak tertahankan. Dengan tawakkal pula hati seseorang akan merasa tidak butuh terhadap apa yang ada pada orang lain.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidaklah seseorang berharap dan bertawakkal kepada suatu makhlukpun, melainkan makhluk itu akan mengecewakan dan memupuskan harapannya; namun barangsiapa menyerahkan segenap urusannya kepada Allah, niscaya ia akan mendapat yang ia cita-citakan.” *)
Demikianlah delapan mutiara hikmah dari Hatim. Semoga kita mampu merenungkannya dan mengamalkan apa yang menjadi buah pelajaran yang dipetik oleh Hatim selama ia menuntut ilmu kepada Syaqiq Al-Balkhy rahimahullahu ta’ala ajma’in.
Wallahua’lamubishshawab.
Sumber:http://darmantomuat.wordpress.com/2010/02/01/8-mutiara-hatim/
Read More

Jumat, 04 November 2011

4 Tipe Kepribadian

Ana paling suka posting yang kayak ginian. Tapi bukan berarti percaya yang seperti ini, lagipula ini bukan ramalan bintang, tetap berdasarkan penelitian. Tapi bukan untuk dipercaya 100%. Wallahu a'lam bishowwab.

“Plegmatis: Manusia Berjiwa Tanah yang Bijak”

Sori Gan, ngaret jauh dari jadwal. Ane lagi sakit pala. Kena elemental Angin kebanyakan.

Ciri-cirinya:

Orang plegmatis memiliki karakter seperti unsur tanah. Tanah (termasuk batu) itu keras, gelap, ga mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, monoton, di bawah. Orang semacam ini cenderung tampak misterius karena ga banyak ngomong. Ariel Peterpan juga punya unsur ini sehingga ia terkesan misterius bagi para penggilanya. Orang plegmatis males banyak ngomong. Mereka lebih suka mengamati. Kalo pas ngomong, bhwueeeh…Gan, Gan…bijak abiez. Tapi penampilan mereka keliatan kayak pemalas, lelet, dan lamban. Ini karena pengaruh sifat elemental tanah yang keras. Orang plegmatis juga cenderung berteguh pendirian. Mereka ga akan berubah kalo ga dibentuk seperti tanah liat atau batu pahat. Mereka berubahnya kalo sudah disuruh. Punya temen yang cenderung pendiam ga Gan? Kalo bikin lelucon sekali pasti bikin ketawa kan? Nah itulah orang plegmatis.

Orang plegmatis mukanya keliatan seperti orang yang ga niat hidup. Mereka suka santai, jadi klo duduk jarang tegak. Cenderung tertopang. Jalannya pelan tapi pasti. Mereka ga keberatan menyendiri karena mereka ga butuh orang lain untuk tetap hidup. Jadi kalo di lingkungan Agan ada orang yang cenderung suka menyendiri, unsur tanahnya tinggi. Suka warna gelap karena tanah unsur gelap. Kalo dicandain yang berjenis meledek, asal sudah cukup akrab, mereka ga ngebales atau nge-les(menghindar), tapi malah menerima sambil ketawa.

Orang plegmatis lebih suka dengan orang yang bisa jadi teladan. Mereka suka keamanan dan kenyamanan. Pokoknya mereka memuja perdamaian. Daripada rebut mending menghindar atau diam. Bagusnya, orang plegmatis ini betah dengan hal yang monoton seperti jalanan tanah yang berkali-kali diinjak-injak orang. Mereka ga pernah mengeluh. Daripada mengeluh mending diam dan terus bekerja.

Kelemahan:

Kelihatan malas, ga bersemangat, ga niat hidup; memendam masalah dan cenderung mencari solusi sendiri; antisocial; terlalu cuek, menggampangkan; susah berubah; egois; tidak bisa memimpin karena terlalu toleran/mengalah (tau kan Gan contohnya sapa?); kalo sekali selingkuh, ga ketahuan; bisa jadi backstabber; susah disemangati (tanah susah bereaksi dengan api)

Keunggulan:

Stabil emosinya, ga gampang marah; bijaksana dalam memberi masukan; gak cerewet; nurut; ga ngeluh; ga gampang bosan;nrimo(mudah menerima perlakuan atau kejadian apapun); ga lebay; dasarnya setia; sopan; empati(bisa ngertiin penderitaan orang);senang hati melayani/mengikuti

Profesi:

Semua profesi yang membutuhkan ketenangan emosi dan ketekunan meski membosankan. Yang bersifat rutin, mengikuti perintah, bisa toleransi, ga perlu mengambil keputusan agresif tapi keputusan yang berdasar pertimbangan matang seperti contohnya : administrasi (tp jangan bagian peminjaman uang), ilmuwan, peneliti, penasihat, pengacara perdata, buruh, teller, koki,perawat, dokter, pilot.

Pasangan:

Tanah plegmatis ---> padang gurun, kering membosankan, tidak ada kehidupan, total disaster.

Angin sanguinis ---> badai gurun, potensi dahsyat untuk tujuan bersama, stabilisator untuk sanguinis.

Air melankolis ---> lumpur comberan, keluarga yang membosankan,cocoknya tinggal di lingkungan individualis seperti apartemen, kalo ga bakal tertekan oleh tuntutan pergaulan sosial.

Api tanah ---> tungku tanah liat, api terarah pembakarannya dan bermanfaat, stabilisator api dan menjadi pengikut yang baik. Pasangan yang sempurna. Satunya memimpin, satunya patuh mengikut. Cuma Api yang bisa mengubah tanah biar jadi lava dengan panasnya cinta yang sangat tinggi.

Rambu-rambu urusan dengan Plegmatis Tanah:

Bersikaplah tegas dan adil untuk mempertahankan kesetian orang plegmatis. Mereka cenderung berubah oleh perlakuan yang tidak adil. Jangan menuntut mereka pada posisi pemimpin. Mereka orang yang ga suka dipaksa meski suka jadi pengikut. Buat mereka merasa bebas berkata jujur. Kalo ga, mereka akan jadi penipu yang paling jago mempecundangi Agan. Kalo jujur dipuji dan berterimakasihlah. Tanah itu tempat menanam benih. Tanamlah benih penghargaan, penerimaan,dan persetujuan, maka Agan akan menerima buah kebaikan dari orang-orang plegmatis ini. Panen Gan, ga boong.

“Sanguinis: Manusia Berjiwa Angin yang Menghibur”

Ciri-cirinya:

Orang Sanguinis memiliki karakter seperti angin. Fleksibel, memenuhi ruang, menghidupi, transparan, ringan, mobilitas tinggi, oksidator (pembakar) adalah cirikhas angin. Sanguin orangnya fleksibel, easy-going, gampang diajak jalan ataupun kegiatan keluar lainnya. Orang sanguin memenuhi ruangan ketika ia berada di suatu kumpulan orang, ia akan segera mencari teman dan menjadi pusat perhatian semua orang, maka ia disebut memenuhi ruang. Orang sanguin memang menghidupi sifatnya karena kesan pertama yang orang dapat adalah ‘lucu’. Orang sanguin memang pandai membuat lelucon, menghibur orang sedih dan langsung membuat orang senang padanya. Suasana yang mati pasti hidup dengan keberadaannya, Makanya ada ungkapan buat orang sanguin kayak iklan rokok, ‘Gak da loe ga rame.’ Transparannya orang sanguin membuat dirinya dikenal sebagai orang jujur. Orang sanguin ga merasa terbeban samasekali dengan segala perbuatannya. Dia sangat ringan karena tidak memusingkan kehidupan. Bebas stress. Praktis adalah kata kuncinya. Mereka ga suka yang berbelit-belit. Orang sanguin tuh ga bisa diam. Ia seperti angin yang mobilitasnya tinggi. Klo ampe ga ada kesibukan, ia akan iseng ke semua orang. Orang sanguin gampang bosenan. Orang sanguin juga cerdas seperti cirikhas angin, sumber pengetahuan. Kalopun nile di sekolah ga bagus, itu karena memang pelajaran di sekolahnya membosankan. Mungkin ga cemerlang kecerdasannya, tapi kreatipnya Gan…., rruarrrr biyasa. Ia bisa menjadi oksidator semangat orang di sekitarnya. Meski taunya dikit, tapi keliatan pinter banget. Orang mudah dibuat percaya olehnya.

Kelemahan:

Terlalu cuek; menggampangkan; idealisme yang ga realistis;gampang bosenan;diragukan kesetiaannya;super lebay;kadang candanya keterlaluan, ga mikirin perasaan orang;mudah lupa; usil; suka ngisengin orang;ga bisa nyimpen rahasia(transparan);gampang panik; emosi meletup-letup;ga bisa menyembunyikan perasaan;suka pamer;gampang diprovokasi;ga rapi;ga telaten;segala sesuatu dalam hidup dianggap permainan, termasuk cinta.

Keunggulan:

Menghibur;lucu;murah hati;easy going;suka petualangan; tukang cerita yang super seru; menceriakan suasana;pandai memotifasi;populer;disukai banyak orang; jago mempengaruhi;jujur;ga gampang stress;kreatip;cerdas;ga ribet, simple orangnya;enerjik,penuh semangat;bukan orang asing bagi yang baru dikenalnya;suka tantangan

Pasangan:

Tanah Plegmatis--->badai gurun, bisa meramaikan suasana keluarga meski pasangannya pendiam

Angin Sanguin---> putting beliung,twister, rame di rumah tapi sepi waktu keduanya pergi. Gampang kemalingan rumahnya. Ribut kalo ketemu, suka nerbangin macem-macem, termasuk vas, gelas dan piring.

Air Melankolis----> hujan badai. Musti cari tempat tidur yang kokoh. Sanguin penuh semangat, melan-nya romantis….bikin pingin lagi, lagi, dan lagi.

Api Koleris----> kobaran api sempurna. Sanguin oksidator jadi makanannya koleris. Sanguin nyemangatin dengan dukungan, kolerisnya berani berjuang makin ambisius. Ambisi besar dan kerjakerasnya menghasilkan sukses yang membanggakan.

Profesi:

Semua profesi yang bersifat populer, alias ketemu orang banyak dan butuh jadi fokus perhatian. Orang sanguin adalah people person. Jangan ditempatkan di pekerjaan yang menyendiri atau di balik layar.la adalah pelaksana alias orang lapangan. Contohnya: artis, penyanyi. guru,customer service, pedagang keliling, surveyor,politikus,pembicara, dosen,motivator, dsb

Rambu-rambu:

Jangan pernah bertele-tele dengan orang sanguin klo ga mo ditinggalin. Harus menghindari monoton yang berarti Agan harus kreatif mengubah metode dalam bercinta, mengajar,promosi ke orang sanguin. Kalo monoton, jangan mengharap mereka tetap setia. Jangan memenjarakan orang sanguin. Angin tuh bebas, kalo ditahan bisa meletus kayak balon. Jangan mengandalkan kerapiannya apalagi ketelatenannya. Mereka ga mo ambil pusing. Jangan mengandalkan kejeliannya. Mereka suka asal-asalan. Harus sering dipuji. Kalo pamer, terima aja, maklumilah Gan. Popularitas, kehormatan, dan harga diri tuh penting baginya. Meski demikian, mereka suka dihina asal ada sisi kelucuan dalam hinaannya. Kasi hadiah, ga perlu yang mahal, bahkan cuma sekedar perhatian saja cukup.Mereka itu murah kok buat didapetin hatinya. Selalu pastikan mereka tertantang, kalo mudah baginya, mereka ga akan ngikutin Agan. Ajak bermain atau tanyakan permainan yang mereka lagi up-to. Klo nge-blank, cobalah bermain dengan mereka dan belajar menikmati permainan itu.

“Melankolis: Manusia Berjiwa Air yang Romantis”

Ciri-cirinya:

Orang Melankolis jiwanya seperti air. Air tuh kadang jernih, kadang keruh, taat pada hukum alam, wujud dari semua simbol pengorbanan, memenuhi semua tempat sejauh ia bisa menjangkau, dibutuhkan oleh semua makhuk hidup, kecil dicari besar ditakuti. Orang Melankolis bisa memiliki beranekaragam emosi dalam jangka waktu yang lama. Ada yang pemarah, pemalu, periang tapi ga gampang berubah seperti air. Air lebih cepat kotor daripada bersihnya. Mereka suka melihat segala sesuatu dari sisi buruknya. Butuh kejernihan pikiran untuk bisa membuat orang melankolis yang sedang tidak suka, membenci atau mendendam. Orangnya suka menikmati kesedihan dan suka dikasihani. Orang melankolis ini keliatan serius dalam segala hal dan menyedihkan. Mereka menanggapi apa kata orang dengan serius dan kepikiran terus ga ada habisnya. Menyimpan dendam adalah cirikhasnya seakan dendam itu seperti gelas aqua kosong dan dia adalah pemulungnya. Kebayang kan seperti apa rasanya? Sangat perasa banget deh orangnya. Tapi mereka adalah orang-orang yang paling taat hukum dan norma-norma lingkungan masyarakat. Mereka berpakaian rapi di tempat kerja, pelajar yang rajin mencatat dan memperhatikan gurunya, ga berani melanggar peraturan lalulintas dsb. Pokoknya seperti air yang taat pada hukum gravitasi bumi. Mereka juga ngikut kebanyakan orang dan ga punya pendirian kokoh. Melankolis seperti air yang menjadi wujud simbol pengorbanan, yaitu keringat, airmata, darah, ketuban, dan air mani. Itu membuat orang Melan jadi suka berkorban meski dirinya tersiksa. Mereka ga berani bilang ‘tidak’ daripada dianggep ga baik. Citra baik itu nafas hidupnya. Kalo ini hilang, mereka pasti mati. Menjangkau hampir semua ruangan seperti air gelas yang dituang ke lantai. Mereka hampir jago di setiap bidang yang dipelajari tapi cuma bisa sedikit karena ga fokus, inggrisnya “Jack of all trades”.Semua orang membutuhkannya jika ingin berkembang. Mereka adalah murid teladan dan pekerja yang rajin. Guru yang ingin sekolahnya berkembang pasti butuh dia untuk lomba2. Perusahaan yang pingin maju butuh karyawan yang tepat waktu dan rajin bekerja seperti orang melankolis. Itu yang dimaksud dibutuhkan kehidupan, semua yang ingin maju. Waktu orang melankolis belum jadi orang, orang-orang sering sekali minta tolong padanya. Melankolis sangat bangga kalo berhasil menolong. Rasanya seperti mencetak skor dalam game. Kalo udah sukses, ga ada yang berani memandang. Mereka bisa jadi orang yang sangat sukses dan mengaggumkan.

Kelemahan:

Pendendam;selalu minta persetujuan, indecisive;terlalu berhati-hati;idealis tapi masih mending dibanding sanguinis, mereka masih punya pertimbangan logis meski kurang realistis;mengorbankan diri untuk keuntungan orang;mudah diperalat; ga berani bilang tidak;mudah diperalat;fokus pada sisi gelap/negatif;menyembunyikan kesombongan dalam sikap rendah hati;ikut arus, ga berani inisiatif;ga fokus dalam pengembangan ketrampilan karena ingin menguasai segalanya;mudah patah arang;sok ngurusin urusan orang.

Kelebihan:

Romantis; jago di bidang seni (bahasa, gambar,lukis,drama,menulis,music dsb);keunggulan adalah tujuan hidupnya;taat pada peraturan dan norma2;berani (bahkan membanggakan kalo bisa) berkorban;sangat perduli terhadap kebenaran dan penderitaan sesama;paling sabar menunggu dibanding semua unsur (bahkan tanah sekalipun, tanah malah sudah tidak perduli lagi klo menunggu lama);bergaul dengan semua makhluk;ramah;sopan;suka merapikan dan membetulkan segalanya;sangat berhati-hati, bisa diandalkan untuk hal-hal yang rumit.

Profesi:

Orang Melankolis suka pekerjaan yang bersifat artistik. Mereka cocok di bidang administratif. Orang melankolis suka hitung-hitungan, buat grafik, diagram, liat rating dan statistik. Pokoknya pekerjaan yang membutuhkan kesepurnaan, presisi, kerumitan, analisa, ketekunan, pengamatan dan sentuhan hati. Melankolis ga keberatan kerja keras asal bisa memuaskan rasa laparnya akan penghormatan, penghargaan dan kemuliaan seperti air yang ditinggikan ketika menguap oleh Matahari. Jadi contoh pekerjaannya: admin, HRD, peneliti,surveyor, seniman, artis, konseling, manajer,even organizer, Quality Control manager,relawan,perawat,dokter

Pasangan:

Tanah Plegmatis----> lumpur, subur tapi jadi keluarga kaku dalam mendidik anak-anaknya. Sok agamis normative, moralis dan sering dibilang munafik. Tentusaja bergantung dari kadar fleksibilitas si melankolis Gan. Klo kaku ya gitu.

Angin Sanguin----> hujan badai ataw angin mengeringkan yang basah. Melankolis sering jatuh cinta pada orang Sanguin. Serasa hatinya terbawa oleh saputan asmara saat sang angin berhembus dihadapannya.

Air Melankolis---->banjir! banjir! banjir bandang Gan. Sama-sama romantis. Kemana-mana, dimana-mana selalu tampil mesra dalam tindak tutur kata sampai yang ngeliat malu sendiri atau jadi sirik malahan. Apalagi yang pada jomblo. Klo keterlaluan pamernya bisa disumpahin putus ma si jomblo.

Api Koleris---->padam atau menguap. Kalo kuat airnya, padam, sia-sia. Kalau kuat apinya, bisa ngangkat air ke angkasa Gan. Trus jadi ujan yang menyegarkan bumi yang gersang. Maka tumbuhlah kehidupan.

Rambu-rambu:

Jangan pernah menyakiti hati orang melankolis. Kalo ringan, dia akan memaafkan tapi mencatat dosa Agan itu dalam hatinya. Kalo berat, lama Gan maafinnya. Ga gampang dirayu klo udah sakit berat. Kalo salahnya super parah yang menghina harga dirinya, pasti jadi dendam. Contohnya Hitler. Kasi pujian. Itu nafas hidupnya. Klo orang sanguin dibanding orang melankolis waktu dikasi pujian, ibarat orang sanguin itu roket petasan di malam lebaran, kalo melankolis roket ulang-alik ke bulan. Jangan dicela kalo salah, musti dipuji kelebihannya dalam kesalahan itu lalu bandingkan kebodohan yang pernah Agan lakukan. Mereka suka kalo tahu ternyata orang lain lebih bodoh dari mereka. Berikan pilihan dan rasa aman untuk menolak. Kalo terpaksa, mereka akan mendendam karena merasa diperbudak. Puji keunggulan sekecil apapun sebelum mereka terpaksa harus menyombongkannya dengan kedok kerendahan hati. Yang paling susah Gan urusan ama melankolis, kalo ia menawarkan bantuan tapi Agan ga butuh atau kalo dikasi, malah bikin kacau. Kalo ditolak, mereka pasti kecewa karena gagal dapet kesempatan jadi pahlawan. Mungkin strategi terbaik adalah menunjukkan kalau dia emang ga kompeten di situ. Kalo sebagai pacar, suka sekali dikasi perhatian kecil apalagi besar. Mungkin hanya tanya “udah makan blom?” “udah sembuh?” “pilihan warnanya bagus”. Melankolis dibeli dengan pujian. Jangan ketahuan sewenang-wenang di hadapan orang melankolis. Apalagi Agan suka menindas dan memperalat orang. Mereka jadi bersemangat tampil sebagai pahlawan. Makanya ga heran para penganten bom bunuh diri semua melankolis. Tiap orang yang kenal klo ditanya pasti bilang “padahal dia tuh rajin beribadah, ramah, sopan, bae, murah hati” “dia tuh anak baik, ga suka aneh-aneh” “dia anak pendiam”, betul kan Gan? Itu semua ciri melankolis. Target empuk provokasi untuk aksi bunuh diri. Orang melankolis paling berpeluang besar bunuh diri. Mereka berani berkorban bahkan mati sekalipun. Jangan kasi kesempatan orang melankolis larut dalam kesedihannya. Yang paling ringan, mereka jadi gila. Yang paling berat, jadi pembunuh berantai alias psikopat atau pembantai masal seperti PolPot ataw Hitler. Nyawa itu ga ada artinya buat orang melankolis. Kesedihan adalah candu bagai shabu-shabu baginya. Ajak jalan, ajak cerita hal yang lucu, ajak bermain atau memecahkan teka-teki.

Koleris: Manusia Berjiwa Api yang Tegas

Ciri-cirinya:

Koleris punya sifat seperti api. Api tuh terang, jadi orang koleris juga kelihatan dominan di lingkungannya. Ia bukan cuma populer seperti sanguinis, tapi lebih dari itu, ia suka memegang kendali. Api itu berkobar-kobar sama seperti koleris yang ga bisa diem. Mereka ga betah di rumah. Suka keluyuran. Petualang sejati ga kenal lelah meski sejauh apapun. Kalo di sekolah pasti desebut bandel, suka ngobrol, suka protes, nyolot. Api bersifat panas. Orang koleris cenderung emosional dan destruktif. Gampang marah dan kalo seneng, ketawa ngakak kenceng ga peduli kata orang. Beda ama sanguin yang masih lebih sopan. Orang koleris tuh cuek bebek ama kemungkinan pikiran dan perasaan orang. Ga seperti angin atw udara yang lebih luas cakupannya, api cenderung terbatas secara fisik tapi cahayanya menjangkau seluruh ruangan. Sama seperti orang koleris, mereka ga banyak berteman kayak sanguin. Tapi biarpun sedikit temannya, semua berkualitas dan dia ga kehilangan pengaruh bagi orang-orang yang tidak dianggapnya sebagai teman. Ga suka repot memelihara teman seperti ucapan ulang tahun, kondangan (amplopnya itu Gan), besuk sakit, dsb. Kalopun repot, cuma orang2 yang berkenan di hatinya. Biasanya orang koleris menyukai orang yang bisa membangkitkan rasa respeknya. Kalo gagal, ya bisa diremehkan ama orang koleris atau ditindasnya. Bahkan bisa ga dianggep ada. Api mengubah unsur dan wujud. Koleris bisa memaksa orang untuk berubah atau melakukan kehendaknya meski ga setuju aslinya. Orang menuruti dia karena koleris tuh powerful dalam kata-kata. Orang ga berani menentang. Pasti nurut. Mereka tahu apa yang benar dan bisa menentukan langkah ke depan di luar pemahaman para pengikut/bawahannya. Mereka suka memanfaatkan orang untuk suatu pekerjaan. Jadi kesannya licik dan manipulatif. Itu semua karena mereka malas bekerja. Kalo bisa orang yang kerja buat mereka. Mereka ga suka bertele-tele/berbelit-belit. To the point. Mereka berani mengambil tanggungjawab. Cepat dalam pengambilan keputusan terlepas dari benar atau salah. Hajar duluan urusan belakangan. Berani gitu karena mereka ga takut dengan masalah apapun yang akan timbul di depan. Unsur api memang unsur yang paling bernyali.

Kelemahan:

Mudah marah;egois(ga peduli perasaan orang);manipulatif(suka memperalat orang);ga kasi kesempatan bawahan untuk berpendapat(yang sangat kuat kolerisnya sekitar 90% ke atas);sok berkuasa;ambisius kalo perlu jegal orang(pada level ekstrim bunuh orang);ga sopan;keras kepala;mau menangnya sendiri;mau enaknya sendiri;suka meremehkan orang;suka mencela;

Kelebihan:

Pemberani;cepat mengambil keputusan;tahu apa yang benar;bakat pemimpin;bisa diandalkan;bisa berinisiatif;bisa menekan para pemalas yang ngeyelan;terus terang,blak blakan;jujur perasaannya,ga suka munafik;kalah oleh kebenaran;ga gampang sakit hati klo dikritik

Profesi:

Orang koleris cocok buat profesi yang menuntut bakat kepemimpinan. Koleris adalah orang lapangan yang ga suka santai-santai. Mereka bersedia sibuk asal sesuai dengan hatinya. Berurusan dengan banyak orang sebagai pengikutnya untuk diatur.Profesi yang butuh ketegasan dan berani tega. Contoh: guru,politikus, polisi, militer,presiden, manajer, mandor, pengawas dsb.

Pasangan:

Tanah Plegmatis---> padang gurun, kering. Serius semua orangnya

Angin Sanguinis ---> Api berkobar. Hot abiez. Saling menyukai dan mengagumi.

Air Melankolis ---> padam atau menguap. Kalo kuat airnya, padam, sia-sia. Kalau kuat apinya, bisa ngangkat air ke angkasa Gan. Trus jadi ujan yang menyegarkan bumi yang gersang. Maka tumbuhlah kehidupan.

Api Koleris--->Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran! Ribut, bertengkar adalah kegiatan rutin sebelum perpisahan.

Rambu-rambu:

Jangan bertele-tele dengan orang melankolis klo ga pingin bikin dia emosi. Berikan pujian yang secukupnya kalo ga malah bikin dia mikir klo Agan itu penjilat. Bikin dia respek ama Agan. Jangan sampe gagal atau Agan bakal disepelekan. Bikin respek bisa dengan cara unjuk ketrampilan yang dia ga bisa atau ,lebih bagus lagi, yang dia sukai tapi ga bisa sendiri. Klo ga trampil apa2 gimana? Hanya satu pilihan lagi Gan. Berterus-teranglah. Jangan tunjukkan rasa takut. Katakan kekurangan yang dia miliki di samping pujian terhadap prestasinya. Orang koleris tuh yang keliatan galak malah lebih jinak daripada kelihatannya. Yang bisa menjinakan adalah orang yang ga gemeteran denger gertakannya. Kalo bisa malah makin digertak, makin maju. Koleris macam gini, langsung tunduk. Kalo mereka salah, tunjukkan pilihan-pilihan. Mereka tetap orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Kalo Agan bisa merasionalisasikan yang benar, mereka pasti bisa terima. Yang penting satu Gan, buat itu seakan ide darinya kalo Agan pingin dapet dukungan dari kekuasaan yang dia miliki. Contohnya, “Saya ga yakin pak ide ini bisa dilaksanakan, tapi gimana kalo para pelanggan ga pernah dapet penghargaan? Apa mereka masih mau ke toko kita? Mungkin kita perlu kasi penghargaan. Yah mungkin dengan memberi souvenir gantung kunci misalnya, menurut Bapak sebaiknya gimana?” Jadi tunjukkan sebuah masalah dan tunjukkan keraguan terhadap ide yang Agan punya. Biarkan koleris memecahkan masalah itu. Ga usah repot2 Gan. Kalo ide Agan emang bagus, mereka pasti dukung dan Agan ga perlu cari muka lagi di hadapanya. Mereka otomatis respek dengan orang yang berbakat. Ibarat kita suka pada alat2 yang berkualitas kan? Jangan membantah kalo masih mau jadi bawahannya. Soalnya mereka merasa yang paling tahu apa yang benar. Jangan mengkritik di hadapan banyak orang. Nyatakan kritikan secara pribadi, malah mereka akan menghargai kritik Aga.

Sumber: Kaskus

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.