Sabtu, 24 September 2011

Tentang Muhasabah~...

Muhasabah diri (nafsu) ada dua macam: Muhasabah sebelum melakukan suatu perbuatan dan muhasabah setelah melakukan suatu perbuatan.

Adapun yang pertama, maka ia berhenti di awal keinginannya dan tidak langsung melakukan keinginannya sehingga jelas baginya bahwa melangsungkannya lebih baik daripada meninggalkannya.

Al-Hasan Rahimahullah berkata, "Semoga Allah merahmati hamba-Nya yang berhenti di saat berkeinginan. Jika karena Allah maka ia laksanakan dan jika karena selain-Nya maka ia tinggalkan."

Sebagian orang menjelaskan arti ungkapan di atas dengan mengatakan, "Jika diri bergerak untuk melakukan suatu perbuatan, dan ia pun sudah berkeinginan melakukannya maka ia berhenti dan merenungkan, apakah perbuatan tersebut sanggup ia lakukan atau tidak? Jika tidak sanggung ia lakukan maka ia tidak melanjutkannya. Tetapi jika sanggup ia lakukan maka ia merenungkan hal lain, apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya atau meninggalkannya lebih baik daripada melakukannya? Jika jawabannya yang pertama, maka ia merenungkan hal ketiga, apakah yang mendorong perbuatan itu adalah keinginan mendapatkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atau keinginan mendapatkan pangkat, pujian dan harta dari makhluk.4) Jika jawabannya yang kedua, maka ia membatalkan perbuatan itu, meskipun itu yang akan menghantarkan pada apa yang ia cari, agar ia tidak terbiasa dengan syirik, lalu menjadi ringan baginya melakukan perbuatan bukan karena Allah. Karena setingkat dengan keringanan yang ia rasakan itu (dalam berbuat bukan karena Allah) maka setingkat itu pula beratnya untuk berbuat karena Allah, bahkan hingga ia menjadi sesuatu yang terberat baginya.

Tetapi jika jawabannya yang pertama, maka hendaknya ia merenungkan kembali, apakah ia akan ditolong dalam perbuatannya itu, dan ada orang-orang yang bersedia membantunya jika memang perbuatan itu membutuhkan pertolongan? Jika tidak ada yang menolongnya dalam perbuatan itu maka ia berhenti, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti dan menunda jihad di Makkah hingga beliau mendapatkan para penolong. Dan jika dia mendapatkan orang yang menolongnya maka ia pun melangsungkan pekerjaannya.

Dan tidaklah suatu keberhasilan luput kecuali bagi orang yang melengahkan salah satu dari marhalah-marhalah tersebut. Jika tidak, tentu dengan melakukan semua marhalah itu, keberhasilan tidak akan luput darinya.

Inilah keempat hal yang memerlukan muhasabah diri sebelum dilangsungkannya suatu pekerjaan. Karena, tidaklah setiap pekerjaan yang dikehendaki seseorang bisa ia lakukan, dan tidaklah setiap pekerjaan yang mampu ia kerjakan selalu melakukannya lebih baik daripada ia tinggalkan, dan tidaklah setiap pekerjaan yang jika dilakukan lebih baik daripada ditinggalkan selalu karena Allah, dan tidaklah setiap yang ia kerjakan karena Allah selalu mendapatkan para penolong. Jika ia menghisab dirinya dengan beberapa hal di atas maka akan jelaslah apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia tinggalkan.

Jenis kedua yaitu muhasabah diri setelah selesainya pekerjaan. Dan ia terbagi menjadi tiga macam: Pertama, muhasabah atas ketaatan dirinya dari sisi kekurangan yang ia lakukan dari hak-hak Allah, sehingga ia melakukannya tidak sebagaimana mestinya. Adapun hak Allah dalam hal ketaatan ada enam: Ikhlas dalam berbuat, nasihat karena Allah dalam pekerjaan tersebut, mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di dalamnya, persaksian kebaikan yang ada pada pekerjaan tersebut dan persaksian atas karunia Allah dalam pekerjaan tersebut, serta persaksian atas segala kekurangan dirinya dalam pekerjaan tersebut.

Maka hendaknya ia menghisab dirinya, apakah ia telah memenuhi semua hak-hak tersebut? Dan apakah ia melakukan ketaatan tersebut?

Kedua: Hendaknya ia menghisab dirinya atas pekerjaan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakannya.

Ketiga: Hendaknya ia menghisab dirinya atas hal-hal yang mubah atau yang biasa (sehari-hari): Kenapa ia lakukan? Apakah ia lakukan itu karena Allah dan mengharapkan kampung akhirat, sehingga ia beruntung atau ia inginkan dengan itu dunia dengan segala ketergesaannya sehingga ia merugi dan tak mendapatkan kemenangan.

Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 118~120

About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.