Rabu, 19 Oktober 2011

2 Tahun di Jepang~...

Bismillahirrahmanirrahim~...Sebelum bercerita tentang hal ini, mungkin ada baiknya kukatakan hal yang satu ini, bahwa Allah dapat mendatangkan hidayah kepada siapa saja yang di kehendaki, seperti yang tertera pada potongan Khutbatul Hajah yang ini " Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk."

Well, cerita ini dimulai pada tanggal 4 Oktober 2009 dimana pertama kalinya saya mencium bau tanah Jepang ini. Aku tidak berbekalkan apa2. Bahasa jepang hiragana-katakana aja gak hapal, apalagi kanji? Statusku waktu itu hanya "dependent to the ortu". Jadi gerbong doang. Pada masa-masa pertama kali datang itulah, aku menjadi pengangguran disini, tidak mengerjakan apa-apa, tanpa teman dan tanpa bergaul dengan siapapun. Waktu itu, aku bahkan sampai tidak melaksanakan shalat jum'at dalam waktu 3 bulan. Well, dalam kacamataku sendiri, itu sudah menandakan kekafiranku. Tapi ceritanya tidak sampai disitu saja. Akhirnya, setelah 3 bulan itu saya dapat pencerahan tentang cara pergi shalat jum'at (sebelumnya saya malas banget mencari pencerahan). Alhamdulillah ada yang mau ngajarin, kebetulan tetangga disini juga orang Indonesia.

Jauh setelah itu, saya mulai mengenal banyak orang-orang dalam kampus, karena sering shalat jum'at dan kebetulan waktu itu bulan Ramadhan, nah akhirnya saya datang hampir setiap hari untuk ikut berbuka puasa disana. Tiba pada saat Idul fitr tiba, suasanya tak kalah dengan suasana di Indonesia. Well, sebagian besar muslim disini adalah orang Indonesia juga. Jadi serasa lebaran di negara sendiri.

Singkat cerita, saya masuk menjadi mahasiswa semester 1 di Kyushu University, setelah melewati beberapa proses yang memang butuh kesabaran. Karena rahmat Allah subhana wa ta'ala lah saya di terima disana. Kalau dilihat dari segi skill, tidak mungkin orang-orang seperti saya ikut masuk untuk belajar disini, apalagi sampai dapat beasiswa. Mustahil lah menurutku. Tapi, Alhamdulillah, walau agak berat dan lambat, saya mampu mengikuti pelajaran-pelajaran yang ada, walaupun berat dan kadang mendapatkan kegagalan.

Tantangan untuk belajar disini sangatlah berat. Mulai dari harus menjaga pandangan, pergaulan, makanan, waktu, dll. Dari segi pandangan, anda mungkin tidak akan percaya jika saya katakan bahwa orang jepang-jepang itu cantik dan cute. Tapi Alhamdulillah, mereka bukan tipe saya, jadi kurang lebih bisa mengurangi fitnah pandangan tersebut. Yang kedua adalah fitnah pergaulan, hal yang ini agak sulit di elakkan, karena kita manusia adalah makhluk sosial, dan bagaimanapun juga kita akan berhubungan dengan orang lain. Akhirnya, saya mencoba untuk strict dan menghindari pergaulan dengan lawan jenis dan pergaulan yang buruk. Soalnya, kebanyakan teman-teman sudah terkontaminasi dengan gaya kehidupan barat, modern, dan semacamnya. Yang jelas, tidak sesuai dengan sunnah dan cenderung tasyabuh kaum kafir. Untuk masalah makanan, ada banyak sekali sebenarnya yang menjadi rintangan, karena makanan-makanan disini hampir semuanya berstatus syubhat, maka saya mencoba membuatnya menjadi mudah, saya tidak mau makan ayam, sapi, dll yang saya tahu pasti itu bukan sembelihan atas nama Allah, termasuk yang ada di kantin, dsb. Begitu pula dengan beberapa snack yang keliatannya enak dan lezat dan bisa membuat ngiler, tapi ada ekstrak babi, ayam, atau hewan. Lalu bagaimana dengan fitnah waktu? Inilah yang kurasa paling berat, karena di Jepang yang identik dengan festival dan acara-acara, sayangnya, banyak sekali acara-acara mereka yang menjurus ke arah syirik. Dan hal yang ini paling kutakutkan sebenarnya. Karena itulah, saya cenderung untuk menghindari hal-hal berikut yang cenderung memberikan kesyubhatan dalam pikiran dan iman.

Tapi, apa sebenarnya rahasia dibalik itu semua? Disamping mencoba menghindari pergaulan-pergaulan yang tidak perlu, saya selalu mencoba untuk mencari perkumpulan-perkumpulan orang yang mengingat Allah*mudah2an saya tidak riya' karena menceritakan hal ini, Wallahu a'lam. Alhamdulillah, ada yang mau memberikan kajian tiap dua pekanan. Ada juga yang memberikan pengajian di masjid. Ada juga yang membuat pengajian tiap bulanan. Ada juga yang memberikan kelas hadits di masjid. Dan juga ada shalat berjamaah di kampus dengan jamaah yang luar biasa diluar perkiraan kita yang tinggal di negara non-muslim. Hal ini, Insya Allah menjaga keutuhan keimanan saya, mudah-mudahan, karena Allah-lah yang maha membolak-balikkan hati.

Sepertinya hanya itu yang saat ini bisa saya katakan,Wassalamu alaikum Wa rahmatullahi wa barakatuh

About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

7 comments:

Bianglala Basmah mengatakan...

Jadi ingat kata murabbiyah saya, meski langit dan bumi akan bersatu untuk memudharatkan kita, jika Allah tak menghendakinya, maka tak kan terjadi..
Subhanallah.. Hidayah itu tidak melihat dari tempat dan situasi..Hidayah benar-benar mahal harganya, yang tak satupun bisa menggantikannya..
Keep Istiqamah and keep writing.. :)

uchank mengatakan...

Saya baru tauk kalau kau anak IPS -_-
Tapi hebat :)

semangat disana.
sering2 dong cerita tentang jepang :D

farid maricar mengatakan...

@Basmah: Sama persis seperti isi hadits Rasulullah berikut ini Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Suatu hari (ketika) saya (dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di belakang (hewan tunggangan) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda kepadaku: “Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasehat penting) kepadamu, (maka dengarkanlah baik-baik!): “Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu), jika kamu (ingin) meminta (sesuatu), maka mintalah (hanya) kepada Allah, dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) bagimu, dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) akan menimpamu, pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering.” HR At Tirmidzi (7/228-229 -Tuhfatul Ahwadzi), hadits no. 2516), Insya Allah doain ana yah... :)

@uchank: waaah, tega...padahal kita 2-3 tahun bersama, tapi kau gak tau kalau saya anak IPS...Wakakakakaka...Kalau cerita masalah Jepang, saya masih kurang ide... :)

Anonim mengatakan...

Mau tanya,bagaimana jika tinggal di salah satu kota dijepang yg tidak terdapat masjid didalamnya.shalat jumat ditegakkan di suatu tempat yg disewa dg jama'ah 40-50 orang. sedangkan utk shalat fardhu 5 waktu tdk bisa dikerjakan secara berjamaah dimasjid (padahal hukum shalat fardhu bagi laki2 wajib dikerjakan secara berjamaah dimasjid). Dalam kondisi seperti ini bagaimana seharusnya dalam melaksanakan shalat fardhu? apakah dikerjakan sendiri atau mengajak teman utk shalat berjamaah di tempat tinggal (asrama/apato)?

farid maricar mengatakan...

Bismillahirrahmanirrahim...
Masih dalam perdebatan ulama apakah diwajibkan bagi kita untuk shalat secara berjamaah bagi laki-laki. Untuk yang mewajibkan mereka menggunakan dalil-dalil berikut:
1.“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.” (Hr. Abu Daud dan Ibnu Majah. Hadits ini dinilai shahih oleh Syekh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551)
2.“Demi Zat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar lalu terkumpul, kemudian memerintahkan untuk shalat dan dikumandangkan azan. Kemudian aku perintah seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku pergi melihat orang-orang dan membakar rumah-rumah mereka.” (Hr. Bukhari)
3.“Seorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang bisa menuntunku berjalan ke mesjid.’ Kemudian ia memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga dia boleh shalat di rumahnya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata, ‘Apakah kamu mendengar azan shalat?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Beliau pun menyatakan, ‘Maka datangilah!’”(HR. Muslim)
Maka pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini adalah yang menyatakan wajib, namun bukan sebagai syarat sah shalat tersebut.
Syarat-syarat diatas menyatakan, shalat jama'ah wajib hukumnya jika kita mampu mendengar adzan. Bagaimana jika tidak mampu? Wallohu a'lam...Mengadakan shalat jama'ah tentu hal yang baik...Jika bisa mendirikan shalat jama'ah sampai 5 kali itu tentu sangat-sangat baik...Jadi jika mampu melaksanakannya berjamaah, tentu akan lebih baik daripada sendiri-sendiri...Apalagi dengan melihat keutamaan-keutamaannya...Saya tidak sanggup berbicara lebih jauh lagi, karena takut akan hukum Al 'Ilmu qobla qouli wal amal(Berilmu sebelum berkata dan beramal)Wallohu a'lam bishowwab...

Sekian penjelasan dari saya, Jika ingin lebih jelas, mungkin antum bisa bertanya ke http://konsultasisyariah.com/

Dan jawaban diatas saya ambil dan saya edit sedikit dari http://konsultasisyariah.com/laki-laki-wajib-shalat-berjamaah-di-masjid-benarkah

subsafan mengatakan...

mantap.. drop Here Okay subsafan.blogspot.com

farid maricar mengatakan...

Insya Allah...saya akan mampir

Diberdayakan oleh Blogger.