Senin, 26 September 2011

PEMBAGIAN HATI MENJADI HATI YANG SEHAT, SAKIT DAN MATI

Hati Yang Sehat
Karena ada hati yang disifati hidup dan sebaliknya maka keadaan hati dapat dikelompokkan menjadi tiga macam. Pertama, hati yang sehat yaitu hati yang bersih yang seorang pun tak akan bisa selamat pada Hari Kiamat kecuali jika dia datang kepada Allah dengannya, sebagaimana firman Allah,
"(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara': 88-89).
Disebut qalbun salim (hati yang bersih, sehat) karena sifat bersih dan sehat telah menyatu dengan hatinya, sebagaimana kata Al-Alim, Al-Qadir (Yang Maha Mengetahui, Mahakuasa). Di samping, ia juga merupakan lawan dari sakit dan aib.
Orang-orang berbeda pendapat tentang makna qalbun salim. Sedang yang merangkum berbagai pendapat itu ialah yang mengatakan qalbun salim yaitu hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah, bersih dan selamat dari berbagai syubhat yang bertentangan dengan berita-Nya. Ia selamat dari melakukan penghambaan kepada selain-Nya, selamat dari pemutusan hukum oleh selain Rasul-Nya, bersih dalam mencintai Allah dan dalam berhukum kepada Rasul-Nya, bersih dalam ketakutan dan berpengharapan pada-Nya, dalam bertawakal kepada-Nya, dalam kembali kepada-Nya, dalam menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencari ridha-Nya di segala keadaan dan dalam menjauhi dari kemungkaran karena apa pun. Dan inilah hakikat penghambaan (ubudiyah) yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata.
Jadi, qalbun salim adalah hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alasan apa pun. la hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inabah (kembali), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja'(pengharapan), dan ia mengikhlaskan amalnya untuk Allah semata. Jika ia mencintai maka ia mencintai karena Allah. Jika ia membenci maka ia membenci karena Allah. Jika ia memberi maka ia memberi karena Allah. Jika ia menolak maka ia menolak karena Allah. Dan ini tidak cukup kecuali ia harus selamat dari ketundukan serta berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia harus mengikat hatinya kuat-kuat dengan beliau untuk mengikuti dan tunduk dengannya semata, tidak kepada ucapan atau perbuatan siapa pun juga; baik itu ucapan hati, yang berupa kepercayaan; ucapan lisan, yaitu berita tentang apa yang ada di dalam hati; perbuatan hati, yaitu keinginan, cinta dan kebencian serta hal lain yang berkaitan dengannya; perbuatan anggota badan, sehingga dialah yang menjadi hakim bagi dirinya dalam segala hal, dalam masalah besar maupun yang sepele. Dia adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga tidak mendahuluinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan, sebagaimana firman Allah,
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya." (Al-Hujurat: 1).
Artinya, janganlah engkau berkata sebelum ia mengatakannya, janganlah berbuat sebelum dia memerintahkannya. Sebagian orang salaf berkata, "Tidaklah suatu perbuatan betapa pun kecilnya kecuali akan dihadapkan pada dua pertanyaan: Kenapa dan bagaimana?" Maksudnya, mengapa engkau melakukannya dan bagaimana kamu melakukannya? Soal pertama menanyakan tentang sebab perbuatan, motivasi atau yang mendorongnya; apakah ia bertujuan jangka pendek untuk kepentingan pelakunya, bertujuan duniawi semata untuk mendapatkan pujian orang atau takut celaan mereka, agar dicintai atau tidak dibenci ataukah motivasi perbuatan tersebut untuk melakukan hak ubudiyah (penghambaan), mencari kecintaan dan kedekatan kepada Tuhan Subhanahu wa Ta'ala dan mendapatkan wasilah (kedekatan) dengan-Nya.
Inti pertanyaan yang pertama adalah apakah kamu melaksanakan perbuatan itu untuk Tuhanmu atau engkau melaksanakannya untuk kepentingan dan hawa nafsumu sendiri? Sedang pertanyaan yang kedua merupakan pertanyaan tentang mu taba'ah (mengikuti) Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallant dalam soal ibadah tersebut. Dengan kata lain, apakah perbuatan itu termasuk yang disyariatkan kepadamu melalui lisan Rasul-Ku atau ia merupakan amalan yang tidak Aku syariatkan dan tidak Aku ridhai? Yang pertama merupakan pertanyaan tentang keikhlasan dan yang kedua pertanyaan tentang mutaba'ah kepada Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan pun kecuali dengan syarat keduanya.
Jalan untuk membebaskan diri dari pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan dan jalan untuk membebaskan diri dari pertanyaan kedua yaitu dengan merealisasikan mutaba'ah, selamatnya hati dari keinginan yang menentang ikhlas dan hawa nafsu yang menentang mutaba'ah. Inilah hakikat keselamatan hati yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan.
Hati Yang Mati
Tipe hati yang kedua yaitu hati yang mati, yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Ia tidak mengetahui Tuhannya, tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah yang dicintai dan diridhai-Nya. Ia bahkan selalu menuruti keinginan nafsu dan kelezatan dirinya, meskipun dengan begitu ia akan dimurkai dan dibenci Allah. Ia tidak mempedulikan semuanya, asalkan mendapat bagian dan keinginannya, Tuhannya rela atau murka. Ia menghamba kepada selain Allah; dalam cinta, takut, harap, ridha dan benci, pengagungan dan kehinaan. Jika ia mencintai maka ia mencintai karena hawa nafsunya. Jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsunya. Jika ia memberi maka ia memberi karena hawa nafsunya. Jika ia menolak maka ia menolak karena hawa nafsunya. Ia lebih mengutamakan dan mencintai hawa nafsunya daripada keridhaan Tuhannya. Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah sopirnya, kelalaian adalah kendaraannya. Ia terbuai dengan pikiran untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi, mabuk oleh hawa nafsu dan kesenangan dini. Ia dipanggil kepada Allah dan ke kampung akhirat dari tempat kejauhan. Ia tidak mempedulikan orang yang memberi nasihat, sebaliknya mengikuti setiap langkah dan keinginan syetan. Dunia terkadang membuatnya benci dan terkadang membuatnya senang. Hawa nafsu membuatnya tuli dan buta selain dari kebatilan. Keberadaannya di dunia sama seperti gambaran yang dikatakan kepada Laila, "Ia musuh bagi orang yang pulang dan kedamaian bagi para penghuninya. Siapa yang dekat dengan Laila tentu ia akan mencintai dan mendekati."
Maka membaur dengan orang yang memiliki hati semacam ini adalah penyakit, bergaul dengannya adalah racun dan menemaninya adalah kehancuran.
Hati Yang Sakit
Tipe hati yang ketiga adalah hati yang hidup tetapi cacat. Ia memiliki dua materi yang saling tarik-menarik. Ketika ia memenangkan pertarungan itu maka di dalamnya terdapat kecintaan kepada Allah, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya, itulah materi kehidupan. Di dalamnya juga terdapat kecintaan kepada nafsu, keinginan dan usaha keras untuk mendapatkannya, dengki, takabur, bangga diri, kecintaan berkuasa dan membuat kerusakan di bumi, itulah materi yang menghancurkan dan membinasakannya. Ia diuji oleh dua penyeru: Yang satu menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya serta hari akhirat, sedang yang lain menyeru kepada kenikmatan sesaat. Dan ia akan memenuhi salah satu di antara yang paling dekat pintu dan letaknya dengan dirinya.
Hati yang pertama selalu tawadhu', lemah lembut dan sadar, hati yang kedua adalah kering dan mati, sedang hati yang ketiga hati yang sakit; ia bisa lebih dekat pada keselamatan dan bisa pula lebih dekat pada kehancuran.
Allah menjelaskan ketiga jenis hati itu dalam firman-Nya,
"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai sesuatu keinginan, syetan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syetan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, agarDia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syetan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa Al-Qur'an itulah yang haq dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (Al-Hajj: 52-54).
Dalam ayat ini Allah membagi hati menjadi tiga macam: Dua hati terkena fitnah dan satu hati yang selamat. Dua hati yang terkena fitnah adalah hati yang di dalamnya ada penyakit dan hati yang keras (mati), sedang yang selamat adalah hati orang Mukmin yang merendahkan dirinya kepada Tuhannya, dialah hati yang merasa tenang dengan-Nya, tunduk, berserah diri serta taat kepada-Nya.
Yang demikian itu karena hati dan anggota tubuh lainnya diharapkan agar selamat dan tidak ada penyakit di dalamnya, dan melaksanakan tujuan dari penciptaannya. Adapun penyimpangannya dari jalan lurus mungkin karena ia kering dan keras serta tidak melaksanakan apa yang semestinya diinginkan daripadanya. Seperti tangan yang putus, hidung yang bindeng, dzakar yang impoten dan mata yang tak bisa melihat sesuatu. Atau karena terdapat penyakit dan kerusakan yang menghalanginya melakukan pekerjaan secara sempurna dan berada dalam kebenaran.
Read More

Manfaat Muhasabah Diri

Muhasabah diri mendatangkan banyak manfaat, di antaranya bisa mengetahui aib diri sendiri. Orang yang tidak mengetahui aib dirinya dia tak akan mampu menghilangkannya. Tetapi jika dia mengetahui aib dirinya, maka ia akan membencinya karena Allah.
Imam Ahmad meriwayatkan*' dari Abu Darda' Radhiyallahu Anhu, "Tidaklah seseorang memiliki pemahaman yang dalam sampai ia membenci manusia karena Allah, kemudian ia kembali kepada dirinya sendiri, lalu ia lebih membenci terhadap dirinya."
Mutharrif bin Abdillah berkata, "Seandainya manusia itu tidak lebih mengetahui tentang diriku, niscaya aku jauhi mereka."
Ayub As-Sakhtiyani berkata, "Jika orang-orang shalih disebut maka aku adalah orang yang terasing."
Ketika Sufyan Ats-Tsauri dalam sakaratul maut, Abul Asyhab"' dan Hammad bin Salamah masuk kepadanya. Hammad berkata kepada Sufyan, "Wahai Abu Abdillah, bukankah engkau sudah merasa aman dari sesuatu yang engkau takuti? Dan engkau telah melakukan apa yang engkau harapkan, sedangkan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." Sufyan menjawab, "Wahai Abu Salamah, apakah engkau mengharapkan orang seperti aku ini bisa selamat dari neraka?" Ia menjawab, "Ya, demi Allah, sungguh aku mengharapkanmu demikian."
Yunus bin Ubaid berkata, "Sesungguhnya aku mendapatkan seratus ciri kebaikan, aku tidak tahu apakah dalam diriku terdapat satu daripadanya."
Muhammad bin Wasi' berkata, "Seandainya dosa memiliki aroma, tentu tak seorang pun yang kuat duduk bersamaku."**)
Pernah suatu ketika Daud Ath-Tha'i diceritakan di hadapan sebagian para raja, sehingga mereka pun memujinya, maka ia berkata, "Seandainya manusia mengetahui sebagian apa yang ada pada kami, tentu tak sepatah pun lisan yang menyebutkan kebaikan kami selamanya."
Abu Hafsh berkata, "Siapa yang tidak berprasangka buruk kepada nafsunya sepanjang waktu, tidak menyelisihinya dalam setiap keadaan, serta tidak menyeretnya pada apa yang dibencinya sepanjang waktunya, maka orang itu telah terperdaya. Dan siapa yang melihat kepada nafsu-nya dan menganggap baik sesuatu daripadanya maka sesuatu itu telah menghancurkannya."
Nafsu senantiasa mengajak pada kehancuran, membantu para mu-suh, menginginkan setiap keburukan, mengikuti setiap yang jahat, dan secara tabi'at, ia senantiasa menyelisihi (kebaikan). Maka nikmat yang tak terbayangkan besarnya adalah keluar dari belenggu nafsu itu serta melepaskan diri dari perbudakannya. Sebab nafsu adalah pembatas antara hamba dengan Allah. Dan orang yang paling mengetahui tentang nafsu adalah orang yang paling menjauh dan paling benci padanya. Dan kebencian terhadap nafsu karena Allah adalah di antara sifat orang-orang yang benar. Dan dengan kebencian sekejap saja terhadap nafsu itu seseorang menjadi dekat kepada Allah Ta'ala, bahkan berlipat-lipat dari kedekatan karena beramal.
Termasuk manfaat muhasabah diri yaitu bahwa dengan muhasabah ia menjadi tahu hak Allah Ta'ala. Dan siapa yang tidak mengetahui hak Allah atas dirinya, maka ibadahnya kepada-Nya hampir tak berman-faat sama sekali, ibadahnya sungguh sangat sedikit sekali manfaatnya. Dan sesuatu yang termasuk paling bermanfaat bagi hati adalah me-renungkan hak Allah atas hamba-Nya. Karena hal itu akan mengakibat-kan kebenciannya terhadap nafsunya, ia akan menjauhkan diri daripada-nya, ia akan membersihkan diri dari ujub (bangga diri) dan riya'. Sebalik-nya hal itu akan membukakan untuknya pintu rendah diri, kehinaan dan ketidak berdayaan di hadapan Tuhan, ia akan menyesalkan nafsu-nya, dan bahwa keselamatan tak akan ia dapatkan kecuali dengan ampun-an, maghfirah dan rahmat Allah. Dan sungguh di antara hak-hak Allah adalah Dia wajib ditaati dan tidak diingkari, Ia wajib diingat tidak boleh dilupakan, wajib disyukuri dan tidak boleh dikufuri.
Siapa yang merenungkan hak-hak ini niscaya ia mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa dia tidak mampu melakukannya sebagaimana mestinya. Dan bahwa tak ada lagi yang diharapkannya selain ampunan dan maghfirah Tuhannya, dan seandainya ia ditimbang sesuai dengan amalnya maka ia akan binasa.
Inilah yang menjadi perenungan para ahli ma'rifat (yang menge-tahui) Allah Ta'ala dan diri mereka sendiri. Dan ini pula yang menjadi-kan mereka menyesalkan dirinya dan menggantungkan semua harapan mereka kepada ampunan dan rahmat Tuhannya.
Jika Anda melihat kondisi sebagian besar manusia, tentu keadaan mereka adalah kebalikannya. Mereka mempertanyakan hak mereka atas Allah, dan tidak mempedulikan hak Allah atas mereka. Dan dari sini kemudian mereka terputus dari Allah, dan hati mereka menjadi tertutup dari mengetahui, mencintai dan merindui pertemuan dengan-Nya, juga tidak bisa menikmati dzikir kepada-Nya. Dan yang demikian itu adalah puncak kebodohan manusia terhadap Tuhan dan dirinya.
Karena itu muhasabah diri adalah melihatnya hamba pertama kali terhadap hak Allah atas dirinya. Selanjutnya ia melihat apakah dirinya telah mewujudkan hak tersebut? Dan itulah sebaik-baik perenungan. Karena ia akan menghantarkan hati kepada Allah serta melemparkan-nya di hadapan-Nya sebagai seorang yang rendah dan nista tetapi de-ngannya ia mendapatkan penawarnya, menjadikannya sebagai seorang yang fakir dan papa tetapi dengan itulah kekayaannya, menjadikannya hina tetapi dengan itulah kemuliaannya.
Manfaat Perenungan Hamba terhadap Hak Allah atas Dirinya.
Di antaranya yaitu ia akan membuat seseorang tak suka memperlihatkan amalnya kepada orang lain, apa pun yang terjadi. Sebab siapa yang menunjukkan amalnya, niscaya amal itu tak akan naik kepada Allah Ta'ala, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahmad dari sebagian ahli ilmu, bahwasanya seseorang berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku berdiri dalam shalatku sampai aku menangis, bahkan hingga hampir-hampir saja tumbuh rumput karena air mataku." Maka ia menjawab, "Sesungguhnya jika engkau tertawa dan engkau mengakui kepada Allah akan kesalahan-kesalahanmu maka hal itu lebih baik daripada engkau menangis kemudian engkau menunjukkan amal shalihmu." Karena shalat orang tersebut tidak naik ke atasnya (tidak diterima Allah).
Lalu orang itu bertanya, "Berilah aku wasiat!" Ia menjawab, "Hendaknya engkau bersikap zuhud terhadap dunia, dan janganlah engkau melawan para penghuninya. Dan hendaklah kamu seperti lebah, jika ia makan maka hanya makan yang baik-baik, dan jika ia mengeluarkan sesuatu (dari dalam perutnya) maka ia hanya mengeluarkan yang baik-baik, jika ia bertengger di atas dahan maka tidak membahayakan, dan tidak pula mematahkannya. Saya menasihatimu karena Allah sebagaimana orang-orang yang ingin menjinakkan anjingnya. Mereka membiarkannya lapar dan mengusirnya, tetapi anjing itu enggan dan tetap mengelilingi serta berlaku jinak kepada mereka."
*) Dalam kitab Az-Zuhd, tetapi tidak dalam cetakan yang beredar, karena di dalamnya
ada kekurangan. * *) Dia adalah Ja'far bin Hayyan AI-Aththari, meninggal tahun 162 H, biografinya terdapat
dalam Siyaru A'lamin Nubala' (7/268). ***) Lihatlah -semoga Allah merahmatimu- bagaimana mereka menghinakan dan
menghancurleburkan diri mereka, dan bagaimana pula pengagungan kita terhadap
diri kita!
Sumber: Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 123~125
Read More

Bahaya Meninggalkan Muhasabah

Yang paling berbahaya bagi suatu pekerjaan adalah meremehkan, meninggalkan muhasabah, melepaskan begitu saja dan menggampangkan persoalan, sebab hal-hal itu akan menghantarkan pada kehancuran. Dan itulah keadaan orang-orang yang terperdaya, menutup mata dari segala akibat, menantang keadaan dan bersandar hanya pada ampunan. Ia melambatkan diri melakukan muhasabah dan melihat akibat yang bakal ia derita. Sungguh jika seseorang bersikap demikian, maka akan mudah baginya terjerumus pada dosa, ia akan senang bergumul dengannya bahkan akan sulit untuk berpisah dengannya. Seandainya saja ia mengikuti kebenaran, niscaya ia akan tahu bahwa penjagaan nafsu lebih mudah daripada meliarkannya.
Dan kesimpulan dari semuanya yaitu hendaknya ia menghisab dirinya pertama kali dalam hal-hal yang wajib, jika ia ingat ada yang ditinggalkan maka ia harus menyusulnya, baik dengan qadha' atau dengan perbaikan. Selanjutnya, hendaknya ia menghisab dirinya dalam hal-hal yang dilarang. Jika ia mengetahui ada sesuatu yang ia langgar maka hendaknya ia segera menyusulnya dengan taubat, istighfar dan berbagai kebaikan yang menghapus dosa. Kemudian hendaknya ia menghisab atas kelalaian dirinya. Jika ia lengah tentang untuk apa ia diciptakan maka hendaknya ia menyusulnya dengan dzikir dan menghadap kepada Allah. Lalu hendaknya ia menghisab apa yang telah ia bicarakan, atau ke mana kakinya melangkah, atau apa yang diambil oleh kedua tangannya, atau apa yang didengar oleh kedua telinganya, untuk apa ia lakukan semua itu dan untuk siapa? Dan atas dasar apa yang ia lakukan semua itu? Pertanyaan yang pertama adalah tentang ikhlas sedang yang kedua adalah tentang mutaba'ah (mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam).
Allah befirman,
"Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang mereka kerjakan dahulu." (Al-Hijr: 92-93).
"Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami) maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat) sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidakjauh (dari mereka)." (Al-A'raf: 6-7).
"Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka." (Al-Ahzab: 8).
Jika orang-orang yang benar ditanya dan dihisab atas kebenaran raereka maka bagaimana pula dengan orang-orang pendusta? Muqatil berkata, "Allah Ta'ala befirman, 'Kami telah mengambil perjanjian dengan mereka, agar Allah menanyakan kepada orang-orang yang benar yaknipara nabi tentang penyampaian risalah (yang dibebankan kepada mereka)'."
Mujahid berkata, "Allah bertanya kepada orang-orang yang terhadap mereka dakwah rasul disampaikan, apakah mereka melaksanakan ajaran rasul itu? Sebagaimana Allah juga bertanya kepada para rasul apakah mereka menyampaikannya sebagaimana yang diwahyukan Allah?"*)
Yang jelas, ayat di atas meliputi semua pengertian yang disebutkan. Orang-orang yang benar adalah para rasul serta mereka yang kepadanya dakwah disampaikan. Kepada rasul ditanyakan tentang tabligh (penyampaian dakwah), sedang kepada orang-orang yang kepadanya dakwah disampaikan ditanyakan tentang apa yang disampaikan oleh para rasul.
kepada mereka, kemudian orang-orang yang telah sampai kepadanya kepada mereka, kemudian orang-orang yang telah sampai kepadanya dakwah ditanyakan tentang jawaban apa yang mereka berikan kepada para rasul, sebagaimana firman Allah,
"Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka seraya berka-ta, Apakah jawabanmu kepada para rasul?" (Al-Qashash: 65).
Jika kelak hamba akan ditanya dan dihisab tentang segala sesuatu, bahkan hingga atas pendengaran, penglihatan dan hatinya, sebagaimana firman Allah,
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (Al-Israa': 36).
Maka ia mesti menghisab dirinya sebelum hisab itu datang kepada-nya.**'
Adapun ayat yang menunjukkan wajibnya melakukan muhasabah terhadap diri adalah firman Allah,
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hen-daklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hart esok (akhirat)." (Al-Hasyr: 18).
Di sini Allah menegaskan, hendaknya setiap kamu memperhatikan amal-amal apa yang telah ia persiapkan untuk Hari Kiamat, apakah amal-amal baik yang bisa menyelamatkan dirinya atau amal-amal buruk yang bisa membinasakannya.
Qatadah berkata, 'Tuhanmu masih senantiasa mendekatkan Hari Kiamat, sehingga Dia menjadikannya seakan-akan terjadi besok." Maksudnya, kebaikan hati adalah dengan mengadakan muhasabah diri, se-dang rusaknya hati adalah dengan meremehkannya serta melepaskan nafsu begitu saja.
*) Dikeluarkan oleh Al-Faryabi, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, seperti disebutkan dalam Ad-Durrul Mantsur (6/568).
**) Al-Bukhari (1/176), Muslim (2876) meriwayatkan dari Abu Mulaikah bahwasanya ia berkata, "Sesungguhnya tidaklah Aisyah mendengar sesuatu yang tidak ia ketahui kecuali ia kembali sampai ia mengetahuinya. Dan bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Siapa yang diperbincangkan hisabnya maka ia disiksa.' Lalu Aisyah bertanya, 'Bukankah Allah befirman, Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.' (Al-Insyiqaq: 7-9). Beliau menjawab, 'Sesungguhnya ia adalah 'ardh (memperlihatkan amalan, bukan hisab), dan tidaklah seorangpun yang dihisab pada Hari Kiamat kecuali ia akan binasa'."

Sumber: Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 121~123
Read More

Sabtu, 24 September 2011

Tentang Muhasabah~...

Muhasabah diri (nafsu) ada dua macam: Muhasabah sebelum melakukan suatu perbuatan dan muhasabah setelah melakukan suatu perbuatan.

Adapun yang pertama, maka ia berhenti di awal keinginannya dan tidak langsung melakukan keinginannya sehingga jelas baginya bahwa melangsungkannya lebih baik daripada meninggalkannya.

Al-Hasan Rahimahullah berkata, "Semoga Allah merahmati hamba-Nya yang berhenti di saat berkeinginan. Jika karena Allah maka ia laksanakan dan jika karena selain-Nya maka ia tinggalkan."

Sebagian orang menjelaskan arti ungkapan di atas dengan mengatakan, "Jika diri bergerak untuk melakukan suatu perbuatan, dan ia pun sudah berkeinginan melakukannya maka ia berhenti dan merenungkan, apakah perbuatan tersebut sanggup ia lakukan atau tidak? Jika tidak sanggung ia lakukan maka ia tidak melanjutkannya. Tetapi jika sanggup ia lakukan maka ia merenungkan hal lain, apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya atau meninggalkannya lebih baik daripada melakukannya? Jika jawabannya yang pertama, maka ia merenungkan hal ketiga, apakah yang mendorong perbuatan itu adalah keinginan mendapatkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atau keinginan mendapatkan pangkat, pujian dan harta dari makhluk.4) Jika jawabannya yang kedua, maka ia membatalkan perbuatan itu, meskipun itu yang akan menghantarkan pada apa yang ia cari, agar ia tidak terbiasa dengan syirik, lalu menjadi ringan baginya melakukan perbuatan bukan karena Allah. Karena setingkat dengan keringanan yang ia rasakan itu (dalam berbuat bukan karena Allah) maka setingkat itu pula beratnya untuk berbuat karena Allah, bahkan hingga ia menjadi sesuatu yang terberat baginya.

Tetapi jika jawabannya yang pertama, maka hendaknya ia merenungkan kembali, apakah ia akan ditolong dalam perbuatannya itu, dan ada orang-orang yang bersedia membantunya jika memang perbuatan itu membutuhkan pertolongan? Jika tidak ada yang menolongnya dalam perbuatan itu maka ia berhenti, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti dan menunda jihad di Makkah hingga beliau mendapatkan para penolong. Dan jika dia mendapatkan orang yang menolongnya maka ia pun melangsungkan pekerjaannya.

Dan tidaklah suatu keberhasilan luput kecuali bagi orang yang melengahkan salah satu dari marhalah-marhalah tersebut. Jika tidak, tentu dengan melakukan semua marhalah itu, keberhasilan tidak akan luput darinya.

Inilah keempat hal yang memerlukan muhasabah diri sebelum dilangsungkannya suatu pekerjaan. Karena, tidaklah setiap pekerjaan yang dikehendaki seseorang bisa ia lakukan, dan tidaklah setiap pekerjaan yang mampu ia kerjakan selalu melakukannya lebih baik daripada ia tinggalkan, dan tidaklah setiap pekerjaan yang jika dilakukan lebih baik daripada ditinggalkan selalu karena Allah, dan tidaklah setiap yang ia kerjakan karena Allah selalu mendapatkan para penolong. Jika ia menghisab dirinya dengan beberapa hal di atas maka akan jelaslah apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia tinggalkan.

Jenis kedua yaitu muhasabah diri setelah selesainya pekerjaan. Dan ia terbagi menjadi tiga macam: Pertama, muhasabah atas ketaatan dirinya dari sisi kekurangan yang ia lakukan dari hak-hak Allah, sehingga ia melakukannya tidak sebagaimana mestinya. Adapun hak Allah dalam hal ketaatan ada enam: Ikhlas dalam berbuat, nasihat karena Allah dalam pekerjaan tersebut, mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di dalamnya, persaksian kebaikan yang ada pada pekerjaan tersebut dan persaksian atas karunia Allah dalam pekerjaan tersebut, serta persaksian atas segala kekurangan dirinya dalam pekerjaan tersebut.

Maka hendaknya ia menghisab dirinya, apakah ia telah memenuhi semua hak-hak tersebut? Dan apakah ia melakukan ketaatan tersebut?

Kedua: Hendaknya ia menghisab dirinya atas pekerjaan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakannya.

Ketiga: Hendaknya ia menghisab dirinya atas hal-hal yang mubah atau yang biasa (sehari-hari): Kenapa ia lakukan? Apakah ia lakukan itu karena Allah dan mengharapkan kampung akhirat, sehingga ia beruntung atau ia inginkan dengan itu dunia dengan segala ketergesaannya sehingga ia merugi dan tak mendapatkan kemenangan.

Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 118~120

Read More

Jumat, 09 September 2011

Ramadhan~ Kami merindukanmu~...Banyak pelajaran yang kudapatkan darimu~...

Di bulan ramadhan kita belajar tentang kekuatan~
Kita belajar untuk melakukan segalanya walaupun dalam keterbatasan tenaga. Sambil menahan lapar dan haus, kita harus melakukan aktifitas seperti biasa, terutama mereka yang tinggal di negara minoritas seperti jepang. Pasti sangat berat ujian bagi mereka, *gak berlaku buat orang yang lagi libur sepertiku, hehehe. Karena itulah, dengan adanya bulan ramadhan ini, kita menunjukkan bahwa kita kuat dan tangguh.

Di bulan ramadhan kita belajar tentang kebersamaan~
Kita belajar tentang kebersamaan, dimana bangsa arab dan bangsa azam/ajam*gak tau tulisannya, bersatu padu dalam iftar dan Eid Fitr, tanpa perlu berselisih dan saling membedakan seperti hal yang terjadi di Indonesia. Kita belajar saling menghormati satu sama lain dan menyatukan diri dalam keislaman, tidak peduli mahzab siapa yang ada disana, semuanya tercampur aduk dalam kebersamaan dan kegembiraan.

Di bulan ramadhan kita belajar tentang keistiqamahan~
Kita belajar istiqamah, istiqamah dalam belajar islam, istiqamah dalam shalat malam, istiqamah dalam berbuat amalan-amalan, istiqamah dalam banyak hal. Ketahuilah bahwa kebiasaan yang diistiqamahkan akan membuatnya menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya mendarah daging, dan akhirnya bisa menjadi amalan yang kita lakukan terus menerus, dalam hadits Rasulullah ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim)

Di bulan ramadhan kita belajar tentang kebiasaan-kebiasaan yang baik~
kebiasaan baik tersebut itu sama seperti pada bagian istiqamah, jadi tak perlu lagi dibahas.

Di bulan ramadhan kita belajar tentang kontrol diri dan sifat memaafkan~
"Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.“(HR bukhari)Dengan begini, berpuasa mengajarkan kita untuk mengontrol diri kita untuk menghindari hal-hal yang bisa merusak puasa kita. Karena itu, puasa bukan hanya mengontrol diri dari rasa lapar dan haus, tapi juga dari amarah,syahwat,dll.


Dari latihan-latihan diatas itulah, ada hal yang harus kita usahakan dan diharapkan bisa dicapai setelah ramadhan~...
-Minimal puasa 3 hari setiap bulan
-Bersedakah minimal sekali seminggu
-Membiasakan diri untuk bangun malam
-Menghapal dan memahami Qur'an sebisa mungkin
-Mencoba untuk tidak meninggalkan shalat jamaah di masjid jika mampu


Jika ada kekurangan mohon di tambahi,Jika ada kesalahan mohon diperbaiki

Wassalamu alaikum~

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.