Sabtu, 10 Desember 2011

Haya' atau rasa malu...

Bismillahirrahmanirrahim...Baru aja pulang dari kelas hadits, sekalian disebarkan agar bisa bermanfaat bagi orang lain Insya Allah...Semoga Allah menjaga keikhlasanku...Ehh...Alhamdulillah, nemu sebuah sumber dimana kontennya hampir sama dengan yang tadi diajarkan, jadi gak perlu ngetik terlalu banyak...Tinggal ditambah2in aja...Kalau mau lebih lengkap lagi, silahkan cek sumbernya...Artikel ini saya udah potong2 sebagian soalnya...*sumber ada dibawah...

Dimulai dengan menuliskan sebuah hadits yang diambil dari Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”(HR. Bukhari)
Nah, kita kadang bertanya-tanya, apakah pengertian dari haya', atau apa sebenarnya definisi dari haya' itu sendiri? Berikut ada beberapa penjelasan dari Ulama tentang pengertian haya',

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.

Al-Junaid rahimahullâh berkata, “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.’”[Madârijus Sâlikîn (II/270). Lihat juga Fathul Bâri (X/522) tentang definisi malu.]
Kesimpulan definisi di atas ialah bahwa malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain.[Lihat al-Haya' fî Dhau-il Qur-ânil Karîm wal Ahâdîts ash-Shahîhah (hal. 9).]

Salah satu keistimewaan dari hadits ini sendiri adalah karena hal ini adalah ajaran para Nabi sejak Nabi Adam 'Alaihissalam sampai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Dan seperti kita tahu, ajaran para nabi, sejak nabi pertama hingga nabi terakhir, ada yang sudah sirna dan ada yang tidak. Dan di antara ajaran yang tidak pernah sirna adalah rasa malu. Hal ini menunjukkan bahwa rasa malu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama. Oleh karena itu harus mendapat perhatian yang mendalam.

Malu itu sendiri memiliki banyak keutamaan, berikut ini adalah keutamaan malu:

1). Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.
“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” (Muttafaq ‘alaihi)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.
“Malu itu kebaikan seluruhnya.”
[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37/60), dari Shahabat ‘Imran bin Husain]
Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit.

2). Malu adalah cabang keimanan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.”
[Shahîh: HR.al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abû Dâwud (no. 4676), an-Nasâ-i (VIII/110) dan Ibnu Mâjah (no. 57), dari Shahabat Abû Hurairah. Lihat Shahîhul Jâmi’ ash-Shaghîr (no. 2800).]

3). Allah Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang malu.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.”
[Shahîh: HR.Abû Dawud (no. 4012), an-Nasâ-i (I/200), dan Ahmad (IV/224) dari Ya’la Radhiyallahu 'anhu]

4). Malu adalah akhlak para Malaikat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.

“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.” [Shahîh: HR.Muslim (no. 2401)]

5). Malu adalah akhlak Islam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940)]

6). Malu sebagai pencegah pemiliknya dari melakukan maksiat.

Ada salah seorang Shahabat Radhiyallahu 'anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya, “Sungguh, malu telah merugikanmu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.

“Biarkan dia, karena malu termasuk iman.”
[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 24, 6118), Muslim (no. 36), Ahmad (II/9), Abû Dâwud (no. 4795), at-Tirmidzî (no. 2516), an-Nasâ-i (VIII/121), Ibnu Mâjah (no. 58), dan Ibnu Hibbân (no. 610) dari Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu.]

Abu ‘Ubaid al-Harawi rahimahullâh berkata, “Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karena rasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman yang mencegah antara dia dengan perbuatan maksiat.” [Fathul Bâri (X/522).]

7). Malu senantiasa seiring dengan iman, bila salah satunya tercabut hilanglah yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.

“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”

[Shahîh: HR.al-Hâkim (I/22), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/223), al-Mundziri dalam at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3827), Abû Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (IV/328, no. 5741), dan selainnya. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3200).]

8). Malu akan mengantarkan seseorang ke Surga.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.”[Shahîh: HR.Ahmad (II/501), at-Tirmidzî (no. 2009), Ibnu Hibbân (no. 1929-Mawârid), al-Hâkim (I/52-53) dari Abû Hurairah t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 495) dan Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3199).]

Sifat malu itu sendiri bisa dimiliki dengan dua cara, ada yang memang natural sejak lahir, dan ada juga yang didapatkan.
1). Malu yang merupakan tabiat dan watak bawaan
Malu seperti ini adalah akhlak paling mulia yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إلاَّ بِخَيْرٍ.

“Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” [Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37)]

Malu seperti ini menghalangi seseorang dari mengerjakan perbuatan buruk dan tercela serta mendorongnya agar berakhlak mulia. Dalam konteks ini, malu itu termasuk iman. Al-Jarrâh bin ‘Abdullâh al-Hakami berkata, “Aku tinggalkan dosa selama empat puluh tahun karena malu, kemudian aku mendapatkan sifat wara’ (takwa).”[Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/501).]

2). Malu yang timbul karena adanya usaha.

Yaitu malu yang didapatkan dengan ma’rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla ) dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari iman. Siapa saja yang tidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabi’at maupun yang didapat dengan usaha, maka tidak ada sama sekali yang menahannya dari terjatuh ke dalam perbuatan keji dan maksiat sehingga seorang hamba menjadi setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dengan tubuh manusia. Kita memohon keselamatan kepada Allah Azza wa Jalla.[Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 181)]

Dan sifat malu itu ada yang baik, ada juga yang buruk, dan sifat malu yang buruk adalah malu yang menyebabkan kita menyimpang dari ajaran Islam. Berikut ini ada penjelasan tentang 'Malu' yang menyimpang dari syariat Islam:

Qâdhi ‘Iyâdh rahimahullâh dan yang lainnya mengatakan, “Malu yang menyebabkan menyia-nyiakan hak bukanlah malu yang disyari’atkan, bahkan itu ketidakmampuan dan kelemahan.
Adapun ia dimutlakkan dengan sebutan malu karena menyerupai malu yang disyari’atkan.”[26] Dengan demikian, malu yang menyebabkan pelakunya menyia-nyiakan hak Allah Azza wa Jalla sehingga ia beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agamanya, menyia-nyiakan hak-hak dirinya sendiri, hak-hak orang yang menjadi tanggungannya, dan hak-hak kaum muslimin, adalah tercela karena pada hakikatnya ia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. [Lihat Qawâ’id wa Fawâid (hal. 182)]

Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syar’i, malu mengaji, malu membaca Alqur-an, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim, malu untuk shalat berjama’ah di masjid bersama kaum muslimin, malu memakai busana Muslimah yang syar’i, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela karena akan menghalanginya memperoleh kebaikan yang sangat besar.

Tentang tidak bolehnya malu dalam menuntut ilmu, Imam Mujahid rahimahullah berkata,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.

Artinya : “Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu.” [Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri secara mu’allaq dalam Shahîh-nya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ' fil ‘Ilmi dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jâmi’ bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/534-535, no. 879).]
Ummul Mukminin ‘Âisyah radhiyallâhu ‘anha pernah berkata tentang sifat para wanita Anshâr,

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ ، لَـمْ يَمْنَعْهُنَّ الْـحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِـي الدِّيْنِ.

Artinya : “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshâr. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu Agama.” [Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahîhnya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ' fil ‘Ilmi secara mu’allaq.]

Para wanita Anshâr radhiyallâhu ‘anhunna selalu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika ada permasalahan agama yang masih rumit bagi mereka. Rasa malu tidak menghalangi mereka demi menimba ilmu yang bermanfaat.

Manfaat Malu

Buah dari rasa malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Siapa saja yang memiliki rasa malu hingga mewarnai seluruh amalnya, niscaya ia akan berlaku ‘iffah. Dan dari buahnya pula adalah bersifat wafa' (setia/menepati janji).

Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena, manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah dan saat berhubungan sosial dengan orang lain.

Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup. [Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ' (hal. 55).]

Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya; siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia; siapa yang dibenci manusia pasti ia akan disakiti; siapa yang disakiti pasti akan bersedih; siapa yang bersedih pasti memikirkannya; siapa yang pikirannya tertimpa ujian, maka sebagian besar ucapannya menjadi dosa baginya dan tidak mendatangkan pahala. Tidak ada obat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu; tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya dan berucap apa saja yang disukainya.” [Ibid (hal. 55).]

Kesimpulan

Rasa malu itu banyak sekali manfaatnya. Karena rasa malu yang menjaga diri kita dari maksiat, dan rasa malu pula yang menjaga diri kita dari menjatuhkan harga diri kita dihadapan orang lain. Rasa malu-lah yang menjamin kita untuk tidak bermaksiat disaat kita sendang sendiri. Dan rasa malu pula yang menjaga kita untuk tidak berbuat maksiat dihadapan orang lain. Namun, beda derajatnya jika kita hanya malu untuk tidak berbuat maksiat hanya dihadapan orang lain, tapi kita tidak malu melakukan maksiat dihadapan Allah, karena ini adalah salah satu tanda kemunafikan. Rasa malu lah yang menjadi pembeda antara Nabi Adam dan Iblis ketika berbuat kesalahan. Ketika Nabi Adam 'Alaihissalam berbuat kesalahan, beliau malu kepada Allah dan segera bertaubat kepada Allah. Berbeda dengan syaithan, dia berbuat kesalahan, dan mencari pembenaran atas kesalahan yang dia lakukan, dengan membuat perbandingan antara dia dan Adam 'Alaihissalam.




Referensi: http://almanhaj.or.id/content/2557/slash/0
Read More

Sabtu, 03 Desember 2011

Mutiara Hatim

Ilmu adalah mata pencaharian paling utama, gelar paling mulia, simpanan paling berharga, dan buah termanis yang dapat dipetik, tidak ada seorang ‘pekerja’pun yang mendapatkan ‘gaji’ yang lebih berharga dari ilmu yang dapat menuntunnya ke jalan yang benar serta menyelamatkannya dari kesesatan. Barang siapa yang dimudahkan menuntut ilmu niscaya Allah Ta’ala akan memudahkan jalannya menuju surga.
Para salafuhs shalih tiada pernah menyia-nyiakan waktunya melainkan hanya untuk ilmu. Demikian halnya dengan kisah sarat hikmah dari Hatim rahimahullah. Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Balkhyrahimahullah, bahwa dia pernah bertanya kepada Hatim: “Sudah berapa lama engkau menyertai aku. Lalu apa saja pelajaran yang bisa engkau serap?”
Hatim menjawab: “Ada delapan macam:
1. Aku suka mengamati manusia. Ternyata setiap orang ada yang dicintainya. Namun jika dia sudah dibawa kekuburannya, toh dia harus berpisah dengan sesuatu yang dicintainya. Maka kujadikan yang kucintai adalah kebaikanku, agar kebaikanku itu tetap menyertaiku di kuburan.
Jiwa manusia akan menjadi baik jika mereka senantiasa ingat akan tempat kembalinya. Jika seorang hamba ingat bahwa ia akan berbantalkan tanah sendirian dalam kuburnya tanpa ada teman yang menghiburnya, tanpa disertai orang yang dicintainya; ingat bahwa tidak ada yang berguna selain amal shalihnya, ingat bahwa seluruh manusia tidak berdaya meringankan sedikitpun siksa kubur darinya, ingat bahwa seluruh urusannya berada di tangan Allah Ta’ala, ketika itulah ia yakin bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amalnya hanya kepada Allah semata, Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri.
Kebaikan adalah sesuatu yang sangat berguna bagi setiap jiwa kelak di akhirat. Semua jiwa akan berpisah dengan apa yang menyertainya tatkala di dunia kecuali 3 hal, sebagaimana sabda Rasulullahshallallahu’alaihi wa’ala alihi wasallam,
Jika seseorang mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akannya.” (HR.Muslim).
Salah satu contoh kebaikan adalah amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan untuk melakukan kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Ini merupakan bentuk peningkatan derajat seseorang dan perbuatan baik kepada orang lain. Eksistensinya akan menjamin kesejahteraan umat, melanggengkan setiap kenikmatan, menyebarkan rasa aman, menjamin terijabahnya do’a dan menolak segala makar dan tipu daya musuh. Melalui hal ini segala budi pekerti dan sifat mulia tumbuh berkembang di masyarakat, diiringi dengan surutnya setiap dosa dan kemungkaran.
2. Kurenungi firman Allah subhanahu wa ta’ala, “… dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.” (QS. An-Nazi’at: 40). Maka sebisa mungkin aku mengenyahkan hawa nafsu, hingga jiwaku menjadi tenang karena taat kepada Allah Azza wa Jalla.
Hawa nafsu merupakan faktor terbesar yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah Ta’ala, sehingga dalam hal ini manusia dikelompokkan dalam dua kriteria, yakni pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangkan pertarungan melawannya. Ia mampu mengekangnya, menundukkannya dan nafsu pun tunduk di bawah perintahnya.
Amirul mukminin Ali Bin Abi Thalib berkata: “Medanmu yang pertama adalah nafsumu. Jika kamu menang atasnya maka kamu atas yang selainnya lebih mampu. Dan jika kamu kalah di dalamnya, niscaya kamu atas yang selainnya lebih kalah lagi, maka cobalah mengalahkan nafsumu terlebih dahulu.”
Setiap mukmin mempunyai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah). Dia tenang di pintu ma’rifah terhadap asma’ dan sifat Allah Ta’ala dengan berdasarkan kabar dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dia tentram atas takdir Allah Ta’ala, menerima dan meridhainya, tidak benci dan berkeluh kesah, tidak pula terguncang keimanannya, tidak berputus asa atas sesuatu yang lepas darinya, pun tidak berbangga atas apa yang dimilikinya, sebab semua musibah dan kenikmatan telah ditakdirkan oleh-Nya jauh sebelum musibah dan kenikmatan itu sampai kepadanya, bahkan sebelum ia diciptakan.
3. Setelah kuamati aku tahu bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang bernilai dalam pandangannya, lalu dia pun akan menjaganya. Kemudian kuamati firman Allah Ta’ala: “Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96). Oleh karenanya, setiap kali aku mempunyai sesuatu yang berharga, maka aku segera menyerahkannya kepada Allah Ta’ala, agar dia kekal di sisi-Nya.
Setiap pakaian yang kita gunakan pasti akan hancur, makanan yang kita makan akan habis, kecuali harta yang kita nafkahkan di jalan Allah Ta’ala, itulah hakekat harta yang kita miliki. Shadaqah ibarat benteng antara seseorang dengan api neraka. Orang yang ikhlas dan menyembunyikan shadaqahnya akan mendapat naungan pada hari kiamat tat kala tiada naungan selain naungan Allah Azza wa Jalla. Kemudian ia dipanggil untuk memasuki Baabus Shadaqah –salah satu pintu surga untuk orang-orang yang gemar bershadaqah-.
Orang yang bakhil (kikir) seakan terkurung dari semua amal sosial, terhalang dari banyak kebaikan, dan tidak pernah merasa lega. Dadanya sempit dan nafasnya pun sesak, ia jarang terlihat senang dan selalu dirundung kesedihan, hajatnya hampir tidak pernah terlaksana dan hampir tiada seorangpun sudi menolongnya. Allah Ta’ala berfirman,
Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).
Seorang penyantun yang beriman akan dekat kepada Allah Ta’ala dan dicintai manusia dan kaum kerabatnya. Ia dekat dengan surga dan jauh dari api neraka. Namun orang yang kikir pasti dijauhi manusia. Ia pun dekat dengan neraka dan jauh dari surga.
4. Kulihat banyak orang yang kembali kepada harta, keturunan, kemuliaan dan kedudukannya. Padahal semua ini tidak ada artinya apa-apa. Lalu kuamati firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13). Karena itu aku beramal dalam lingkup takwa, agar aku menjadi mulia di sisi-Nya.
Kebanyakan dari manusia sangat berbangga atas harta yang mereka miliki, keturunan yang ia punyai serta pangkat, jabatan dan kedudukan yang ia dapatkan. Mereka menilai segala sesuatu berdasarkan ketiga hal tersebut. Seseorang akan dinilai mulia jika di dalam dirinya terdapat salah satu atau ketiga hal tersebut. Mempunyai rumah mewah dan mobil mengkilat adalah suatu kepastian bagi mereka bahwa dia adalah orang yang paling mulia, meskipun ia senantiasa bergelimang dalam kemaksiatan. Lain halnya dengan orang yang miskin papa, walaupun ia orang yang ahli ilmu dan ibadah, mereka menilai bahwa ia adalah orang yang paling hina di dunia ini. Sungguh suatu yang sangat terbalik keadaannya.
Dunia adalah sesuatu yang sangat hina di hadapan Allah Ta’ala. Seandainya di dunia ada kemuliaan seberat sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan minum setetespun kepada orang kafir. Demikian halnya perumpamaan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ala alihi wasallam tentang dunia yang diibaratkan dengan bangkai kambing yang cacat, tidak berharga sama sekali.
Takwa adalah segala-galanya. Dengannya Allah akan mencintai dan meridhainya. Allah Ta’ala akan memberikan solusi dari setiap permasalahan yang menimpa manusia jika mereka bertakwa. Tiadalah kebaikan yang paling baik melainkan bertakwa kepada Rabb yang Maha Pencipta, Pengatur dan Maha Memiliki.
5. Kulihat manusia sering iri dan dengki. Lalu kuamati firman Allah Ta’ala: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Zukhruf: 32). Karena itu kutinggalkan sifat iri dan dengki.
Hasad merupakan salah satu penyakit hati. Ia adalah penyakit yang banyak menjangkiti mereka yang saling bersaing; baik karena kebencian salah seorang dari mereka atas yang lain, atau karena yang satu lebih unggul dari pesaingnya. Hasad termasuk salah satu celah pintu masuk syetan yang sangat berbahaya, selain itu ia juga merupakan salah satu sifat tercela orang Yahudi.
Hasad adalah suatu bentuk penentangan terhadap Allah Ta’ala, karena orang yang hasad tidak suka terhadap nikmat Allah yang Dia berikan kepada salah seorang hamba-Nya. Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala menyukai nikmat yang Dia berikan kepada hamba-Nya tadi, sedang si pendengki menginginkan hilangnya nikmat tersebut, maka ia telah menentang takdir Allah Azza wa Jalla, dan menentang apa yang Allah suka dan yang Allah benci.
Ibnul Qayyim mengatakan: “Di antara masalah yang paling berat dan sulit bagi hawa nafsu, yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang mendapat karunia besar dari Allah Ta’ala adalah memadamkan kedengkian si pendengki yang jahat dan selalu mengganggu, dengan berbuat baik kepadanya. Jadi semakin bertambah kedengkian, kejahatan, dan gangguannya, Anda justru harus bertambah baik kepadanya, bertambah prihatin dan semakin gigih menasehatinya.”
6. Kulihat manusia saling bermusuhan. Lalu kuamati firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya syetan itu musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian).” (QS. Fathir: 6). Karena itu aku tidak mau bermusuhan dengan mereka dan hanya syetan semata yang kujadikan musuh.
Tiadalah kewaspadaan yang sangat harus dimiliki kecuali terhadap syetan. Waspada terhadap segala gangguannya, waspada terhadap segala tipu dayanya dan waspada terhadap segala makarnya. Ia tidak akan pernah berhenti hingga manusia mengikuti jalan kesesatannya. Ia benar-benar musuh yang sangat pantas untuk dimusuhi, karena ia-lah sumber dari permusuhan.
Manusia saling bermusuhan tak lain hanyalah akibat sulutan api yang dikobarkan oleh syetan. Pun mereka akan berbaikan jika mereka mau menyiramkan air kepada api yang dipercikkan oleh syetan. Oleh karenanya, tiadalah gunanya jika harus bermusuhan dengan manusia jika semua itu disebabkan oleh syetan. Hendaknya pertemanan dan permusuhan di antara manusia tak lain haruslah karena Allah Ta’ala, bukan karena yang lain agar syetan tertutup untuk membalikkan keadaan. Yang seharusnya menjadi musuh dijadikan teman dan yang seharusnya menjadi teman dijadikan musuh.
7. Kulihat manusia menghinakan diri mereka untuk mencari rezeki. Lalu aku amati firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki.” (QS. Hud: 6). Karena itu aku menyibukkan diri dalam perkara yang memang menjadi kewajibanku dan kutinggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya.
Bekerja untuk mencari rezeki telah menjadi pemikiran kebanyakan manusia; dari si Kecil yang ‘menyanyikan’nya sampai si Tua yang masih terus mengejarnya. Demikian pula sebagian besar problematika kehidupan, topik pembicaraan dan berbagai kejadian, selalu saja berputar dalam persoalan yang bernama ‘mencari rezeki’. Namun demikian, seorang mukmin yang cerdas senantiasa mengembalikan urusan rezeki tersebut kepada ‘si empunya’ rezeki, yakni Allah subhanahu wa ta’ala.
Rezeki yang sudah ditetapkan menjadi bagian kita, maka ia akan pasti sampai kepada kita dalam kondisi selemah apapun; demikian sebaliknya. Oleh karenanya janganlah terlalu membuang-buang waktu dan susah-susah memikirkan rezeki yang sudah dijamin untuk kita. Jangan hanya karena mencari rezeki kita menghinakan diri dengan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, sehingga ada ungkapan nista yang muncul akhir-akhir ini: “Cari yang haram saja susah apalagi yang halal.
Seorang mukmin yang tangguh adalah ia tetap berusaha mengais rezeki yang disediakan Allah Ta’ala tanpa mengabaikan tawakkal kepada-Nya. Janganlah terlalu ambisius dalam mewujudkan keinginan, karena yang demikian itu dapat mengeluarkan seseorang dari koridor tawakkal. Tatkala manusia tamak untuk merealisasikan keinginannya, maka manusia akan percaya 100% atas segala usahanya dan lupa berserah diri.
Ingatlah, kadangkala Allah Ta’ala menutup suatu jalan bagi manusia lantaran hikmah-Nya, namun Dia akan membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagi kita dikarenakan rahmat dan karunia-Nya. Maka barangsiapa yang ingin menjadi orang yang paling tangguh, hendaklah ia bertawakkal kepada Allah; dan barangsiapa yang ingin menjadi orang yang paling berkecukupan hendaklah ia lebih percaya terhadap apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri.
8. Kuamati mereka mengandalkan perdagangan, usaha dan kesehatan badan mereka. Tapi aku mengandalkan Allah dengan bertawakkal kepada-Nya.
Tawakkal merupakan sebuah tingkat kedudukan (manzilah) yang amat tinggi dari berbagai tingkat kedudukan yang ada dalam Islam. Allah pun menjadikan tawakkal sebagai salah satu sebab untuk mendapatkan kecintaan-Nya. Di dalam sikap tawakkal terkandung ridha Allah yang Maha Penyayang, serta benteng kokoh dari godaan syetan.
Barangsiapa berhasil mewujudkan sikap tawakkal maka ia akan masuk surga tanpa hisab. Adapun nilai-nilai duniawi maka kadangkala justru diperoleh oleh orang yang santai dan justru kadang-kadang luput dari kejaran orang yang sungguh-sungguh; kadangkala ia justru menjadi bagian mereka yang ‘gagal’ dan meleset dari perhitungan mereka yang ‘sukses’, tidak ada yang lebih mendekatkan seseorang dari yang ia tuju tersebut melainkan tawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Tawakkal membuahkan ketentraman dalam hati, menstabilkan jiwa, melumpuhkan tipu daya musuh, dan ia merupakan sebab utama yang menjadikan seseorang mampu menolak gangguan dan aniaya orang lain yang tidak tertahankan. Dengan tawakkal pula hati seseorang akan merasa tidak butuh terhadap apa yang ada pada orang lain.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidaklah seseorang berharap dan bertawakkal kepada suatu makhlukpun, melainkan makhluk itu akan mengecewakan dan memupuskan harapannya; namun barangsiapa menyerahkan segenap urusannya kepada Allah, niscaya ia akan mendapat yang ia cita-citakan.” *)
Demikianlah delapan mutiara hikmah dari Hatim. Semoga kita mampu merenungkannya dan mengamalkan apa yang menjadi buah pelajaran yang dipetik oleh Hatim selama ia menuntut ilmu kepada Syaqiq Al-Balkhy rahimahullahu ta’ala ajma’in.
Wallahua’lamubishshawab.
Sumber:http://darmantomuat.wordpress.com/2010/02/01/8-mutiara-hatim/
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.