Minggu, 01 Januari 2012

Kisah Penjahit Adzan tengah malam.

Tadi pagi, atas saran seorang ikhwan, saya mendengarkan radio rodja, yang sebelumnya jarang saya dengarkan, padahal radio ini adalah radio yang menyebarkan sunnah. Nah, tiba-tiba aja, kajiannya ternyata membahas tentang kisah-kisah teladan yang lumayan menarik. Karena gak sempat nyatet, saya nyari-nyari di google, dan ternyata ada. Berikut ceritanya:
Di dalam kitabnya, al Bidayah wa n-Nihayah, Ibnu Katsir memaparkan sebuah kisah :
Dulu, ada seorang lelaki miskin tetapi memiliki banyak harta, lalu hartanya dibawa oleh seorang amir yang berkuasa. Namun setiap kali orang miskin ini memintanya ia pasti disakiti, dan dipukuli oleh anak si amir. Kemudian dia mengadu kepada panglima perang namun sama saja, dia tidak mendapatkan haknya.
Orang miskin ini berkata, “Setelah itu, aku merasa putus asa untuk mendapatkan hartaku, dan aku sangat sedih. Ketika keadaanku seperti itu, dan aku bingung kepada siapa lagi aku harus mengadu, tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata kepadaku, “Kenapa kamu tidak menemui tukang jahit depan masjid saja?”.
Jawabku, “Apa yang bisa diperbuat oleh tukang jahit itu dengan kedhaliman ini?, dan pihak pemerintah daulah belum memberi keputusan dalam perkara ini.”
Dia berkata, “Tukang jahit ini lebih mampu dan ditakuti dari orang-orang yang telah kamu temui, temuilah dia maka kamu akan mendapatkan kebahagiaan.”
Lelaki miskin ini berkata, “Kemudian aku menemuinya tanpa menggangu urusannya, aku utarakan keperluan dan hartaku, serta kedholiman yang aku dapatkan.”
Kemudian dia berdiri dan menutup tokonya, lalu berjalan di sampingku menuju rumah amir itu dan mengetuk pintunya. Diapun keluar dengan muka marah, tetapi ketika melihat tukang jahit itu dia ketakutan, bahkan ia memuliakan dan menghormatinya.
Tukang jahit itu berkata, “Berikan hak orang miskin ini!!!”
Amir itu membantahnya, “Aku tidak membawa apapun miliknya.”
Tukang jahit itu berteriak dan berkata, “Serahkan hak orang ini, kalau tidak aku akan adzan !!”. Seketika itu juga wajahnya berubah dan dia langsung memberikan seluruh hartaku, kemudian kami pergi.
Aku sangat heran sekali dengan penjahit ini, dengan keadaanya yang menyedihkan dan rumahnya yang reyot, bagaimana bisa pembesar itu patuh kepadanya?. Lalu aku berniat memberikan sedikit hartaku tapi dia menolaknya dan berkata, “Aku bisa mendapatkan yang lebih dari ini jika aku mau.” Kemudian aku bertanya tentang dirinya, dan aku ungkapkan kekagumanku kepadanya, namun dia tidak menoleh sedikitpun, akupun mengulang-ulang tanyaku padanya.
Aku bertanya, “Kenapa kamu mengancamnya dengan adzanmu?!”
“Aku sudah mengambilkan hartamu, maka pergilah.” jawabnya.
“Tidak, kamu harus menceritakan kepadaku.” kataku.
Akhirnya dia mau bercerita, “Penyebabnya adalah kejadian beberapa tahun yang lalu. Aku memiliki tetangga seorang pembesar daulah dari turki, dia seorang lelaki yang tampan. Pada suatu malam, ada perempuan baik-baik yang baru keluar dari kamar mandi, dia memakai baju panjang yang mahal. Lelaki itu mencegatnya dalam keadaan mabuk kemudian menarik dan ingin membawa perempuan itu ke rumahnya. Perempuan itu menolak dan berteriak dengan keras, “Aku adalah perempuan yang sudah bersuami, dan laki-laki ini menginginkanku dan memaksaku masuk ke dalam rumahnya, padahal suamiku telah bersumpah akan mentalak aku jika aku tidak bermalam di rumahnya, jika aku bermalam di sini maka akan jatuh talak kepadaku, dan aku akan menanggung malu dan kehinaan yang tidak dapat dibersihkan.”
Penjahit itu melanjutkan ceritanya, “Lalu aku menemui dan mencegahnya serta membebaskan perempuan itu dari cengkramannya, tetapi kemudian dia menyabetku dengan pedang yang ada di tangannya, kepalaku terluka dan berdarah.”
Dia memaksa perempuan itu dan membawanya ke dalam rumah sedangkan aku langsung pulang untuk membersihkan darah yang mengalir di kepalaku dan membalutnya. Aku berteriak kepada orang-orang, “Kalian mengetahui masalah ini, maka mari kita bersama-sama mencegahnya dan kita bebaskan perempuan itu dari cengkramannya.”
Orang-orang pun datang bersamaku menyerang rumah orang itu, tetapi kami dihadang oleh para penjaganya, mereka mengamuk dan memukuli kami dengan tongkat dan pisau. Anak lelakinya pun mendatangi dan memukuliku dengan hebatnya sehingga aku berdarah. Kami diusir dari rumahnya dengan sangat hinanya.
Akupun kembali pulang dengan sempoyongan karena hebatnya siksaan dan darah yang mengalir. Aku ingin tidur di atas ranjang tapi aku tidak bisa tidur, aku bingung memikirkan bagaimana cara untuk menolong perempuan itu sehingga dia bisa bermalam di rumah suaminya sehingga ia tidak ditalak. Tiba-tiba aku berpikiran untuk mengumandangkan adzan shubuh pada pertengahan malam, agar dikira shubuh telah datang, sehingga lelaki itu akan mengeluarkan perempuan itu dari rumahnya, dan pergi ke rumah suaminya.
Aku pun naik keatas menara dan mengumandangkan adzan dengan mengeraskan suaraku. Aku lihat ke rumah lelaki itu; apakah perempuan itu sudah keluar, lalu aku selesaikan adzanku?. Tapi ternyata perempuan itu tidak keluar juga. Akupun berniat jika perempuan itu tidak keluar maka aku akan mengerjakan shalat sehingga lelaki kotor itu benar-benar tahu bahwa waktu shubuh telah datang. Ketika aku melihat apakah perempuan itu sudah keluar apa belum, tiba-tiba jalanan dipenuhi dengan kuda dan manusia.
Orang-orang pun berkata, “Siapa yang mengumandangkan adzan pada jam segini?” lalu melihat melihat menara masjid. Akupun berteriak kepada mereka, “Aku yang tadi adzan” Aku pun berharap mereka akan membantuku.
Mereka berkata, “Turun kamu!”, kemudian aku turun.
Mereka berkata, “Hadapkan dia pada khalifah!” Aku pun ketakutan. Aku meminta kepada mereka demi Allah untuk mendengarkan kejadian yang sebenarnya, tapi mereka menolak. Mereka mengarakku ke hadapan khalifah, dan aku tidak berdaya sampai akhirnya aku berada dihadapannya.
Tatkala aku melihatnya duduk di atas kursi kekhalifahan aku gemetar ketakutan.
Khalifah berkata, “Duduklah”, akupun duduk.
Khalifah berkata lagi, “Jangan takut, tenangkan hatimu.” Kholifah selalu ramah kepadaku sehingga aku menjadi tenang, dan ketakutanku menghilang.
Khalifah bertanya kepadaku, “Apakah kamu yang tadi mengumandangkan adzan?”.
“Iya amirul mukminin.” jawabku.
“Apa yang mendorongmu melakukan hal tersebut padahal waktu malam masih panjang? Kamu sudah menipu orang yang shaum, musafir, orang yang shalat dan mengganggu kaum perempuan yang sedang sholat.”
Aku menjawab, “Berilah keamanan kepada saya wahai amirul mukminin sehingga saya menceritakan kejadian yang sebenarnya.”
Khalifah berkata, “Baiklah kamu aman.” Lalu aku menceritakan kejadian yang sebenarnya dan beliau marah besar. Kemudian beliau memerintahkan untuk menghadirkan lelaki dan perempuan itu, dan keduanya pun hadir dengan segera.
Perempuan itu pun dikembalikan kepada suaminya bersama perempuan-perempuan yang dapat dipercaya. Kemudian beliau menemui lelaki itu dan bertanya, “Berapa banyak rizki yang kamu peroleh? berapa banyak harta yang kamu punya? Dan berapa banyak tetangga dan istri-istrimu?” Kemudian dia sebutkan jumlahnya yang banyak.
Khalifah pun berkata, “Celaka kamu, apa yang menghalangimu dari nikmat yang diberikan oleh Allah sehingga kamu merampas yang diharamkan oleh Allah dan melampaui batas-batas-Nya serta menyalahgunakan kekuasaan?! Apa yang menghalangimu sehingga kamu menyiksa orang yang beramar ma’ruf dan nahi munkar kepadamu?” Dia tidak menjawab sepatah katapun.
Kemudian kakinya diikat, lehernya dibelenggu dan dimasukkan kedalam karung. Dia berteriak-teriak minta tolong, dan menyatakan bertaubat. Sedangkan khalifah tidak menggubrisnya, dan memerintahkan para prajurit untuk memukulinya dengan pedang sehingga dia terdiam.
Selanjutnya khalifah memberi perintah agar lelaki itu dibuang di sungai dajlah dan begitulah akhir kisah hidupnya. Beliau juga menyita harta dari dulu diambil dari baitul mal yang berada dirumah lelaki tersebut.
Kemudian khalifah berpesan kepadaku, “Setiap kali engkau melihat kemungkaran besar ataupun kecil walaupun dilakukan oleh dia (seraya menunjuk kepada petugas polisi) maka beritahukanlah kepadaku jika kamu bertemu denganku, kalau tidak maka tandanya adalah dengan adzan, kumandangkan adzan kapan saja atau seperti yang kamu lakukan tadi”.
“Semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada anda”, jawabku, lalu aku mohon diri keluar.
Tukang jahit itu mengakhiri kisahnya, “Oleh karenanya, apapun yang aku perintahkan pasti mereka kerjakan, dan apapun yang aku larang pasti mereka tinggalkan karena takut terhadap khalifah Mu’tadhid, dan aku tidak pernah adzan lagi seperti waktu itu sampai sekarang…Alhamdulillah.”
Ibnu Abdul Bari el `Afifi, admin www.oaseimani.com


Subhanallah, menarik bukan? Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita diatas, diantaranya, janganlah kita menganggap remeh suatu pekerjaan seseorang, atau menganggap remeh karena fisiknya. Dari Abu Hurairah, yaitu Abdur Rahman bin Shakhr r.a., katanya: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu sekalian." (Riwayat Muslim)
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.