Rabu, 04 Januari 2012

Jama'ah ooo Jama'ah...Kenapa saling egois dan memaksakan kehendakmu?

Tidak, saya tidak sedang mau berceramah kayak ustadz Nur Maulana. Saya hanya ingin menuliskan sebuah konsep dan pemikiran. Jidal, berbantah-bantahan, adalah hal yang sering kita lakukan. Namun, adalah kesalahan jika ketika kita berbantah-bantahan, yang kita lakukan adalah mengkritisi personal yang memberikan hujjah atau tempat dia mengambil hujjah. Yakni, kita berpendapat bahwa dia begini dan begitu, jadi jangan diikuti. Ketika terjadi perbedaan pendapat, adalah hal yang baik jika kita tetap sharing pendapat, bukan dngan mengunci pendapat lain, karena ada beberapa orang yang dengan singkat langsung memotong, "wah...ini terlalu strict...", yang lainnya bilang, "wah...ini terlalu mengikuti hawa nafsu...", kalau sudah begini, akhirnya konsep pencarian kebenaran itu sudah tidak ada lagi, karena keegoisan masing-masing pihak. Harusnya kedua pihak saling memberikan pandangan, lalu masing-masing dibiarkan berfikir, kira2 yang manakah yang sesuai dengan fitrah mereka. Tapi, hal ini akan sulit dilakukan jika kita terlalu memaksakan pendapat karena sudah yakin pendapat yang kita ambil dari sini adalah benar. Karena itu, janganlah kita terlalu memfanatikkan diri pada satu golongan. Carilah yang benar, bukan yang banyak.

Masing-masing orang selalu berpikir tentang konsep jamaah setelah tahu bahwa Islam akan terbagi menjadi 73 golongan, dan hanya satu yang selamat, spontan mereka akan mencari kira-kira golongan manakah yang selamat. Akhirnya, masing-masing mengaku sebagai golongan paling benar dan pantas masuk surga. Akhirnya, masing-masing golongan merasa benar, dan menganggap golongan lain itu salah. Karena itu saya bilang bahwa "Ibadah itu penilaiannya individu". Toh Allah sendiri berfirman, bahwa yang dinilai adalah paling bertaqwa diantara kita, bukan masalah golongan A dan B. Karena itu jangan kita bertaqlid pada kelompok dan mengaku jamaah ini dan itu, jadi diri sendiri, dan carilah kebenaran itu sendiri. Jika tahu sesuatu itu dosa, meragukan, ataupun bid'ah, kenapa kita mesti mengerjakannya kalau kita bisa meninggalkannya? Masalah kita penghuni neraka atau surga, itu bukan urusan kita Allah berhak mengampuni seluruh dosa ummatNya, dan Allah sudah berjanji untuk itu, kecuali dosa syirik. Abdullah ibn Mas'ud mengatakan, "bahwa jama'ah adalah mengikuti kebenaran walau kau hanya sendiri", dan jama'ah itu bukan jamaah ini dan itu, melainkan yang bersumber langsung dari Rasulullah, karena imam kita adalah Rasulullah.

Saya mencoba konsep pencarian kebenaran ini pada diri saya sendiri. Jadi ceritanya, saya pernah diberi tahu oleh seorang teman ketika masih SMA, "Rid, jangan dengarin musik, itu melalaikan dari Allah." Tentu aku gak bisa langsung menerima pendapat tersebut. Mengapa? Saya sangat sukaaa musik. Dulu saya suka lagu peterpan dan menghapalkan lagunya sampai beralbum-album. Begitu juga dengan beberapa lagu Jepang. Sampai akhirnya ketika saya mencoba mengaplikasikannya sendiri. Alhamdulillah, hapalan surah saya yang tadinya cuma 5~10 surah pendek, menjadi 20~25 surah yang tidak terlalu pendek, saat ini pun masih mencoba menambahnya. Tapi, setidaknya konsep tersebut membuka mata saya, bahwa kita harus menerima pendapat orang lain, walau kadang berbeda dengan pendapat yang kita percaya.

Ketahuilah, ketika kita sudah terlanjur bergabung pada suatu jamaah, secara otomatis kita akan mengikut arus jamaah tersebut, dan akhirnya kita akan menjadi taqlid dan membuat kita tidak menerima lagi pendapat dari jamaah yang lain yang mungkin lebih benar dan lebih mampu dibuktikan kebenarannya. Tengoklah sebuah firqah atau ormas di Indonesia, yang menyatakan diri mereka adalah Islam jama'ah, namun mereka malah bertaqlid pada imam, dan menganggap muslim yang lainnya adalah kafir, karena itulah mereka menyebut kita golongan Ahli kitab, Naudzu billahi min dzalik.

Tadi, saya sempat membaca sebuah artikel dari internet, judulnya adalah “Kekeruhan Jama’ah lebih baik dari pada Kejernihan Individu" , membaca judul itu, spontan saya bertanya, "loh? gimana dengan Rasulullah yang waktu itu hanya jernih secara sendirian?Atau nabi Ibrahim yang waktu itu jernih juga hanya sendirian? Apakah derajat kaum Quraisy yang bejat itu jauh lebih baik daripada Rasulullah yang sendiri?"

Kalau saya ditanya, gimana sih konsep jamaah menurut kamu? Menurut saya, jamaah yah jamaah, kalau shalat bareng di masjid, ya itu namanya jamaah, ketika bertemu di jalan dan kau saling menyapa, maka kau adalah jamaah. Yaa...Kita jamaah Rasulullah, yakni orang-orang yang percaya bahwa Tiada Ilah yang patut disembah kecuali Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya. Tidak peduli, anda preman, pengguna rok mini, penjambret, pencuri, dll. Kau bersyahadat, maka kau saudaraku. Entah kau berada di firqah A atau B, atau kau ada di ormas C atau D, atau ada di partai E atau F.

Kebenaran itu kita bisa cari dengan tetap saling sharing, bukan dengan memaksakan pemikiran yang kita tahu saja. Belajarlah menjadi bijak dalam menemukan kebenaran, ketahuilah kebenaran datangnya dari Allah, bukan dari diri kita sendiri.

Wassalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.