Jumat, 13 Januari 2012

Shalat jum'at yang kualami di Jepang~

Bismillahirrahmanirrahim

Well, disini saya akan cerita sedikit tentang masa lalu saya yang kelam. Saat itu, saya masih sangat suka main game. Saking, sukanya saya kadang meninggalkan shalat jum'at. Dan saya benar-benar merasa seperti orang Yahudi, mengapa? Dulu, saya memang sudah mengenal Islam, dan Islam bukanlah hal yang terlalu asing bagiku. Karena itu, saya tahu bahwa orang yang tidak shalat jum'at 3 kali, adalah kafir. Lalu, saya mikir, mending saya skip aja shalat jum'at 2 kali, jadi minggu ketiganya saya bisa shalat jum'at yang tidak membuatku kafir. Naudzubillahi min dzalik.

Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya masuk keanggotaan rohis di sekolah saya. Saya bergaul dengan orang shaleh, yang akhirnya menyemangati diri saya sendiri untuk tidak mau meninggalkan shalat jum'at. Alhamdulillah, sampai akhirnya saya lulus SMA pun saya masih bisa tetap menjalin hubungan dengan mereka. Bahkan beberapa waktu sebelum akhirnya saya ke Jepang, saya masih bisa istiqamah.

Lalu, hal buruk pun terjadi saat saya benar-benar pindah ke negara ini(Jepang). Ya, negara kafir ini hampir saja mengkafirkanku. Waktu itu, pemikiran saya benar-benar sempit. Di Jepang ini, sangat sulit bagi kita untuk menemukan masjid. Dan hal ini menjadi alasan utama bagiku untuk bermalas-malasan dalam melakukan shalat jum'at. Saya pernah sempat chatting dengan teman yang dulu di SMP dikenal sebagai ustadz. Beliau menasehati saya, tapi saya tidak menggubris. Entah kapan mulainya, akhirnya somehow saya mendapatkan cara murah untuk shalat jum'at. Ternyata setelah shalat jum'at, somehow pemikiranku mulai terbuka. Dan akhirnya Alhamdulillah, seiring dengan berjalannya waktu pikiranku terbuka dan saya diberikan hidayah, setelah bertemu seseorang yang sempat saya singgung di bagian Tentang penulis.

Rintangan Lagi
Ketika jadwal kuliah sudah dibagikan, saya terdiam menatap salah satu mata kuliah yang diajar oleh seorang sensei. Jadwalnya tepat setelah sholat Jum'at. Awalnya, saya mengira dia akan memberikan izin terlambat karena melakukan ibadah. Namun, tampaknya dia tidak mau menerima alasan itu. Pada hari pertama saya masuk kelas itu masih ditolerir olehnya. Pertemuan keduapun dia masih memberikan toleransi. Tapi setelah itu saya diperingati bahwa jika terlambat lagi saya akan dianggap tidak hadir, dan hal itu bisa membuat saya gagal (karena kehadiran kurang dari 2/3). Walaupun di kampus kami juga diadakan shalat jum'at, hal ini menjadi salah satu rintangan saya untuk ikut shalat jum'at. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, mereka mulai melaksanakan shalat jum'at. Tentu saja, pada semester-semester berikutnya kami tidak memiliki kelas setelah waktu shalat jum'at.

Kemudahan dari Allah
Shalat jum'at jika memang sudah diniatkan Insya Allah, akan jadi mudah. Nah, Alhamdulillah, ada bus gratisan yang menghubungkan antara kampusku yang ada disini dengan kampus yang berada dekat dengan Masjid. Jadi kadang, saya bisa numpang gratis ke sana, walau hanya beroperasi pada hari kerja. Maka, ketika saya sedang libur, namun kampus program doktor dan master tidak libur, saya bisa memanfaatkannya. Lumayan, setelah shalat jum'at masih bisa tinggal tidur siang di masjid, atau makan di sekitar masjid, dan jika ada kelas hadits di malam harinya, bisa ikutan. Makanya, saya selalu berharap, mudah-mudahan saya tidak menyia-nyiakan kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan ilmu dan pahala dari Allah Subhana wa ta'ala.

Sebagaimana yang saya tulis pada paragraf diatas, saya dapat menggunakan bus kampus untuk pergi ke masjid. Satu hal lagi yang menambah kemudahanku untuk shalat jum'at, yakni jadwal semester empat yang sangat memudahkan untuk pergi ke masjid. Biasanya hanya ke masjid pada saat libur, namun, sekarang saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk tetap melaksanakan shalat jum'at di masjid, karena jadwal kuliah setelah dan sebelum shalat jum'at pada semester ini kosong. Ini berarti saya bisa menggunakan waktu 2 jam perjalanan pulang pergi masjid, 1 jam sebelum jam 12, dan 1 jam setelah jam 1. 


Akhir kata, keimanan bertambah bisa sesuai dengan kemauan, tapi semuanya tergantung dari Allah, karena pemberian hidayah adalah hak dari Allah, kita hanya bisa melakukan semampu kita untuk menjaga diri berada dalam hidayah tersebut. Mayyahdihillahu Fala Mudillalah Wamayyudlil Falaa Haadiyalah
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

11 comments:

Bianglala Basmah mengatakan...

Subhanallah.. ternyata menjaga keimanan di negeri minoritas muslim banyak rintangannya. Dan Farid adalah sekian hamba yg terpilih dalam hidayahNya..
Islam memang mudah, tapi bukan dimudah-mudahkan.
Suka dengan sepenggal kalimat ini,"Keimanan bertambah bisa sesuai dengan kemauan, tapi semuanya tergantung dari Allah, karena pemberian hidayah adalah hak dari Allah, kita hanya bisa melakukan semampu kita untuk menjaga diri berada dalam hidayah tersebut..."
^^

farid maricar mengatakan...

Tapi tetap merasa bersalah~...Kenapa saya tidak memiliki lisan yang cukup tegas untuk semua ini?Kenapa hanya bisa lewat tulisan, dan kenapa tidak dalam bahasa Inggris?

Eniwei...Syukran sudah berkunjung~...

rusydi hikmawan mengatakan...

farid sekarang sedang kuliah di jepang? sejak tahun berapa? sebagai minoritas memang berat ujiannya. mesti punya idealisme yang kuat

farid maricar mengatakan...

Sejak Tahun 2010...Hehe
Membangun Idealisme kuat itu susah...Karena tidak semua orang sekitar kita menyukai idealisme kita...

meutia rahmah mengatakan...

subhanallah..teruslah istiqamah karena memang tidak mudah menjaga keimanan di negra yg mayoritas adalak kafir ..oya adakah disana semacam persatuan mahasiswa2 yg muslim disana??

farid maricar mengatakan...

Insya Allah...Semoga Allah terus memberikanku kekuatan...
Alhamdulillah...disini ada persatuan muslim Indonesia, yang internasional juga ada...Jadi negara Jepang Insya Allah tidak akan miskin dari orang-orang yang shaleh...Dan beberapa dari mereka juga ikut berdakwah...Kagum sama mereka, tidak seperti saya, yang hanya bisa berkata lewat tulisan dan ketikan...

doremi mengatakan...

Subhanallah, aku sempat berpikir gimana caranya sholat jum"at di sana, Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah SWT.... skarng di universitas apa?

farid maricar mengatakan...

Saya di Universitas Kyushu, Fukuoka...hehehehe...terima kasih sudah berkunjung...

Budiastuti mengatakan...

Dalam keadaan darurat bukannya boleh ya sholat jumat dengan beberapa orang saja meskipun tak di masjid asal ada imam dan khatibnya? Oh ya apakah boleh sholat jumat itu tidak di awal waktu? Misal 1 jam setelah dhuhur menyesuaikan dengan waktu jamaah ? Jadi misal dilingkungan kampus Jepang bisa terdiri dari 2 kloter dan dikerjakan di aula atau kelas yàng untuk itu kita minta ijin ? Boleh nggàk ya?

Budiastuti mengatakan...

Dalam keadaan darurat bukannya boleh ya sholat jumat dengan beberapa orang saja meskipun tak di masjid asal ada imam dan khatibnya? Oh ya apakah boleh sholat jumat itu tidak di awal waktu? Misal 1 jam setelah dhuhur menyesuaikan dengan waktu jamaah ? Jadi misal dilingkungan kampus Jepang bisa terdiri dari 2 kloter dan dikerjakan di aula atau kelas yàng untuk itu kita minta ijin ? Boleh nggàk ya?

farid maricar mengatakan...

Wallahu 'alam bish showab, lebih baik ditanyakan pada ustadz semisal yang ada di link konsultasisyariah.com

Diberdayakan oleh Blogger.