Selasa, 06 Maret 2012

Agama sebagai sebuah pagar

Bismillahirrahmanirrahim,

Kadang, dengan sengaja atau tidak, saya mendengarkan teman-teman sekelas berbicara "Da*n it, S*i*, F**k,dll"*gak usah disebut semua ahh. Lalu, mengapa dia dengan begitu mudah mengucapkan kata2 "Cursing" seperti itu? Well, jawabannya simpel, karena dia tidak punya keyakinan dan agama, tidak pernah merasa diawasi, tidak pernah merasa bersalah jika berkata seperti itu. Yang dia tahu hanyalah norma dalam bermasyarakat. Dia tahu kapan pantas mengucapkan itu dan kapan dia tidak pantas mengucapkannya. Misalnya, di depan guru, atau di depan orang yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi.


Pertanyaannya, Apakah norma-norma yang ada dalam sebuah masyarakat cukup untuk membendung dari hal-hal yang merugikan orang lain? Saya bisa jawab tidak. Kalau anda tidak percaya, coba anda pergi ke negara-negara barat, dimana seks bebas dibiarkan, tapi menggunakan jilbab malah menjadi suatu kriminalitas jika dipaksakan oleh orang tua kepada anaknya. Seorang anak bahkan bisa menuntut ayahnya jika dia dipaksa untuk ikut shalat berjamaah di masjid. Is this what you called by law? It's sucks~. Tidak adil rasanya. Ketika hukum Allah yang benar dipermainkan, dan hukum manusia dijadikan berhala. Tapi, kita lihat, apakah hukum buatan manusia ini betul-betul efektif atau tidak. Contohlah, Jepang atau Indonesia, well karena saya suka nonton film detektif, maka saya mau mengambil Jepang sebagai contoh :D, Banyak sekali kita lihat kasus-kasus pembunuhan yang terjadi, perampokan, dll. Padahal, kalau dipikir, mereka adalah negara maju, dan hukum mereka juga ciptakan, moral mereka bagus. Tapi, mengapa hal ini tidak dapat memagari mereka dari hal-hal yang semisal? Jawabannya, karena tidak adanya Allah di hati mereka. Lalu, bagaimana dengan Indonesia sebagai negara mayoritas muslim? Kok bisa begini dan begitu? Kalau yang ditanya saya, saya akan jawab karena "Idealis Pluralisme" yang terlalu dibesar-besarkan oleh bangsa kita. Akhirnya orang-orang awam merasa, agama tak ada bedanya dengan sebuah pembatas kegiatan manusia, toh kita orang semua bersaudara~.


Kembali ke masalah pagar, mengapa Indonesia yang mayoritas muslim serasa tidak memiliki "pagar" tersebut. Jawabannya karena awamnya kita. Terus terang, saya bosan belajar di sekolah dulu, begitu banyak mata pelajaran yang dipelajari, yang kayaknya "sia-sia". Ambillah contoh beberapa muatan lokal berbagai macam bahasa, menggambar, menyanyi, dll. Akhirnya apa yang terjadi, waktu untuk belajar pelajaran Agama Islam hanya 3 jam dari 42 jam yang disediakan oleh sekolah kita. Mau menyalahkan siapa? Menteri pendidikan?Kurikulum? Atau mungkin diri sendiri atau orang tua yang menentukan sekolah kita di sekolah negeri bukan di pesantren atau S-IT(Islam Terpadu). Tidak bisa menyalahkan siapa - siapa sih, cukup diri kita saja. Teringat cerita tentang syeikh Ahmad Deedat yang waktu itu berhasil menjadi syeikh yang terpandang dan menguasai banyak bahasa, walaupun beliau hanya orang yang pernah putus sekolah. Subhanallah. Jika memang ada kemauan, maka mestinya kita belajar agama seperti beliau lah.


Lalu, apa yang harus kita lakukan agar agama ini bekerja sebagai sebuah pagar? Yah yang namanya pagar harus selalu terlihat indah, agar orang dengan senang hati memasuki rumah yang dipagari ini. Maka, baiknya jika kita selalu menjaga agar agama kita terlihat indah, dengan memperlihatkan akhlak kita yang santun, dengan selalu berlemah lembut, dengan begitu, selain kita menjaga diri kita dari pencuri tapi mengundang orang-orang baik disekitar kita untuk masuk. Tapi, pada kenyataannya, banyak dari kita justru merusak pagar kita sendiri, dengan kelakuan kita baik yang sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Makanan gak dijaga, mulut juga tidak dijaga, sikap tidak dijaga. Jadi yang harus kita lakukan adalah senantiasa memperbaiki dan memperindah pagar itu, dan mempersolidnya, agar kita tidak kemasukan pencuri.


Lalu, bagaimana "pagar" ini bekerja?

Pertama, Pagar ini menjaga kita dari pencuri, maksudnya agama menjaga kita dari melakukan hal-hal buruk yang bisa menimbulkan kemudharatan di dalam masyarakat.

Kedua, Pagar ini berfungsi sebagai pajangan yang memperindah rumah, coba antum lihat wanita-wanita berjilbab karena mereka muslimah, bandingkan dengan non-muslim yang tidak berjilbab.*Jujur kalau lihat wanita, saya lebih suka yang berjilbab :D

Ketiga, Pagar berfungsi sebagai penyaring, tentang apa-apa yang masuk kedalam tubuh kita, termasuk makanan, minuman, dan pemikiran. Kita yang beragama akan menjaga diri dari pemikiran-pemikiran rusak dan biadab yang merusak masyarakat, menjaga diri dari kriminalitas dll. Menjaga diri kita dari memakan makanan yang buruk untuk kesehatan seperti babi dll. Juga menjaga diri dari minuman buruk seperti khamar dan sejenisnya.

Keempat, Pagar mencegah anak anda(yang masih kecil dan berpotensi ditabrak mobil) dari keluar rumah, Hal inilah yang saya jelaskan pada paragraf pertama, dengan begitu, kita akan lebih menjaga perkataan dan perbuatan kita.



Sekian,

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh...

About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

4 comments:

Insan Robbani mengatakan...

Subhanallah, sebuah analisa yg bagus dan bahasa perumpamaan yg mengena, mayoritas muslim, tp mengapa cara pandang dan bertindak sangat jauh dari sifat seorang muslim, msih sedikit orng yang merasa memiliki Islam, maka dampaknya banyak yg apatis thd syiar islam serta adab2 berislam, seolah kaidah2 islam membuat org merasa terkungkung dan tdk bebas bergerak..., astaghfirullah mereka memandang islam hy dari satu sisi tanpa mau menggali yg sesungguhnya..., Oke terimakasih untuk ilmunya...

farid maricar mengatakan...

Sama2...semoga kita semua bisa mengamalkan "agama sebagai sebuah pagar" ini...

insidewinme mengatakan...

Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.

farid maricar mengatakan...

Alhamdulillah, karena perjuangan beliau kita bisa merasakan nikmat Islam

Diberdayakan oleh Blogger.