Rabu, 14 Maret 2012

Akal dan Syariat

Jika hal ini telah jelas, maka setiap hamba sangat memerlukan ilmu tentang apa yang membahayakannya sehingga ia bisa menjauhinya dan tentang apa yang bermanfaat baginya sehingga ia mengusahakan dan mengerjakannya. Akhirnya, ia cinta kepada yang bermanfaat dan benci kepada yang membahayakan, sehingga cinta dan bencinya sesuai dengan kecintaan dan kebencian Allah. Dan ini termasuk konsekwensi penghambaan dan kecintaan. Jika ia keluar dari hal yang demikian, maka ia akan mencintai apa yang dibenci oleh Tuhannya dan membenci apa yang dicintai-Nya, dan dengan demikian penghambaannya menjadi berkurang sesuai dengan tingkat kekurangannya.

Dan dalam hal ini ada dua cara: Akal dan syariat. Adapun akal, maka Allah telah meletakkan pada akal dan fitrah untuk menganggap baik kejujuran, keadilan, berbuat baik (kepada orang lain), kebajikan, iffah (menahan diri), keberanian, akhlakul karimah, menunaikan amanat, menyambung tali silaturrahim, nasihat-menasihati, menepati janji, menjaga (hak-hak) tetangga, menolong orang teraniaya, membantu memperjuangkan kebenaran, menjamu tamu, menanggung beban dan sebagainya.


Di samping itu, Allah juga meletakkan pada akal dan fitrah untuk menganggap baik lawan dari berbagai hal di atas, kemudian mendasarkan anggapan baik dan buruk itu pada pertimbangan akal dan fitrah, sama seperti ia menganggap baik minum air dingin saat haus, makan makanan yang enak dan bermanfaat ketika lapar, dan memakai pakaian hangat ketika kedinginan. Sebagaimana tidak mungkin baginya menolak baik secara akal atau naluri untuk menganggap baik hal-hal tersebut, maka demikian pula ia tidak mungkin bisa menolak, baik secara akal atau fitrah untuk menganggap baik sifat-sifat kesempurnaan dan kemanfaatan dan untuk menganggap buruk hal-hal yang sebaliknya. Dan barangsiapa mengatakan bahwa hal itu tidak bisa diketahui melalui akal, juga tidak dengan fitrah, tetapi hanya dapat diketahui melalui wahyu maka ini adalah perkataan batil.

Metode kedua untuk mengetahui yang berbahaya dan yang bermanfaat dari berbagai perbuatan adalah wahyu. Metode dan cara ini lebih luas, jelas dan benar daripada metode dan cara yang pertama, karena begitu tersembunyinya ciri-ciri, keadaan dan dampak perbuatan. Dan yang mengetahui hal-hal tersebut secara mendetail tiada lain kecuali Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Adapun orang yang paling benar akal, pendapat dan anggapan baiknya adalah orang yang akal, pendapat, anggapan baik serta kiasnya sesuai dengan Sunnah, seperti ucapan Mujahid, "Seutama-utama ibadah adalah pendapat yang baik, yakni mengikuti Sunnah. Allah befirman,
"Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar." (Saba': 6).

Dan orang-orang menamakan para ahli ra'yi (pendapat) yang bertentangan dengan Sunnah dan apa yang dibawa oleh rasul dalam masalah ilmu khabariyah dan hukum-hukum amaliyah sebagai ahli syubuhat dan hawa nafsu. Sebab, pendapat yang bertentangan dengan Sunnah adalah kebodohan, bukan ilmu, hawa nafsu bukan agama. Se-dangkan pelakunya termasuk orang yang mengikuti hawa nafsu dengan tanpa petunjuk, yang berakhir dengan kesesatan di dunia dan kecelakaan di akhirat. Kesesatan dan kecelakaan tidak terdapat pada orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya berdasarkan firman Allah, Sunnah adalah kebodohan, bukan ilmu, hawa nafsu bukan agama. Se-dangkan pelakunya termasuk orang yang mengikuti hawa nafsu dengan tanpa petunjuk, yang berakhir dengan kesesatan di dunia dan kecelakaan di akhirat. Kesesatan dan kecelakaan tidak terdapat pada orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya berdasarkan firman Allah,

"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta." (Thaha: 123-124).


Mengikuti hawa nafsu itu bisa dalam hal cinta atau kebencian, sebagaimana firman Allah,
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenar-an." (An-Nisa': 135).

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, men-dorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (Al-Ma'idah: 8).

Hawa nafsu yang dilarang untuk mengikutinya itu, sebagaimana bisa berupa hawa nafsu yang ada dalam dirinya, demikian juga bisa berupa hawa nafsu orang lain. Kedua hawa nafsu itu tidak boleh diikuti, karena masing-masing daripadanya bertentangan dengan petunjuk Allah yang dengannya Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya.


Sumber : Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 356~359

About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

2 comments:

Andro Bhaskara mengatakan...

yah.. pada dasarnya akal mampu mendeteksi apa yang baik dan buruk, namun terkadang Hawa nafsu membalikkan segala yang dibenarkan oleh akal. Nice post Sob.. :)

farid maricar mengatakan...

Terima kasih atas kunjungannya...hehehe... :)

Diberdayakan oleh Blogger.