Sabtu, 03 Maret 2012

Kelemahan Kekuasaan Syaithan

Al-Qur'an memberikan petunjuk untuk menolak kedua musuh ini dengan cara yang paling mudah, yakni dengan memohon perlindungan kepada Allah (isti'adzah) dan dengan berpaling dari orang-orang yang bodoh, serta dengan menolak kejahatan mereka dengan kebaikan.
Lalu Allah mengabarkan tentang betapa besar keberuntungan orang yang melakukan hal tersebut. Dengan melakukan hal tersebut ia berarti mencegah keburukan musuhnya serta menjadikan musuh itu berbalik menjadi teman, lalu kecintaan manusia kepada dirinya, pujian mereka terhadapnya, penundukan terhadap hawa nafsunya, keselamatan hatinya dari dengki dan iri, ketenangan masyarakat -termasuk mantan musuhnya- dengan keberadaannya. Dan hal itu belum termasuk kemuliaan dari Allah dan pahala serta ridha-Nya. Ini tentu merupakan keberuntungan yang sangat besar, yang telah ia peroleh sejak di dunia hingga kelak di akhirat. Dan ketika hal tersebut tidak diperoleh kecuali dengan kesabaran maka Allah befirman,
"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada
orang-orang yang sabar." (Fushshilat: 35).
Sebab orang yang terburu-buru dan kurang berfikir, serta orang yang suka menunda-nunda tak akan mampu bersabar menghadapi musuh.


Lalu, ketika marah merupakan kendaraan syetan, sehingga nafsu amarah bekeijasama dengan syetan menghadapi nafsu muthma'innah yang menolak keburukan dengan kebaikan maka Allah memerintahkan agar ia menolong nafsu muthma'innah dengan isti'adzah daripadanya. Lalu, isti'adzah tersebut menjadi penolong bagi nafsu muthma'innah, sehingga ia menjadi kuat menghadapi tentara nafsu amarah. Selanjutnya datang lagi pertolongan kesabaran yang dengannya kemenangan akan diperoleh. Kemudian datang pula pertolongan iman dan tawakal, sehing-ga melenyapkan kekuasaan syetan.
Allah befirman,
"Sesungguhnya syetan itu tidak memiliki sultan (kekuasaan) atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya." (An-Nahl: 99).
Mujahid, Ikrimah dan para ahli tafsir mengatakan, "Maksudnya adalah syetan itu tidak memiliki hujjah (dalil)."
Tetapi lebih tepat dikatakan, "Syetan tidak memiliki jalan untuk menguasai mereka, baik dari segi hujjah maupun dari segi kekuasaan."
Qudrah (kemampuan) termasuk dalam pengertian sultan (kekuasaan). Adapun dikatakannya hujjah sebagai sultan karena orang yang menguasai hujjah seperti orang yang mampu melakukan sesuatu dengan tangannya.

Allah mengabarkan bahwa musuh-Nya tidak akan memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan bertawakal kepada-Nya. Allah befirman dalam surat Al-Hijr,
"Iblis berkata, Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bah-wa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. Allah befirman, 'Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Akulah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat'." (Al-Hijr: 39-42). Kemudian Allah befirman pula dalam surat An-Nahl,
"Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambil-nya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang menyekutukannya dengan Allah." (An-Nahl: 99-100).
Ayat di atas mengandung dua perkara:
Pertama, penafian dan pembatalan kekuasaan syetan atas para ahli tauhid dan ikhlas. Kedua, adanya kekuasaan syetan atas para ahli syirik dan orang-orang yang setia kepadanya. Karena itu, ketika musuh Allah tersebut mengetahui bahwa Allah tidak akan memberikan padanya kekuasaan atas orang-orang ahli tauhid dan ikhlas maka ia berkata,
"Iblis berkata, Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka'." (Shaad: 82-83).
Musuh Allah tersebut mengerti bahwa siapa yang meminta perlindungan kepada Allah, ikhlas dan tawakal kepada-Nya, niscaya ia tidak akan mampu menyesatkan dan membelokkan mereka. Adapun kekuasaannya hanyalah terbatas pada orang-orang yang setia kepadanya serta mereka yang menyekutukan Allah. Maka orang-orang itulah bawahan syetan. Syetan menjadi pemimpin, penguasa dan contoh bagi mereka.
Jika dikatakan, "Allah telah menetapkan kekuasaan syetan atas para kekasihnya dalam beberapa ayat di atas, tetapi bagaimana mungkin bisa terjadi Allah menafikannya dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu." (Saba': 20-21).
Maka jawabannya adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Qutaibah, "Sesungguhnya ketika iblis memohon kepada Allah agar menangguhkan kepadanya dan Allah memberinya tangguh, maka syetan pun bersumpah, 'Sungguh saya akan menyesatkan, membelokkan dan memerintahkan mereka dengan begini dan begitu, dan sungguh saya akan mengambil dari hamba-hamba-Mu bagian yang sudah ditentukan (untuk 5saya)," dan ia pada waktu mengucapkan hal ini tidak merasa yakin bahwa apa yang ia tentukan itu bisa terlaksana, tetapi ia mengatakan hal tersebut secara perkiraan, dan ketika orang-orang mengikuti dan mentaatinya maka iblis dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka. Maka Allah befirman, 'Tidaklah pemberian Kami kekuasaan kepada iblis melainkan agar Kami mengetahui antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang ragu-ragu. Yakni Kami mengetahui mereka menolong iblis, sehingga telah pastilah ditetapkannya (siksa) dan ditimpakannya balasan atas mereka'."
Berdasarkan hal di atas, maka kekuasaan tersebut maksudnya adalah kekuasaan atas orang yang tidak beriman kepada hari akhirat dan ragu-ragu tentangnya. Dan mereka adalah orang-orang yang setia kepada iblis serta menyekutukan Allah dengannya. Maka kekuasaan tersebut ada, bukan tidak ada, karena itu ayat ini sesuai dengan ayat-ayat senada yang lain.
Jika ditanyakan, "Apa komentar Anda terhadap firman Allah dalam surat Ibrahim, di mana Allah befirman kepada para penduduk neraka,
"Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku." (Ibrahim: 22).
Perkataan di atas, meskipun merupakan ucapan iblis, tetapi Allah mengabarkannya, sekaligus menetapkan (kebenarannya), dan tidak mengingkarinya. Apakah bukan berarti demikian?
Kita katakan, "Ini adalah pertanyaan yang bagus. Adapun jawabannya yaitu, kekuasaan yang dinafikan dalam ayat di atas adalah kekuasaan hujjah dan dalil. Maknanya, aku tidak memiliki hujjah dan dalil yang dengannya aku beralasan di hadapan kalian. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, 'Aku tidak memiliki hujjah yang bisa kuberikan kepada kalian.' Artinya, aku tidak menyampaikan hujjah kepada kalian, kecuali aku sekedar mengajak kepada kalian dan kalian mengikuti begitu saja, kalian membenarkan ucapanku, serta kalian mengikuti kami dengan tanpa dalil dan hujjah."
Adapun kekuasaan yang ditetapkan dalam firman Allah,
"Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya sebagai pemimpin." (An-Nahl: 100).
Adalah kekuasaan atas mereka dalam membelokkan, menyesatkan dan mempengaruhinya, yakni dengan menganjurkan dan menggiringnya pada kekufuran dan kesyirikan, ia tidak akan meninggalkan mereka begitu saja, sebagaimana firman Allah,
"Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syetan-syetan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh." (Maryam: 83).
Inilah di antara kekuasaan syetan atas orang-orang yang setia pada-nya dan para ahli syirik, tetapi mereka tidak memiliki kekuasaan berupa hujjah dan dalil, mereka menjawab begitu saja saat mereka diseru. Karena semuanya sesuai dengan hawa nafsu dan tujuan mereka. Mereka sendirilah yang menolong untuk menghancurkan dirinya sendiri, serta memberikan keteguhan kepada musuh mereka untuk menguasai diri mereka, yakni dengan menyepakati dan mengikutinya. Dan ketika mereka menyerahkan tangan-tangan mereka dan lebih mengutamakan musuh maka mereka ditundukkan Allah di bawah kekuasaan musuhnya, sebagai bentuk siksaan terhadap mereka.
Dengan demikian menjadi jelaslah makna firman Allah, "Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (An-Nisa': 141).
Ayat di atas berlaku secara umum dan dipahami secara lahiriah. Karena itu, orang-orang beriman yang melakukan maksiat atau penyimpangan, maka hal itu akan menjadi sebab penguasaan orang-orang kafir atas mereka sesuai dengan tingkat penyimpangan yang mereka lakukan. Mereka sendirilah penyebab pemusnahan orang-orang kafir atas mereka, sebagaimana mereka menyebabkan hal tersebut saat perang Uhud karena berbuat maksiat dan menyimpang dari perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. (Diriwayatkan Al-Bukhari dari Al-Barra' bin Azib).
Allah tidak menjadikan syetan berkuasa atas hamba-Nya, sehingga hamba itu sendiri memberi jalan kepada syetan tersebut dengan mentaatinya dan menyekutukan Allah dengannya. Ketika itulah Allah menjadikan dia dikuasai dan dipaksa oleh syetan. Karena itu, siapa yang men-dapatkan kebaikan maka hendaknya ia memuji Allah Ta'ala, dan siapa yangmendapatkan selain daripada itu maka hendaknya ia tidak mencela kecuali kepada dirinya sendiri.
Tauhid, tawakal dan ikhlas adalah yang menolak kekuasaan syetan atas hamba. Sebaliknya, syirik dan segala cabangnya mengakibatkan kekuasaan syetan atasnya. Dan semua tergantung pada qadha' Dzat yang di Tangan-Nya terletak segala urusan, semua kembali kepada-Nya, dan Dia memiliki hujjah yang sangat kuat. Dan seandainya Dia menghendaki, niscaya manusia akan menjadi umat yang satu. Hanya saja hikmah Allah, puji dan kerajaan-Nya tidak menghendaki yang demikian.
"Maka bagi Allahlah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan burnt, Tuhan semesta alam. Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan di bumi. Dialah YangMaha Perkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 36-37).

Sumber: Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 134~139
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

2 comments:

auraman mengatakan...

Mas hanya sekedar saran, biar enak bacanya sebaiknya di buat per-point mas, jadi nyaman dan konsen bacanya :D

farid maricar mengatakan...

Jazaakallahu khairan...hehehehehe...soalnya tadi cuma copas...gak sempat ngedit...

Diberdayakan oleh Blogger.