Kamis, 12 April 2012

Jika takdir sudah ditentukan, mengapa harus beramal?

Kalau saya sudah ditakdirkan untuk masuk ke dalam jannah(surga), mengapa saya harus tetap beramal? Mengapa tidak boleh bersandar/bergantung pada takdir tersebut? Atau, jika saya sudah ditakdirkan untuk menjadi penghuni neraka, mengapa saya harus tetap beramal? Bukankah amalan itu tidak akan menyelamatkanku dari api neraka Jahannam? Kalau memang di akhirat sudah pasti disiksa, paling tidak saya ingin menikmati duniaku. 

Dalam menjawab pertanyaan seperti ini, Rasulullah pernah bersabda dalam menjawab pertanyaan yang serupa. 

Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menjawab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (QS. Al Lail: 5-10) 

Beberapa pelajaran yang bisa diambil :
1.  Setiap manusia telah ditentukan tempatnya di akhirat kelak. Akan masuk surga jika termasuk penduduk surga. Dan akan masuk neraka jika termasuk penduduk neraka. Ketentuan ini telah ditetapkan Allah Ta'ala jauh sebelum diciptakannya langit dan bumi.
2. Rasulullah menyuruh kita untuk beramal, karena masing-masing manusia akan dimudahkan sesuai dengan takdirnya. Sebagaimana juga tertera pada ayat yang dibaca oleh beliau.
3. Janganlah bersandar kepada takdir. Karena suratan takdir adalah sesuatu yang tidak kita ketahui. Apabila seseorang melakukan kebaikan, maka ketahuilah bahwa dirinya termasuk ke dalam golongan para pelaku kebaikan. Jika tidak beramal baik, maka merupakan peringatan bagi dirinya.
4. Jika kau merasa mudah ketika akan melakukan suatu amalan, ketahuilah bahwa itu adalah ciri kebahagiaan, karena kau merasakan ketaqwaan kepada Allah di dalam hatimu, sebagaimana tertera dalam ayat diatas. Namun jika kau menemukan dirimu mudah melakukan kejahatan, maka berhati-hatilah, dan segera kembali ke jalan yang benar, sebagaimana dalam firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 53 :

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sumber: Syarh Riyadush Shalihin syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bab 160 tentang  Memberikan Nasehat di Pemakaman


About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.