Minggu, 29 April 2012

Kupinang kau dengan ........

Bismillahirrahmanirrahim


Dulu, kami pernah dengar sebuah sinetron berjudul "Kupinang kau dengan bismillah". Besok, 30 April 2012, Insya Allah ada pengajian yang diselenggarakan di masjid Fukuoka dengan mengundang seorang ustadz, yang katanya seorang penulis buku berjudul "Kupinang kau dengan Hamdalah". Akhirnya kami sempat berpikir, kami juga ingin buat tulisan dengan judul kupinang kau dengan... Apa yah? ehh, kami juga jadi teringat pada kisah Ali bin Abi Thalib yang menjadikan baju besinya sebagai mahar untuk menikahi fatimah.#so sweet~. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu, “Tatkala Ali menikahi Fatimah, bersabdalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada Ali, “Berikanlah sesuatu sebagai mahar untuk Fatimah? Ali menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa? Rasulullah berkata, “Mana pakaian besimu? (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih)

Tapi, kisah itu saja tidak cukup untuk menggambarkan bagaimanakah nikahnya seorang muslim yang shaleh dan shalehah, bahkan dalam hadits lain oleh Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i). Ehh, memang seperti apa sih ceritanya? Kok bisa tidak ada yang maharnya lebih mulia dari siapapun? Dalam riwayat lain disebutkan kisah tentang Ummu Sulaim yang ingin dilamar oleh Abu Thalhah yang kebetulan saja waktu itu masih seorang kafir, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60).

Dari kedua kisah diatas bisa disimpulkan bahwa muslimah yang baik tidak akan menyusahkan calonnya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud). Lalu kesimpulannya, "Apakah kami menulis ini agar calon istri kami kelak agar memudahkan maharnya?" Ahh tidak juga sih. Kami sebenarnya tidak peduli seberapa berharga mahar yang akan diminta oleh istri kami kelak. Karena mahar adalah bukti kesungguhan seorang laki-laki sebelum menikahi sang calon. Tapi tentu, mempermudah lebih baik mengingat itu adalah sunnah Rasulullah.


Lalu? Apa sebenarnya maksud dari titik-titik pada judulnya? Sebenarnya kami mau mengisi titik-titik itu dengan kata kesabaran dan ketaqwaan. Ya, itu adalah sebaik-baik mahar. Kami selalu berpikir bahwa menikah adalah hal yang menakutkan. Mengapa? Karena kami sering melihat bagaimana problem yang dihadapi dalam rumah tangga. Kalau anda selalu mikir bahwa rumah tangga akan selalu harmonis, kami bakal bilang kalau anda salah bung. Di dalam rumah tangga akan terdapat masalah-masalah kompleks yang anda akan temukan. Dan itu hanya akan ada pada saat anda sudah menikah. Karena itu dapat kami katakan bahwa kami belum cukup siap untuk hal ini, karena belum cukupnya kesabaran dan ketaqwaan kami untuk itu.




Tak dapat dipungkiri, perpecahan dalam rumah tangga bisa disebabkan oleh masalah-masalah kompleks tersebut. Bisa masalah anak, keluarga besar(ortu dan keluarga si suami+istri), sekolah, pekerjaan, keuangan, seks, dll. Itu semua adalah masalah yang mungkin anda temukan di dalam pernikahan. Cukup menakutkan memang, karena itu butuh waktu untuk mempersiapkan diri. Namun, perlu diingat bahwa menikah itu bukan matematika, dimana jika kita sudah latihan soal berkali-kali, maka akan mudah untuk menyelesaikan soal tersebut. Pernah kami menemukan seseorang yang menggunakan alasan 'Pacaran adalah latihan untuk menghadapi persoalan rumah tangga kelak'. Halah, alasan macam apaan tuh.

Kami sering menemukan orang-orang memanas-manasi kami untuk 'menikah', mungkin karena membaca status-status galau kami di facebook. Namun, itu bukan alasan bagi kami untuk mempercepat pernikahan. Sebagaimana tadi kami katakan, bahwa menikah itu butuh ketaqwaan dan kesabaran, karena dengan begitu, impact dari permasalahan akan berkurang. Lagipula, kami juga belum cukup siap untuk hal-hal selain itu. Terutama secara finansial. Mengingat kami masih dalam tanggungan orang tua dalam masalah hidup (beasiswa belum mencukupi kebutuhan hidup). Pernah kudengar sebuah kajian tentang cinta dan remaja dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yang disitu membahas tentang hadits Wahai para pemudabarangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Disini beliau menjelaskan tentang penjabaran ulama perihal hadits tersebut: Secara bahasa, baa-ah bermakna jima’ (berhubungan suami istri). Sedangkan mengenai makna baa’ah dalam hadits di atas terdapat ada dua pendapat di antara para ulama, namun intinya kembali pada satu makna.
Pertama: makna baa-ah adalah sebagaimana makna secara bahasa yaitu jima’. Sehingga makna hadits adalah barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berjima’ karena mampu memberi nafkah nikah, maka menikahlah. Barangsiapa yang tidak mampu berjima’ karena ketidakmampuannya memberi nafkah, maka hendaklah ia memperbanyak puasa untuk menekan syahwatnya dan untuk menghilangkan angan-angan jeleknya.
Pendapat kedua: makna baa-ah adalah kemampuan memberi nafkah. Dimaknakan demikian karena konsekuensi dari seseorang mampu berjima’, maka tentu ia harus mampu memberi nafkah. Sehingga makna hadits adalah barangsiapa yang telah mampu memberi nafkah nikah, maka hendaklah ia menikah. Barangsiapa yang tidak mampu, maka berpuasalah untuk menekan syahwatnya.
Jadi maksud dari dua pendapat ini adalah sama yaitu harus punya kemampuan untuk memberi nafkah. Sehingga inilah yang menjadi syarat seseorang (khususnya pria) untuk membina rumah tangga dengan kekasih pilihan, yaitu ia memiliki kemampuan untuk memberi nafkah keluarga. Hal ini yang banyak disalahpahami sebagian pemuda. Mereka ngebet minta nikah pada ortunya. Padahal sesuap nasi saja masih ngemis pada ortunya. Hanya Allah yang memberi taufik.
Dari sini, barangsiapa yang memiliki kemampuan, maka segeralah untuk menikah guna memadamkan rasa rindu yang ada. Menikah di sini tidak mesti dengan orang yang selalu dirindukan. Boleh jadi, juga dengan orang lain. Karena nikah telah mencukupkan segala kebutuhan jiwa di samping dalam nikah akan ditemui banyak keberkahan. Jika memungkinkan menikah dengan orang yang dirindukan, maka menikahlah dengannya. Ini merupakan terapi manjur.




Karena itu, penting bagi kita untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum tiba masa dimana kita telah siap untuk melakukan pernikahan. Tujuannya tidak lain untuk menjadikan pernikahan kita yang mungkin hanya sekali seumur hidup menjadi lebih berharga dan tidak terjadi konflik yang berarti. Ingatlah bahwa menikah adalah melengkapi separuh agama sebagaimana dalam perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam: “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)


Wa billahi taufiq

Referensi : 
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

6 comments:

Uchank mengatakan...

penting bagi kita untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum tiba masa dimana kita telah siap untuk melakukan pernikahan.

semangat 45 :D

farid maricar mengatakan...

Halah...yang lagi galau juga... :D

Nurmayanti Zain mengatakan...

jadi kupinang kau dengan ketakwaan? MasyaAllah...

farid maricar mengatakan...

Insya Allah

arr rian mengatakan...

di tunggu undangan walimahannya ya Akh :D

farid maricar mengatakan...

Insya Allah...paling cepat 5-6 tahun lagi... :P

Diberdayakan oleh Blogger.