Sabtu, 09 Juni 2012

Islam, Pemuda, dan Egoisme (Ketika Kau Mulai belajar Islam)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Berikut ini akan kami paparkan sebuah tulisan tentang para pemuda muslim. Yakni, mereka yang sedang melakukan jalan spiritualnya dalam mencari Allah. Pemuda pada umumnya menyenangi party-party, senang-senang, foya-foya atau semacamnya. Namun, beberapa dari mereka di dalam masa hidupnya tiba-tiba menemukan sesuatu yang bisa mencerahkan hati mereka. Akhirnya, mereka pun mulai serius dalam menimba ilmu agama. 

Pada saat mereka mulai menimba ilmu Islam, dan mereka akan menjadi sangat serius. Mereka mulai dengan menemukan guru, kadang guru mereka adalah seseorang yang berilmu, kadang guru mereka sebuah video di Youtube, kadang guru mereka sebuah rekaman kajian, kadang juga guru mereka sebuah website. Intinya mereka merasa menemukan sesuatu yang menggairahkan. Namun, kadang ada hal buruk yang terjadi pada mereka, yakni mereka menjadi merasa aneh ketika melihat ke sekitar mereka, mereka jadi merasa berbeda dengan mereka, dan merasa apa yang ada di sekitar mereka tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, mereka merasa apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan yang diajarkan. Mereka "Mengerti tentang Islam", tanpa mengerti "Siapa saya" sebelumnya. 

Akhirnya mereka merasa stress kepada orang yang ada di sekitar mereka, terutama keluarga mereka. Tidaklah perlu mengambil contoh dari mereka yang keluarganya berasal dari Non-muslim, tapi ambil saja dari mereka yang berkeluarga dengan muslim. Dan mereka ini akan berubah menjadi kaku dan keras. Setelah keluarga, hal ini akan menjalar ke arah "Teman". Ya, mereka akan menjadi orang yang keras, dan mulai berbeda pendapat dengan teman-teman mereka. Karena mereka tidak menjalani perjalanan spiritual yang sama dengan teman-temannya tersebut. Akhirnya, mereka akan berubah menjadi kaku dan keras, dan tidak ingin menoleransi apapun lagi. Akhirnya, mereka akan merasa yang paling benar, sedangkan orang disekitar mereka adalah orang yang salah.

Ada banyak penyebab terjadinya hal ini. Pertama, mereka merasa sedang melakukan "Amar ma'ruf Nahi Mungkar" yakni menganjurkan kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Mereka akan mulai memberi tahukan tentang ayat-ayat, hadits-hadits, dan merasa mereka memberitahukan seseorang sesuatu yang benar. Dan mereka luput memikirkan bahwa banyak sekali hal yang terjadi selain apa yang mereka katakan. Mereka tidak mempertimbangkan segala sesuatunya untuk mengeluarkan kata-katanya. 

Coba anda pikirkan, misalnya ketika mereka yang dulunya seorang preman, atau yang sejenisnya, lalu tiba-tiba belajar Islam, dan menjadi orang yang religius, yang dulunya preman yang selalu menjadi pusat perhatian orang lain, dan hal ini terus berlanjut ketika mulai serius, hal yang mereka lakukan adalah menunjukkan 'kelebihan' mereka, namun dalam aspek yang berbeda, yakni dalam hal-hal yang religius. Seakan-akan mereka ingin mengatakan, "Orang lain tidak tahu apa-apa tentang Islam, saya tahu banyak tentang Islam, biarkan saya menunjukkan bagaimana kita seharusnya menjadi umat yang beragama". Dan hal ini mulai membuat mereka menjadi sombong dan egois tentang Islam. Mereka lupa, bahwa ilmu ini ada agar kita semakin merendahkan diri kita, bagaikan padi makin berisi makin merunduk. Dan mereka malah memperburuk nilai Islam, untuk menunjukkan keegoisan mereka. Tapi, perlu kita ingat bahwa hal ini tidak hanya terjadi di kalangan pemuda, tapi juga orang-orang tua. 

Pernahkah anda berpikir, "Tanpa adanya saya, orang ini tidak akan mungkin mendapatkan petunjuk, dsb", jika anda pernah berpikir seperti itu, maka anda akan berada pada masalah yang serius. Karena hal seperti ini adalah penyakit. Mengapa? Coba anda pikirkan, ketika anda berpikir seperti ini, ini berarti anda memikul beban keIslaman seseorang di tangan anda seorang. Islam tidak membutuhkan orang lain lagi. Padahal Islam ini adalah milik Allah, kita memang membutuhkan Allah, tapi Allah tidak pernah membutuhkan kita. Hal ini penting untuk kita sadari.

Mirisnya, hal ini adalah hal yang ada pada dada-dada mereka yang terlihat shaleh, berbicara layaknya orang shaleh, mereka adalah orang yang berilmu. Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari perilaku yang demikian. Mengapa, karena mereka terlihat begitu dari luar, namun di dalam terdapat egoisme. Terdapat penyakit dalam hati mereka. Namun, percayalah, ketika kau melihat rendah kaum muslimin yang lain, tidak peduli seberapa buruk mereka, maka ketahuilah di dalam hatimu terdapat sifat kibr atau sombong. Padahal Rasulullah bersabda, 
“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Bahkan bisa jadi hal ini lebih buruk dari mereka yang melakukan maksiat secara terbuka, seperti minum-minum, berjudi, dll. Mengapa? Karena ketika mereka melakukan maksiat, maka hal ini mudah untuk mereka lihat, tapi hal yang yang kami sebutkan diatas adalah hal yang tidak kelihatan. Well, mereka yang melakukan maksiat sudah pasti dihukum. Apakah mereka yang bersifat sombong merasa mereka tidak akan disiksa? Tidak, mereka juga akan disiksa. Mengapa ini adalah masalah yang besar? Karena kita tidak bisa merasakannya, karena hal ini adalah dosa yang tidak mampu kita lihat dengan mata kepala kita. 

Islam ini diturunkan untuk menjadi obat penawar untuk menyembuhkan diri kita masing-masing. Kalau ada yang harus dirubah dan diperbaiki, maka hal itu adalah diri kita, bukan orang lain, bukan organisasi lain. Allah berfirman dalam surah At-Tahriim ayat 6: 
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu"
Jadi perbaikan itu dimulai dari diri kita, lalu pada keluarga kita, bukan dimulai dengan berdebat pada orang lain.

Mudah-mudahan kita dihindarkan dari hal-hal yang demikian. Semoga dengan adanya tulisan ini, dapat merubah kita ke arah yang lebih baik, dan berusaha untuk menghilangkan rasa ego yang ada di dalam hati. Karena tidak adalah artinya amalan yang kita lakukan, jika rasa ego ini tetap ada dan membakar amalan-amalan yang ada. 

Wa billahi taufiq wal hidayah

Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=xtjwtmjbOKE dan dari pengalaman-pengalaman yang kami alami sendiri


About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.