Jumat, 22 Juni 2012

Ketika Terlalu Optimis dan Terlalu Pesimis dalam Mencari Petunjuk

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Pernahkah anda merasa anda sedang tersesat, setelah anda yakin bahwa anda telah berada di jalan yang benar untuk selama-lamanya? Pernahkah anda merasa bahwa saya sepertinya sudah tidak akan mampu lagi tersesat, karena telah mendapatkan petunjuk? Pernahkah anda merasa bahwa tidak ada lagi yang mampu menyesatkan anda setelah anda beriman kepada Allah? Jika salah satu dari pertanyaan diatas anda jawab dengan kata ya, maka anda sekarang sedang berada pada jalan turun, jalan menuju degradasi keimanan, yang dalamnya bagaikan tebing curam yang kita tidak tahu kapan kita akan kembali lagi ke permukaan. Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat pula dijadikan standar untuk mengetahui apakah di dalam hati kita terdapat penyakit hati atau tidak.

Pertanyannya, apakah yang kita lakukan jika kita menemukan diri kita dalam kondisi yang kami sebutkan diatas? Yakni, ketika kita merasa berada dalam keadaan sedang diberikan petunjuk dan merasa percaya diri bahwa diri ini akan menjadi penghuni surga insya Allah. Ketahuilah wahai saudaraku, seorang muslim tidak akan pernah berhenti untuk dipengaruhi oleh syaithan hingga akhir hayatnya. Bahkan tidak terkecuali Rasulullah, berdasarkan sabdanya

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin.” Para sahabat bertanya, “Termasuk Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk saya, hanya saja Allah membantuku untuk menundukkannya, sehingga dia masuk Islam. Karena itu, dia tidak memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
Namun, tentu berbeda dengan Rasulullah, kita adalah manusia biasa, syaithan yang ada pada kita tidak mungkin akan tunduk dan masuk islam begitu saja. Karena itulah, sebagai manusia kita tidak pernah terlepas dari kesalahan. Adalah sebuah kenaifan manusia jika mereka menganggap diri mereka tidak akan mampu lagi untuk dikuasai atau dibujuk oleh syaithan. Karena itu hendaklah bagi kita untuk senantiasa beristighfar dan memohon petunjuk dari Allah, walaupun kita telah berusaha untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Disisi lain, ada faktor yang menjadi penyebab seseorang sulit untuk berubah. Kalau dalam kasus yang pertama, orang tersebut telah berubah, namun dia akhirnya angkuh/sombong karena merasa sedang berada dalam petunjuk. Akibatnya orang yang tadi akan mengalami penurunan iman dan kembali menurun secara drastis terus menerus. Berbeda dengan kasus yang satu ini, orang yang satu ini terlalu pesimis. Akibatnya, dia tidak pernah bertaubat, tidak pernah berubah, dll. Hal ini dikarenakan dia berpendapat bahwa dosa-dosa yang dia miliki sudah terlalu banyak. Padahal Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

Dari Anas rodiyAllahu 'anhu, saya mendengar Rosululloh sholAllahu 'alaihi wa sallambersabda, Allah Ta'ala berfirman, "...Hai anak Adam, sungguh seandainya kamu mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian mendatangi-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula." (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani di Shohihul Jaami').

Allah sudah memberikan kita kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri juga mengobati kesalahan. Apakah buktinya? Yaitu, anda masih sempat membaca tulisan ini. Karena taubat seseorang masih akan diterima sampai anda mencapai ajal atau tibanya hari kiamat, sebagaimana Allah berfirman,

“Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’” (Qs. An Nisaa’: 18)
juga dalam sebuah riwayat yang disabdakan Rasulullah

Dan taubat akan senantiasa diterima hingga terbitnya matahari dari arah barat. Apabila telah terbit (dari arah barat), ditutuplah setiap hati dengan apa yang ada di dalamnya, dan cukuplah manusia amal (yang telah dilakukannya)”.(HR. Ahmad).

Karena itulah, kita tidak boleh berputus asa atas rahmat Allah Ta'ala. Karena sesungguhnya dialah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang. Namun patut untuk kita ingat, bahwa tentu mencari petunjuk itu tidak hanya dengan membiarkannya datang begitu saja. Namun, kita harus mencari dan mendatanginya. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua. Kita juga tidak boleh bersikap terlalu percaya diri bahwa kita telah berada di jalan yang benar, karena seperti yang kami katakan, pada saat inilah awal jatuhnya kita ke jurang degradasi iman, karena disinilah kesempatan emas untuk syaithan dalam mempengaruhi kita. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari sikap yang demikian.

Karena itulah, perlu kita ingat bahwa "Orang yang terlalu optimis yang menjadi sombong dan angkuh tidak akan mampu mempertahankan tujuan hidupnya, sedangkan orang yang pesimistis tidak akan pernah mampu melangkah untuk meraih tujuan hidupnya"

Wa billahi taufiq wal hidayah

About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

2 comments:

arr rian mengatakan...

Jazakallah artikelnya :D

tadi subuh ada kultum tentang kejadian besar dibulan Sya'ban...
menulisin, tapi tidak lengkapcumapoin2 nya aja :D

apa bisa dibahas di blog ini tentang kejadian besar yang terjadi bulan syaban ini.

farid maricar mengatakan...

wa iyyakum...Afwan, saya tidak punya referensi untuk hal yang demikian.

Diberdayakan oleh Blogger.