Minggu, 17 Juni 2012

Sedikit catatan tentang sederhana dalam beribadah


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.


Allah Ta'ala berfirman : "Allah menghendaki kemudahan padamu semua dan tidak menghendaki kesukaran untukmu semua." (al-Baqarah: 185)

Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Binasalah orang-orang yang memperdalam-dalamkan (berlebih-lebihan)." Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam menyabdakan ini sampai tiga kali banyaknya." (Riwayat Muslim)
Almutanathtbi'un yaitu orang-orang yang memperdalam-dalamkan serta memperkeraskan sesuatu yang bukan pada tempatnya.
Yang bagaimanakah yang strict itu?
Bagaimanakah contoh strict yang tidak sesuai sunnah? Ternyata ada hadits shahih yang menggambarkan itu.
Dari Anas r.a., katanya: Ada tiga macam orang datang ke rumah istri-istri Rasulullah menanyakan tentang hal bagaimana ibadahnya Rasulullah. Kemudian setelah mereka diberitahu lalu seolah-olah mereka menganggap amat sedikit saja ibadah beliau itu. Mereka lalu berkata: "Ah, di manakah kita ini -maksudnya: Kita ini jauh perbedaannya kalau dibandingkan- dari Nabi sedangkan beliau itu telah diampuni segala dosanya yang lampau dan yang kemudian." Seorang dari mereka itu berkata: "Adapun saya ini, maka saya bershalat semalam suntuk selama-lamanya." Yang lainnya berkata: "Adapun saya, maka saya berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah saya berbuka." Yang seorang lagi berkata: "Adapun saya, maka saya menjauhi para wanita, maka sayapun tidak akan menikah." Rasulullah kemudian mendatangi mereka lalu bersabda: "Engkau semuakah yang mengatakan demikian, demikian? Wahai, demi Allah, sesungguhnya saya ini adalah orang yang paling bertaqwa diantara engkau semua kepada Allah dan paling takut kepadaNya, tetapi saya juga berpuasa dan juga berbuka, sayapun bershalat tetapi juga tidur, saya juga tetap menikahi wanita. Maka barangsiapa yang enggan pada cara perjalananku -sunnahku-, maka ia bukanlah termasuk dalam golonganku." (Muttafaq 'alaih)
Juga dalam hadits ini,
Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Pada suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. berkhutbah, tiba-tiba ada seorang lelaki yang berdiri lalu beliau bertanya kepadanya tentang orang itu, dan para sahabat berkata: "Dia adalah Abu Israil bernazar hendak berdiri di terik matahari, tidak akan duduk-duduk, tidak akan bernaung, tidak akan berbicara dan tetap akan berpuasa." Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. lalu bersabda: "Perintahkan padanya, supaya ia suka berbicara, bernaung, duduk-duduk dan juga supaya ia meneruskan puasanya." (Riwayat Bukhari)
Kesimpulan yang bisa kami ambil dari 2 hadits ini adalah tidaklah perlu melakukan ibadah yang berlebihan, merepotkan, apalagi menyiksa diri, padahal tidak disuruh dan dianjurkan oleh Rasulullah. Ibadah itu jangan memaksakan terlalu banyak. Walau hanya sedikit, asal kontinu.
Beginilah kita beribadah yang seharusnya, sedikit asal istiqamah dan tidak terputus. Dan itu juga dikatakan Rasulullah dalam sebuah haditsnya, Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang wanita. Rasulullah bertanya: "Siapakah ini?" Aisyah menjawab: "Ini adalah si Anu." Aisyah menyebutkan perihal shalatnya wanita tadi -yang sangat luar biasa tekunnya. Beliau Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Jangan demikian, hendaklah engkau semua berbuat sesuai dengan kekuatanmu semua saja. Sebab demi Allah, Allah itu tidak bosan -memberi pahala- sehingga engkau semua bosan -melaksanakan amalan itu. Adalah cara melakukan agama yang paling dicintai oleh Allah itu ialah apa-apa yang dikekalkan melakukannya oleh orangnya itu -yakni tidak perlu banyak-banyak asalkan langsung terus -kontinyu-." (Muttafaq 'alaih)
 Mah adalah kata untuk melarang dan mencegah. Maknanya La yamallullahu, ialah Allah tidak bosan, maksudnya bahwa Allah tidak akan memutuskan pahalanya padamu semua atau balasan pada amalan-amalanmu itu ataupun memperlakukan engkau semua sebagai perlakuan orang yang sudah bosan. Hatta tamallu artinya sehingga engkau semua yang bosan lebih dulu, lalu amalan itu ditinggalkan. Oleh sebab itu seyogyanya engkau semua mengambil amalan itu sekuat tenagamu saja yang sekiranya akan tetap langsung dan kekal melakukannya agar pahalanya serta keutamaannya tetap atas dirimu semua.
Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sabdanya: "Agama itu mudah, tidaklah agama itu diperkeraskan oleh seorang melainkan agama itu akan mengalahkannya -yakni orang yang memperkeras-keraskan itu sendiri yang nantinya akan merasa tidak kuat meneruskannya. Maka dari itu, bersikap luruslah engkau semua, lakukanlah yang sederhana saja -jikalau tidak kuasa melakukan yang sesempurna-sempurnanya, bergembiralah (untuk memperoleh pahala, sekalipun sedikit, juga mohonlah pertolongan dalam melakukan sesuatu amalan itu), baik di waktu pagi, sore ataupun sebagian waktu malam." (Riwayat Bukhari)

Akibat berlebihan?
Futur bin galau, alias menyebabkan menurunnya iman, yang mungkin malah bisa membuat keadaan kita semakin buruk, padahal tadinya pengen baik, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Setiap amal perbuatan itu memiliki puncak semangatnya, dan setiap semangat memiliki rasa futur.” (HR.Ahmad)
Intinya, jangan berlebihan, sederhana dan semampunya,
Wallahu a'lam bishowwab

Wa billahi taufiq wal hidayah


Referensi: Riyad-us-Saliheen chapter 14 Bab Berlaku Sedang Dalam Beribadah


About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

2 comments:

NF mengatakan...

istilahnya berlebihan dalam beribadah itu ghuluw ya?

tapi pernah seorang Ustad berkata yang intinya kira2 seperti ini 'jangan suka melarang orang yang ibadahnya banyak, karena ibadah banyak itu anggap saja untuk melengkapi ibadah yang wajib, karena belum tentu ibadah wajibnya telah sempurna jadi untuk menambal ketidaksempurnaan itu ia melakukan banyak ibadah tambahan. Dan lagi bukannya bagus ia banyak beribadah? daripada ia melakukan sesuatu yang sifatnya non ibadah?'

farid maricar mengatakan...

Yang dimaksud berlebihan adalah jika ibadah tersebut tidak ada tuntunannya dari Rasulullah, wallahu a'lam bishowwab...

Diberdayakan oleh Blogger.