Minggu, 08 Juli 2012

Bila Hati Tak Terikat

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Bagaimana rasanya jika hati ini tidak terikat akan sesuatu? Kesepian? Tanpa arah? Hampa? Mungkin itu hanyalah satu dua patah kata yang bisa menggambarkan rasanya tidak terikat pada sesuatu. Lalu, seandainya hati ini sudah terikat pada sesuatu, apakah sudah cukup menghilangkan rasa kesepian? Apakah sudah cukup untuk menjadikan hal tersebut arah tujuan hidup? Apakah itu sudah cukup untuk menghilangkan kehampaan dalam hati? Jawabannya adalah belum tentu. Karena tidak semua ikatan dapat menghidupkan hati anda.

Menikah? Mungkin banyak diantara para remaja yang belum menikah. Kadang merasa kesepian, tanpa arah, juga merasa hidup ini hampa. Tapi, tidak jarang banyak diantara kita yang berpikir seperti ini. Juga tak jarang kita berpikir, bahwa kita masih memiliki orang tua, keluarga besar, dsb. Bagaimana dengan mereka yang hidup sebatang kara? Atau bagaimana kalau orang-orang yang kita miliki itu dipanggil oleh yang maha kuasa? Mungkin pemikiran ini sudah terlalu jauh. Tapi, segala kemungkinan bisa terjadi bukan? Bukankah Allah maha kuasa atas segala sesuatunya. Namun, bukan ikatan ini yang kami maksud. Ikatan kepada keluarga atau orang yang kita sayangi ini tidak akan cukup membuat kita sukses dan bahagia yang sesungguhnya. Alasannya simpel, karena itu semua tidak kekal dan abadi selamanya.

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.(Ar- Rahman 26-27)

Lalu, ikatan pada apa yang membuat kita akan membuat kita sukses dan bahagia selamanya? Yakni, ketika hati ini terikat pada Allah. Tidak mudah memang, karena tidak semua orang mendapatkan hidayah. Tidak jarang pula, mereka yang telah 'terikat' hatinya, tapi akhirnya terlepas ikatannya. Ini semua karena hidayah ini begitu langka. Tidak semua orang bisa mendapatkannya. Tidak semua orang yang mencari petunjuk, bisa mendapatkannya dan mempertahankannya. Jika kita masih dalam keadaan mendapatkan hidayah, bersyukurlah. Itu adalah hal yang langka. Ketika kau berkata tentang kebenaran pada seseorang, belum tentu dia mendengarkan perkataanmu. Mengapa? Karena belum adanya hidayah padanya, hatinya belum terikat pada Rabbnya. Karena itulah, begitu pentingnya mengikat hati pada Allah. Orang yang hatinya tidak terikat pada Allah, mereka akan terjebak oleh maksiat dan syubhat. Hati yang tidak terikat bagaikan hati yang sakit, hati yang tak tersentuh oleh cinta, cinta kepada Allah. Orang-orang yang hatinya tidak terikat ini bagaikan orang sakit yang selalu menghindari dokter, karena takut diberikan obat atau perawatan, karena tidak mau melewati proses sakitnya pengobatan, untuk mendapatkan kesembuhan setelah itu. Mereka memilih untuk berada dalam keadaan sakit selamanya, karena merasa tubuhnya kuat untuk itu. Inilah orang yang terlalu percaya diri, berakhir dengan sifat sombong tertanam dalam hati mereka. 

Lalu, bagaimanakah mengikat hati itu? Mengikat hati pada Allah itu banyak caranya. Dan sabar adalah kunci utamanya. Para ulama membagi sabar kedalam tiga jenis:
1. Sabar dalam mentaati/beribadah kepada Allah
2. Sabar dalam menjauhi larangan Allah/melawan hawa nafsu
3. Sabar dalam menerima takdir yang diluar kuasanya
Dengan bersabar untuk melaksanakan hal-hal diatas, akan menumbuhkan cinta Allah kepada kita, dan juga menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah dengan perlahan-lahan, baik sadar ataupun tidak sadar. Karena Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, 

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku maka Aku akan mengingatnya. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan orang, maka Aku akan mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatkan diri kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dalam keadaan berlari.”

Terikatnya hati ini akan melahirkan rasa ketergantungan yang mendalam kepada Allah. Dan dengan begitu Allah akan mencintai kita. Apalagi yang kita butuhkan selain Allah mencintai kita? Sesungguhnya cinta dari Allah itulah yang utama. Semoga kita tergolong orang-orang yang terikat dan diberikan hidayah olehNya hingga maut menjemput.

Wa billahi taufiq wal hidayah
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.