Kamis, 05 Juli 2012

Tanabata...Antara Festival dan Kesyirikan...

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Kali ini saya ingin menuliskan sedikit kisah tentang tanabata. Hari kamis lalu, ketika kami sedang siap-siap untuk berbuka puasa, kami masuk ke sebuah ruangan tempat kami biasa makan bersama. Ternyata ada orang yang belajar bahasa jepang, lebih tepatnya ada kursus yang diberikan oleh para volunteer. Ahh, jadi teringat zaman dahulu, waktu itu saya merasa tanabata itu event yang bagus. Kita bisa melihat berbagai macam harapan orang lain yang mereka tuliskan lalu mereka gantung dipohon. Tapi, setelah itu, saya sempat berbicara dengan ustadz saya, dulu beliau juga kuliah di Jepang. Beliau kadang ikut belajar bahasa Jepang di sebuah les-les yang diadakan oleh para volunteer. Lalu kami pun bercakap-cakap.

Saya: Bagaimana menurut pak ** tentang 'tanabata' (saya manggilnya pak karena beliau tidak mau dipanggil ustadz :D ).
Ustadz: Oh iya, beberapa hari yang lalu saya juga ikut les bahasa Jepang, waktu itu dibagikan kertas untuk menuliskan permohonan.
Saya: ohh
Ustadz: Tapi saya kemarin nggak nulis apa-apa.
Saya: Loh kenapa pak?
Ustadz: Hmm, gimana yah, sepertinya hal seperti ini nggak boleh.
Saya: Hmm, memangnya kenapa pak?Ustadz: Yah itu, kan kita harus menuliskan permohonan, sedangkan permohonan itu hanya ditujukan kepada Allah.
Saya: (mangut-mangut) Terus gimana pak?Ustadz: Oh iya, di zaman para sahabat dulu ada yang pernah melakukan hal yang sama. Beberapa orang yang baru masuk islam menggantungkan pedang-pedangnya. (setelah itu saya mencoba mencari ternyata ada haditsnya Dari Abu Waqid Al Laysie, ia berkata: “Kami keluar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain, saat itu kami baru saja keluar dari kekufuran. Orang-orang musyrikin memiliki sebatang pohon yang besar, mereka duduk di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut pohon Dzâtu Anwâth. Lalu kami melewati sebatang pohon yang besar pula. Maka kami berkata:”Ya Rasulullâh jadikanlah untuk kami pohon Zatu Anwâth, sebagaimana mereka memiliki pohon Dzâtu Anwâth!” Rasululâh n pun bertakbîr (Allâhu Akbar) Demi Zat yang jiwaku berada ditangannya sesungguhnya ucapan kalian ini sebagaimana ucapan Bani Israil kepada Musa Alaihissallam: "Jadikanlah untuk kami sembahan sebagaiman mereka memiliki sesembahan! Musa berkata: sesungguhnya kalian kaum yang bodoh". Sesungguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang sebelum kalian"[HR Tirmidzi] )
Saya: Oh begitukah?  
Ustadz: Iya, karena itulah, sebaiknya kita menghindarkan diri dari hal-hal seperti ini.

Selain itu, hal ini juga menjurus kepada kesyirikan, karena hal tersebut adalah tulisan permohonan dengan harapan akan dikabulkan, yang bisa menjerumuskan kita kepada syirik yang tidak kelihatan. Saya juga mencoba mencari ke Wikipedia tentang apa sih tanabata ini, 

Apa itu tanabata?

Tanabata (七夕?) atau Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang, Tiongkok, dan Korea. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Di Tiongkok, perayaan ini disebut Qi Xi. 

Apa yang dilakukan di festival tersebut?


Perayaan dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di tengah malam bintang-bintang naik mendekati zenith, dan merupakan saat bintang Altair, bintang Vega, dan galaksi Bima Sakti paling mudah dilihat.
Kemungkinan hari cerah pada hari ke-7 bulan ke-7 kalender Tionghoa lebih besar daripada 7 Juli yang masih merupakan musim panas. Hujan yang turun di malam Tanabata disebut Sairuiu (洒涙雨?), dan konon berasal dari air mata Orihime dan Hikoboshi yang menangis karena tidak bisa bertemu.
Festival Tanabata dimeriahkan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku atau secarik kertas berwarna-warni. Tradisi ini khas Jepang dan sudah ada sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah, kuning, putih, dan hitam). Di Tiongkok, tali untuk mengikat terdiri dari 5 warna dan bukan kertasnya. Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis.
Kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik.

Mengapa dikatakan syirik?

Pasti orang-orang akan bertanya, "Loh kenapa syirik? Bukankah itu bukan perbuatan menyembah?". Kami akan menjawab, "Apa anda yakin itu bukan suatu perbuatan menyembah? Ketika anda menempel permohonan - permohonan anda di sebuah pohon sebagai sebuah pengharapan, dan apakah anda tahu anda mengharap kepada siapa?Pada Allah? tentu bukan, dan ingatlah pada penggalan ayat yang kita baca setiap harinya,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya: “Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”

Maknanya: “Kami hanya menujukan ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) kepada-Mu.” Di dalam ayat ini objek kalimat yaitu Iyyaaka diletakkan di depan. Padahal asalnya adalah na’budukayang artinya Kami menyembah-Mu. Dengan mendahulukan objek kalimat yang seharusnya di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, ‘Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Ibadah bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Ibadah itu ada yang tampak dan ada juga yang tersembunyi. Kecintaan dan ridha Allah terhadap sesuatu bisa dilihat dari perintah dan larangan-Nya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu dicintai dan diridai-Nya. Dan sebaliknya, apabila Allah melarang sesuatu maka itu berarti Allah tidak cinta dan tidak ridha kepadanya. Dengan demikian ibadah itu luas cakupannya. Di antara bentuk ibadah adalah do’a, berkurban, bersedekah, meminta pertolongan atau perlindungan, dan lain sebagainya. Dari pengertian ini maka isti’anah atau meminta pertolongan juga termasuk cakupan dari istilah ibadah. Lalu apakah alasan atau hikmah di balik penyebutan kata isti’anah sesudah disebutkannya kata ibadah di dalam ayat ini?

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”

Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39).

Lalu bagaimana harus menyikapinya?
Mungkin bisa dengan berterus terang, dan mengatakan bahwa hal ini bertentangan dengan agama kita. Saya yakin, orang Jepang menghormati apapun agama kita, termasuk menjelaskan tentang 'bertentangannya tanabata dengan ajaran agama kita'. Saat inilah ayat 'Lakum dinukum wa liyadin' digunakan, tidak seperti pemahaman orang awam kebanyakan yang menggunakan ayat tersebut pada orang yang pemahamannya berbeda dengannya. 

Tidak usah terlalu ekstrim
Ini hal yang kadang saya dengar dari orang lain ketika menyampaikan sesuatu hal. Memang kebenaran harus disampaikan walau itu pahit untuk diterima. Terus waktu kemarin ada ustadz yang kesini menjelaskan bahwa yang dimaksudkan hadits "aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit," adalah tentang pedagang yang mau menjelaskan keburukan dagangannya. Tapi menurut logikaku, Islam adalah agama haq yang juga sebuah jualan, yang sebenarnya memberikan kebaikan pada yang membeli dan menjual, walau kadang 'tidak sesuai dengan nafsu' sang penjual dan pembeli. Salah, jika kita melarang hal ini kepada orang Jepang yang non-muslim atau yang muallaf tentang hal ini karena mereka dalam masa penyesuaian. Tapi tidak salah, jika kita sampaikan kepada orang Indonesia yang sebelumnya tidak pernah melakukannya. Di Indonesia juga banyak hal-hal yang mengandung kesyirikan tapi kita tidak tahu dan terlalu banyak toleran karena itu sudah menjadi ajaran turun temurun. Wallahul musta'an.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk dan hidayahNya.


Sumber bacaan:

About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

2 comments:

affanibnu mengatakan...

assalamulaikum wr wb.. :)
izin berblogwalking disini.. :)

farid maricar mengatakan...

Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Diberdayakan oleh Blogger.