Kamis, 15 November 2012

Cerita Fiktif : Syarat Diterimanya Amalan Ibadah Seseorang

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Anggaplah, saya seorang lulusan SMA. Saya ingin melanjutkan kuliah di sebuah universitas negeri. Tapi ternyata orang tua saya dari keluarga yang kurang mampu. Akhirnya saya mengapply beasiswa. Persyaratan beasiswa itu ada 2, pertama hanya boleh memiliki satu beasiswa selama belajar, kedua harus memasukkan berkas-berkas yang dibutuhkan, tanpa menambah berkas-berkas
yang tidak perlu karena mempersulit saat pemeriksaan dokumen. Tapi, karena sok tahunya saya, saya mengirimkan dokumen berlebih agar mempunyai nilai lebih di mata sang pemberi beasiswa, akhirnya mereka tidak mau memeriksa dokumen saya, saya pun tidak diterima. Si Ahmad, juga mengapply beasiswa yang sama. Namun, ternyata dia diterima oleh si pemberi beasiswa. Akhirnya kami kuliah bersama-sama, namun aku tanpa beasiswa, Ahmad mempunyai beasiswa. Tapi singkat cerita, ternyata, si Ahmad ketahuan menggunakan dua beasiswa, pihak beasiswa tadi pun menarik beasiswanya dan menyuruh Ahmad mengganti beasiswa tersebut.

Dari kisah diatas, dapat kita ambil pelajaran agar saya dan Ahmad mencukupkan diri dengan dokumen yang dibutuhkan dan mencukupkan diri untuk mengapply satu beasiswa.

Begitu juga amal ibadah kita, seharusnya mencukupkan diri dengan ajaran Rasul, dan hanya ikhlas karena Allah azza wa jalla. Benar tak ada yang dapat meyakinkan kalau amalan kita diterima. Tapi, kita hanya bisa berharap diterima jika sesuai dengan aturan yang berlalu, seperti halnya beasiswa tadi. Karenanya, ada baiknya jika menjauhi amalan2 yang tidak dianjurkan, misalnya ucapan dan puasa 1 Muharram. Dalam kisah diatas, si Ahmad disuruh mengganti/mengembalikan semua uang beasiswa yang pernah diberikan padanya karena dia menggunakan dua beasiswa. Jika menggunakan ilustrasi tersebut, maka beginilah nasib mereka yang menduakan niat amalan mereka yang seharusnya karena Allah semata, tetapi malah membaginya dengan yang lain. Hal ini merupakan kesyirikan, yang jika sudah sedemikian parah akan mengeluarkan pelakunya dari Islam agama yang mulia ini. Naudzubillahi min dzalik...

Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya, maka ia tertolak. (Muttafaq ‘alaihi)

Semoga Allah senantiasa menuntun kita di jalan yang diridhoiNya...
Wa billahi taufiq wal hidayah...
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.