Rabu, 05 Desember 2012

Kajian yang membawa hikmah adalah yang sederhana tapi membuat kita istiqamah

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Apa yang kami tulis sebagai pembuka adalah potongan dari khutbatul hajah. Khutbatul hajah biasanya digunakan untuk membuka kajian-kajian, khutbah-khutbah, atau membuka acara walimahan. Tapi, kalimat tersebut mengandung arti sendiri bagi kami. Izinkan saya untuk menggunakan kata 'saya' ketimbang kata kami yang biasanya saya gunakan, karena ini adalah cerita pribadi.

Nah, semuanya dimulai pada cerita diawal saya mulai masuk kuliah, saya bertemu seseorang, sebagai sesama muslim saya menghormati beliau, mungkin karena beliaulah saya mengenal agama yang haq ini dengan baik. Beliau sering menasihati saya, dalam berbagai macam kondisi. Namun, karena sesuatu dan lain hal, beliau harus pindah dan menetap di tempat lain.

Alhamdulillah, alaa kulli haal, ketika beliau pindah ke tempat lain, beliau masih sempat memberikan kajian tahsin pada saya di satu-satunya masjid di kota kami, Masjid An-Nour Fukuoka. Disamping belajar tahsin, beliau juga sempat mengajarkan sedikit dasar-dasar aqidah, sedikit ilmu yang bisa kudapat 'dalam pikiranku berkata', tapi sangat bermakna dan berbobot, dimana lagi kita bisa mendapatkan kajian aqidah di negara non-muslim yang jauh dari pemukiman muslim di negara antah berantah. Sederhana, tapi sangat bermanfaat.

Lanjut cerita, karena kesibukan beliau dan keterbatasan beliau yang tentu dapat saya pahami karena rumah beliau yang jauh, akhirnya kajian dihentikan. Setelah itu, saya mencoba mencari-cari kajian sendiri, bersama seorang teman yang juga melakukan hal yang sama. Namun, berbeda dengan teman saya itu, saya bukan orang yang mudah istiqamah, bahkan mudah terpengaruh pada lingkungan sekitar.

Pada periode dimana saya masih mengikuti kajian tahsin tersebut, saya telah meninggalkan segala hal yang meragukan, dan haram seperti musik, film kartun, dan video game. Tentu, semua itu terjadi atas kehendak Allah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya kembali menikmati hal-hal tersebut, namun seiring itu pula saya meminta pertolongan Allah untuk diselamatkan dan dijauhkan dari hal-hal berikut.

Masih teringat pula, pada waktu itu, saya selalu membaca qur'an tiap hari, shalat lima waktu tanpa terlambat, bahkan berjamaah jika mampu, atau bahkan menyengajai tinggal di kampus untuk mendapatkan jamaah, mengingat masjid jauh dari pemukiman saya. Tapi apa daya, ketidak sabaran ini menjadikan segalanya menjadi rusak.

Awalnya, saya masih memiliki teman, yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Tidak jarang saya yang selalu berbuat kesalahan ini meminta pertolongan teman untuk memberikan nasehat, namun sekarang sulit bagi saya untuk mencapainya.

Sekarang, yang kulakukan hanyalah meminta pertolongan Allah, karena Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan terbaik. Saya tidak ingin riya dengan cerita ini, tapi ingin sekedar berbagi. Agar yang membaca bisa meraih hikmah darinya. Jangan menyia-nyiakan majelis-majelis ilmu disekitar kita. Jangan pula sembarangan dalam memilih teman, cari yang baik agar dapat memperbaikimu jika salah, dan tumbuhkan kesabaran agar menjadi orang yang istiqamah hingga maut memanggil.

Wa billahi taufiq wal hidayah
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.