Selasa, 25 Desember 2012

Memperdayakan Yang Buruk sebagai Sesuatu Yang Baik

Di antara perdayaan syetan terhadap manusia adalah ia menampakkan berbagai macam perkara dan mengkhayalkannya di sana terdapat banyak kemanfaatan baginya. Selanjutnya ia memunculkan beberapa perkara yang di dalamnya terdapat kebinasaan manusia. Lalu ia meninggalkannya, membiarkannya dan senang dengan kebinasaan manusia itu, ia pun menertawakannya, kemudian memerintahkannya mencuri, berzina dan membunuh. Setelah semua kejahatan ditunjukkannya, ia pun mempermalukan manusia itu.

Allah befirman,

"Dan ketika syetan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan merekadan mengatakan, Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat-melihat (berhadapan), syetan itu balik ke belakang seraya berkata,' Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat, sesungguhnya saya takut kepada Allah. 'Dan Allah sangat keras siksaanNya."(Al-Anfaal:48).

Al-Hasan berkata,

"la menunjukkan mereka dengan tipu daya lalu menelantarkan mereka.
Sesungguhnya orang yang jahat itu memperdaya orang yang setia
padanya."

Sebagaimana juga firman Allah,

"(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syetan ketika ia berkata kepada manusia, 'Kafirlah kamu!' Maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam'." (Al-Hasyr: 16).

Ungkapan ini tidaklah khusus bagi orang yang diceritakan dalam kisah ini, tetapi ia umum bagi setiap orang yang mentaati syetan dalam perintahnya terhadap kekufuran, agar membantunya dan memenuhi hajatnya; (setelah itu) syetan berlepas diri daripadanya, sebagaimana ia berlepas diri dari orang-orang yang setia padanya (ketika di dunia) di neraka, dan syetan berkata kepada mereka, "Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu." (Ibrahim: 22). Syetan memberikan seburuk-buruk sumber kejahatan, lalu ia berlepas diri sama sekali daripadanya.

Para ulama memperbincangkan tentang ucapan musuh Allah, "Sesungguhnya aku takut kepada Allah. "Qatadah dan Ibnu Ishaq berkata,

"Musuh Allah itu berkata jujur dalam ucapannya, 'Sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihatnya', tetapi ia berdusta saat berkata, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah.' Demi Allah, ia tidak takut kepada Allah, tetapi ia mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan sama sekali di hadapanNya, tidak pula dapat menolak, maka ia pun membiarkan mereka. Demikian kebiasaan musuh Allah terhadap orang yang mentaatinya."

Segolongan lain berpendapat, "Syetan itu hanya takut siksaan Allah di dunia, sebagaimana orang kafir atau orang berdosa takut dibunuh atau dihukum karena dosanya. Jadi takut di situ, bukan takut terhadap siksa Allah kelak di akhirat." Pendapat terakhir inilah yang lebih benar, dan takut yang dimaksud tidak mengharuskan adanya iman dan keselamatan. Atha' berkata, "Maksud ucapan syetan itu adalah sesungguhnya aku takut kepada Allah, jika ia membinasakanku bersama orang yang binasa. Jadi, takutnya di sini adalah takut dari kebinasaan di dunia, sehingga takut seperti ini tidak ada manfaatnya."

Sumber: Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 148~150
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.