Selasa, 24 Januari 2012

Tantangan berat...Sebagai seorang muslim,pemuda,anak,gamers dan pelajar...Part 4 Mari perbaiki niat sebelum melakukan segala hal

Yang namanya manusia yang menginjak usia remaja, pasti pernah merasakan cinta. Tak terkecuali saya yang masih terhitung remaja untuk saat ini. Di dalam kelabilan yang sering datang dan pergi dalam masa-masa itulah terkadang syaithon dengan mudahnya mempengaruhi jalan pikiran manusia. Waktu itu aku baru mulai belajar tentang apa itu Islam. Kuakui aku memang islam sejak kecil, tapi tidak pernah sedikitpun ada usaha untuk memperdalam ilmu tentang islam. Aku banyak membaca buku tentang kisah nabi dan para sahabat sejak kecil, namun hanya sebagai hiburan belaka, bukan untuk diambil hikmah di dalamnya.

Saat itu aku baru memulai pencarian jati diriku sebagai seorang remaja, waktu itu aku bukanlah seorang anak yang sholat 5 kali dalam sehari. Shalat jum'at pun terkadang hanya 1 kali dalam 3 minggu, karena tahu ketika tidak sholat jum'at 3 kali berturut-turut itu sama saja menyatakan bahwa diri kita telah kafir.

Ketika ku memulai kehidupanku sebagai seorang remaja, aku berusaha mencari jati diriku dengan memilah-milah teman. Menurutku, memilah-milah teman adalah hal yang penting, karena seperti kita tahu, karakter seseorang itu tergantung pada dengan siapa dia selalu bergaul. Sampai sekarang pun, paham itulah yang selalu kuanut dalam diriku. Jadi janganlah heran ketika saya lebih suka bergaul dengan seorang muslim ketimbang bergaul dengan orang-orang non muslim di sekitarku. Tapi bukan berarti aku tak ingin menjauhi orang non muslim sama sekali. Tatkala ku mulai merasa ada yang kurang di dalam diriku, aku selalu bertanya-tanya, hal apakah yang kurang dalam diriku. Akhirnya, hidayah itu datang, tatkala seorang teman yang seorang rohis waktu itu juga seorang pemain game di tempatku selalu berkutat sepulang sekolah. Akhirnya dia rajin ikut mengajakku untuk ikut pergi ke masjid tiap hari, entah itu untuk shalat dzuhur, ataupun sholat dhuha.

Lama setelah itu akhirnya aku pun ikut serta untuk menjadi seorang rohis. Pikirku, seorang yang bisa menyeimbangkan dunia dan akhirat adalah orang yang hebat bukan. Pemikiranku yang masih terlalu naif saat itu mengatakan tidaklah apa-apa kalau main game berlebihan, atau mungkin ada maksiat-maksiat lain seperti pacaran dan lain-lain, tapi mampu menyeimbangkannya dengan tidak pernah lupa sholat, atau ibadah-ibadah lainnya. Setelah lama belajar, dan sering ikut kegiatan keagamaan pun, pemikiranku itu pun masih juga belum berubah. Dan tatkala pemikiran itu masih terus hinggap di dalam pikiranku, terjadi hal-hal yang tidak seharusnya terjadi dalam hidupku, aku sering jatuh cinta pada akhwat yang kutemui di masjid. Dan akhwat disini bukan berarti hanya 1, tapi ada beberapa, pemikiran yang aneh itu menyebabkanku bersemangat untuk melakukan banyak kegiatan-kegiatan atau urusan-urusan yang ada hubungannya dengan Islam di sekolah. Entah syaithon macam apa yang tega mempengaruhi jiwa yang masih labil itu untuk berpikir seperti itu. Setelah itu, saya pun sering berhubungan dengan 'mereka' melalui sms, atau jalur pribadi lainnya.

Namun, seiring banyak peristiwa yang terjadi, pemikiran-pemikiran yang tidak benar itu seakan sirna dimakan waktu. Dan aku hanya bisa berharap, bisa senantiasa istiqamah dalam niat yang sudah mulai bisa kuperbaiki ini. Terkadang kita berpikir sudah beriman, bertaqwa, dll. Tapi cobalah berpikir terlebih dahulu, apakah kita benar - benar termasuk makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Terkadang apa yang kita lakukan adalah mencari jalan Allah, namun tanpa kita sadari sebenarnya apa yang kita lakukan adalah mendapatkan murkaNya. Why?karena tanpa kita sadari ternyata niat kita dalam hati berbeda dengan apa yang kita lakukan. Bahaya riya', sum'ah, dan ujub terkadang kita tidak sadari merasuki pikiran kita. Jadi berhati-hatilah, amalan yang kita lakukan tergantung dari niat kita. Innamal A'malu bin niat.

Read More

Tantangan berat...Sebagai seorang muslim,pemuda,anak,gamers dan pelajar...Part 3 Kemanapun anda pergi,kuatkan iman dalam hati...

Well, saat itu pertama kali tiba di Jepang, tentu saya belum tahu kondisi sekitar. Bahkan tidak terbesit sedikitpun dipikiranku untuk melakukan shalat Jumat di 3 bulan pertama saya ke Jepang. Tahu bahwa jarak masjid dari sini sekitar lebih dari 20 km, membuatku ogah2an untuk pergi ke sana. Begitu pun juga untuk ikut sholat jum'at di kampus, waktu itu saya belum tau jalan ke kampus karena waktu itu saya masih berstatus pengangguran. Sejak saat itu, entah mengapa iman saya jadi semakin terpuruk. Bahkan sering melakukan maksiat melalui dunia maya(a. k. a. kecanduan game, facebook, dll).

Entah sejak kapan, akhirnya saya sadar untuk memulai usaha untuk kembali meningkatkan iman. Saya mulai sering ikut shalat jum'at di kampus, setelah tetangga saya menunjukkan bagaimana cara ke sana dengan menggunakan sepeda. Setelah rutin mengikuti shalat jum'at, lambat laun saya merasa iman yang tadinya turun drastis kembali membaik. Saya pun mencoba menghabiskan waktu-waktu luang yang sangat panjang itu untuk mencari-cari artikel tentang islam yang bisa saya pelajari. Alhamdulillah, ketika bulan ramadhan tiba, saya juga ikut merasakan indahnya berbuka bersama muslim yang berada di kampus Ito. Bahkan sempat ikut untuk mengambil makanan yang akan disuguhkan berbuka puasa di kampus Hakozaki. Begitu pula suasana buka puasa di Masjid Fukuoka yang untuk pertama kalinya kurasakan, makan bersama pada satu wadah yang dikeroyok oleh beberapa orang. Dan juga suasana lebaran Idul Fitri yang sempat kurasakan pada waktu itu.

Namun ada hal yang terkadang mengganjal pikiranku. Makanan, adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari kita. Masalahnya sangat sulit untuk menentukan kehalalan makanan yang ada disini, terkecuali anda adalah seorang penghapal kanji yang mampu membaca kanji-kanji yang ada pada bahan makanan atau makanan jadi yang ada disini. Akhirnya, saya hanya mencoba menghapal beberapa kanji yang jelas keharamannya seperti kanji babi, daging, lemak hewani, dll. So, dengan begitu saya bisa memilah-milah mana snack yang bisa dikonsumsi dan yang mana yang halal. Nah, suatu hari, terjadi perdebatan antara saya dengan seorang teman yang kalo di bahasa Indonesiakan jadinya akan seperti ini,

Saya :"Kenapa kamu makan daging ayam yang dijual di kombini"

Dia:"Gak papalah, kan terpaksa. Lagipula gak ada yang jual makanan halal disini"

Saya:"Tapi kan masih banyak makanan halal, tuh ada kantin nabi san deket banget dari sini, kenapa mesti beli di kombini yang jarak tempuhnya jelas lebih jauh?"

Dia:"Tapi kan mahal, lagipula itu tidak apa2 kok, Islam itu mudah"

Saya: "Ya udahlah, terserah,"

Ketika dia mengatakan Islam itu mudah, saya agak kurang suka dengan kata-kata itu. Seakan-akan Islam memudahkan segala hal, dan bisa menghalalkan hal-hal yang haram disaat 'tidak terjepit' seperti itu. Akhirnya setelah itu aku tidak pernah menegurnya lagi karena tahu orang itu agak keras kepala untuk dikasih tahu hal seperti itu.

Ketika jadwal kuliah sudah dibagikan, aku terdiam menatap salah satu mata kuliah yang diajar oleh seorang sensei dari India. Jadwalnya tepat setelah sholat Jum'at. Awalnya, aku mengira dia akan memberikan izin terlambat karena melakukan ibadah. Namun, tampaknya dia tidak mau menerima alasan itu. Pada hari pertama saya masuk kelas itu masih ditolerir olehnya. Pertemuan keduapun dia masih memberikan toleransi. Sebenarnya muslim yang laki2 ada 3 dalam kelas yang sama pada mata kuliah itu. Aku, dan ada 2 orang lagi. Pada awalnya, aku dan seorang lagi pergi bersama untuk melaksanakan shalat jum'at, namun berikutnya dia tidak mau karena takut tidak diberikan nilai kehadiran oleh sensei. Saya sangat sedih karena hal itu. Karena tidak ada teman yang bisa diajak pergi shalat jumat bersama. Namun, aku cuek saja. Aku bahkan tidak peduli pada gradeku yang mungkin akan dapat F pada mata kuliah ini. Aku yakin, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Dan aku selalu yakin, janji Allah adalah janji yang benar. Dan, ketika kutanya lagi pada temanku, mengapa kamu gak mau shalat jumat?Dia hanya berkata 'ISLAM ITU MUDAH', ketika dia kembali mengatakan hal itu, aku berniat untuk memperingatinya, tapi entah mengapa setelah berdebat sedikit dengannya, dia malah berkata aku adalah muslim yang buruk dan salah dalam menilai Islam, aku terdiam, dan mencoba sabar, dan semenjak saat itu, aku tidak ingin berbicara tentang shalat jumat lagi dengannya. Mungkin karena bingung dan takut bagaimana cara membujuknya.

Kesimpulannya, teguhkanlah iman dan ketaqwaan kita kepada Allah agar Allah senantiasa memberikan petunjuk dan jalan atas setiap masalah yang kita hadapi. Memang benar Islam Itu Mudah. Tapi bukan untuk di pandang enteng. Sesungguhnya Allahlah yang Maha Mengerti, tapi janganlah kita selalu mau dimengerti. Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat Iman dan Taqwa kepada kita. Aamiin, Aamiin, Aamiin. Ya Rabbal Alamin.

Untuk kelanjutan ceritanya, saya sambung disini

Read More

Tantangan berat...Sebagai seorang muslim,pemuda,anak,gamers dan pelajar...Part 2 Tentang pentingnya Doa dan Tawakkal...

Waktu itu. Aku sama sekali tidak pernah berpikir. Bagaimana mungkin aku diterima masuk di Kyushu University, salah satu Perguruan Tinggi terbaik di Jepang. Namun, akhirnya aku menerima dengan lapang dada bahwa aku harus masuk di Kyushu University. Mengapa aku mengatakan lapang dada?Karena tidak pernah sedikitpun terlintas dipikiranku untuk masuk dengan biaya masuk yang sangat besar yang mungkin mampu untuk mencekik orang tuaku. Namun Tuhan ternyata berencana lain, ternyata setelah pengumuman 20 April itu aku sama sekali tidak menerima beasiswa, namun diterima untuk masuk di Kyushu University. Nyeseeek banget. Tapi kucoba terus berharap pada Allah. Karena kutahu hanya Dialah Yang Maha Kuasa dan Maha Menghendaki segala sesuatunya. Mulai dari mengapply keringanan pembayaran, penundaan pembayaran uang masuk, serta uang kuliah. Waktu itu tidak pernah terlintas sama sekali dibenakku untuk melanjutkan kuliah yang sudah sangat jelas dengan biaya yang tidak sedikit ini. Namun cerita ini berbalik 180 derajat ketika waktu itu pengumuman tanggal 9 Agustus, untuk kesempatan penerimaan beasiswa periode kedua, aku masih belum mendapatkan jawaban akan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Akhirnya akupun mencoba berpasrah. Hanya Allah-lah yang berkuasa atas segala sesuatunya. Aku sudah melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Aku tidak bisa berharap terlalu banyak.

Entah mengapa, saya juga agak lupa kapan peristiwa itu. Tiba2 aku mendapatkan email yang bertuliskan bahwa saya menjadi salah satu penerima beasiswa MEXT, yang membuatku tak perlu lagi untuk membayar biaya kuliah dan pendaftaran masuk untuk semester pertama. Aku terjatuh dan tersungkur membaca email yang cukup menakutkan itu. Dan tanpa terasa, air mataku jatuh berlinang, mengucapkan rasa syukur atas karunia yang Allah berikan selama ini. Siapa yang pernah menyangka, akan mendapatkan kesempatan langka seperti ini.

Well, usaha dan doa saja tidaklah cukup untuk mendapatkan sesuatu. Kita harus bertawakkal pada Allah. Berserah diri kepadaNya. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya. Tidak ada yang perlu kuragukan lagi. Sungguh nikmat Allah yang begitu besar telah kurasakan selama ini. Dibalik Kesulitan Pasti ada Kemudahan yang terselubung. Sungguh manusia bisa berencana, Tapi Rencana Allah Jauh lebih Indah. Janganlah pernah kecewa akan sesuatu. karena segala sesuatunya Allah sudah mengaturnya. Jangan pernah berhenti berusaha, berdoa, dan bertawakkal. Karena Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar.

Untuk kelanjutan ceritanya, saya sambung disini

Read More

Tantangan berat...Sebagai seorang muslim,pemuda,anak,gamers dan pelajar...Part 1 Tentang penting dan betapa berharganya waktu...

Hmmm…Tidak pernah terbesit rencana untuk pergi ke Jepang sebelumnya. Saya hanyalah pelajar yang tidak pernah mendapatkan prestasi yang memadai di sekolah. Intinya, saya anak yang biasa-biasa saja. Saya bukan seorang jenius yang selalu mendapatkan prestasi belajar berupa rangking di sekolah. Saya juga tidak pernah ikut olimpiade-olimpiade sains yang benar-benar mengkompetisikan diri di sekolah. Atau orang yang selalu ikut English debate yang seperti kita tahu mereka punya wawasan yang sangat luas,ditambah dengan kemampuan berbahasa Inggris tentunya.

Saat sekolah saya tergolong anak yang malas mengerjakan tugas,tidak pernah belajar saat akan melaksanakan ujian. Bahkan, saat Ujian Akhir Nasional akan dimulai dan sedang berlangsung pun, saya masih dapat ditemukan di warnet depan sekolahku yang bernama 'Multizone'. Tapi Alhamdulillah, ternyata Allah masih memberikan karunia kelulusan untukku yang malas bin bodoh ini *sigh.

Cerita itu tidak hanya berhenti sampai disini saja. Setelah lulus dari SMA saya melanjutkan kebiasaan itu. Jauh setelah saya tahu kalau orang tua saya merencanakan untuk berangkat ke Jepang. Saya disuruh ikut les Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Namun,kesempatan itu tidak kupergunakan sebaik-baiknya. Terkadang dalam kelas Bahasa Inggris saya dalam keadaan malas. Apalagi les bahasa Jepang,saya belum mampu membaca hiragana sedikitpun. Antara waktu les bahasa Inggris yang waktu itu pada pagi hari dan les bahasa Jepang pada malam hari,saya malah pergi bermain game di game center.

Bahkan, sebelum mengambil kursus bahasa Jepang dan bahasa Inggris itu,saya masih sempat mengikuti ujian tes seleksi masuk SNMPTN. Tapi,bukannya belajar dengan baik,waktu-waktuku malah kuhabiskan untuk hal-hal yang tidak berharga. Berusaha menamatkan Digimon World DS,Menyelesaikan Quest untuk naik job menjadi Warsmith(Lineage II),dan tentu saja DOTA. Bahkan saat-saat terakhirku di Indonesia masih kugunakan untuk hal-hal seperti itu.

Sampai akhirnya tiba di jepang,saat itu statusku masih ikut orang tua. Tapi bukannya menggunakan waktu itu sebaik-baiknya malah saya pergunakan untuk mencari dan mencoba game online dan itu. Tidak hanya itu,sebagian besar waktu yang berharga itu tidak kugunakan untuk belajar bahasa Jepang dan bahasa Inggris yang seharusnya bisa kukuasai seandainya saya benar2 bertekad untuk menguasainya waktu itu. Tapi apa daya,waktu tak dapat terulang. Sampai akhirnya hampir setahun saya tinggal di Jepang,saya akhirnya pulang kembali ke Indonesia. Waktu itu kemampuan berbahasa Jepang dan bahasa Inggris saya masih berstatus ala kadarnya. So bagaimana cara saya bertahan hidup dan kuliah dengan cara seperti ini. Hal itulah yang sering muncul di benak saya. Tapi,ketika pulang kembali ke Makassar. Bukannya memanfaatkan waktu untuk mencari buku dan bacaan yang dipergunakan untuk kuliah,waktuku malah kupergunakan untuk bermain game setiap hari.

Pergunakan waktu yang anda punya sebaik-baiknya. Karena waktu yang anda gunakan tidak akan pernah kembali lagi. Sesal kemudian percuma. Saya hanya bisa menyesal dan berdoa pada Allah agar waktu-waktu dan kesempatan yang Dia berikan di kemudian hari bisa lebih berbuah dan bermanfaat buatku.

Untuk sambungan ceritanya saya sambung disini

Read More

Sabtu, 14 Januari 2012

Apa Itu Hadîts Qudsiy

Mukaddimah

Pada kajian ilmu hadits kali ini, sengaja kami ketengahkan masalah Hadîts Qudsiy yang tentunya sudah sering didengar atau dibaca tentangnya namun barangkali ada sebagian kita yang belum mengetahuinya secara jelas.

Untuk itu, kami akan membahas tentangnya secara ringkas namun terperinci insya Allah, semoga bermanfa'at.

Definisi

Secara bahasa (Etimologis), kata القدسي dinisbahkan kepada kata القدس (suci). Artinya, hadits yang dinisbahkan kepada Dzat yang Maha suci, yaitu Allah Ta'ala.
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah

ما نقل إلينا عن النبي صلى الله عليه وسلم مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل

Sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya.

Perbedaan Antara Hadîts Qudsiy Dan al-Qur`an

Terdapat perbedaan yang banyak sekali antara keduanya, diantaranya adalah:

  • Bahwa lafazh dan makna al-Qur`an berasal dari Allah Ta'ala sedangkan Hadîts Qudsiy tidak demikian, alias maknanya berasal dari Allah Ta'ala namun lafazhnya berasal dari Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam.

  • Bahwa membaca al-Qur`an merupakan ibadah sedangkan Hadîts Qudsiy tidak demikian.

  • Syarat validitas al-Qur'an adalah at-Tawâtur (bersifat mutawatir) sedangkan Hadîts Qudsiy tidak demikian.
Jumlah Hadîts-Hadîts Qudsiy

Dibandingkan dengan jumlah hadits-hadits Nabi, maka Hadîts Qudsiy bisa dibilang tidak banyak. Jumlahnya lebih sedikit dari 200 hadits.

Contoh

Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim di dalam kitab Shahîh-nya dari Abu Dzarr radliyallâhu 'anhu dari Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam pada apa yang diriwayatkan beliau dari Allah Ta'ala bahwasanya Dia berfirman,

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا

"Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zhalim atas diri-Ku dan menjadikannya diantara kamu diharamkan, maka janganlah kamu saling menzhalimi (satu sama lain)." (HR.Muslim)

Lafazh-Lafazh Periwayatannya

Bagi orang yang meriwayatkan Hadîts Qudsiy, maka dia dapat menggunakan salah satu dari dua lafazh-lafazh periwayatannya:

1. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عز وجل

Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam pada apa yang diriwayatkannya dari Rabb-nya 'Azza Wa Jalla

2. قال الله تعالى، فيما رواه عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم

Allah Ta'ala berfirman, pada apa yang diriwayatkan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dari-Nya

Buku Mengenai Hadîts Qudsiy

Diantara buku yang paling masyhur mengenai Hadîts Qudsiy adalah kitab
الاتحافات السنية بالأحاديث القدسية (al-Ithâfât as-Saniyyah Bi al-Ahâdîts al-Qudsiyyah) karya 'Abdur Ra`uf al-Munawiy. Di dalam buku ini terkoleksi 272 buah hadits.

(SUMBER: Buku Taysîr Musthalah al-Hadîts, karya DR.Mahmûd ath-Thahhân, h.127-128)


Dicopy dari: http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&id=56


Read More

Jumat, 13 Januari 2012

Shalat jum'at yang kualami di Jepang~

Bismillahirrahmanirrahim

Well, disini saya akan cerita sedikit tentang masa lalu saya yang kelam. Saat itu, saya masih sangat suka main game. Saking, sukanya saya kadang meninggalkan shalat jum'at. Dan saya benar-benar merasa seperti orang Yahudi, mengapa? Dulu, saya memang sudah mengenal Islam, dan Islam bukanlah hal yang terlalu asing bagiku. Karena itu, saya tahu bahwa orang yang tidak shalat jum'at 3 kali, adalah kafir. Lalu, saya mikir, mending saya skip aja shalat jum'at 2 kali, jadi minggu ketiganya saya bisa shalat jum'at yang tidak membuatku kafir. Naudzubillahi min dzalik.

Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya masuk keanggotaan rohis di sekolah saya. Saya bergaul dengan orang shaleh, yang akhirnya menyemangati diri saya sendiri untuk tidak mau meninggalkan shalat jum'at. Alhamdulillah, sampai akhirnya saya lulus SMA pun saya masih bisa tetap menjalin hubungan dengan mereka. Bahkan beberapa waktu sebelum akhirnya saya ke Jepang, saya masih bisa istiqamah.

Lalu, hal buruk pun terjadi saat saya benar-benar pindah ke negara ini(Jepang). Ya, negara kafir ini hampir saja mengkafirkanku. Waktu itu, pemikiran saya benar-benar sempit. Di Jepang ini, sangat sulit bagi kita untuk menemukan masjid. Dan hal ini menjadi alasan utama bagiku untuk bermalas-malasan dalam melakukan shalat jum'at. Saya pernah sempat chatting dengan teman yang dulu di SMP dikenal sebagai ustadz. Beliau menasehati saya, tapi saya tidak menggubris. Entah kapan mulainya, akhirnya somehow saya mendapatkan cara murah untuk shalat jum'at. Ternyata setelah shalat jum'at, somehow pemikiranku mulai terbuka. Dan akhirnya Alhamdulillah, seiring dengan berjalannya waktu pikiranku terbuka dan saya diberikan hidayah, setelah bertemu seseorang yang sempat saya singgung di bagian Tentang penulis.

Rintangan Lagi
Ketika jadwal kuliah sudah dibagikan, saya terdiam menatap salah satu mata kuliah yang diajar oleh seorang sensei. Jadwalnya tepat setelah sholat Jum'at. Awalnya, saya mengira dia akan memberikan izin terlambat karena melakukan ibadah. Namun, tampaknya dia tidak mau menerima alasan itu. Pada hari pertama saya masuk kelas itu masih ditolerir olehnya. Pertemuan keduapun dia masih memberikan toleransi. Tapi setelah itu saya diperingati bahwa jika terlambat lagi saya akan dianggap tidak hadir, dan hal itu bisa membuat saya gagal (karena kehadiran kurang dari 2/3). Walaupun di kampus kami juga diadakan shalat jum'at, hal ini menjadi salah satu rintangan saya untuk ikut shalat jum'at. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, mereka mulai melaksanakan shalat jum'at. Tentu saja, pada semester-semester berikutnya kami tidak memiliki kelas setelah waktu shalat jum'at.

Kemudahan dari Allah
Shalat jum'at jika memang sudah diniatkan Insya Allah, akan jadi mudah. Nah, Alhamdulillah, ada bus gratisan yang menghubungkan antara kampusku yang ada disini dengan kampus yang berada dekat dengan Masjid. Jadi kadang, saya bisa numpang gratis ke sana, walau hanya beroperasi pada hari kerja. Maka, ketika saya sedang libur, namun kampus program doktor dan master tidak libur, saya bisa memanfaatkannya. Lumayan, setelah shalat jum'at masih bisa tinggal tidur siang di masjid, atau makan di sekitar masjid, dan jika ada kelas hadits di malam harinya, bisa ikutan. Makanya, saya selalu berharap, mudah-mudahan saya tidak menyia-nyiakan kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan ilmu dan pahala dari Allah Subhana wa ta'ala.

Sebagaimana yang saya tulis pada paragraf diatas, saya dapat menggunakan bus kampus untuk pergi ke masjid. Satu hal lagi yang menambah kemudahanku untuk shalat jum'at, yakni jadwal semester empat yang sangat memudahkan untuk pergi ke masjid. Biasanya hanya ke masjid pada saat libur, namun, sekarang saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk tetap melaksanakan shalat jum'at di masjid, karena jadwal kuliah setelah dan sebelum shalat jum'at pada semester ini kosong. Ini berarti saya bisa menggunakan waktu 2 jam perjalanan pulang pergi masjid, 1 jam sebelum jam 12, dan 1 jam setelah jam 1. 


Akhir kata, keimanan bertambah bisa sesuai dengan kemauan, tapi semuanya tergantung dari Allah, karena pemberian hidayah adalah hak dari Allah, kita hanya bisa melakukan semampu kita untuk menjaga diri berada dalam hidayah tersebut. Mayyahdihillahu Fala Mudillalah Wamayyudlil Falaa Haadiyalah
Read More

Rabu, 11 Januari 2012

Kuliah perdana di 2012~...

Well, as expected, kuliah perdana di 2012 akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan. Dimulai ketika menanda tangani beasiswa yang dilakukan perbulan. Ketika itu saya datang dan hanya menunduk dan tidak mengucapkan apa-apa, lalu aku sambung dengan selamat pagi. Tidak, aku tidak ingin sekalipun mengatakan 'Selamat Tahun Baru', mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang biasa, tapi tidak bagiku, adalah hal yang wajib untuk menjaga diri dari hal-hal yang belum jelas haram atau tidaknya. Saya tidak menganggapnya halal, karena itu jelas tasyabuh kaum kafir.
Ketika sampai di kelas, waktu itu aku terlambat, hanya bisa mengucapkan 'Sorry because I am late', karena waktu itu saya begadang karena hal yang gak jelas, tapi Alhamdulillah, sempat bangun shalat subuh sebelum matahari terbit. Waktu itu, mungkin bisa dibilang kedua atau ketiga kalinya aku memegang mikroskop. Alhamdulillah, hari itu kita dapat pulang lebih awal, dan aku bisa menggunakan bus untuk ke masjid. Allah memberikan kemudahan, aku bisa ke masjid yang jaraknya sekitar 20~30 km dari kampus dengan gratis, karena adanya bus yang menyambungkan antara kampus saya dan kampus lain yang berada kebetulan dekat dengan masjid. Sungguh, Allah akan memudahkan langkah-langkah orang yang menujuNya.
Melompat ke hari selasa dan rabu, kemarin dan tadi, aku bertemu dengan beberapa teman, dan mereka juga mengucapkan 'Selamat Tahun Baru', aku hanya bisa mengangguk sebagai ganti mengatakan Selamat Tahun Baru, aku sudah berikrar untuk tidak mengatakan hal tersebut kecuali hal yang sangat terdesak yang bisa menimbulkan kemudharatan yang lebih (contoh: saya bakal mati kalau gak bilang hal itu).
Tadi terjadi hal yang tidak pernah terduga sebelumnya. Seorang temanku, yang juga seorang muslim, tiba-tiba bertanya, "Dengar-dengar kau ikut organisasi rahasia yah?". Spontan saya menjawab, "Hah?Organisasi? ". Dia bilang, "Oh tidak, tidak", lalu dia lanjut ,"Apa pengertian Jihad menurutmu?". Saya bilang, "Jihad itu misalnya kau harus bertindak melawan hawa nafsumu, misalnya jika kau harus bangun untuk shalat, maka usaha untuk bangun itu adalah jihad". Dia cuma balas "Good , good". Lalu saya lanjut, "Tenang, saya tidak akan masuk organisasi-organisasi yang seperti khawarij yang menjadi teroris dan semacamnya itu". Dan diluar dugaan, setelah itu dia malah menasehati saya masalah coklat. Ya, saya terlalu banyak mengonsumsi coklat akhir-akhir ini. Dan dia masih berkesempatan menasehati saya, tapi saya tidak mampu menasehatinya masalah shalat, saya putus asa, hanya karena menganggap dia lebih tahu masalah agama daripada saya, well, karena dia berasal dari salah satu dari negara Arab. Well, saya gak mau curhat terlalu banyak, itu hanyalah segelintir dari kisah-kisah hidup saya. Wassalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Read More

Minggu, 08 Januari 2012

Tingkatan kekhusyukan shalat~...

Manusia dalam melaksanakan shalat dikelompokkan menjadi lima tingkatan:

Pertama : tingkatan orang-orang yang zhalim terhadap dirinya, yaitu orang-orang yang tidak menyempurnakan wudhu’nya, waktunya, batasan-batasannya dan rukun-rukunnya.

Kedua : orang yang menjaga waktu shalatnya, batasan-batasannya, rukun-rukunnya dan wudhu’nya, tetapi dia tidak berusaha melepaskan dirinya dari godaan, sehingga dia hanyut dalam godaan dan berbagai macam fikiran yang timbul.

Ketiga : orang yang menjaga batasan-batasan shalat, rukun-rukunnya dan berusaha untuk melawan godaan dan pemikiran yang muncul, akhirnya dia larut dalam usaha melawan syetan supaya tidak mencuri shalatnya, maka berarti dia berada dalam shalat dan jihad.

Keempat : orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun dan batasan-batasannya, hatinya larut menjaga batasan-batasan dan hak-hak shalat tersebut sehingga tidak ada yang luput, semua perhatiannya tercurah untuk mendirikan dan menyempurnakan shalat sebagaimana mestinya , berarti hatinya larut dalam shalat dan beribadah kepada Allah tabaaraka wata’ala.

Kelima : orang yang melaksanakan shalat seperti tingkatan ke empat tadi, ditambah lagi dia meletakkan hatinya sepenuhnya di hadapan Allah ‘azza wajalla, dia melihat kepada Allah dengan hatinya dan mengawasi-Nya, hatinya dipenuhi dengan rasa cinta dan pengagungan kepada Allah, seolah-olah dia melihat dan menyaksikan-Nya. Godaan-godaan sudah hilang darinya, sudah tidak ada lagi godaan yang jadi penghalang antara dia dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini dibanding dengan yang lainnya jelas lebih utama sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi, karena dia dalam shalatnya sibuk dengan Tuhannya ‘azza wajalla, dia tentram bersama-Nya.

Orang-orang di tingkat pertama akan mendapat ‘iqab, yang kedua akan dihisab, yang ketiga (shalatnya) jadi penghapus dosa-dosanya, yang ke empat mendapatkan balasan dan yang kelima menjadi orang yang akan di dekatkan kepada Allah, karena dia menjadikan ketentraman bersama Allah dalam shalatnya. Siapa saja yang tentram hatinya dengan shalat di dunia ini, maka dia akan tentram juga di akhirat karena dekat dengan Allah. Orang yang tentram hatinya bersama Allah di dunia, maka hati-hati yang lainpun akan merasa tentram karenanya, sedangkan orang yang tidak tentram hatinya bersama Allah maka jiwanya akan terpecah belah mengikuti dunia dengan penuh kerugian.

-Menghadirkan Hati dalam shalat karya Ibn Qayyim, diterjemahkan oleh Abu Muslih Muhammad Thalib MZ-

Read More

Kamis, 05 Januari 2012

Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi dari Ustadz Abu Abdirrohman

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.



1. Memperbanyak Sholawat Nabi


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”(Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)


2. Mandi Jumat


Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


3. Menggunakan Minyak Wangi


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid


Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.”(Lihat Fathul Bari II/388)


5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib


Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)


6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah


“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)


7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat


Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)


8. Membaca Surat Al Kahfi


Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)


Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya.


(Disarikan dari majalah Al Furqon edisi 8 tahun II oleh Abu Abdirrohman Bambang Wahono)


***


Penulis: Abu Abdirrohman Bambang Wahono

Artikel www.muslim.or.id

Read More

Penjelasan dengan logika, mengapa aku tidak mengucapkan 'Selamat Natal' kepada non-muslim.

Bukan dengan keinginan atau keegoisan saya dalam memaksakan pendapat, saya menghormati mereka yang berpendapat lain, tetapi, ini masih menjadi kewajiban saya untuk menyampaikan yang haq, yang boleh anda ambil sebagai hujjah atau tidak, itu terserah, karena saya bukanlah seorang yang berilmu. Penjelasan secara logika ini mudah-mudah2an memberikan pandangan kepada kita tentang hal ini.

Bayangkan, ketika kita sedang nganggur, terus kita diminta oleh seorang teman oleh menjaga kios/tokonya. Lalu, teman kita berkata, tolong jaga kios ini, saya mau pergi dulu, tapi ingat, ada beberapa orang sekitar sini yang suka mencuri, tolong jangan biarkan dia mencuri barang-barang di kios ini. Lalu, setelah itu, kita bilang ke pemilik toko, oke, saya akan jaga. Di luar perkiraan, ternyata orang yang suka mencuri tersebut, adalah teman kita sendiri. Dan kita melihat perbuatannya ketika mencuri, dan ketika melewati kasir, kita pura-pura tidak melihat dia mencuri, dan berkata "selamat pagi, teman". Si teman anda tadi lalu tersenyum dan berlalu pergi~. Ketika pemilik toko balik, dia menyadari ada yang hilang di dalam tokonya tersebut, dan protes, loh, kok ini ada yang hilang barangnya, dan ketika dia cek CCTV, ternyata orang yang mencuri itu kelihatan, dan kau juga kelihatan mengatakan selamat pagi kepadanya. Apa yang akan dilakukan oleh pemilik toko kepadamu?

Toko disini adalah agama kita, pemilik toko adalah Allah Azza Wa Jalla, pencuri tersebut sebagai pengganti teman non muslim kita, kata-kata selamat pagi adalah kata2 selamat natal kita kepada non-muslim.

Seharusnya sebagai umat Islam kita menjaga deen/aqidah kita dengan baik sebaik-baiknya, dan harus menjaga teman kita dari merusak agama kita, yang mungkin akan membuat kita dihukum oleh Allah yang dianalogikan sebagai penjaga toko diatas.

Kalau dipikir lagi, kata "selamat pagi" memiliki makna yang baik, tapi kenapa jelek pada makna yang diatas? Karena kau mengatakan selamat pagi pada pencuri tadi, padahal seharusnya kau mengatakan, "Hei, kenapa kamu mencuri"(maknanya dalam artian sebenarnya adalah seharusnya kita mendakwahi teman non muslim kita agar masuk kedalam Islam, jika belum mampu mengajak mereka, setidaknya jangan memberi dukungan kepada kepada mereka tentang perbuatan buruk yang dia lakukan).

Wallohu a'lam bishowwab.

*cerita diatas disadur dan sedikit dirubah dari sebuah kajian~. Kalau butuh linknya, saya bisa mengirimkan dilengkapi dengan tanya jawab perihal cara mengatasi hal-hal seperti ini.

Read More

Rabu, 04 Januari 2012

Jama'ah ooo Jama'ah...Kenapa saling egois dan memaksakan kehendakmu?

Tidak, saya tidak sedang mau berceramah kayak ustadz Nur Maulana. Saya hanya ingin menuliskan sebuah konsep dan pemikiran. Jidal, berbantah-bantahan, adalah hal yang sering kita lakukan. Namun, adalah kesalahan jika ketika kita berbantah-bantahan, yang kita lakukan adalah mengkritisi personal yang memberikan hujjah atau tempat dia mengambil hujjah. Yakni, kita berpendapat bahwa dia begini dan begitu, jadi jangan diikuti. Ketika terjadi perbedaan pendapat, adalah hal yang baik jika kita tetap sharing pendapat, bukan dngan mengunci pendapat lain, karena ada beberapa orang yang dengan singkat langsung memotong, "wah...ini terlalu strict...", yang lainnya bilang, "wah...ini terlalu mengikuti hawa nafsu...", kalau sudah begini, akhirnya konsep pencarian kebenaran itu sudah tidak ada lagi, karena keegoisan masing-masing pihak. Harusnya kedua pihak saling memberikan pandangan, lalu masing-masing dibiarkan berfikir, kira2 yang manakah yang sesuai dengan fitrah mereka. Tapi, hal ini akan sulit dilakukan jika kita terlalu memaksakan pendapat karena sudah yakin pendapat yang kita ambil dari sini adalah benar. Karena itu, janganlah kita terlalu memfanatikkan diri pada satu golongan. Carilah yang benar, bukan yang banyak.

Masing-masing orang selalu berpikir tentang konsep jamaah setelah tahu bahwa Islam akan terbagi menjadi 73 golongan, dan hanya satu yang selamat, spontan mereka akan mencari kira-kira golongan manakah yang selamat. Akhirnya, masing-masing mengaku sebagai golongan paling benar dan pantas masuk surga. Akhirnya, masing-masing golongan merasa benar, dan menganggap golongan lain itu salah. Karena itu saya bilang bahwa "Ibadah itu penilaiannya individu". Toh Allah sendiri berfirman, bahwa yang dinilai adalah paling bertaqwa diantara kita, bukan masalah golongan A dan B. Karena itu jangan kita bertaqlid pada kelompok dan mengaku jamaah ini dan itu, jadi diri sendiri, dan carilah kebenaran itu sendiri. Jika tahu sesuatu itu dosa, meragukan, ataupun bid'ah, kenapa kita mesti mengerjakannya kalau kita bisa meninggalkannya? Masalah kita penghuni neraka atau surga, itu bukan urusan kita Allah berhak mengampuni seluruh dosa ummatNya, dan Allah sudah berjanji untuk itu, kecuali dosa syirik. Abdullah ibn Mas'ud mengatakan, "bahwa jama'ah adalah mengikuti kebenaran walau kau hanya sendiri", dan jama'ah itu bukan jamaah ini dan itu, melainkan yang bersumber langsung dari Rasulullah, karena imam kita adalah Rasulullah.

Saya mencoba konsep pencarian kebenaran ini pada diri saya sendiri. Jadi ceritanya, saya pernah diberi tahu oleh seorang teman ketika masih SMA, "Rid, jangan dengarin musik, itu melalaikan dari Allah." Tentu aku gak bisa langsung menerima pendapat tersebut. Mengapa? Saya sangat sukaaa musik. Dulu saya suka lagu peterpan dan menghapalkan lagunya sampai beralbum-album. Begitu juga dengan beberapa lagu Jepang. Sampai akhirnya ketika saya mencoba mengaplikasikannya sendiri. Alhamdulillah, hapalan surah saya yang tadinya cuma 5~10 surah pendek, menjadi 20~25 surah yang tidak terlalu pendek, saat ini pun masih mencoba menambahnya. Tapi, setidaknya konsep tersebut membuka mata saya, bahwa kita harus menerima pendapat orang lain, walau kadang berbeda dengan pendapat yang kita percaya.

Ketahuilah, ketika kita sudah terlanjur bergabung pada suatu jamaah, secara otomatis kita akan mengikut arus jamaah tersebut, dan akhirnya kita akan menjadi taqlid dan membuat kita tidak menerima lagi pendapat dari jamaah yang lain yang mungkin lebih benar dan lebih mampu dibuktikan kebenarannya. Tengoklah sebuah firqah atau ormas di Indonesia, yang menyatakan diri mereka adalah Islam jama'ah, namun mereka malah bertaqlid pada imam, dan menganggap muslim yang lainnya adalah kafir, karena itulah mereka menyebut kita golongan Ahli kitab, Naudzu billahi min dzalik.

Tadi, saya sempat membaca sebuah artikel dari internet, judulnya adalah “Kekeruhan Jama’ah lebih baik dari pada Kejernihan Individu" , membaca judul itu, spontan saya bertanya, "loh? gimana dengan Rasulullah yang waktu itu hanya jernih secara sendirian?Atau nabi Ibrahim yang waktu itu jernih juga hanya sendirian? Apakah derajat kaum Quraisy yang bejat itu jauh lebih baik daripada Rasulullah yang sendiri?"

Kalau saya ditanya, gimana sih konsep jamaah menurut kamu? Menurut saya, jamaah yah jamaah, kalau shalat bareng di masjid, ya itu namanya jamaah, ketika bertemu di jalan dan kau saling menyapa, maka kau adalah jamaah. Yaa...Kita jamaah Rasulullah, yakni orang-orang yang percaya bahwa Tiada Ilah yang patut disembah kecuali Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya. Tidak peduli, anda preman, pengguna rok mini, penjambret, pencuri, dll. Kau bersyahadat, maka kau saudaraku. Entah kau berada di firqah A atau B, atau kau ada di ormas C atau D, atau ada di partai E atau F.

Kebenaran itu kita bisa cari dengan tetap saling sharing, bukan dengan memaksakan pemikiran yang kita tahu saja. Belajarlah menjadi bijak dalam menemukan kebenaran, ketahuilah kebenaran datangnya dari Allah, bukan dari diri kita sendiri.

Wassalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Read More

Minggu, 01 Januari 2012

Kisah Penjahit Adzan tengah malam.

Tadi pagi, atas saran seorang ikhwan, saya mendengarkan radio rodja, yang sebelumnya jarang saya dengarkan, padahal radio ini adalah radio yang menyebarkan sunnah. Nah, tiba-tiba aja, kajiannya ternyata membahas tentang kisah-kisah teladan yang lumayan menarik. Karena gak sempat nyatet, saya nyari-nyari di google, dan ternyata ada. Berikut ceritanya:
Di dalam kitabnya, al Bidayah wa n-Nihayah, Ibnu Katsir memaparkan sebuah kisah :
Dulu, ada seorang lelaki miskin tetapi memiliki banyak harta, lalu hartanya dibawa oleh seorang amir yang berkuasa. Namun setiap kali orang miskin ini memintanya ia pasti disakiti, dan dipukuli oleh anak si amir. Kemudian dia mengadu kepada panglima perang namun sama saja, dia tidak mendapatkan haknya.
Orang miskin ini berkata, “Setelah itu, aku merasa putus asa untuk mendapatkan hartaku, dan aku sangat sedih. Ketika keadaanku seperti itu, dan aku bingung kepada siapa lagi aku harus mengadu, tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata kepadaku, “Kenapa kamu tidak menemui tukang jahit depan masjid saja?”.
Jawabku, “Apa yang bisa diperbuat oleh tukang jahit itu dengan kedhaliman ini?, dan pihak pemerintah daulah belum memberi keputusan dalam perkara ini.”
Dia berkata, “Tukang jahit ini lebih mampu dan ditakuti dari orang-orang yang telah kamu temui, temuilah dia maka kamu akan mendapatkan kebahagiaan.”
Lelaki miskin ini berkata, “Kemudian aku menemuinya tanpa menggangu urusannya, aku utarakan keperluan dan hartaku, serta kedholiman yang aku dapatkan.”
Kemudian dia berdiri dan menutup tokonya, lalu berjalan di sampingku menuju rumah amir itu dan mengetuk pintunya. Diapun keluar dengan muka marah, tetapi ketika melihat tukang jahit itu dia ketakutan, bahkan ia memuliakan dan menghormatinya.
Tukang jahit itu berkata, “Berikan hak orang miskin ini!!!”
Amir itu membantahnya, “Aku tidak membawa apapun miliknya.”
Tukang jahit itu berteriak dan berkata, “Serahkan hak orang ini, kalau tidak aku akan adzan !!”. Seketika itu juga wajahnya berubah dan dia langsung memberikan seluruh hartaku, kemudian kami pergi.
Aku sangat heran sekali dengan penjahit ini, dengan keadaanya yang menyedihkan dan rumahnya yang reyot, bagaimana bisa pembesar itu patuh kepadanya?. Lalu aku berniat memberikan sedikit hartaku tapi dia menolaknya dan berkata, “Aku bisa mendapatkan yang lebih dari ini jika aku mau.” Kemudian aku bertanya tentang dirinya, dan aku ungkapkan kekagumanku kepadanya, namun dia tidak menoleh sedikitpun, akupun mengulang-ulang tanyaku padanya.
Aku bertanya, “Kenapa kamu mengancamnya dengan adzanmu?!”
“Aku sudah mengambilkan hartamu, maka pergilah.” jawabnya.
“Tidak, kamu harus menceritakan kepadaku.” kataku.
Akhirnya dia mau bercerita, “Penyebabnya adalah kejadian beberapa tahun yang lalu. Aku memiliki tetangga seorang pembesar daulah dari turki, dia seorang lelaki yang tampan. Pada suatu malam, ada perempuan baik-baik yang baru keluar dari kamar mandi, dia memakai baju panjang yang mahal. Lelaki itu mencegatnya dalam keadaan mabuk kemudian menarik dan ingin membawa perempuan itu ke rumahnya. Perempuan itu menolak dan berteriak dengan keras, “Aku adalah perempuan yang sudah bersuami, dan laki-laki ini menginginkanku dan memaksaku masuk ke dalam rumahnya, padahal suamiku telah bersumpah akan mentalak aku jika aku tidak bermalam di rumahnya, jika aku bermalam di sini maka akan jatuh talak kepadaku, dan aku akan menanggung malu dan kehinaan yang tidak dapat dibersihkan.”
Penjahit itu melanjutkan ceritanya, “Lalu aku menemui dan mencegahnya serta membebaskan perempuan itu dari cengkramannya, tetapi kemudian dia menyabetku dengan pedang yang ada di tangannya, kepalaku terluka dan berdarah.”
Dia memaksa perempuan itu dan membawanya ke dalam rumah sedangkan aku langsung pulang untuk membersihkan darah yang mengalir di kepalaku dan membalutnya. Aku berteriak kepada orang-orang, “Kalian mengetahui masalah ini, maka mari kita bersama-sama mencegahnya dan kita bebaskan perempuan itu dari cengkramannya.”
Orang-orang pun datang bersamaku menyerang rumah orang itu, tetapi kami dihadang oleh para penjaganya, mereka mengamuk dan memukuli kami dengan tongkat dan pisau. Anak lelakinya pun mendatangi dan memukuliku dengan hebatnya sehingga aku berdarah. Kami diusir dari rumahnya dengan sangat hinanya.
Akupun kembali pulang dengan sempoyongan karena hebatnya siksaan dan darah yang mengalir. Aku ingin tidur di atas ranjang tapi aku tidak bisa tidur, aku bingung memikirkan bagaimana cara untuk menolong perempuan itu sehingga dia bisa bermalam di rumah suaminya sehingga ia tidak ditalak. Tiba-tiba aku berpikiran untuk mengumandangkan adzan shubuh pada pertengahan malam, agar dikira shubuh telah datang, sehingga lelaki itu akan mengeluarkan perempuan itu dari rumahnya, dan pergi ke rumah suaminya.
Aku pun naik keatas menara dan mengumandangkan adzan dengan mengeraskan suaraku. Aku lihat ke rumah lelaki itu; apakah perempuan itu sudah keluar, lalu aku selesaikan adzanku?. Tapi ternyata perempuan itu tidak keluar juga. Akupun berniat jika perempuan itu tidak keluar maka aku akan mengerjakan shalat sehingga lelaki kotor itu benar-benar tahu bahwa waktu shubuh telah datang. Ketika aku melihat apakah perempuan itu sudah keluar apa belum, tiba-tiba jalanan dipenuhi dengan kuda dan manusia.
Orang-orang pun berkata, “Siapa yang mengumandangkan adzan pada jam segini?” lalu melihat melihat menara masjid. Akupun berteriak kepada mereka, “Aku yang tadi adzan” Aku pun berharap mereka akan membantuku.
Mereka berkata, “Turun kamu!”, kemudian aku turun.
Mereka berkata, “Hadapkan dia pada khalifah!” Aku pun ketakutan. Aku meminta kepada mereka demi Allah untuk mendengarkan kejadian yang sebenarnya, tapi mereka menolak. Mereka mengarakku ke hadapan khalifah, dan aku tidak berdaya sampai akhirnya aku berada dihadapannya.
Tatkala aku melihatnya duduk di atas kursi kekhalifahan aku gemetar ketakutan.
Khalifah berkata, “Duduklah”, akupun duduk.
Khalifah berkata lagi, “Jangan takut, tenangkan hatimu.” Kholifah selalu ramah kepadaku sehingga aku menjadi tenang, dan ketakutanku menghilang.
Khalifah bertanya kepadaku, “Apakah kamu yang tadi mengumandangkan adzan?”.
“Iya amirul mukminin.” jawabku.
“Apa yang mendorongmu melakukan hal tersebut padahal waktu malam masih panjang? Kamu sudah menipu orang yang shaum, musafir, orang yang shalat dan mengganggu kaum perempuan yang sedang sholat.”
Aku menjawab, “Berilah keamanan kepada saya wahai amirul mukminin sehingga saya menceritakan kejadian yang sebenarnya.”
Khalifah berkata, “Baiklah kamu aman.” Lalu aku menceritakan kejadian yang sebenarnya dan beliau marah besar. Kemudian beliau memerintahkan untuk menghadirkan lelaki dan perempuan itu, dan keduanya pun hadir dengan segera.
Perempuan itu pun dikembalikan kepada suaminya bersama perempuan-perempuan yang dapat dipercaya. Kemudian beliau menemui lelaki itu dan bertanya, “Berapa banyak rizki yang kamu peroleh? berapa banyak harta yang kamu punya? Dan berapa banyak tetangga dan istri-istrimu?” Kemudian dia sebutkan jumlahnya yang banyak.
Khalifah pun berkata, “Celaka kamu, apa yang menghalangimu dari nikmat yang diberikan oleh Allah sehingga kamu merampas yang diharamkan oleh Allah dan melampaui batas-batas-Nya serta menyalahgunakan kekuasaan?! Apa yang menghalangimu sehingga kamu menyiksa orang yang beramar ma’ruf dan nahi munkar kepadamu?” Dia tidak menjawab sepatah katapun.
Kemudian kakinya diikat, lehernya dibelenggu dan dimasukkan kedalam karung. Dia berteriak-teriak minta tolong, dan menyatakan bertaubat. Sedangkan khalifah tidak menggubrisnya, dan memerintahkan para prajurit untuk memukulinya dengan pedang sehingga dia terdiam.
Selanjutnya khalifah memberi perintah agar lelaki itu dibuang di sungai dajlah dan begitulah akhir kisah hidupnya. Beliau juga menyita harta dari dulu diambil dari baitul mal yang berada dirumah lelaki tersebut.
Kemudian khalifah berpesan kepadaku, “Setiap kali engkau melihat kemungkaran besar ataupun kecil walaupun dilakukan oleh dia (seraya menunjuk kepada petugas polisi) maka beritahukanlah kepadaku jika kamu bertemu denganku, kalau tidak maka tandanya adalah dengan adzan, kumandangkan adzan kapan saja atau seperti yang kamu lakukan tadi”.
“Semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada anda”, jawabku, lalu aku mohon diri keluar.
Tukang jahit itu mengakhiri kisahnya, “Oleh karenanya, apapun yang aku perintahkan pasti mereka kerjakan, dan apapun yang aku larang pasti mereka tinggalkan karena takut terhadap khalifah Mu’tadhid, dan aku tidak pernah adzan lagi seperti waktu itu sampai sekarang…Alhamdulillah.”
Ibnu Abdul Bari el `Afifi, admin www.oaseimani.com


Subhanallah, menarik bukan? Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita diatas, diantaranya, janganlah kita menganggap remeh suatu pekerjaan seseorang, atau menganggap remeh karena fisiknya. Dari Abu Hurairah, yaitu Abdur Rahman bin Shakhr r.a., katanya: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu sekalian." (Riwayat Muslim)
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.