Sabtu, 31 Maret 2012

Berjihad di dalam chikatetsu(kereta bawah tanah)~...



Tak bisa dipungkiri bahwa kami hidup di negara mayoritas non-muslim. Banyak diantara wanita yang kami temukan adalah wanita-wanita yang berpakaian bahkan memperlihatkan hal-hal yang bisa menimbulkan nafsu lelaki. Tidak hanya itu, kami dapat menemukan banyak wanita-wanita dengan wajah yang, masya Allah, begitu menggoda hati yang rapuh ini. 

Allah berfirman dalam surah An-Nur ayat 30-31 agar kita menundukkan pandangan. Tidak mudah bagi kami yang normal dan punya nafsu untuk mengaplikasikannya. Karena itulah, hal ini bisa dimasukkan sebagai kategori Jihad. Karena jihad itu sendiri berarti berjuang, berjuang karena Allah. Ghudul bashor adalah perintahNya, karena itulah apa yang kita lakukan adalah berjuang melaksanakan perintahNya.

Untuk kami yang masih single, cobaannya jauh lebih berat untuk kami. Kemarin kami sempat membaca sebuah tulisan tentang pendapat ulama yang menganjurkan untuk mencampuri istri sebelum shalat jum'at agar lebih mampu menahan pandangan. Lalu, bagaimana dengan kami yang single? Kami tidak punya istri. Bagaimana mungkin kami melakukannya? Ternyata Rasulullah telah memberikan solusi untuk kami. Beliau bersabda "Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang mampu untuk menikah maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa" (HR. Bukhari dan Muslim)
Read More

Rabu, 28 Maret 2012

Kiat - Kiat Menghilangkan Kecanduan Game

Bismillahirrahmanirrahim~...

Pertama, kami panjatkan puji syukur kepada Allah Subhana wa Ta'ala yang telah memberikan  kami kesempatan untuk kembali menulis di blog yang sudah usang karena sudah jarang kami isi ini.

Kedua, kami juga memanjatkan rasa syukur kepada Allah yang telah menakdirkan banyak hal yang diluar dugaan, termasuk membuatku berpenyakit yang bernama kecanduan game.

Latar Belakang

Sebelum mengobati sesuatu penyakit, tentu adalah hal yang baik untuk mengetahui penyebabnya. Karena, ketika ada yang basah di lantai, adalah kewajiban bagi kita untuk mencari sumbernya. Dengan begitu, kita mampu mencegah lantai tersebut dari basah kembali. Setelah menangani penyebabnya, barulah kita melap lantai tersebut sampai kering. Karena itu, pertama-tama, izinkan kami untuk menyebutkan penyebab-penyebabnya. 

Pertama, Teman Bergaul. Tak bisa dipungkiri bahwa teman bergaul adalah hal yang paling banyak mempengaruhi seseorang. Bagaimana tidak, teman adalah orang yang selalu bergaul dengan anda, otomatis gaya hidupnya menjadi gaya hidup anda. Seseorang bisa berteman dengan orang lain, karena visi dan misi mereka hampir sama, tidak mungkin kita berteman atau bersahabat dengan seseorang yang visi dan misinya jauh berseberangan. Menurut pengalaman kami sendiri, yang membuat kami pertama kali bersentuhan dengan game adalah teman bergaul. Sejak saat, itu pergaulan kami makin erat dan kami makin dekat, mengapa? Karena hobby kami yang sama tersebut. 

Kedua, Kesenggangan Waktu. Kadang, karena kebingungan kita untuk mengisi kesenggangan waktu kita, akhirnya kita terjerumus dalam bermain video game. Tanpa kita sadari, sebenarnya itu adalah awal dari langkah syaithan untuk menjerumuskan kita untuk kecanduan pada hal tersebut. Seperti hal-hal buruk lain, awalnya hanya coba-coba, akhirnya lalu kecanduan, lalu berlebihan. Naudzubillahi min dzalik.

Ketiga, Masa Muda. Tanpa anda sadari, zaman sekarang sudah jauh berbeda dengan zaman 20 tahun yang lalu. Kalau masa muda di zaman dahulu lebih banyak digunakan untuk melakukan perjalanan, pergaulan, mencari ilmu, dll, anak muda zaman sekarang cenderung lebih suka menghabiskan waktu mereka untuk berfoya-foya, bermain game, demonstrasi, dsb. Karena itulah, kami memasukkan masa muda ke dalam bagian latar belakang kecanduan game ini.


Solusi

Lalu, adakah solusi-solusi yang bisa ditawarkan kepada para pecandu game ini? Karena itulah kami berniat untuk menulis artikel ini. Kami akan berusaha menjabarkan beberapa solusi yang Insya Allah bisa digunakan oleh para pemuda-pemuda yang sudah terlanjur kecanduan game ini.

Pertama, Menyibukkan diri dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Dalam situasi senggang inilah, kita akan dengan mudahnya untuk mencari hal-hal untuk dilakukan. Karena itu kita harus menghabiskan waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat. Bisa membaca buku-buku Islam, belajar Bahasa Arab, bahasa Inggris, menulis blog atau kalau anda anak kuliahan anda bisa belajar mata kuliahan anda untuk diulang-ulangi.
Ibnul Qayyim menyebutkan nasehat seorang sufi yang ditujukan pada Imam Asy Syafi’i. Ia berkata,
Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil)."


Kedua, Menjaga pergaulan kita. Karena pergaulan adalah hal yang paling mempengaruhi kita untuk terus bermain game. Anda tidak perlu memutuskan hubungan dengan mereka, namun tetap berdo'a kepada Allah agar anda dan mereka sadar dari kecanduan tersebut. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam : 


Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).

Ketiga, Janganlah berhenti secara mendadak, melainkan secara berkala. Mengapa? Karena berdasarkan apa yang kami alami, karena ghuluw(berlebih-lebihan) dan tiba-tiba berhenti, akhirnya kembali kecanduan lagi. Hal ini terjadi karena kita menahan-nahan, akhirnya ketika dilepaskan malah akan menjadi kecanduan yang lebih parah. Karena itu, menurut hemat kami, cara yang terbaik adalah dengan menghilangkannya secara berangsur-angsur. Misalnya, pekan ini, main dua jam perhari, lalu pekan depan satu setengah jam perhari, lalu diatur per dua hari, dst sampai benar-benar berhenti.

Keempat, Ingatkan diri anda bahwa anda dalam keadaan merugi. Karena kita sedang membuang waktu-waktu kita, sedangkan seorang muslim harus memaksimalkan hasil mereka sebelum kembali ke kehidupan yang selanjutnya.



Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(Al-Ashr)



Kelima, Berdo'a kepada Allah Subhana wa ta'ala. Karena tidak bisa dipungkiri, tanpa      pertolongan Allah, kita tidak akan pernah bisa sukses mencapai sesuatu pun. Karena itulah, sudah seharusnya kita senantiasa meminta pertolongan Allah. Dengan begitu, mungkin saja Allah akan menghindarkan kita dari keburukan-keburukan tersebut. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam: 





Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selam tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allahu akbar (Allah Maha besar).(HR. Ahmad)

Sekian nasehat yang dapat kami sampaikan pada kesempatan kali ini, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat kepada diri kita semua.
Read More

Jumat, 23 Maret 2012

Macam - Macam Fitnah

Macam-macam Fitnah

Fitnah ada dua macam: Fitnah syubhat dan ini yang lebih berbahaya serta fitnah syahwat. Kadang-kadang dua-duanya menjangkit pada seorang hamba, tetapi terkadang hanya salah satunya.

Adapun fitnah syubhat, maka hal itu disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu,*' apalagi jika hal itu dibarengi dengan niat yang rusak dan hawa nafsu, maka akan timbul fitnah yang sangat besar dan maksiat yang keji. Karena itu, katakanlah apa yang kau kehendaki tentang kesesatan orang yang niatnya rusak, yang dipimpin oleh hawa nafsu dan bukan petunjuk, dengan kelemahan bashirahnya. dan sedikit ilmu yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya yang ia miliki, dan sungguh dia termasuk orang-orang yang Allah befirman tentang mereka,

"Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka." (An-Najm: 23).

Lalu, Allah mengabarkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan Allah. Allah befirman,

"Hai Baud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan." (Shad: 26).

Fitnah tersebut akan berakhir dengan kekufuran dan nifaq. Dan itulah fitnah orang-orang munafik serta para ahli bid'ah, sesuai dengan tingkat bid'ah mereka. Semua itu muncul karena fitnah syubhat, di mana menjadi samar antara yang haq dengan yang batil, antara petunjuk dengan kesesatan. Tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnah ini kecuali dengan memurnikan dalam mengikuti Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, berhukum kepada beliau dalam seluruh persoalan agama, baik persoalan yang sepele maupun yang berat, secara lahir maupun batin, dalam aqidah maupun amal perbuatan, dalam hakikat maupun syariat. Menerima dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seluruh hakikat iman dan syariat Islam, menerima apa yang ditetapkan bagi Allah tentang sifat-sifat, perbuatan dan nama-namaNya, juga menerima apa yang dinafikan daripadaNya. Sebagaimana ia juga menerima sepenuhnya dari beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang wajibnya shalat, waktu-waktu dan bilangannya, ukuran-ukuran nisab zakat dan yang berhak menerimanya, wajibnya berwudhu dan mandi karena jinabat serta wajibnya puasa Ramadhan. Dengan demikian, ia tidak menjadikan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai rasul dalam masalah tertentu dari persoalan agama, tetapi tidak dalam masalah agama yang lain. Sebaliknya, menjadikan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai rasul dalam segala hal yang dibutuhkan oleh umat, baik dalam ilmu maupun amal, tidak menerima (ajaran agama) kecuali daripadanya, tidak mengambil kecuali daripadanya. Sebab seluruh petunjuk berporos pada sabda dan perbuatannya, dan setiap yang keluar daripadanya adalah sesat. Karena itu, jika ia mengikatkan hatinya pada hal tersebut dan berpaling dari yang selainnya, menimbang segala sesuatu dengan apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, jika berkesesuaian dengannya maka ia menerimanya, tidak karena siapa yang menyampaikannya, tetapi karena ia sesuai dengan risalah, dan jika bertentangan ia menolaknya, meski siapa pun yang mengucapkannya, jika semua hal itu yang ia lakukan maka itulah yang akan menyelamatkannya dari fitnah syubhat. Dan jika ia tidak melakukan sebagian daripadanya, maka ia akan terkena fitnah syubhat tersebut, sesuai dengan tingkat perkara yang ia tinggalkan.

Fitnah-fitnah di atas, terkadang timbul karena pemahaman yang rusak, atau karena periwayatan yang dusta, atau karena kebenaran yang tegak itu tersembunyi dari orang tersebut, sehingga ia tidak bisa mendapatkannya, atau karena tujuan yang rusak dan hawa nafsu yang diikuti. Dan semua itu karena kebutaan dalam bashirah dan karenanya rusaknya iradah (keinginan).

*) Dan dari pintu sedikitnya ilmu, syetan masuk pada sebagian besar orang-orang yang bodoh dengan cara mengelabuinya, sehingga mereka terjerat dalam perangkapnya. Karena itu, ilmu yang bermanfaat adalah kunci segala kebaikan dan penolak segala kejahatan.

Sumber: Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 372~373.

Read More

Kamis, 22 Maret 2012

Just About Me~...1 year ago

Hari itu, liburan musim semi datang. Tidak ada kesibukan yang harus kulakukan di hari itu. Sampai akhirnya saya mencoba searching di Youtube tentang "Facebook". Dan akhirnya saya menemukan sebuah kajian berjudul "Facebook can make you face hell". Akhirnya saya menyimaknya sampai habis. Dan memberikan pencerahan yang luar biasa. Akhirnya, saya mensubscribe channel tersebut, dan mencoba menyimak kajian-kajian dalam channel yang sama. Ketika menonton beberapa video, benar-benar memberikan pandangan yang luar biasa kepada saya.

Hari-hari berikutnya, saya membiasakan diri untuk menonton video-video di channel tersebut. Alhamdulillah, setiap hari bertambahlah ilmu-ilmu yang sebelumnya belum pernah kupelajari sebelumnya. Setelah itu, saya mulai mencari tempat dimana ilmu berseliweran. Dimanakah itu? Tentu saja, masjid. Alhamdulillah, sampai saat ini saya bisa menikmati tambahan ilmu melalui kelas hadits dan kelas tajwid/tafsir yang diadakan di masjid setiap hari jum'at dan ahad. Tapi, sayangnya, kelas hadits tersebut akan segera habis, seiring dengan habisnya waktu study orang yang mengajarkan hadits tersebut. Sebelum memulai kelas hadits dan tajwid tersebut, sebelumnya saya sempat belajar tahsin pada seorang guru.

Jauh setelah itu, akhirnya saya mendengar sebuah kajian tentang cinta yang dibawakan oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yang paling tidak membuatku tertarik dengan kajian-kajian beliau, dan akhirnya mulai menelusuri kajian-kajian beliau juga kajian-kajian manhaj salaf yang lainnya.

Mengapa manhaj salaf? Mengapa bukan PKS, NU, Muhammadiyah, LDII, Aswajan, HTI atau apalah istilah yang ada. Saya pernah membayangkan bagaimana pemikiran orang-orang diatas. Saya pernah berdiskusi dengan mereka, walau lewat dunia maya. Dan apa yang saya dapatkan? Nihil. Kebanyakan dari mereka hanyalah orang-orang yang memaksakan pendapatnya. Berkata, selalu berazaskan pada syeikh, bahkan tanpa dalil-dalil yang mendukung. Padahal setiap perkataan dapat ditolak kecuali dari Qur'an dan Sunnah. Selain itu, ada diantara mereka yang salah dalam mengartikan ayat karena mendapatkannya sepotong-sepotong, tanpa mengkaji tafsir terlebih dahulu.

Puncaknya, saya rasakan ketika bulan Ramadhan datang, ketika segala syaithan dibelenggu. Alhamdulillah, tingkat keimananku bisa terus bertambah. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Ramadhan pun meninggalkanku.

Sekarang, sekitar 7 bulan sejak Ramadhan berlalu. Namun, keimananku justru terus menurun. Semoga dengan berakhirnya tulisan ini, saya bisa mengembalikan iman yang terus menurun ke palung terdalam untuk kembali naik ke permukaan dan kembali mencapai puncak.

manyahdihillahu falaa mudhillalah wamanyudhlil falaa haadiyalahu. Barangsiapa Allah berikan hidayah, maka tidak seorangpun mampu menyesatkannya, dan barangsiapa Allah sesatkan, maka tidak seorangpun mampu memberikan hidayah
Read More

Rabu, 14 Maret 2012

Akal dan Syariat

Jika hal ini telah jelas, maka setiap hamba sangat memerlukan ilmu tentang apa yang membahayakannya sehingga ia bisa menjauhinya dan tentang apa yang bermanfaat baginya sehingga ia mengusahakan dan mengerjakannya. Akhirnya, ia cinta kepada yang bermanfaat dan benci kepada yang membahayakan, sehingga cinta dan bencinya sesuai dengan kecintaan dan kebencian Allah. Dan ini termasuk konsekwensi penghambaan dan kecintaan. Jika ia keluar dari hal yang demikian, maka ia akan mencintai apa yang dibenci oleh Tuhannya dan membenci apa yang dicintai-Nya, dan dengan demikian penghambaannya menjadi berkurang sesuai dengan tingkat kekurangannya.

Dan dalam hal ini ada dua cara: Akal dan syariat. Adapun akal, maka Allah telah meletakkan pada akal dan fitrah untuk menganggap baik kejujuran, keadilan, berbuat baik (kepada orang lain), kebajikan, iffah (menahan diri), keberanian, akhlakul karimah, menunaikan amanat, menyambung tali silaturrahim, nasihat-menasihati, menepati janji, menjaga (hak-hak) tetangga, menolong orang teraniaya, membantu memperjuangkan kebenaran, menjamu tamu, menanggung beban dan sebagainya.


Di samping itu, Allah juga meletakkan pada akal dan fitrah untuk menganggap baik lawan dari berbagai hal di atas, kemudian mendasarkan anggapan baik dan buruk itu pada pertimbangan akal dan fitrah, sama seperti ia menganggap baik minum air dingin saat haus, makan makanan yang enak dan bermanfaat ketika lapar, dan memakai pakaian hangat ketika kedinginan. Sebagaimana tidak mungkin baginya menolak baik secara akal atau naluri untuk menganggap baik hal-hal tersebut, maka demikian pula ia tidak mungkin bisa menolak, baik secara akal atau fitrah untuk menganggap baik sifat-sifat kesempurnaan dan kemanfaatan dan untuk menganggap buruk hal-hal yang sebaliknya. Dan barangsiapa mengatakan bahwa hal itu tidak bisa diketahui melalui akal, juga tidak dengan fitrah, tetapi hanya dapat diketahui melalui wahyu maka ini adalah perkataan batil.

Metode kedua untuk mengetahui yang berbahaya dan yang bermanfaat dari berbagai perbuatan adalah wahyu. Metode dan cara ini lebih luas, jelas dan benar daripada metode dan cara yang pertama, karena begitu tersembunyinya ciri-ciri, keadaan dan dampak perbuatan. Dan yang mengetahui hal-hal tersebut secara mendetail tiada lain kecuali Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Adapun orang yang paling benar akal, pendapat dan anggapan baiknya adalah orang yang akal, pendapat, anggapan baik serta kiasnya sesuai dengan Sunnah, seperti ucapan Mujahid, "Seutama-utama ibadah adalah pendapat yang baik, yakni mengikuti Sunnah. Allah befirman,
"Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar." (Saba': 6).

Dan orang-orang menamakan para ahli ra'yi (pendapat) yang bertentangan dengan Sunnah dan apa yang dibawa oleh rasul dalam masalah ilmu khabariyah dan hukum-hukum amaliyah sebagai ahli syubuhat dan hawa nafsu. Sebab, pendapat yang bertentangan dengan Sunnah adalah kebodohan, bukan ilmu, hawa nafsu bukan agama. Se-dangkan pelakunya termasuk orang yang mengikuti hawa nafsu dengan tanpa petunjuk, yang berakhir dengan kesesatan di dunia dan kecelakaan di akhirat. Kesesatan dan kecelakaan tidak terdapat pada orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya berdasarkan firman Allah, Sunnah adalah kebodohan, bukan ilmu, hawa nafsu bukan agama. Se-dangkan pelakunya termasuk orang yang mengikuti hawa nafsu dengan tanpa petunjuk, yang berakhir dengan kesesatan di dunia dan kecelakaan di akhirat. Kesesatan dan kecelakaan tidak terdapat pada orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya berdasarkan firman Allah,

"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta." (Thaha: 123-124).


Mengikuti hawa nafsu itu bisa dalam hal cinta atau kebencian, sebagaimana firman Allah,
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenar-an." (An-Nisa': 135).

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, men-dorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (Al-Ma'idah: 8).

Hawa nafsu yang dilarang untuk mengikutinya itu, sebagaimana bisa berupa hawa nafsu yang ada dalam dirinya, demikian juga bisa berupa hawa nafsu orang lain. Kedua hawa nafsu itu tidak boleh diikuti, karena masing-masing daripadanya bertentangan dengan petunjuk Allah yang dengannya Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya.


Sumber : Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 356~359

Read More

Aurat Muslimah


Para ulama telah sepakat bahwa aurat wanita di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya (mahram yakni pihak yang haram dinikahi) adalah seluruh badannya, kecuali wajah dan telapak tangannya masih diperdebatkan oleh para ulama’ apakah termasuk aurat yang wajib ditutup ataukah bukan.

Sebagian ulama berpendapat bahwa wajah dan telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Mereka berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut:

1). Firman Allah Ta`ala:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya). Tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (Al-Ahzab: 53)

Ayat ini berkenaan dengan peristiwa menikahnya Nabi shalallahu `alaihi wa sallam dengan Zainab bintu Jahsyi. Beliau mengundang para shahabat dan dihidangkan kepada mereka makanan. Setelah itu sebagian dari mereka pulang, sementara sebagian yang lain masih duduk bersama Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam. Nabi shallallahu `alaihi wa sallam keluar masuk menemui Zainab, dimaksudkan agar shahabat yang masih tinggal segera pulang. Maka turunlah ayat di atas. Sejak saat itu dibentangkan antara beliau dan mereka hijab (penutup yang menutup badan secara menyeluruh-pent).[1]

Sebagian ulama yang mewajibkan ditutupnya wajah dan kedua telapak tangan berkata: bahwasanya pembicaraan hijab ini termasuk padanya wanita secara keseluruhan (bukan hanya istri Nabi, pent) karena hikmah disyariatkannya hijab adalah untuk menjaga kesucian hati.

2). Firman Allah Ta`ala:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu dan istri-istri kaum mukminin agar mereka menurunkan jilbab-jilbab mereka yang demikian itu agar mereka lebih dikenal sehingga tidak diganggu dan Allah itu maha pengampun lagi maha penyayang.” (Al-Ahzab: 59)

Mereka para ulama yang mewajibkan ditutupnya wajah dan kedua telapak tangan menafsirkan menurunkan jilbab itu adalah dengan menutup seluruh wajah dan menampakkan satu mata untuk melihat.

3). Hadits Ibnu Mas’ud.

Bahwasanya Nabi bersabda:

“Wanita itu adalah aurat jika mereka keluar syaithan akan menghiasinya.”[2]

Dan makna syaitan menghiasinya yaitu “pada pandangan laki-laki”.

4). Hadits Al-Ifk dari ‘Aisyah

Beliau mengatakan:

Adalah Shafwan bin Mu’aththal, salah seorang dari pasukan yang berjalan paling belakang. Dia sampai di tempatku. Dia melihat bayangan manusia yang sedang tidur lalu mendekatiku dan mengenaliku di saat melihatku karena dia sebelumnya telah melihatku sebelum turun perintah hijab. Maka aku terbangun demi mendengar istirja’nya[3] di saat dia mengetahui siapa aku, maka aku menutupkan jilbabku ke wajahku.”[4]

5). Hadits Asma’ binti Abu Bakr

Beliau berkata:

“Kami para wanita menutupi wajah-wajah kami dari para lelaki dan kami menyisir rambut sebelum itu pada saat berihram.”[5]

PARA ULAMA YANG MEMBOLEHKAN

Sementara itu sebagian ulama lain berpendapat bahwa boleh membuka wajah dan kedua telapak tangan dan menutupnya adalah disunnahkan (bukan aurat, pent). Mereka berdalil dengan beberapa dalil antara lain:

1). Firman Allah Ta`ala:

“Dan janganlah mereka menampakan perhiasan mereka kecuali perhiasan yang biasa nampak.” (An-Nur: 31)

Mereka menafsirkan “kecuali perhiasan yang biasa nampak” adalah wajah dan kedua telapak tangan.[6]

2). Hadits ‘Aisyah tentang Asma’ bintu Abi Bakr yang masuk menemui Nabi dengan mengenakan pakaian tipis maka beliau berpaling darinya (Asma’) dan bersabda:

“Wahai Asma’, sesungguhnya wanita itu jika sudah mencapai usia haidh / menstruasi maka tidak pantas untuk terlihat kecuali ini dan ini-- beliau mengisyaratkan kepada wajah dan telapak tangan.”[7]

Dan ini adalah dalil yang paling tegas dari pendapat ini tetapi sanadnya sangat lemah.

Mereka juga berdalil dengan hadits-hadits yang memberikan pengertian bahwasanya wanita muslimah pada zaman Nabi menampakkan wajah atau telapak tangan di hadapan Nabi dan beliau tidak melarangnya. Hadits–hadits tersebut antara lain:

Hadits Jabir bin Abdullah ketika Nabi menasehati para wanita pada hari ‘Ied:

“Maka berdirilah wanita yang pipinya putih kehitaman dari tengah-tengah wanita lainnya dia mengatakan: “Mengapa ya Rasulullah?”[8]

Mereka mengatakan bahwasanya perkataan Jabir “wanita yang pipinya putih kehitaman” menunjukkan bahwa wanita tersebut terbuka pipinya.

4). Hadits Ibnu ‘Abbas tentang kisah Nabi yang memboncengkan Fadhl bin ‘Abbas pada waktu haji wada’ (haji perpisahaan). Kemudian datanglah seorang wanita bertanya kepada Nabi:

“Al-Fadhl menoleh kepada wanita yang cantik itu maka Rasulullah memegang dagu Al-Fadhl dan memalingkan wajahnya ke arah lain.”[9]

Dalam riwayat lain hadits dari Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwasanya peristiwa tersebut terjadi di tempat penyembelihan setelah Rasulullah selesai melempar jumrah.[10] maka pertanyaan wanita terjadi setelah dia bertahallul[11] dari ihram (tahallul pertama).

Ibnu Hazm berkata: “Jika memang wajah wanita adalah aurat yang mesti ditutup, maka Rasulullahshallallahu `alaihi wa sallam tidak akan menyetujui terbukanya wajah wanita tersebut di hadapan orang dan tentunya beliau akan memerintahkan kepada wanita tersebut untuk menurunkan jilbabnya dari atas kepala wanita tersebut (sehingga menutupi wajah, pent) dan jika memang wajahnya tertutup, maka Ibnu Abbas tidak akan tahu cantik atau jeleknya wanita tersebut.”[12]

5). Hadits ‘Aisyah beliau mengatakan:

“Para wanita mukminah shalat subuh bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam keadaan berkerudungkan dengan selimut-selimut mereka, kemudian mereka kembali ke rumah-rumah setelah menunaikan shalat tanpa diketahui karena masih gelap.”[13]

Mereka mengatakan: “Kalaulah bukan karena gelap maka tentu mereka akan dikenali, karena wajah mereka biasa terbuka.”

6). Hadits Ibnu Abbas tentang kisah Nabi yang menasehati para wanita pada saat ‘Ied


“Maka Nabi memerintahkan mereka untuk bersedekah, aku melihat mereka melemparkan dengan tangan-tangan mereka (pada riwayat lain: “melemparkan cincin ke kainnya Bilal”).[14]

7). Hadits Aisyah:

“Datang kepada Nabi seorang wanita yang tidak mewarnai kuku tangannya untuk membaiat beliau maka Nabi tidak mau membaiat sampai dia mewarnai kuku tangannya.”[15]

Mereka berdalil pula dengan sejumlah riwayat yang menyebutkan adanya perbuatan membuka wajah dan telapak tangan oleh wanita setelah wafatnya Nabi. Dan perlu diketahui bahwa masing-masing para ulama mempunyai bantahan terhadap dalil yang dipakai oleh kelompok ulama lain yang terlalu panjang bila disebutkan disini.

Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim berkata: yang saya maukan dengan membawakan dua pendapat para ulama tersebut beserta beberapa dalil dari masing-masingnya adalah untuk menerangkan bahwa masalah ini --yaitu masalah memakai cadar-- telah diperselisihkan oleh para ulama baik ulama terdahulu maupun belakangan. Yang perbedaan pendapat ini adalah perbedaan yang semestinya terjadi dan tidak perlu padanya pengingkaran yang berlebihan terhadap pendapat yang berbeda. Tidak lupa saya ingatkan adanya golongan ketiga (yang bukan dari golongan ulama sedikitpun), mereka mengatakan bahwa menutup wajah adalah bid’ah dan merubah agama. Kebodohan mereka ini telah sampai pada penulisan kitab yang mengklaim bahwa menutup wajah bagi wanita itu adalah sesuatu yang haram.

Pada penutupan pembahasan ini saya menggarisbawahi beberapa hal:

1). Telah sepakat para ulama atas wajibnya para wanita menutup seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan bagi wanita merdeka.

2). Tentang wajah dan telapak tangan masih diperdebatkan sebagaimana tersebut di atas.

3). Para ulama yang berpendapat tidak wajibnya menutup wajah dan telapak tangan mereka mengakui bahwa menutupnya adalah lebih utama, lebih-lebih pada masa fitnah sekarang ini.

(diterjemahkan dari kitab Shahih Fiqhus Sunnah jilid 3 hal. 29-33, karya Abu Malik Kamal bin Asy-Sayyid Salim).

Wahai saudariku muslimah, amalan menutup wajah dan telapak tangan ini adalah amalannya para wanita salafiyah ash-shalihah baik dari kalangan shahabiyah (wanita sahabat) maupun sesudahnya yang telah ditinggalkan oleh kebanyakan wanita di zaman ini. Kebanyakan mereka terfitnah dengan berbagai macam ajakan untuk berkreasi dengan dengan alat-alat kecantikan untuk menarik kaum laki-laki yang hatinya berpenyakit. Maka pada jaman seperti ini sungguhlah berat godaan bagi wanita yang hendak berpegang teguh dengan agamanya maka pada hari-hari ini tidaklah seorang wanita itu berhasil istiqamah beramal dengan amalan ini kecuali dia adalah seorang wanita yang sabar.

Telah diriwayatkan dari Abi Tsa’labah radliyallahu `anhu bahwasanya Nabi bersabda:

“Sesungguhnya pada belakang hari nanti ada hari-hari kesabaran, padanya (orang yang berpegang dengan sunnah, pent) seperti menggenggam bara api, orang yang beramal pada hari-hari tersebut mendapatkan pahala seperti pahala 50 orang yang beramal seperti amalan kalian (para sahabat Nabi-pent.).”[16]

Maka tidakkah engkau wahai saudariku muslimah tergerak untuk mendapatkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya yang setera dengan pahalanya 50 orang dari wanita-wanita shahabiyahridhwanullahi ‘alaihinna ajma’in.

Lebih dari itu jika wajahmu tertutup maka tertutup pulalah pintu syaithan yang akan mengajakmu bertabarujj (merias muka) yang terlarang itu.

Semoga Allah menjadikan kita ke dalam orang-orang yang ikhlas dalam beragama dan semoga Allah memasukkan kita ke dalam orang-orang yang sabar, Amin ya rabbal’alamin.

Majalah SALAFY Edisi 07/Th. 05



[1] HR. Al-Bukhari 4791, Muslim 1428 dari Anas bin Malik secara makna

[2] HR. At-Tirmidzi 1173, Ibnu Khuzaimah 3/95, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir 10115.

[3] Ucapan “innalillahi wa inna ilaihi raji’un”

[4] HR. Al-Bukhari (4141), Muslim (2770)

[5] Mustadrak Al-Hakim (1/454) dengan sanad yang shahih

[6] pendapat ini dipilih oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya (18/84)

[7] HR. Abu Daud (4104)

[8] HR. Muslim (885), Nasai (1/233), Ahmad (3/318)

[9] HR. Al-Bukhari (6228), Muslim (1218)

[10] HR. At-Tirmidzi (885)

[11] tahalul adalah selesai dari keadaan ihram

[12] Al-Muhalla (3/218)

[13] HR. Al-Bukhari (578), Muslim (645)

[14] HR. Al-Bukhari (977), Abu Daud (1143), Nasai (1/227)

[15] HR. Abu Daud (4166), Al-Baihaqi (786) dishahihkan oleh Al-Albani

[16] HR. Abu Daud (‘Aunul Ma’bud jilid 11 hal. 193), Ibnu Majah (2/1330), Ibnu Hibban(2108), Al-Hakim (4/322) dan berkata Al-Hakim sanadnya shahih tetapi tidak diriwayatkan dalam Shahihain, disepakati oleh Adz-Dzahabi


Sumber: http://alghuroba.org/front/node/r/166
Read More

Selasa, 06 Maret 2012

Amar ma'ruf nahi mungkar...Bijak dalam berdakwah...

Assalamu alaikum...Bismillahirrahmanirrahim...Akhirnya nulis lagi...:D

Kali ini tema saya adalah tentang amar ma'ruf dan nahi mungkar. Dan tentu saja, seperti biasa, ini adalah hasil penyerapanku dari ceramah bro. Abu mussab wajdi Akkari.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلاَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمُُ

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [At-Taubah:71]

Tahukah mengapa mereka saling menolong? why? Karena mereka menikmati amar ma'ruf dan nahi mungkar. Tahukah kita mengapa banyak orang jahat di dunia ini, karena ini akan memberikan kesempatan untuk orang2 baik untuk mengajak mereka kedalam kebaikan. Adalah kewajiban setiap mukmin untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Dan itu juga penyebab mengapa tingkat keimanan setiap muslim itu terbagi2. Karena sebagian lain ada untuk mengingatkan mereka dan mengajarkan tentang ketaqwaan agar bersama2 mendapatkan ridha dari Allah dan mendapatkan pahala kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengajak kepada suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pelakunya. ” (HR. Muslim)

Lalu, bagaimanakah metode amar ma'ruf nahi mungkar itu? Kita kembali ke dasar lagi, dan dalam benak saya kadang timbul pertanyaan, apakah amar ma'ruf yang paling baik? Jelas, mengajak mereka yang masih belum beragama Islam untuk memeluk agama Islam dan hanya menyembah Allah semata, serta mengakui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai rasulnya. Jadi, sasaran target dakwah kita siapa? Non-muslim. Merekalah yang terpenting untuk didakwahi terlebih dahulu. Lalu pertanyaan kedua, apakah nahi mungkar yang paling diutamakan? Jelas kita harus lihat dulu, apakah dosa yang paling besar? Yaitu Syirik,menduakan Allah, tidak menyembah Allah, dan menyembah selain Allah. Jadi, aspek inilah yang harus diperjelas. Adalah hal yang terpenting untuk didakwahi adalah mengajak orang lain menyembah Allah Subhana wa ta'ala dan meninggalkan sesembahan lainnya yang menjerumuskan kita ke dalam kemusyrikan. Sebagaimana dalam salah satu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam:

”Iman lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, paling utamanya perkataan Laa Ilaaha Illallah dan yang paling rendahnya menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu merupakan cabang dari keimanan. ” (Riwayat Muslim: 35, Abu Dawud: 4676, Tirmidzi: 2614)

Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah. ” (HR. Muslim no. 49)

Maksud dari hadits diatas adalah barangsiapa melihat kemungkaran, maka seharusnya dia mengubahnya dengan perbuatannya jika dia berkuasa, dan menasihati dengan lisan jika mampu, dan bila tidak mampu melakukan keduanya maka hendaklah dia menolak dengan hati. Namun bukan berarti iman kita lemah. Karena terkadang ada saat - saat dimana diam itu menjadi emas ketimbang berbicara yang baik. Tak kurang dari kita kadang berdebat karena masalah bid'ah, syariat, dll. Karena tidak adanya toleransi kita pada mereka yang tidak terbiasa dengan istilah bid'ah. Bayangkan, jika sekali kita menyampaikan pada mereka ini dan itu bid'ah, dan secara tidak langsung kita sedang menjaga jarak kita dari mereka. Tanpa menampik sama sekali yang namanya bid'ah itu sesat,dan sesat tempatnya di neraka seperti dalam hadits Rasulullah, kita tetap harus menoleransi mereka yang tidak berpendapat yang sama dengan kita. Begitu pula dengan mengatakan ini haram dan itu haram. Terkadang kita memang benar, dan Allah maha tahu tentang kebenaran yang kita sampaikan. Namun, karena waktu untuk menyampaikannya tidak tepat itu membuat orang malah menjauhi anda. Dan ini malah menunjukkan kemunduran anda sebagai seorang pendakwah. Akhir kata, Seorang muslim yang bijak adalah seorang muslim yang mampu memilah yang mana dakwah yang terpenting,dan memulai dakwah dari yang terpenting sampai sekecil2nya. Dan tentunya kita harus terus berusaha untuk mendakwahkan kalimat Allah ke seluruh penjuru dunia. Karena tentu kita tidak mau menjadi orang yang egois dan mau masuk surga sendirian kan?Apakah sanggup kita membiarkan saudara2 kita tetap berada dalam kesesatan?Tentu tidak...Karena itu marilah kita tegakkan amar ma'ruf nahi mungkar. Well, mungkin saya banyak bicara, namun ku hanya dalam tahap pembelajaran. Masih butuh banyak belajar sebelum benar-benar bisa berdakwah keluar sana. Maaf bila ada salah kata dalam notes ini mohon dikoreksi dan diberikan masukan.


LAKUKAN SEGALA SESUATUNYA KARENA ALLAH!!! Maka kau akan sukses,INSYA ALLAH!!!

Wassalamu alaikum,

Read More

Agama sebagai sebuah pagar

Bismillahirrahmanirrahim,

Kadang, dengan sengaja atau tidak, saya mendengarkan teman-teman sekelas berbicara "Da*n it, S*i*, F**k,dll"*gak usah disebut semua ahh. Lalu, mengapa dia dengan begitu mudah mengucapkan kata2 "Cursing" seperti itu? Well, jawabannya simpel, karena dia tidak punya keyakinan dan agama, tidak pernah merasa diawasi, tidak pernah merasa bersalah jika berkata seperti itu. Yang dia tahu hanyalah norma dalam bermasyarakat. Dia tahu kapan pantas mengucapkan itu dan kapan dia tidak pantas mengucapkannya. Misalnya, di depan guru, atau di depan orang yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi.


Pertanyaannya, Apakah norma-norma yang ada dalam sebuah masyarakat cukup untuk membendung dari hal-hal yang merugikan orang lain? Saya bisa jawab tidak. Kalau anda tidak percaya, coba anda pergi ke negara-negara barat, dimana seks bebas dibiarkan, tapi menggunakan jilbab malah menjadi suatu kriminalitas jika dipaksakan oleh orang tua kepada anaknya. Seorang anak bahkan bisa menuntut ayahnya jika dia dipaksa untuk ikut shalat berjamaah di masjid. Is this what you called by law? It's sucks~. Tidak adil rasanya. Ketika hukum Allah yang benar dipermainkan, dan hukum manusia dijadikan berhala. Tapi, kita lihat, apakah hukum buatan manusia ini betul-betul efektif atau tidak. Contohlah, Jepang atau Indonesia, well karena saya suka nonton film detektif, maka saya mau mengambil Jepang sebagai contoh :D, Banyak sekali kita lihat kasus-kasus pembunuhan yang terjadi, perampokan, dll. Padahal, kalau dipikir, mereka adalah negara maju, dan hukum mereka juga ciptakan, moral mereka bagus. Tapi, mengapa hal ini tidak dapat memagari mereka dari hal-hal yang semisal? Jawabannya, karena tidak adanya Allah di hati mereka. Lalu, bagaimana dengan Indonesia sebagai negara mayoritas muslim? Kok bisa begini dan begitu? Kalau yang ditanya saya, saya akan jawab karena "Idealis Pluralisme" yang terlalu dibesar-besarkan oleh bangsa kita. Akhirnya orang-orang awam merasa, agama tak ada bedanya dengan sebuah pembatas kegiatan manusia, toh kita orang semua bersaudara~.


Kembali ke masalah pagar, mengapa Indonesia yang mayoritas muslim serasa tidak memiliki "pagar" tersebut. Jawabannya karena awamnya kita. Terus terang, saya bosan belajar di sekolah dulu, begitu banyak mata pelajaran yang dipelajari, yang kayaknya "sia-sia". Ambillah contoh beberapa muatan lokal berbagai macam bahasa, menggambar, menyanyi, dll. Akhirnya apa yang terjadi, waktu untuk belajar pelajaran Agama Islam hanya 3 jam dari 42 jam yang disediakan oleh sekolah kita. Mau menyalahkan siapa? Menteri pendidikan?Kurikulum? Atau mungkin diri sendiri atau orang tua yang menentukan sekolah kita di sekolah negeri bukan di pesantren atau S-IT(Islam Terpadu). Tidak bisa menyalahkan siapa - siapa sih, cukup diri kita saja. Teringat cerita tentang syeikh Ahmad Deedat yang waktu itu berhasil menjadi syeikh yang terpandang dan menguasai banyak bahasa, walaupun beliau hanya orang yang pernah putus sekolah. Subhanallah. Jika memang ada kemauan, maka mestinya kita belajar agama seperti beliau lah.


Lalu, apa yang harus kita lakukan agar agama ini bekerja sebagai sebuah pagar? Yah yang namanya pagar harus selalu terlihat indah, agar orang dengan senang hati memasuki rumah yang dipagari ini. Maka, baiknya jika kita selalu menjaga agar agama kita terlihat indah, dengan memperlihatkan akhlak kita yang santun, dengan selalu berlemah lembut, dengan begitu, selain kita menjaga diri kita dari pencuri tapi mengundang orang-orang baik disekitar kita untuk masuk. Tapi, pada kenyataannya, banyak dari kita justru merusak pagar kita sendiri, dengan kelakuan kita baik yang sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Makanan gak dijaga, mulut juga tidak dijaga, sikap tidak dijaga. Jadi yang harus kita lakukan adalah senantiasa memperbaiki dan memperindah pagar itu, dan mempersolidnya, agar kita tidak kemasukan pencuri.


Lalu, bagaimana "pagar" ini bekerja?

Pertama, Pagar ini menjaga kita dari pencuri, maksudnya agama menjaga kita dari melakukan hal-hal buruk yang bisa menimbulkan kemudharatan di dalam masyarakat.

Kedua, Pagar ini berfungsi sebagai pajangan yang memperindah rumah, coba antum lihat wanita-wanita berjilbab karena mereka muslimah, bandingkan dengan non-muslim yang tidak berjilbab.*Jujur kalau lihat wanita, saya lebih suka yang berjilbab :D

Ketiga, Pagar berfungsi sebagai penyaring, tentang apa-apa yang masuk kedalam tubuh kita, termasuk makanan, minuman, dan pemikiran. Kita yang beragama akan menjaga diri dari pemikiran-pemikiran rusak dan biadab yang merusak masyarakat, menjaga diri dari kriminalitas dll. Menjaga diri kita dari memakan makanan yang buruk untuk kesehatan seperti babi dll. Juga menjaga diri dari minuman buruk seperti khamar dan sejenisnya.

Keempat, Pagar mencegah anak anda(yang masih kecil dan berpotensi ditabrak mobil) dari keluar rumah, Hal inilah yang saya jelaskan pada paragraf pertama, dengan begitu, kita akan lebih menjaga perkataan dan perbuatan kita.



Sekian,

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh...

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.