Senin, 30 April 2012

Mata yang khianat

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghofir: 19)
Ibnu 'Abbas ketika membicarakan ayat di atas, beliau mengatakan bahwa yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah seorang yang bertamu ke suatu rumah. Di rumah tersebut ada wanita yang berparas cantik. Jika tuan rumah yang menyambutnya memalingkan pandangan, maka orang tersebut melirik wanita tadi. Jika tuan rumah tadi memperhatikannya, ia pun pura-pura menundukkan pandangan. Dan jika tuan rumah sekali lagi berpaling, ia pun melirik wanita tadi yang berada di dalam rumah. Jika tuan rumah sekali lagi memperhatikannya, maka ia pun pura-pura menundukkan pandangannya. Maka sungguh Allah telah mengetahui isi hati orang tersebut yang akan bertindak kurang ajar. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya.
Ibnu 'Abbas mengatakan, “Allah itu mengetahui setiap mata yang memandang apakan ia ingin khianat ataukah tidak.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid dan Qotadah. (Tafsir Ibnu Katsir)

Sumber: http://remajaislam.com/gaya-muda/cinta/3-bukan-pria-idaman.html
Read More

Minggu, 29 April 2012

Kupinang kau dengan ........

Bismillahirrahmanirrahim


Dulu, kami pernah dengar sebuah sinetron berjudul "Kupinang kau dengan bismillah". Besok, 30 April 2012, Insya Allah ada pengajian yang diselenggarakan di masjid Fukuoka dengan mengundang seorang ustadz, yang katanya seorang penulis buku berjudul "Kupinang kau dengan Hamdalah". Akhirnya kami sempat berpikir, kami juga ingin buat tulisan dengan judul kupinang kau dengan... Apa yah? ehh, kami juga jadi teringat pada kisah Ali bin Abi Thalib yang menjadikan baju besinya sebagai mahar untuk menikahi fatimah.#so sweet~. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu, “Tatkala Ali menikahi Fatimah, bersabdalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada Ali, “Berikanlah sesuatu sebagai mahar untuk Fatimah? Ali menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa? Rasulullah berkata, “Mana pakaian besimu? (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih)

Tapi, kisah itu saja tidak cukup untuk menggambarkan bagaimanakah nikahnya seorang muslim yang shaleh dan shalehah, bahkan dalam hadits lain oleh Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i). Ehh, memang seperti apa sih ceritanya? Kok bisa tidak ada yang maharnya lebih mulia dari siapapun? Dalam riwayat lain disebutkan kisah tentang Ummu Sulaim yang ingin dilamar oleh Abu Thalhah yang kebetulan saja waktu itu masih seorang kafir, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60).

Dari kedua kisah diatas bisa disimpulkan bahwa muslimah yang baik tidak akan menyusahkan calonnya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud). Lalu kesimpulannya, "Apakah kami menulis ini agar calon istri kami kelak agar memudahkan maharnya?" Ahh tidak juga sih. Kami sebenarnya tidak peduli seberapa berharga mahar yang akan diminta oleh istri kami kelak. Karena mahar adalah bukti kesungguhan seorang laki-laki sebelum menikahi sang calon. Tapi tentu, mempermudah lebih baik mengingat itu adalah sunnah Rasulullah.


Lalu? Apa sebenarnya maksud dari titik-titik pada judulnya? Sebenarnya kami mau mengisi titik-titik itu dengan kata kesabaran dan ketaqwaan. Ya, itu adalah sebaik-baik mahar. Kami selalu berpikir bahwa menikah adalah hal yang menakutkan. Mengapa? Karena kami sering melihat bagaimana problem yang dihadapi dalam rumah tangga. Kalau anda selalu mikir bahwa rumah tangga akan selalu harmonis, kami bakal bilang kalau anda salah bung. Di dalam rumah tangga akan terdapat masalah-masalah kompleks yang anda akan temukan. Dan itu hanya akan ada pada saat anda sudah menikah. Karena itu dapat kami katakan bahwa kami belum cukup siap untuk hal ini, karena belum cukupnya kesabaran dan ketaqwaan kami untuk itu.




Tak dapat dipungkiri, perpecahan dalam rumah tangga bisa disebabkan oleh masalah-masalah kompleks tersebut. Bisa masalah anak, keluarga besar(ortu dan keluarga si suami+istri), sekolah, pekerjaan, keuangan, seks, dll. Itu semua adalah masalah yang mungkin anda temukan di dalam pernikahan. Cukup menakutkan memang, karena itu butuh waktu untuk mempersiapkan diri. Namun, perlu diingat bahwa menikah itu bukan matematika, dimana jika kita sudah latihan soal berkali-kali, maka akan mudah untuk menyelesaikan soal tersebut. Pernah kami menemukan seseorang yang menggunakan alasan 'Pacaran adalah latihan untuk menghadapi persoalan rumah tangga kelak'. Halah, alasan macam apaan tuh.

Kami sering menemukan orang-orang memanas-manasi kami untuk 'menikah', mungkin karena membaca status-status galau kami di facebook. Namun, itu bukan alasan bagi kami untuk mempercepat pernikahan. Sebagaimana tadi kami katakan, bahwa menikah itu butuh ketaqwaan dan kesabaran, karena dengan begitu, impact dari permasalahan akan berkurang. Lagipula, kami juga belum cukup siap untuk hal-hal selain itu. Terutama secara finansial. Mengingat kami masih dalam tanggungan orang tua dalam masalah hidup (beasiswa belum mencukupi kebutuhan hidup). Pernah kudengar sebuah kajian tentang cinta dan remaja dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yang disitu membahas tentang hadits Wahai para pemudabarangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Disini beliau menjelaskan tentang penjabaran ulama perihal hadits tersebut: Secara bahasa, baa-ah bermakna jima’ (berhubungan suami istri). Sedangkan mengenai makna baa’ah dalam hadits di atas terdapat ada dua pendapat di antara para ulama, namun intinya kembali pada satu makna.
Pertama: makna baa-ah adalah sebagaimana makna secara bahasa yaitu jima’. Sehingga makna hadits adalah barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berjima’ karena mampu memberi nafkah nikah, maka menikahlah. Barangsiapa yang tidak mampu berjima’ karena ketidakmampuannya memberi nafkah, maka hendaklah ia memperbanyak puasa untuk menekan syahwatnya dan untuk menghilangkan angan-angan jeleknya.
Pendapat kedua: makna baa-ah adalah kemampuan memberi nafkah. Dimaknakan demikian karena konsekuensi dari seseorang mampu berjima’, maka tentu ia harus mampu memberi nafkah. Sehingga makna hadits adalah barangsiapa yang telah mampu memberi nafkah nikah, maka hendaklah ia menikah. Barangsiapa yang tidak mampu, maka berpuasalah untuk menekan syahwatnya.
Jadi maksud dari dua pendapat ini adalah sama yaitu harus punya kemampuan untuk memberi nafkah. Sehingga inilah yang menjadi syarat seseorang (khususnya pria) untuk membina rumah tangga dengan kekasih pilihan, yaitu ia memiliki kemampuan untuk memberi nafkah keluarga. Hal ini yang banyak disalahpahami sebagian pemuda. Mereka ngebet minta nikah pada ortunya. Padahal sesuap nasi saja masih ngemis pada ortunya. Hanya Allah yang memberi taufik.
Dari sini, barangsiapa yang memiliki kemampuan, maka segeralah untuk menikah guna memadamkan rasa rindu yang ada. Menikah di sini tidak mesti dengan orang yang selalu dirindukan. Boleh jadi, juga dengan orang lain. Karena nikah telah mencukupkan segala kebutuhan jiwa di samping dalam nikah akan ditemui banyak keberkahan. Jika memungkinkan menikah dengan orang yang dirindukan, maka menikahlah dengannya. Ini merupakan terapi manjur.




Karena itu, penting bagi kita untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum tiba masa dimana kita telah siap untuk melakukan pernikahan. Tujuannya tidak lain untuk menjadikan pernikahan kita yang mungkin hanya sekali seumur hidup menjadi lebih berharga dan tidak terjadi konflik yang berarti. Ingatlah bahwa menikah adalah melengkapi separuh agama sebagaimana dalam perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam: “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)


Wa billahi taufiq

Referensi : 
Read More

Selasa, 24 April 2012

Single itu enak, setidaknya sampai akhirnya tiba waktunya untuk nikah...

Suatu ketika si A sedang berjalan dengan si B lalu tiba-tiba berkata 

A: Single itu enak, tidak perlu terikat, kalau jatuh cinta tinggal dipendam atau dibuang jauh...

B: Trus, kamu gak mau nikah?

A: Menikah itu sunnah, dan menjalankan separuh agama, kalau tahu begitu, kenapa mesti dihindari?

B: Lah, trus kenapa kamu gak pacaran? Bagaimana cara memilih jodohnya nanti?

A: Makanya di dalam islam ada istilah ta'aruf dan ada masa nazhor, yang waktunya TIDAK LAMA (soalnya banyak juga yang bilang ta'arufan tapi jangka waktunya lamaaaa banget)

B: Tapi, dalam jangka waktu yang singkat itu, mana bisa saling mencintai?

A: Pernikahan itu membangun cinta, bukan hanya mengembangkan cinta yang sudah ada. Lagipula, kalau pacaran, lalu cinta pada orang lain lagi, malah menyakiti pasangan lalu meninggalkannya kayak sampah dong.

B: Ehh, lalu kalau kamu nikah, terus misalnya kamu kurang suka pada istrimu, lalu kamu jatuh cinta pada orang lain gimana dong?

A: Orang yang menikah/jatuh cinta karena nafsu tidak akan pernah mengerti bagaimana manajemen cinta orang-orang yang terikat karena Allah. Orang yang terikat hanya karena nafsu, tidak akan selanggeng orang yang nikah karena Allah. :P

B: Tapi, bukankah belajar mencintai itu sulit?

A: Lalu, menurutmu bagaimana mungkin seorang pemuda dan pemudi bisa saling jatuh cinta? Apakah hanya karena tatapan mata pada wajah? Kalau semua orang menikah hanya karena saling mencintai karena itu, maka orang yang tidak tampan/cantik tidak akan pernah menikah. Tapi faktanya banyak juga kok orang yang wajahnya tidak tampan/cantik tapi menikah juga.

B: Iya juga sih. Kalau begitu, kenapa kau tidak segera menikah?

A: Seperti yang saya bilang diatas, single itu enak, karena pada saat kau single, problem pemikiranmu tidak akan sekompleks orang yang sudah menikah. Ketika kau menikah, kau memiliki banyak sekali tanggung jawab yang akan membuat pemikiranmu jadi rumit, mulai dari istri, anak, pekerjaan, keluargamu dan istrimu, dll. Ingatlah bahwa kelak di hari kiamat kau juga akan bertanggung jawab atas keluargamu. Well, saya menunda semua itu karena belum merasa cukup sanggup menanggung beban pikiran yang kompleks itu. Sekarang saja saya sudah pusing memikirkan kuliah, dll. Ingatlah, bunga tidak akan pernah terlihat indah sampai benar-benar mekar dengan sempurna. Begitu juga dengan pernikahan, tidak akan pernah terasa indah, jika kita lakukan dengan tergesa-gesa tanpa persiapan~...

B: Ada benarnya juga sih. Terima kasih atas sharing-sharingnya, setidaknya memberikan pandangan tentang apa saja yang harus saya lakukan sebelum menikah.



Read More

Sabtu, 21 April 2012

Why Muslims only worship One God(Allah)

Every single human in this world have God, even they are atheists. If some people say that there is no such a thing as God, it means that they are accepting their mind as their God. Why? Because they believe in their mind. It has the same meaning that they accept their mind as their God. Every single religion have their own God with the different name in different language. In this essay, we would like to talk about God in Islam which known as Allah.

We may think “why Islam only has one God?” It is different with the other religions, which have more than one God. I come up with one idea about driving a car. What will happen to a car if we have more than one driver? Let we imagine that one of the driver want to turn right the car and another want to turn left. Yes, it may be giving trouble in controlling the car itself.  Allah puts forth a parable: a man belonging to many partners disputing with one another, and a (slave) man belonging entirely to one master. Are those two equal in comparison?

Beside about controlling, there are some theory that prove that Allah is unique, which means that there is no God that can be compare with him. That is written in surah Al-Ikhlas verses 1-4, "
1.     He is Allah, Ahad.
2.     Allah As-Samad,
3.     He begets not, nor was He begotten.
4.     And there is none comparable to Him.”
This surah describe every single characteristics of Allah as God. The first one is the most important one, which means Allah is the One which meaning he is the one and only God that can be worshipped. Ahad is different with Wahid in Arabic which means One (number). If we are saying Allah is Wahid, it means Allah can be counted. Two divided by two is one, One times one is one. That is why Allah used words Ahad instead of words Wahid. Because Allah cannot be counted. The second one is Allah As-Samad, this words has no meaning in English, but we are using words ‘Absolute’ as the translation in Qur’an. The real meaning of As-Samad is that everybody depend on Him, but he is not depend on anyone. That is the real meaning of As-Samad. For the number three, as we know that meaning He does not have any children or parents, He stands by himself. The last one is the unique character that never be mention by any God you ever heard. It means that he is none comparable to any God that created by human being.
Read More

EMANSIPASI, PENYETARAAN GENDER & BUDAYA PERMISIVISME : Wujud Seruan Kekufuran Yahudi dan Nasrani

Emansipasi Atau Deislamisasi
Penulis: Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin
Emansipasi sejatinya hanyalah salah satu jalan yang digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk mempreteli bahkan mengubur syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur`an dan hadits ditelikung, dipahami sepotong-sepotong, untuk kemudian ditafsirkan secara sembrono. Syariat bahkan dianggap sebagai ajaran lama yang perlu direkonstruksi atau dikontekstualisasikan. “Ahli” tafsir dan hadits yang menjadi rujukan, siapa lagi kalau bukan kalangan akademisi Barat.

Kata emansipasi bukan lagi menjadi kata yang asing di telinga masyarakat. Kata ini menjadi lekat seiring era keterbukaan di setiap lini kehidupan. Slogan emansipasi seakan menjadi taji bagi setiap wanita. Ketertindasan, keterkungkungan, keterbelakangan dan ketiadaan harkat menjadi belenggu kaum wanita. Kehidupan wanita seakan terpasung di tengah eksploitasi kaum Adam terhadapnya. Sebagian wanita pun menjadi gamang menatap rona kehidupan. Hilang keyakinan diri untuk menapaki laju zaman.
Di tengah kepungan kemelut, wanita pun tersulut bangkit. Mendobrak tatanan yang ada, meneriakkan slogan-slogan persamaan. Mencoba memberangus keterpurukan nasibnya. Maka, lamat-lamat teriakan itu terus bergulir. Menggelinding bak bola salju. Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, pun ikut berbicara. Melalui bukunya yang berjudul Sarinah, ia menguak sejarah kelam kehidupan wanita di belahan Eropa, terkhusus Perancis. Dituturkan bahwa 6 Oktober 1789 merupakan tonggak awal munculnya aksi-aksi para wanita. Mereka menyuarakan kesetaraan jender. Menuntut perlakuan yang sama dengan kaum pria. Pemberontakan kaum wanita Perancis dilatari perlakuan sewenang-wenang berbagai pihak terhadap para wanita. Mereka diperlakukan tidak adil, dihinakan, bagai seonggok tubuh yang tiada lagi guna. Setelah aksi para wanita Perancis, 6 Oktober 1789, di depan Gedung Balai Kota Paris yang lantas bergeser ke depan istana raja, Versailles, bermunculan organisasi-organisasi kewanitaan. Menjamurnya berbagai organisasi kewanitaan tak semata di Perancis, tapi menyebar ke Inggris, Jerman, dan belahan Eropa lainnya. Gaung slogan emansipasi pun makin membahana.
Dari kacamata sejarah, gerakan emansipasi kelahirannya berawal dari akibat rasa ‘frustrasi’ dan ‘dendam’ terhadap sejarah kehidupan Barat yang dianggap tidak memihak kaum perempuan. Supremasi masyarakat yang feodal pada abad ke-18 di Eropa, dominasi filsafat dan teologi gereja yang cenderung meremehkan dan melecehkan kaum wanita, telah ikut andil menyulut kemarahan kaum wanita untuk menyuarakan gagasan-gagasan tentang emansipasi. Tuntutan persamaan, kebebasan, dan pemberdayaan hak-hak perempuan terus diletupkan seiring dengan semangat pemberontakan terhadap dominasi dan kekuasaan gereja oleh para pemikir ilmu pengetahuan. Inilah yang dikenal dalam lintasan sejarah sebagai masa renaissance (revolusi ilmu pengetahuan). Masa itu merupakan masa ‘rame-rame’ menggoyang arogansi gereja.
Begitulah awal lahir gerakan emansipasi. Kini, emansipasi telah menjadi bara di mana-mana. Semangat untuk menyetarakan diri dengan kaum Adam sedemikian dahsyat. Hingga melupakan batas-batas kesejatian diri sebagai kaum Hawa. Seakan tak mau peduli, bahwa antara wanita dan pria memiliki beragam perbedaan. Entah perbedaan yang bersifat psikis (kejiwaan), emosional, atau yang berkenaan dengan struktur fisik. Lantaran arus deras gerakan emansipasi, hal-hal mendasar seperti di atas menjadi terabaikan. Maka, gerakan emansipasi yang telah digulirkan menjadi alat perusak masyarakat. Perjuangan untuk menaikkan harkat dan martabat kaum wanita, menjadi perjuangan untuk menggerus sistem sosial yang ada. Ironisnya, sebagian kaum muslimah terprovokasi gerakan ini. Tanpa memahami latar belakang sejarah gerakan emansipasi, mereka ikut-ikutan meneriakkan persamaan hak. Yang lebih tragis, mereka menuntut persamaan hak dalam setiap sisi aturan agama. Bahkan, untuk menjadi khatib Jum’at pun mereka tuntut. Mereka menggugat, bahwa khatib Jum’at bukan monopoli kaum pria semata. Sudah sejauh ini pemahaman emansipasi menggayut di benak sebagian kaum muslimah. Ke depan, bisa saja mereka menggugat agar kaum wanita tidak haid dan nifas.
Gerakan emansipasi wanita yang salah kaprah ini menjadi preseden buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Kehidupan yang karut-marut inilah yang dicitakan Iblis la’natullah alaih. Dengan menyusupkan gagasan-gagasan destruktif (yang merusak), Iblis berupaya menarik kaum hawa ke dalam kubangan kehancuran. Para wanita yang telah rusak pemikiran, perilaku, akidah, akhlak dan paham agamanya inilah yang disukai Iblis.
Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam, yang kali pertama menyerukan nilai-nilai kebebasan wanita adalah Iblis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ
“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata: ‘Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua’.” (Al-A’raf: 20-21)
Maka Iblis pun memalsukan hakikat senyatanya kepada Adam dan Hawa. Memakaikan sesuatu yang haq kepada sesuatu yang batil dan mengenakan kebatilan terhadap kebenaran. Lantas, apakah buah dari bisikan dan sumpahnya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka: ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’.” (Al-A’raf: 22)
Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah anugerahkan kepada bapak kita Adam dan ibu kita Hawa, dengan (keduanya) melakukan taubat nashuha. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi’.” (Al-A’raf: 23)
فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37)
Selanjutnya, menurut Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah, seruan (untuk menghancurkan nilai wanita) diistilahkan dengan banyak nama. Seperti Tahrirul Mar`ah (Kebebasan Wanita), yaitu yang arahnya membebaskan dan mengeluarkan muslimah dari Islam. Atau dengan nama An-Nahdhah bil Mar`ah (Kebangkitan Wanita), yaitu mengarahkan sikap membebek terhadap para wanita kafir, Barat atau Eropa. Juga dengan istilah Tathwirul Mar`ah (Pemberdayaan/Pengentasan Kaum Wanita). Istilah-istilah ini sengaja disebar kaum kafir dan orang-orang yang menyimpang dari Islam dan (istilah ini) tidak terkait dengan Islam. (Mu’amaratul Kubra ‘alal Mar`atil Muslimah, 1/21-22)
Yahudi, sebagai kaki tangan Iblis di muka bumi ini, mengungkapkan pula tekadnya untuk menghancurkan kaum wanita melalui slogan-slogan terkait emansipasi. Ini sebagaimana terungkap dalam Protokolat Para Hakim Zionis, bahwa sesungguhnya kalimat-kalimat yang bersifat meruntuhkan (menghancurkan), yang merupakan syi’ar-syi’ar kami adalah kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. (idem, hal. 24)
Maka, gerakan emansipasi memancangkan jargon-jargon perjuangan dengan menggunakan kebebasan wanita dan persamaan hak antara kaum wanita dan pria. Dengan istilah lain, memperjuangkan penyetaraan jender.
Timbul pertanyaan, mengapa kaum wanita dijadikan bidikan Yahudi (bahkan Nasrani) untuk menghancurkan masyarakat Islam? Menurut Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, salah seorang ulama terkemuka Yaman:
Pertama, kaum muslimah umumnya lebih minimal dalam urusan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dibandingkan pria. Karena tingkat pemahaman agama yang minim tersebut sehingga mudah terprovokasi untuk menerima hal-hal yang merusak.
Kedua, Yahudi dan Nasrani memandang bahwa menghancurkan wanita merupakan dasar bagi kehancuran berbagai sisi lainnya. Sebagaimana pula bila adanya perbaikan terhadap kaum wanita, maka akan membawa dampak kebaikan bagi lainnya.
Ketiga, Yahudi dan Nasrani berpendapat, apabila tersingkap wajah kaum wanita, maka akan tersingkap pula aurat lainnya bila kaum wanita itu berbaur dengan kaum pria.
Keempat, mereka memandang bahwa muslimah lebih cenderung khianat dan bertindak merusak terhadap suami. Ini sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhari rahimahullahu (no. 3330 dan 3399) dan Muslim rahimahullahu (no. 1470) dari hadits Abu Hurairah z. Ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
وَلَولَا حَوَّاءُ لَـمْ تَخُنْ أُنْثَى زَوْجَهَا
“Dan seandainya bukan (karena) Hawa, seorang istri tidak akan mengkhianati suaminya.”
Pengertian hadits ini bahwa Hawa menerima ajakan Iblis sebelum bapak kita, Adam ‘alaihissalam. Kemudian Adam pun terbujuk, terjatuhlah ia pada tindak maksiat. Ini karena adanya sikap khianat para wanita, kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman berkenaan dengan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam:
ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلاَ النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’.” (At-Tahrim: 10) [Mu’amaratul Kubra ‘alal Mar`atil Muslimah, 1/147-148]
Kalau manusia mau membuka mata, walau sejenak, akan didapati pelajaran yang demikian berharga. Akan nampak secara transparan, betapa mereka yang termakan dengan gagasan-gagasan emansipasi, justru mengalami keterpurukan. Berapa banyak rumah tangga tidak terbina secara harmonis lantaran salah satu (atau bahkan keduanya) pasangan suami istri terjerat zina di tempat kerja. Berapa banyak pula lapangan kerja yang diisi kaum wanita, padahal bila diisi kaum pria akan dapat mengurangi angka pengangguran. Dengan demikian, berapa juta istri dan anak-anak bisa ternafkahi bila laki-laki mendapatkan pekerjaan. Inilah fenomena sosial yang tentu saja tidak bisa lepas dari dampak gerakan emansipasi. Masih banyak lagi ketimpangan sosial akibat gerakan emansipasi yang liar dan tak terkendali.

Kerusakan-kerusakan Emansipasi
Gerakan emansipasi yang membuncah di tengah masyarakat, bila ditelisik lebih jauh akan menimbulkan berbagai kerusakan yang tidak ringan. Bagi kalangan muslimah, gerakan ini bisa merusak keyakinan agama yang dipeluknya1. Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam telah menyebutkan 66 dampak kerusakan yang diakibatkan paham ini. Dalam tulisan ini hanya akan disebutkan beberapa hal saja. Di antara kerusakan-kerusakan tersebut yaitu:
1. Sebuah bentuk perang terhadap Islam.
Seruan emansipasi menyimpan perseteruan terhadap Islam. Selain itu, melecehkan, mencerca, menumbuhkan kebencian dari berbagai sisi terhadap agama. Termuat dalam gerakan emansipasi: kerusakan akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan politik. Secara akibat, gerakan ini memuat seruan terhadap muslim untuk tidak mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sunyi dari rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Menumbuhkan dalam hati sebongkah pelecehan dan olok-olok terhadap kebenaran agama. Menjadikan seseorang bersikap ragu, menentang dan lari dari agama. Dari sisi ibadah, nyata sekali bahwa gerakan ini mengerdilkan, meremehkan terhadap siapa pun yang menjaga berbagai bentuk peribadatan (yang selaras syariat).
2. Merupakan bentuk seruan yang menyeleweng dari Islam. Bagaimana tidak dikatakan semacam ini, sementara gerakan tersebut melakukan penolakan terhadap sesuatu yang bersifat keimanan pada hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu, hukum syariat terkait pada kekhususan wanita dan pria. Maka, gerakan ini telah secara nyata melakukan pembangkangan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Entah dalam bentuk tindakan langsung menolak hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, atau dalam bentuk melakukan berbagai penafsiran yang menyimpang sesuai dengan kepentingan dan selera gerakan emansipasi. Bisa diambil contoh adalah lontaran-lontaran pernyataan mereka, seperti Islam mendzalimi wanita, (atau di Indonesia mencuat istilah rekonstruksi pemahaman agama, yang intinya melakukan aksi penolakan terhadap syariat Islam, pen.). Islam membelenggu wanita dengan menyuruh mereka tinggal di rumah dan ungkapan-ungkapan lainnya.
3. Menyerukan permisivisme (serba boleh) dan menghalalkan segalanya. Maka bila diperhatikan kata “gender” akan diketahui bahwa makna kata itu terkait wanita dan pria. Sesungguhnya ini bentuk keserbabolehan (permisif) secara mutlak dan bebas tanpa batasan-batasan yang selaras fitrah, agama atau akal sehat. Kebebasan tanpa batas. Inilah yang dikehendaki para pegiat hak-hak wanita dan emansipasi. Mereka yang menyuarakan emansipasi tidak akan mampu menaikkan seruan mereka dari cara hidup binatang ternak. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ اْلأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى
“….Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)
Bahkan emansipasi telah menurunkan derajat mereka ke tingkatan binatang ternak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لاَ يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)
4. Merupakan kumpulan dari berbagai macam kekufuran, baik secara keyakinan, ucapan, atau perbuatan.
5. Merupakan wujud seruan kekufuran Yahudi dan Nasrani. Karena senyatanya, gerakan emansipasi yang memperjuangkan hak-hak dan kebebasan kaum wanita merupakan (program) dakwah Freemasonry Zionis Yahudi, yang bersenyawa dengan orang-orang Nasrani. Ketahuilah, bahwa para penyeru emansipasi (sadar atau tidak) merupakan orang yang taat kepada Yahudi dan Nasrani. Mulai dari bentuk organisasi, pernyataan, pendidikan (training), penyebaran, dan dakwahnya. Semuanya dilakukan sebagai upaya ke arah kekufuran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah beriman.” (Ali ‘Imran: 100)
Program mereka bertujuan mengeluarkan muslimin dari agamanya. Ini berdasarkan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109)
Firman-Nya:
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup.” (Al-Baqarah: 217)
6. Meniadakan (menolak) penerapan hukum-hukum syariat.
7. Membiarkan dan membebaskan perzinaan.
8. Membolehkan nikah antara muslimah dengan orang kafir (tentunya dengan dalil kebebasan wanita, pen.).
9. Tukar menukar atau berganti-ganti pasangan hidup.
10. Terlepasnya hijab Islami (jilbab yang syar’i).
11. Tersebarnya kemaksiatan secara terbuka.
12. Tasyabbuh (penyerupaan) antara laki-laki dan wanita (baik dalam cara berpakaian, perilaku dan lain-lain, pen.).
Demikian beberapa kerusakan yang ditimbulkan akibat gaung emansipasi. (Mu’amaratul Kubra ‘alal Mar`atil Muslimah, 2/475-511)
Tidak sepatutnya kaum muslimin mengambil sistem nilai di luar Islam menjadi acuannya. Begitu pula seorang muslimah tidak sepantasnya menceburkan diri menyuarakan nilai-nilai emansipasi. Bila Islam dipelajari secara benar, maka akan memberikan kecukupan dan keadilan. Sebaliknya, bila Islam ditinggalkan maka kehinaan akan meliputi kehidupan kaum muslimah, bahkan masyarakat yang lebih luas.
إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan.” (Al-Mujadilah: 5)
Menurut Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t, yang dimaksud “menentang Allah dan Rasul-Nya” adalah menyelisihi serta bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. (Taisirul Karimirrahman, hal. 845)
Karenanya, sudah tiba masanya bagi kita untuk tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam.
1 Deislamisasi, mencerabut nilai-nilai Islam dari kaum muslimah hingga ke akar-akarnya.
Read More

Sabtu, 14 April 2012

Kalau Allah mencintai semua manusia, mengapa neraka diciptakan?

Setiap orang yang hidup di dunia ini punya tujuan hidup. Dan beberapa dari kita punya satu tujuan, namun beberapa orang punya tujuan yang berbeda atau unik, dan mereka akan berkata tujuan hidup mereka adalah yang terbaik, dan mengatakan tujuan hidup kita jelek. Beberapa orang, mereka menghabiskan waktunya satu jam lebih hanya untuk memperbaiki dirinya agar terlihat bagus di depan cermin. Bayangkan saja, mereka menghabiskan waktu sebegitu lamanya hanya untuk itu. Untuk apa? Hanya karena ingin terlihat bagus didepan orang lain. Dan beberapa orang yang lain punya tujuan yang lain lagi. Percayalah ada sebuah tujuan hidup yang tak satupun dari kita mempunyai tujuan kita, yang saya maksud disini adalah kita sebagai seorang muslim. Apakah itu? yaitu meraih ridha dan cinta dari Allah Subhana wa Ta'ala, bukan cinta dari manusia yang membuat kita harus menghabiskan waktu 1 jam lebih hanya untuk terlihat bagus di depan orang lain.


Kita tidak boleh mengatakan seseorang telah dicintai oleh Allah, sampai ada bukti yang benar2 menyatakan bahwa seseorang telah dicintai oleh Allah. Mungkin kita menemukan agama sebelah yang dengan mudah mengobral cinta Allah. Mereka mengatakan Tuhan Mencintaimu, Tuhan Menyayangimu, tapi coba tanyakan balik padanya, kapan Allah mengatakan hal tersebut padamu? Saya yakin mereka tidak akan bisa menjawabnya, lalu lanjut dengan pertanyaan berikutnya, "Kalau benar Tuhan menyayangi semua orang, mengapa Tuhan menciptakan neraka?", Tentu tidak, kau tidak dapat mengatakan Allah mencintai seseorang sampai benar-benar ada bukti yang menyatakan bahwa Allah mencintai orang tersebut. Memangnya sejak kapan manusia punya hak untuk berbicara sebagai ganti Allah untuk mengatakan Allah mencintaimu? Karena itu adalah hal yang ghaib. Kecuali Rasulullah yang mengatakannya sebagai perantara. Contoh, pada zaman Rasulullah, ketika Rasulullah mengatakan aku akan memberikan bendera perang kepada orang yang dicintai oleh Allah dan RasulNya, dan orang tersebut adalah Ali bin Abi Thalib.
Lalu bagaimana cara mendapat cinta dari Allah? Yaitu dengan yakin bahwa mendapatkan cinta dari Allah adalah hal yang paling berharga yang harus didapatkan didunia ini, dan menjadikannya sebuah cita-cita. Dengan melakukan hal-hal yang dicintaiNya, dengan menjauhi hal-hal yang dilarangNya, begitu pula dengan mengikuti sunnah Rasulullah. Bayangkanlah, dalam sebuah hadits ,"Di dalam shahih Bukhari juga disebutkan, dari Abu Hurairah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berfirman bahwasanya Allah mencintai fulan maka cintailah fulan, dan Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril pun mengumumkan kepada penghun langit bahwasnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia, dan para penghuni langit pun mencintai fulan. Kemudian dikabulkanlah permohonanya di dunia” (H.R. Bukhori)". Bayangkan betapa berharganya cinta Allah kepada seorang hamba. Mengapa kita tidak berusaha untuk mendapatkannya? Ketika Allah sudah mencintai kita, kita tidak membutuhkan cinta dari orang - orang yang lain. Dan ingatlah, ketika Allah mencintaimu, maka semua orang-orang dan manusia yang juga mencintai Allah, Insya Allah mereka juga mencintaimu. Tidak usahlah kita mencari-cari cinta dari orang yang tidak mencintai Allah, apalagi mereka yang menjauh dari Allah(Kafirun). Tidak perlulah kita menjadi kaya,tampan,rupawan,berwibawa,pemimpin, atau hal-hal yang bisa kita banggakan, karena Allah tidak suka manusia yang membanggakan diri.

Kapan Allah mencintai makhlukNya?
Ada banyak sekali alasan yang menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang dicintai oleh Allah,
Dalam Qur'an, Allah berfirman, Allah mencintai
1.Orang yang melakukan amal baik(Al-Baqarah 195)
2.Orang yang bertaubat (Al Baqarah 222)
2.Orang yang menyucikan diri (Al Baqarah 222)
4.Orang yang bertaqwa (Ali Imran 76)
5.Orang yang sabar (Ali Imran 146)
6.Orang yang bertawakkal (Ali Imran 159)
7.Orang yang adil (Al Maidah 42)
8.Orang yang berjuang di jalanNya(As shaff 4)
Jangan khawatir, masih banyak tanda-tanda orang yang dicintai oleh Allah yang belum saya tulis. Anda bisa menemukannya dari hadits, dan ayat-ayat yang lain. Tapi setidaknya memberikan gambaran bahwa Allah memberikan petunjuk kepada kita, hamba yang seperti apakah yang dicintai olehNya. Semoga kita senantiasa menjadi orang yang mengharapkan cinta dari Allah, dan menjadi orang yang dicintai oleh Allah Subhana wa ta'ala.

Mengapa Allah Menciptakan Neraka?
Dalam kalimat diatas saya sempat menyebutkan tentang hal ini, lalu, kami bisa jawab seperti ini,
"Mengapa Allah yang Maha Penyayang tidak menciptakan mereka untuk tidak mendapatkan hukuman tersebut?
Allah memperkenalkan dirinya dalam Surah Al-Fatihah, dengan mengatakan Alhamdulillah (Segala puji hanya bagi Allah), yang menggambarkan kesempurnaan Allah dalam segala hal, lalu Allah mengatakan Rabbul Alamin, yang berarti master/tuan dari segalanya, yang berarti tuan yang mempunyai kekuasaan untuk melakukan apapun pada hambanya. Tentu kita bisa menganggap tuan-tuan yang lain bisa melakukan siksaan seenaknya kepada hamba/budaknya, lalu terdapat kesinkronan antara Alhamdulillah dan Rabbul Alamin, Disinilah penjelasan tentang Allah sebagai Yang Maha Penyayang, tapi sebelum itu kita akan menjelaskan hal lain terlebih dahulu. Ketika meyakini sesuatu sebagai Master/tuan, maka itu berarti kita meyakini sebuah kesimpulan, bahwa jika kau datang kepada seorang yang lebih tinggi, maka kau meyakini dirimu jauh lebih rendah. Dan kau akan yakin, bahwa setiap hal yang dilakukannya, adalah sesuatu yang dia tahu dan dia punya sebab melakukannya. Tidak mungkin kita datang pada sesuatu yang kita anggap lebih tinggi, dan kita datang untuk mengkritiknya, dan mencari-cari kesalahannya. Coba kita berpikir lagi, Allah menciptakan neraka, tapi Allah juga memberikan keterangan tentang betapa mengerikannya neraka, juga memberikan petunjuk bagaimana untuk menghindari neraka tersebut. Disinilah Kemurahan hati Allah pada hambaNya. Dengan begitu kita bisa tahu apa-apa yang harus kita lakukan untuk menghindarinya." Selain itu, disebutkan pula dalam sebuah hadits shahih terdapat keterangan bahwa Allah mencintai makhluknya, "dari Abu Hurairah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berfirman bahwasanya Allah mencintai fulan maka cintailah fulan, dan Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril pun mengumumkan kepada penghun langit bahwasnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia, dan para penghuni langit pun mencintai fulan. Kemudian dikabulkanlah permohonanya di dunia” (H.R. Bukhori)". Dan manusia adalah makhluk yang paling tinggi kedudukannya dibandingkan dengan makhluk lainnya. Karena manusia diciptakan oleh Allah dengan tanganNya sendiri, sebagaimana dalam firmanNya, “Allah berfirman, Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.’(Shaad: 75)".

Wallahu a'lam bishowwab...
Read More

Kamis, 12 April 2012

Jika takdir sudah ditentukan, mengapa harus beramal?

Kalau saya sudah ditakdirkan untuk masuk ke dalam jannah(surga), mengapa saya harus tetap beramal? Mengapa tidak boleh bersandar/bergantung pada takdir tersebut? Atau, jika saya sudah ditakdirkan untuk menjadi penghuni neraka, mengapa saya harus tetap beramal? Bukankah amalan itu tidak akan menyelamatkanku dari api neraka Jahannam? Kalau memang di akhirat sudah pasti disiksa, paling tidak saya ingin menikmati duniaku. 

Dalam menjawab pertanyaan seperti ini, Rasulullah pernah bersabda dalam menjawab pertanyaan yang serupa. 

Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menjawab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (QS. Al Lail: 5-10) 

Beberapa pelajaran yang bisa diambil :
1.  Setiap manusia telah ditentukan tempatnya di akhirat kelak. Akan masuk surga jika termasuk penduduk surga. Dan akan masuk neraka jika termasuk penduduk neraka. Ketentuan ini telah ditetapkan Allah Ta'ala jauh sebelum diciptakannya langit dan bumi.
2. Rasulullah menyuruh kita untuk beramal, karena masing-masing manusia akan dimudahkan sesuai dengan takdirnya. Sebagaimana juga tertera pada ayat yang dibaca oleh beliau.
3. Janganlah bersandar kepada takdir. Karena suratan takdir adalah sesuatu yang tidak kita ketahui. Apabila seseorang melakukan kebaikan, maka ketahuilah bahwa dirinya termasuk ke dalam golongan para pelaku kebaikan. Jika tidak beramal baik, maka merupakan peringatan bagi dirinya.
4. Jika kau merasa mudah ketika akan melakukan suatu amalan, ketahuilah bahwa itu adalah ciri kebahagiaan, karena kau merasakan ketaqwaan kepada Allah di dalam hatimu, sebagaimana tertera dalam ayat diatas. Namun jika kau menemukan dirimu mudah melakukan kejahatan, maka berhati-hatilah, dan segera kembali ke jalan yang benar, sebagaimana dalam firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 53 :

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sumber: Syarh Riyadush Shalihin syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bab 160 tentang  Memberikan Nasehat di Pemakaman


Read More
Diberdayakan oleh Blogger.