Jumat, 22 Juni 2012

Ketika Terlalu Optimis dan Terlalu Pesimis dalam Mencari Petunjuk

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Pernahkah anda merasa anda sedang tersesat, setelah anda yakin bahwa anda telah berada di jalan yang benar untuk selama-lamanya? Pernahkah anda merasa bahwa saya sepertinya sudah tidak akan mampu lagi tersesat, karena telah mendapatkan petunjuk? Pernahkah anda merasa bahwa tidak ada lagi yang mampu menyesatkan anda setelah anda beriman kepada Allah? Jika salah satu dari pertanyaan diatas anda jawab dengan kata ya, maka anda sekarang sedang berada pada jalan turun, jalan menuju degradasi keimanan, yang dalamnya bagaikan tebing curam yang kita tidak tahu kapan kita akan kembali lagi ke permukaan. Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat pula dijadikan standar untuk mengetahui apakah di dalam hati kita terdapat penyakit hati atau tidak.

Pertanyannya, apakah yang kita lakukan jika kita menemukan diri kita dalam kondisi yang kami sebutkan diatas? Yakni, ketika kita merasa berada dalam keadaan sedang diberikan petunjuk dan merasa percaya diri bahwa diri ini akan menjadi penghuni surga insya Allah. Ketahuilah wahai saudaraku, seorang muslim tidak akan pernah berhenti untuk dipengaruhi oleh syaithan hingga akhir hayatnya. Bahkan tidak terkecuali Rasulullah, berdasarkan sabdanya

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin.” Para sahabat bertanya, “Termasuk Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk saya, hanya saja Allah membantuku untuk menundukkannya, sehingga dia masuk Islam. Karena itu, dia tidak memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
Namun, tentu berbeda dengan Rasulullah, kita adalah manusia biasa, syaithan yang ada pada kita tidak mungkin akan tunduk dan masuk islam begitu saja. Karena itulah, sebagai manusia kita tidak pernah terlepas dari kesalahan. Adalah sebuah kenaifan manusia jika mereka menganggap diri mereka tidak akan mampu lagi untuk dikuasai atau dibujuk oleh syaithan. Karena itu hendaklah bagi kita untuk senantiasa beristighfar dan memohon petunjuk dari Allah, walaupun kita telah berusaha untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Disisi lain, ada faktor yang menjadi penyebab seseorang sulit untuk berubah. Kalau dalam kasus yang pertama, orang tersebut telah berubah, namun dia akhirnya angkuh/sombong karena merasa sedang berada dalam petunjuk. Akibatnya orang yang tadi akan mengalami penurunan iman dan kembali menurun secara drastis terus menerus. Berbeda dengan kasus yang satu ini, orang yang satu ini terlalu pesimis. Akibatnya, dia tidak pernah bertaubat, tidak pernah berubah, dll. Hal ini dikarenakan dia berpendapat bahwa dosa-dosa yang dia miliki sudah terlalu banyak. Padahal Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

Dari Anas rodiyAllahu 'anhu, saya mendengar Rosululloh sholAllahu 'alaihi wa sallambersabda, Allah Ta'ala berfirman, "...Hai anak Adam, sungguh seandainya kamu mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian mendatangi-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula." (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani di Shohihul Jaami').

Allah sudah memberikan kita kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri juga mengobati kesalahan. Apakah buktinya? Yaitu, anda masih sempat membaca tulisan ini. Karena taubat seseorang masih akan diterima sampai anda mencapai ajal atau tibanya hari kiamat, sebagaimana Allah berfirman,

“Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’” (Qs. An Nisaa’: 18)
juga dalam sebuah riwayat yang disabdakan Rasulullah

Dan taubat akan senantiasa diterima hingga terbitnya matahari dari arah barat. Apabila telah terbit (dari arah barat), ditutuplah setiap hati dengan apa yang ada di dalamnya, dan cukuplah manusia amal (yang telah dilakukannya)”.(HR. Ahmad).

Karena itulah, kita tidak boleh berputus asa atas rahmat Allah Ta'ala. Karena sesungguhnya dialah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang. Namun patut untuk kita ingat, bahwa tentu mencari petunjuk itu tidak hanya dengan membiarkannya datang begitu saja. Namun, kita harus mencari dan mendatanginya. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua. Kita juga tidak boleh bersikap terlalu percaya diri bahwa kita telah berada di jalan yang benar, karena seperti yang kami katakan, pada saat inilah awal jatuhnya kita ke jurang degradasi iman, karena disinilah kesempatan emas untuk syaithan dalam mempengaruhi kita. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari sikap yang demikian.

Karena itulah, perlu kita ingat bahwa "Orang yang terlalu optimis yang menjadi sombong dan angkuh tidak akan mampu mempertahankan tujuan hidupnya, sedangkan orang yang pesimistis tidak akan pernah mampu melangkah untuk meraih tujuan hidupnya"

Wa billahi taufiq wal hidayah

Read More

Minggu, 17 Juni 2012

Sedikit catatan tentang sederhana dalam beribadah


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.


Allah Ta'ala berfirman : "Allah menghendaki kemudahan padamu semua dan tidak menghendaki kesukaran untukmu semua." (al-Baqarah: 185)

Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Binasalah orang-orang yang memperdalam-dalamkan (berlebih-lebihan)." Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam menyabdakan ini sampai tiga kali banyaknya." (Riwayat Muslim)
Almutanathtbi'un yaitu orang-orang yang memperdalam-dalamkan serta memperkeraskan sesuatu yang bukan pada tempatnya.
Yang bagaimanakah yang strict itu?
Bagaimanakah contoh strict yang tidak sesuai sunnah? Ternyata ada hadits shahih yang menggambarkan itu.
Dari Anas r.a., katanya: Ada tiga macam orang datang ke rumah istri-istri Rasulullah menanyakan tentang hal bagaimana ibadahnya Rasulullah. Kemudian setelah mereka diberitahu lalu seolah-olah mereka menganggap amat sedikit saja ibadah beliau itu. Mereka lalu berkata: "Ah, di manakah kita ini -maksudnya: Kita ini jauh perbedaannya kalau dibandingkan- dari Nabi sedangkan beliau itu telah diampuni segala dosanya yang lampau dan yang kemudian." Seorang dari mereka itu berkata: "Adapun saya ini, maka saya bershalat semalam suntuk selama-lamanya." Yang lainnya berkata: "Adapun saya, maka saya berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah saya berbuka." Yang seorang lagi berkata: "Adapun saya, maka saya menjauhi para wanita, maka sayapun tidak akan menikah." Rasulullah kemudian mendatangi mereka lalu bersabda: "Engkau semuakah yang mengatakan demikian, demikian? Wahai, demi Allah, sesungguhnya saya ini adalah orang yang paling bertaqwa diantara engkau semua kepada Allah dan paling takut kepadaNya, tetapi saya juga berpuasa dan juga berbuka, sayapun bershalat tetapi juga tidur, saya juga tetap menikahi wanita. Maka barangsiapa yang enggan pada cara perjalananku -sunnahku-, maka ia bukanlah termasuk dalam golonganku." (Muttafaq 'alaih)
Juga dalam hadits ini,
Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Pada suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. berkhutbah, tiba-tiba ada seorang lelaki yang berdiri lalu beliau bertanya kepadanya tentang orang itu, dan para sahabat berkata: "Dia adalah Abu Israil bernazar hendak berdiri di terik matahari, tidak akan duduk-duduk, tidak akan bernaung, tidak akan berbicara dan tetap akan berpuasa." Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. lalu bersabda: "Perintahkan padanya, supaya ia suka berbicara, bernaung, duduk-duduk dan juga supaya ia meneruskan puasanya." (Riwayat Bukhari)
Kesimpulan yang bisa kami ambil dari 2 hadits ini adalah tidaklah perlu melakukan ibadah yang berlebihan, merepotkan, apalagi menyiksa diri, padahal tidak disuruh dan dianjurkan oleh Rasulullah. Ibadah itu jangan memaksakan terlalu banyak. Walau hanya sedikit, asal kontinu.
Beginilah kita beribadah yang seharusnya, sedikit asal istiqamah dan tidak terputus. Dan itu juga dikatakan Rasulullah dalam sebuah haditsnya, Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang wanita. Rasulullah bertanya: "Siapakah ini?" Aisyah menjawab: "Ini adalah si Anu." Aisyah menyebutkan perihal shalatnya wanita tadi -yang sangat luar biasa tekunnya. Beliau Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Jangan demikian, hendaklah engkau semua berbuat sesuai dengan kekuatanmu semua saja. Sebab demi Allah, Allah itu tidak bosan -memberi pahala- sehingga engkau semua bosan -melaksanakan amalan itu. Adalah cara melakukan agama yang paling dicintai oleh Allah itu ialah apa-apa yang dikekalkan melakukannya oleh orangnya itu -yakni tidak perlu banyak-banyak asalkan langsung terus -kontinyu-." (Muttafaq 'alaih)
 Mah adalah kata untuk melarang dan mencegah. Maknanya La yamallullahu, ialah Allah tidak bosan, maksudnya bahwa Allah tidak akan memutuskan pahalanya padamu semua atau balasan pada amalan-amalanmu itu ataupun memperlakukan engkau semua sebagai perlakuan orang yang sudah bosan. Hatta tamallu artinya sehingga engkau semua yang bosan lebih dulu, lalu amalan itu ditinggalkan. Oleh sebab itu seyogyanya engkau semua mengambil amalan itu sekuat tenagamu saja yang sekiranya akan tetap langsung dan kekal melakukannya agar pahalanya serta keutamaannya tetap atas dirimu semua.
Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sabdanya: "Agama itu mudah, tidaklah agama itu diperkeraskan oleh seorang melainkan agama itu akan mengalahkannya -yakni orang yang memperkeras-keraskan itu sendiri yang nantinya akan merasa tidak kuat meneruskannya. Maka dari itu, bersikap luruslah engkau semua, lakukanlah yang sederhana saja -jikalau tidak kuasa melakukan yang sesempurna-sempurnanya, bergembiralah (untuk memperoleh pahala, sekalipun sedikit, juga mohonlah pertolongan dalam melakukan sesuatu amalan itu), baik di waktu pagi, sore ataupun sebagian waktu malam." (Riwayat Bukhari)

Akibat berlebihan?
Futur bin galau, alias menyebabkan menurunnya iman, yang mungkin malah bisa membuat keadaan kita semakin buruk, padahal tadinya pengen baik, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Setiap amal perbuatan itu memiliki puncak semangatnya, dan setiap semangat memiliki rasa futur.” (HR.Ahmad)
Intinya, jangan berlebihan, sederhana dan semampunya,
Wallahu a'lam bishowwab

Wa billahi taufiq wal hidayah


Referensi: Riyad-us-Saliheen chapter 14 Bab Berlaku Sedang Dalam Beribadah


Read More

Sabtu, 16 Juni 2012

Babi, Zero Waste, dan Kapitalisme



Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Pada kesempatan kali ini insya Allah kami akan membahas tentang Babi, Zero Wasting, dan Kapitalisme. Tema ini kami angkat setelah kami menemukan sebuah tulisan dalam sebuah buku berjudul 'Haram bikin Seram'. Tema yang kami angkat ini adalah hal yang sudah banyak diketahui masyarakat, namun tidak ada salahnya jika tema ini kami angkat kembali disini. Sebelum itu, silahkan perhatikan gambar yang kami tautkan diatas.

Tentang halal dan haram ini adalah topik yang tak pernah ada habisnya untuk dibahas. Padahal, sebenarnya hal ini sudah jelas, seperti apa yang disabdakan Rasulullah,

Dari Abu Abdillah an Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar, belum jelas) yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Maka barangsiapa yang menjaga (dirinya) dari syubhat, ia telah berlepas diri (demi keselamatan) agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam syubhat, ia pun terjerumus ke dalam (hal-hal yang) haram. Bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, maka hampir-hampir (dikhawatirkan) akan memasukinya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap penguasa (raja) memiliki kawasan terlarang. Ketahuilah, sesungguhnya kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkanNya. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, (maka) baiklah seluruh tubuhnya. Dan apabila segumpal daging tersebut buruk, (maka) buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati". [HR al Bukhari dan Muslim].

Ini adalah cerminan sifat Ar-Rahim Allah kepada kita, karena kita telah diberikan kesempatan untuk mengetahui hal-hal yang tidak boleh untuk kita langgar. Dengan begitu, kita tahu batasan-batasan yang akan menjauhkan kita dari siksaan api neraka. Satu hal yang menarik yang perlu kita pikirkan bersama, bahwa hal-hal yang haram ini sebenarnya jauh lebih sedikit daripada yang haram. Baik itu dalam hal makanan, maupun dalam hal perbuatan, dll. Tentu, kita tahu bahwa dalam hal makanan, kita dilarang untuk memakan babi, binatang buas, darah yang mengalir, bangkai, dll. Untuk hal perbuatan kita dilarang mencuri, menipu, mengambil uang riba, menjual diri, dll. Tentu, hal-hal yang diatas kita tahu konsekwensi dan bahayanya. Karena itulah Allah melarang hal-hal tersebut.

Namun, yang patut jadi beban pikiran kita adalah kuatnya dominasi sistem kapitalisme yang ada saat ini. Yang paling parah adalah menghalalkan segala cara, dan yang juga tak kalah jarang kita temukan adalah prinsip zero waste, yakni untuk hal-hal yang sedikit bisa menjadi  fungsional dan menimbulkan ketergantungan. Salah satu contohnya adalah apa yang kami paparkan pada foto diatas, yakni tentang hampir dalam seluruh tubuh babi, bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi yang sangat efisien dan tentu menguntungkan.

Kulit dan tulangnya bisa digunakan untuk memproduksi gelatin. Dan perlu kita ketahui, dalam dunia industri, gelatin termasuk produk yang multi fungsi. Karena gelatin bisa digunakan sebagai bahan pengisi, pengemulsi, pengikat, pengendap sekaligus menambah zat gizi. Karakternya yang lentur dapat membentuk lapisan tipis elastis fiilm transparan yang kuat dan daya cernanya yang tinggi. Fungsi-fungsi yang lain juga dapat anda lihat pada gambar diatas.

Zero Waste

Lalu, apakah itu Zero Waste? Zero Waste sendiri adalah semua pemikiran atau pemahaman yang ditemukan pada abad ke 21. Hal ini merupakan sebuah sistem tentang pemanfaatan atau daur ulang dari sampah-sampah yang tidak digunakan dari masyarakat. Sistem ini memaksimalkan daur ulang, dan mengurangi sampah, mengurangi penggunaan dan memastikan bahwa sebuah produk itu dapat digunakan berkali-kali, diperbaiki, atau dikembalikan ke alam atau pasar untuk dikonsumsi.

Sebagai orang yang beriman, tentu kita akan senantiasa mencari ridha Allah. Karena itulah, kita insya Allah akan berusaha untuk menjaga diri dari hal-hal syubhat tersebut. Menjaga makanan dan kosmetik adalah salah satu hal yang bisa lakukan untuk menjaga diri dari hal tersebut. Alhamdulillah, di Indonesia ada badan khusus yang sudah menangani masalah ini, yakni MUI(Majelis Ulama Indonesia) dan memberikan label halal pada setiap produk yang aman dikonsumsi. Namun, bagi mereka yang berada di luar negeri misalnya, hal seperti ini sangat beresiko, mengingat kita bukan ulama yang ahli dalam bidang tersebut.


Mungkin hanya ini yang bisa sampaikan.

Wa billahi taufiq wal hidayah
Read More

Minggu, 10 Juni 2012

Mengapa Islam Terlalu Banyak Larangannya

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Mengapa dalam Islam terlalu banyak haram? Aku ingin mencintai Islam, tapi aku ingin jalan dengan lawan jenisku (ikhtilat), aku ingin pacaran, aku ingin minum-minuman keras, dll. Aku ingin menjadi seorang muslim yang percaya bahwa tiada sembahan selain Allah, aku percaya pada Al-Qur'an, aku percaya pada Rasulullah, tapi aku ingin menikmati hidupku, hidup ini hanya sekali.

Lalu pertanyaannya, haruskah kita menoleransi hal-hal diatas? Mungkin kami akan bertanya balik pada anda, ketika anda sedang berada dalam situasi orang yang sedang ujian. Tentu, kita bisa melakukan kecurangan, entah itu menyontek, entah itu membuka buku catatan secara diam-diam, ada juga yang buka google dalam keadaan ujian, dll. Itulah yang sedang kita jalani sekarang, kita sedang menghadapi ujian. Disinilah fungsi Iman kepada hari Akhir. Dengan begitu, kita yakin bahwa dilarangnya ini dan itu akan ada manfaatnya untuk kehidupan kita kelak. “Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”(HR. Muslim) Kita yang ada saat ini hanya sementara, dan kita akan mendapatkan penghakiman kelak. Apakah kita bisa lulus atau tidak, kalau kita ketahuan menyontek apa yang akan dilakukan guru kita? Tentu kita akan digagalkan dalam mata kuliah itu. Sama seperti hidup di dunia ini, ketika kita ketahuan(dan pasti ketahuan karena Allah yang Maha Tahu) maka jelas amal buruk kita dapat membawa kita ke dalam api neraka Jahannam.

Selain itu, ketika Allah mengharamkan sesuatu, itu sudah pasti buruk. Apakah harus dibuktikan? Itu tidak perlu. Yang kami yakini, jika sesuatu mempunyai kebaikan, Allah telah menghalalkannya. Jika sesuatu buruk, Allah pasti akan mengharamkannya, atau jika ada sesuatu yang memiliki kebaikan, namun keburukannya lebih banyak maka hal ini diharamkan  oleh Allah. Minuman keras, memiliki manfaat bagi sebagian orang, misalnya untuk orang yang berada di negara dingin, namun ternyata dampak buruknya lebih mendominasi, karena itulah minuman keras diharamkan.


Allah tidak mungkin melarang kita untuk melakukan sesuatu jika hal tersebut bisa memberikan kegunaan bagi kita. Untuk contoh logis, cobalah beli sebuah mobile phone. Tentu, didalamnya terdapat sebuah buku manual. Nah, di dalamnya pasti ada aturan-aturan seperti 'jangan kena sinar matahari', 'jangan dibanting', dll. Dan bila sampai terjadi apa- apa pada handphone tersebut dan rusak, apakah anda berpikir pihak penjual mau mengurusinya secara cuma-cuma karena garansi? Tentu tidak, karena kita tidak menggunakannya sesuai dengan manualnya. Sama dengan hidup ini, banyak aturan-aturan di dalamnya. Dan aturan-aturan itu ada agar kita menaatinya. Tentu saja, aturan yang paling tinggi kedudukannya adalah Sunnah Rasulullah dan Hukum Allah yang terdapat dalam Qur'an. Jadi, bila terjadi sesuatu ketika kita melanggar sunnah rasul dan hukum Allah, janganlah menyalahkan siapa-siapa melainkan diri kita sendiri.

Dan terakhir, beberapa orang akan berkata seperti ini, "Kalau ini memang haram, mengapa Allah menciptakannya?" Disitulah ujiannya, tentu saja di dalam tes, guru tidak akan sampai hati bila harus menggeledahmu untuk memastikan kau tidak membawa catatan ke dalam ujian. Barangsiapa yang baik, tentu tidak akan menggunakan catatan, atau cara-cara curang lainnya. Karena tes tidak akan lengkap tanpa cobaan yang banyak. Dan tentu saja, Semakin berat tesnya, semakin besar balasannya kelak. Tanpa usaha, apa yang akan diberikan pada anda? Tidak ada, wahai saudaraku. Bagaikan orang yang tidak bekerja, mereka tidak akan ada bekal atau gaji untuk dijadikan biaya hidup. 

Semoga Allah senantiasa menuntun kita berada di jalan yang lurus, jalan yang Allah beri nikmat, jalan para Salafush shalih yang mereka telah ridha pada Allah, dan Allah juga telah ridha kepada mereka.

Wa billahi taufiq wal hidayah

Read More

Sabtu, 09 Juni 2012

Islam, Pemuda, dan Egoisme (Ketika Kau Mulai belajar Islam)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Berikut ini akan kami paparkan sebuah tulisan tentang para pemuda muslim. Yakni, mereka yang sedang melakukan jalan spiritualnya dalam mencari Allah. Pemuda pada umumnya menyenangi party-party, senang-senang, foya-foya atau semacamnya. Namun, beberapa dari mereka di dalam masa hidupnya tiba-tiba menemukan sesuatu yang bisa mencerahkan hati mereka. Akhirnya, mereka pun mulai serius dalam menimba ilmu agama. 

Pada saat mereka mulai menimba ilmu Islam, dan mereka akan menjadi sangat serius. Mereka mulai dengan menemukan guru, kadang guru mereka adalah seseorang yang berilmu, kadang guru mereka sebuah video di Youtube, kadang guru mereka sebuah rekaman kajian, kadang juga guru mereka sebuah website. Intinya mereka merasa menemukan sesuatu yang menggairahkan. Namun, kadang ada hal buruk yang terjadi pada mereka, yakni mereka menjadi merasa aneh ketika melihat ke sekitar mereka, mereka jadi merasa berbeda dengan mereka, dan merasa apa yang ada di sekitar mereka tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, mereka merasa apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan yang diajarkan. Mereka "Mengerti tentang Islam", tanpa mengerti "Siapa saya" sebelumnya. 

Akhirnya mereka merasa stress kepada orang yang ada di sekitar mereka, terutama keluarga mereka. Tidaklah perlu mengambil contoh dari mereka yang keluarganya berasal dari Non-muslim, tapi ambil saja dari mereka yang berkeluarga dengan muslim. Dan mereka ini akan berubah menjadi kaku dan keras. Setelah keluarga, hal ini akan menjalar ke arah "Teman". Ya, mereka akan menjadi orang yang keras, dan mulai berbeda pendapat dengan teman-teman mereka. Karena mereka tidak menjalani perjalanan spiritual yang sama dengan teman-temannya tersebut. Akhirnya, mereka akan berubah menjadi kaku dan keras, dan tidak ingin menoleransi apapun lagi. Akhirnya, mereka akan merasa yang paling benar, sedangkan orang disekitar mereka adalah orang yang salah.

Ada banyak penyebab terjadinya hal ini. Pertama, mereka merasa sedang melakukan "Amar ma'ruf Nahi Mungkar" yakni menganjurkan kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Mereka akan mulai memberi tahukan tentang ayat-ayat, hadits-hadits, dan merasa mereka memberitahukan seseorang sesuatu yang benar. Dan mereka luput memikirkan bahwa banyak sekali hal yang terjadi selain apa yang mereka katakan. Mereka tidak mempertimbangkan segala sesuatunya untuk mengeluarkan kata-katanya. 

Coba anda pikirkan, misalnya ketika mereka yang dulunya seorang preman, atau yang sejenisnya, lalu tiba-tiba belajar Islam, dan menjadi orang yang religius, yang dulunya preman yang selalu menjadi pusat perhatian orang lain, dan hal ini terus berlanjut ketika mulai serius, hal yang mereka lakukan adalah menunjukkan 'kelebihan' mereka, namun dalam aspek yang berbeda, yakni dalam hal-hal yang religius. Seakan-akan mereka ingin mengatakan, "Orang lain tidak tahu apa-apa tentang Islam, saya tahu banyak tentang Islam, biarkan saya menunjukkan bagaimana kita seharusnya menjadi umat yang beragama". Dan hal ini mulai membuat mereka menjadi sombong dan egois tentang Islam. Mereka lupa, bahwa ilmu ini ada agar kita semakin merendahkan diri kita, bagaikan padi makin berisi makin merunduk. Dan mereka malah memperburuk nilai Islam, untuk menunjukkan keegoisan mereka. Tapi, perlu kita ingat bahwa hal ini tidak hanya terjadi di kalangan pemuda, tapi juga orang-orang tua. 

Pernahkah anda berpikir, "Tanpa adanya saya, orang ini tidak akan mungkin mendapatkan petunjuk, dsb", jika anda pernah berpikir seperti itu, maka anda akan berada pada masalah yang serius. Karena hal seperti ini adalah penyakit. Mengapa? Coba anda pikirkan, ketika anda berpikir seperti ini, ini berarti anda memikul beban keIslaman seseorang di tangan anda seorang. Islam tidak membutuhkan orang lain lagi. Padahal Islam ini adalah milik Allah, kita memang membutuhkan Allah, tapi Allah tidak pernah membutuhkan kita. Hal ini penting untuk kita sadari.

Mirisnya, hal ini adalah hal yang ada pada dada-dada mereka yang terlihat shaleh, berbicara layaknya orang shaleh, mereka adalah orang yang berilmu. Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari perilaku yang demikian. Mengapa, karena mereka terlihat begitu dari luar, namun di dalam terdapat egoisme. Terdapat penyakit dalam hati mereka. Namun, percayalah, ketika kau melihat rendah kaum muslimin yang lain, tidak peduli seberapa buruk mereka, maka ketahuilah di dalam hatimu terdapat sifat kibr atau sombong. Padahal Rasulullah bersabda, 
“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Bahkan bisa jadi hal ini lebih buruk dari mereka yang melakukan maksiat secara terbuka, seperti minum-minum, berjudi, dll. Mengapa? Karena ketika mereka melakukan maksiat, maka hal ini mudah untuk mereka lihat, tapi hal yang yang kami sebutkan diatas adalah hal yang tidak kelihatan. Well, mereka yang melakukan maksiat sudah pasti dihukum. Apakah mereka yang bersifat sombong merasa mereka tidak akan disiksa? Tidak, mereka juga akan disiksa. Mengapa ini adalah masalah yang besar? Karena kita tidak bisa merasakannya, karena hal ini adalah dosa yang tidak mampu kita lihat dengan mata kepala kita. 

Islam ini diturunkan untuk menjadi obat penawar untuk menyembuhkan diri kita masing-masing. Kalau ada yang harus dirubah dan diperbaiki, maka hal itu adalah diri kita, bukan orang lain, bukan organisasi lain. Allah berfirman dalam surah At-Tahriim ayat 6: 
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu"
Jadi perbaikan itu dimulai dari diri kita, lalu pada keluarga kita, bukan dimulai dengan berdebat pada orang lain.

Mudah-mudahan kita dihindarkan dari hal-hal yang demikian. Semoga dengan adanya tulisan ini, dapat merubah kita ke arah yang lebih baik, dan berusaha untuk menghilangkan rasa ego yang ada di dalam hati. Karena tidak adalah artinya amalan yang kita lakukan, jika rasa ego ini tetap ada dan membakar amalan-amalan yang ada. 

Wa billahi taufiq wal hidayah

Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=xtjwtmjbOKE dan dari pengalaman-pengalaman yang kami alami sendiri


Read More

Tipe-tipe Remaja Muslim

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kami masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menyampaikan sebuah topik yang sangat menarik. Kali ini kami akan membahas tentang pemuda. Seperti kita tahu, pemuda adalah aset berharga dalam suatu komunitas. Mereka, para pemuda ini, juga menjadi representatif dari suatu masyarakat. Mengapa? Karena mereka adalah hasil didikan dari para generasi-generasi sebelum mereka. Tanpa didikan dan perhatian yang baik, maka seorang pemuda akan menjadi penerus yang gagal. Insya Allah, akan kami bahas semuanya di dalam tulisan ini. 

Mungkin, di suatu tempat berkumpulnya para pemuda, atau kadang lebih senang kami sebut majelis, kita akan temukan kumpulan pemuda-pemuda yang rutin untuk mengkaji Al-Qur'an dan hadits. Di sisi yang lain, anda dapat menemukan pemuda 'muslim' yang melakukan hal yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu disini karena saking buruknya perbuatan itu. Mirisnya, golongan inilah yang menjadi mayoritas di dalam kalangan pemuda kaum muslimin. Namun, anehnya mereka tetap berkumpul pada hari jum'at di masjid, tetapi tetap saja mereka tetap akan mengulangi hal-hal buruk tersebut. Dan yang kami maksud bukan hanya mereka yang buruk dalam hal aqidah, atau tentang dalam hal ilmu. Tapi tentang mereka yang buruk dalam hal banyak hal, mulai dari masalah keluarga, gaya hidup, dll.

Karena itu kami akan sebutkan 3 macam pemuda muslim:

1) Remaja yang religius

Mereka adalah remaja yang kalau dilihat dari luar sangat religius. Mereka selalu hadir dalam setiap kajian-kajian yang diadakan di masjid, atau mencari video-video atau rekaman-rekaman kajian dari sumber yang shahih di internet. Mereka sering membaca buku-buku ulama yang telah diterjemahkan, bahkan dari beberapa dari mereka telah fasih berbahasa Arab dan mampu membaca kitab-kitab ulama. Beberapa dari mereka blogging, atau bertanya pada website-website tempat meminta fatwa.

2) Remaja yang rusak

Mereka adalah remaja-remaja yang buruk. Ketika anda bertemu dengan mereka, anda tidak dapat membedakan apakah mereka muslim atau bukan. Dan kata2 dzikir, yang sering anda ucapkan, mereka tidak tahu dan tidak ada artinya bagi mereka. Ketika anda bawa mereka kepada ulama dan menjelaskan apa tujuan hidup mereka, apa kegiatan-kegiatan mereka, para ulama ini tidak akan percaya kalau mereka seorang muslim. Apakah pemuda seperti ini ada di dalam masyarakat? Ya. Anda bisa banyak temukan contohnya dalam masyarakat.

3) Remaja pertengahan

Mereka adalah remaja yang labil. Mereka adalah pemuda yang tertarik pada Islam, mungkin setelah menonton sebuah video yang mereka temukan, atau mereka yang tiba-tiba menjadi shaleh karena teman-teman disekitarnya adalah orang shaleh. Yaitu pemuda yang tidak konsisten, yaitu mereka yang mendapatkan godaan yang sangat banyak walaupun mereka punya ilmu tentang Islam. Karena mereka punya beberapa ilmu tentang Islam, tapi mereka juga punya banyak ilmu sekuler, hari ini dia melakukan Islam sesuai sunnah, besoknya mungkin mereka tersesat lagi. Tapi, Alhamdulillah, mereka yang seperti ini memiliki kesempatan besar untuk kembali kepada Allah. 


Wahai pemuda, ketahuilah ketika kita mempelajari Al-Qur'an, kita akan berubah, tentu menjadi lebih baik, mulai dari cara hidupmu, caramu berbicara, caramu berpakaian, teman-teman yang kita miliki akan berubah, hubunganmu dengan keluargamu akan berubah menjadi lebih baik...Subhanallah. Tentu dalam menjalaninya akan ada banyak halangan dan rintangan. Karena itu, kita butuh membangun aqidah bersamaan dengan ini. Dan butuh kesabaran dan rasa syukur yang tinggi. Bahkan kita mungkin akan mulai kehilangan teman~, dan ini adalah salah satu cobaan yang berat~. Dan jika bisa melewati semua ini dengan kesabaran, Allah akan membukakan pintu hidayahNya untukmu, mencari kebenaran yang sesungguhnya bukanlah hal yang mudah. Dan jika kita kehilangan sesuatu, maka ingatlah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik...Subhanallah. Dan setelah itu, kita akan mendapatkan teman yang jauh lebih baik. Jika kita benar-benar serius mencari hidayahNya, dan kita bersabar, Insya Allah kita akan merasakan ketenangan. Ketahuilah, jalan menuju surga itu tidak mudah.

Alhamdulillah, walaupun para pemuda-pemuda kategori kedua tadi buruk, namun masih dapat kita temukan di masjid-masjid ketika melaksanakan shalat jum'at dan Ied. Event yang satu ini adalah event spesial, yang kita kadang tidak perlu untuk melakukan apa-apa, mereka akan muncul di masjid dengan sendirinya. Beda dengan kajian-kajian, kita harus menyebarkan ini dan itu, informasi-informasi berupa selebaran, email, facebook, dll. Allah sudah merencanakan ini sedemikian rupa. Mengapa? dengan begitu mereka tetap bisa mengenal Islam, deen mereka ini, tidak peduli seberapa buruk dan seberapa rusak mereka. 

Dan hal buruk yang terjadi dalam remaja 'religius', Apakah itu? Yakni, perbedaan ideologi yang tertanam di kepala mereka. Karena mereka 'remaja' biasanya mereka akan terbagi seperti halnya geng, karena di kalangan pemuda ini adalah hal yang biasa. Yang menjadi masalah adalah ketika mereka menjadi religius. Yang terjadi adalah mereka akan menjadi orang yang saling membedakan. Mereka akan mengatakan si A dari kelompok A, dan si B dari kelompok B. Mereka buruk, saling mencela dan saling memvonis. Mereka tidak mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran. Mereka berkompetisi dan merasa diri paling benar, tanpa mampu membuktikan bahwa apa yang mereka katakan bersumber dari Qur'an dan Sunnah atau tidak. Akhirnya mereka membuat barrier/benteng antara mereka dan saling menjauhi, naudzu billahi min dzalik. Apakah sebenarnya penyebab dari semua ini? Penyebabnya adalah karena mereka terlalu terburu-buru dalam mencari ilmu. Dari organisasi-organisasi yang ada saat ini, anda boleh tanya kajian-kajian di dalamnya. Kadang kajian yang ada di dalamnya terlalu berat bahkan tidak pantas untuk disajikan kepada seorang pemuda. Inilah yang menjadi penyebab utama kehancuran dalam umat muslim. Padahal sebenarnya ajaran Islam itu mudah dan gampang tanpa harus mempersulit. Kita hanya perlu menumbuhkan rasa takut dan taat kepada Allah, dan ikut Rasulullah. Itu sudah cukup, setidaknya untuk mereka yang masih remaja.


Kami sarikan dari kajian ini http://www.youtube.com/watch?v=AU1XFry6ixg. Silahkan tonton selengkapnya disini 


Wa billahi taufiq wal hidayah





Insya Allah bersambung
Read More

Jumat, 08 Juni 2012

Ketika Seseorang Melarangmu untuk Shalat Wajib (Termasuk Shalat jum'at)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Pada kesempatan kali ini kami ingin menuliskan potongan ayat, yakni ayat tentang seseorang yang melarang untuk shalat. Sebenarnya ayat ini tiba-tiba terlintas di kepala kami setelah mendengar cerita seorang da'i, yang waktu itu kesulitan untuk melakukan shalat jum'at. Waktu itu, shift kerjanya adalah setiap hari dengan jeda pukul 12-1 siang, yakni waktu istirahat siang untuk para pekerja. Namun, tentu adalah harapan bagi seorang muslim untuk mendapatkan waktu tambahan pada hari jum'at untuk melakukan shalat jum'at. Namun ternyata, bos dari da'i tersebut. Waktu itu, beliau menjadi da'i, dan beliau sempat tinggal di Amerika, tepatnya di Los Angeles. Tentu, tidak mudah baginya untuk meyakinkan seorang bos bahwa shalat jum'at adalah kewajibannya. Awalnya dia merasa enjoy-enjoy saja, karena dia tidak tahu bahwa shalat jum'at adalah kewajiban mutlak seorang muslim. Namun, semua berubah ketika dia mendengarkan sebuah hadits, Dari Usamah bin Zaid Radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda:
“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at tanpa ‘udhur, maka dia dicatat dalam golongan orang-orang munafiq” (Shahih Ath-Thabrani)

Beliau juga sempat menyebutkan tentang ayat yang akan kami sampaikan berikut ini:


Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰٓ8
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يَنْهَىٰ9
seorang hamba ketika dia mengerjakan salat,عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰٓ10
bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,أَرَءَيْتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلْهُدَىٰٓ11
atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?أَوْ أَمَرَ بِٱلتَّقْوَىٰٓ12
Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?أَرَءَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ13
Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ14
Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِٱلنَّاصِيَةِ15
(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.نَاصِيَةٍۢ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍۢ16
Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),فَلْيَدْعُ نَادِيَهُۥ17
kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,سَنَدْعُ ٱلزَّبَانِيَةَ18
sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan),كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب ۩19



Menurut Ibnu Katsir Rahimahullah, ayat ini diturunkan ketika Abu Jahl mengancam Nabi Shallalahu 'Alaihi Wassalam pada saat beliau ingin melakukan shalat di baitullah. Kemudian Allah menasehati Rasulullah melalui ayat ini. Dan pada firman Allah pada ayat terakhir bermaksud untuk mengingatkan Rasulullah agar tidak mentaati larangan itu. Lalu dilanjutkan dengan perintah agar tetap shalat sekehendak hati beliau dan tidak perlu memperdulikan Abu Jahl, karena Allah telah menjamin keamanan beliau pada ayat-ayat sebelumnya. Dalam Sebuah riwayat juga disebutkan,

Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa tentang ayat : ‘Kami akan memanggil malaikat Zabaaniyah’ (QS. Al-’Alaq 18), ia berkata : “Abu Jahl berkata : ‘Apabila aku melihat Muhammad sedang melakukan shalat, niscaya akan aku injak lehernya’. Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : ‘Seandainya ia melakukannya niscaya para Malaikat akan menyambarnya dengan jelas” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Dengan mengetahui hal ini, apakah hal-hal yang bisa membuat kita melalaikan shalat jum'at ketika kita tidak ada udzur? 

Billahi Taufiq wal Hidayah


Read More
Diberdayakan oleh Blogger.