Sabtu, 21 Juli 2012

Mengapa Bulan Ramadhan Saya Terasa Biasa-Biasa Saja

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.


Tidak jarang, kita merasa bahwa ramadhan kita kok rasanya biasa-biasa saja. Setelah itu, kita berharap bahwa ramadhan kita akan berbeda dari biasanya. Dan entah mengapa, setelah beberapa waktu, anda kembali mengingat, mengapa ramadhan saya kali ini rasanya tetap sama dengan yang lalu, bahkan lebih buruk. Ini biasanya terjadi karena ada suatu kesalahan. Ada dua kemungkinan:
1. Ada yang salah dengan apa yang dijanjikan Allah


2. Ada yang salah dengan diri kita.


Apakah mungkin ada suatu hal yang salah dengan apa yang dijanjikan Allah? Rasanya tidak mungkin. Allah berfirman, Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Al-Ankaabut ayat 69). Jika kita belum mendapatkannya, kita tidak berpikir negatif tentang Allah, tetapi mencari masalahnya pada diri kita sendiri.

Maksudnya adalah kita harus mencari sebab mengapa bisa ini sampai terjadi. Dan hal itu terjadi karena lemahnya iman kita. Kami tidak mencoba menggeneralisasi, karena masih ada orang di luar sana yang begitu istiqamah, sehingga dia sama sekali tidak tergoda. Namun, jika kita bicara secara garis besar, banyak diantara kita merasakan hal ini karena lemahnya iman kita.



Bagaimana mungkin bisa kita menganggap bahwa iman kita lemah? Coba anda pikirkan, bagaimana mungkin kita yang tidak pernah sama sekali perduli kepada iman kita sepanjang tahun sebelum ramadhan, dan tiba-tiba berharap agar diri kita menjadi shaleh pada saat ramadhan? Tidak jarang kita berharap keajaiban terjadi saat ramadhan, hanya karena syaithan dibelenggu, maka kita akan menjadi orang yang shaleh, bahkan mungkin kita mengharap menjadi seorang syeikh. Dan semua ibadah yang anda rencanakan akan berjalan dengan lancar pada bulan ramadhan. Ini adalah pemahaman yang salah. Benar, Allah mampu membuat seseorang berubah secara ajaib dan kita meyakini itu. Namun, hal itu terjadi jika Allah berkehendak. Dan Allah memberikan hal tersebut kepada mereka yang berusaha untuk hal tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, ada orang yang sepanjang tahun berakhlak buruk, dan tiba-tiba saat ramadhan dia menjadi orang yang baik. Kita tidak dapat memungkirinya. Namun, hal ini juga tidak terlepas dari usaha orang tersebut untuk itu. Tapi, tidak jarang kita mengira hal ini akan terjadi begitu saja, karena itu kami katakan bahwa ini adalah pemahaman yang salah.



Kelemahan iman ini terjadi karena ada kekosongan atau penghalang antara kita dengan Allah, dan tentu hal tersebut harus kita isi dan tutupi kekurangannya agar kita bisa kembali mendekat kepadaNya. Satu-satunya cara untuk mengisinya adalah dengan melakukan apa yang telah Allah perintahkan dalam Qur'an dan Sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berdasarkan pemahaman para sahabat Rasulullah dan para pengikutnya.


Sekarang, maukah anda menangis dalam shalat, menangis saat membaca Qur'an, atau menikmati puasa? Apakah anda ingin mendapatkan manfaat dari ramadhan ? Jika ingin maka niatkan diri anda untuk berubah. Selain itu, penting bagi kita untuk belajar Islam. Belajar dari sumber-sumber yang shahih. Setelah itu, kita aplikasikan apa yang kita ketahui sesuai dengan kemampuan kita. Dan tetap memperbaharui iman kita. Insya Allah, anda akan menjadikan ramadhan kali ini lebih bermakna. Selamat menuju perubahan yang lebih baik. Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayahnya kepada kita.


Wa billahi taufiq wal hidayah
Read More

Kamis, 12 Juli 2012

Ramadhan di Jepang

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.


Tak terasa, bulan ramadan semakin mendekati kita, tinggal satu pekan lagi kita akan menjemputnya. Karena itu, kami akan mencoba untuk menjabarkan banyak hal tentang berpuasa selama di Jepang. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi kami menerima komentar dari saudara-saudari kaum muslimin sekalian.
Tantangan selama berada di Jepang!!!


Kami membaginya dalam 4 bagian, yang pertama adalah lingkungan yang terisolasi. Dimana seorang muslim akan serasa berada dalam keasingan, dikarenakan lingkungan yang mayoritas non-muslim. Tentu hal ini sangat berbeda jauh ketika kita berada di negara Muslim, seperti Indonesia, Malaysia, Timur Tengah, dll. Yang kedua adalah lingkungan yang sangat menggoda atau dapat menggoyahkan iman kita. Seperti kita tahu, bahwa sebagian besar penduduk di Jepang adalah non-muslim, dan yang menjadi masalah adalah, ketika ramadhan tiba, bertepatan dengan musim panas, yang secara tidak langsung, mau tidak mau, para wanita akan menggunakan pakaian minim,tipis, berpakaian tapi telanjang yang akan anda temukan dimana-mana, entah itu di mall, di kampus, di jalan, atau dimanapun.Yang ketiga adalah tidak ada toleransi dalam pekerjaan. Seperti kita tahu, di Indonesia pada bulan ramadhan biasanya jam-jam kantor dikurangi, dan para pegawai dapat pulang ke rumah dengan cepat. Yang keempat, adalah cuaca panas dan kelembapan tinggi. Bisa dibilang ini adalah cobaan yang pasti dirasakan oleh semuanya, tanpa terkecuali. Karena cuaca panas ini meliputi seluruh kota. Ditambah lagi dengan regulation about 28 degree*tapi kebanyakan orang melanggar kok*.
Berkah di Jepang!!!


Jangan salah, selain cobaannya berat, berada di Jepang juga ada berkahnya. Nah, untuk yang satu ini, beliau membaginya juga menjadi 4 bagian. Yang pertama, adalah kesadaran diri. Satu hal ini yang menurutku emang paling penting. Seperti kita tahu, kalau kita berada di Indonesia, kadang ada saja hal-hal yang membuat kita ingin membatalkan puasa. Jadi puasa kita itu hanya karena malu sama orang lain. Ih masak malu sama orang lain, tapi gak malu sama Allah. Nah, untuk itu, berada di Jepang melatih diri kita untuk berpuasa benar2 ikhlas karena Allah. Bukan karena menjaga image dari orang - orang. Ingat, ibadah karena manusia = riya = syirik kecil. Yang kedua, banyak kemudahan, apa maksudnya? yah seperti kita tahu, di Jepang teknologinya mantap, dan hal - hal seperti ini lah yang merupakan kemudahan bagi kita selama berpuasa. Contohnya, lampu yang berada di kampus saya itu ada yang otomatis nyala bila waktu maghrib telah tiba, so sebenarnya kita gak perlu capek2 liat jam atau apapun, cukup jadikan itu sebagai patokan. Dan juga mesin penjual minuman ada dimana-mana, kombini juga, so banyak kemudahan yang Allah berinyakan juga. Yang ketiga, kesempatan berdakwah, mengapa?Kalau di Indonesia, dakwah tentu bukan kewajiban buat kita, karena jelas banyak yang kemampuan berdakwahnya jauh diatas kita. Beda dengan ketika berada di Jepang. Kita sebagai seorang muslim, wajib untuk menyebarkan agama yang haq ini.Yang keempat, alam yang indah. Tak perlu diragukan lagi, indahnya bunga sakura dan gunung fuji yang menjadi ciri khas jepang, membuatku tak perlu menjabarkan berkah yang satu ini.
Tingkatkan Taqwamu!!!


Salah satu hal yang bisa mengingatkan kita agar senatiasa beriman dan bertaqwa pada Allah adalah dengan mengingat mati. Ingatlah bahwa hidup ini terbatas dan kita harus mempergunakannya sebaik-baiknya.Dan puasa juga salah satu bukti ketaqwaan kepada Allah Subhana Wa ta'ala, sebagaimana dalam firmanNya yang berarti,
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
QS. al-Baqarah (2) : 183.
Bersemangatlah dalam berpuasa,karena puasa itu......
كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز و جل : إلا الصيام فإنه لي و أنا الذي أجزي به
“Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim no.1151)
“Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.
Sunnah-sunnah di dalam bulan ramadhan.
Pentingnya membaca qur'an.


Mengapa? Simak hadits ini
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
Bacalah Al Qur'an, krn Al Qur'an membawa syafaat bagi yg membacanya di yaumil qiyamahjuga hadits yang ini
“Artinya : Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dia mendapat satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat, saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf”dan yang satu ini penting untuk mereka yang masih belajar dalam membaca, serta terbata-bata dikarenakan lidah yang tak terbiasa,
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اَلْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَ الَّذِيْ يَقْرَؤُهُ وَ يَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَ هُوِ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Seorang yang pandai dalam Al-Quran akan bersama dengan para malaikat yang mulia lagi taat, dan seorang yang membaca Al-Quran dengan tersendat-sendat (terbata-bata) dan merasa keberatan maka baginya dua pahala.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Adapun mengenai do’a berbuka yang biasa tersebar di tengah-tengah kaum muslimin: “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu….”, perlu diketahui bahwa ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta oleh para ulama pakar hadits. (Lihat Dho’if Abu Daudno. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy)dan doa yang disunnahkan adalah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka membaca,
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah [Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah]” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dan, sebagai kesimpulan, kita harus menyambut kedatang bulan ramadhan, yang mungkin tidak akan kita jumpai lagi di Tahun depan dengan mengingat hal-hal berikut ini,
  • Bahwa ramadhan adalah bulan penuh berkah,
  • Bahwa ramadhan adalah bulan pengampunan bagi hamba Allah,
  • Bahwa ramadhan adalah seperti pendidikan selama satu bulan bagi kita sebagai ujian
Demikianlah yang dapat kami sampaikan pada tulisan kali ini. Semoga bermanfaat,
Wa billahi taufiq,
Wassalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Read More

Minggu, 08 Juli 2012

Bila Hati Tak Terikat

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Bagaimana rasanya jika hati ini tidak terikat akan sesuatu? Kesepian? Tanpa arah? Hampa? Mungkin itu hanyalah satu dua patah kata yang bisa menggambarkan rasanya tidak terikat pada sesuatu. Lalu, seandainya hati ini sudah terikat pada sesuatu, apakah sudah cukup menghilangkan rasa kesepian? Apakah sudah cukup untuk menjadikan hal tersebut arah tujuan hidup? Apakah itu sudah cukup untuk menghilangkan kehampaan dalam hati? Jawabannya adalah belum tentu. Karena tidak semua ikatan dapat menghidupkan hati anda.

Menikah? Mungkin banyak diantara para remaja yang belum menikah. Kadang merasa kesepian, tanpa arah, juga merasa hidup ini hampa. Tapi, tidak jarang banyak diantara kita yang berpikir seperti ini. Juga tak jarang kita berpikir, bahwa kita masih memiliki orang tua, keluarga besar, dsb. Bagaimana dengan mereka yang hidup sebatang kara? Atau bagaimana kalau orang-orang yang kita miliki itu dipanggil oleh yang maha kuasa? Mungkin pemikiran ini sudah terlalu jauh. Tapi, segala kemungkinan bisa terjadi bukan? Bukankah Allah maha kuasa atas segala sesuatunya. Namun, bukan ikatan ini yang kami maksud. Ikatan kepada keluarga atau orang yang kita sayangi ini tidak akan cukup membuat kita sukses dan bahagia yang sesungguhnya. Alasannya simpel, karena itu semua tidak kekal dan abadi selamanya.

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.(Ar- Rahman 26-27)

Lalu, ikatan pada apa yang membuat kita akan membuat kita sukses dan bahagia selamanya? Yakni, ketika hati ini terikat pada Allah. Tidak mudah memang, karena tidak semua orang mendapatkan hidayah. Tidak jarang pula, mereka yang telah 'terikat' hatinya, tapi akhirnya terlepas ikatannya. Ini semua karena hidayah ini begitu langka. Tidak semua orang bisa mendapatkannya. Tidak semua orang yang mencari petunjuk, bisa mendapatkannya dan mempertahankannya. Jika kita masih dalam keadaan mendapatkan hidayah, bersyukurlah. Itu adalah hal yang langka. Ketika kau berkata tentang kebenaran pada seseorang, belum tentu dia mendengarkan perkataanmu. Mengapa? Karena belum adanya hidayah padanya, hatinya belum terikat pada Rabbnya. Karena itulah, begitu pentingnya mengikat hati pada Allah. Orang yang hatinya tidak terikat pada Allah, mereka akan terjebak oleh maksiat dan syubhat. Hati yang tidak terikat bagaikan hati yang sakit, hati yang tak tersentuh oleh cinta, cinta kepada Allah. Orang-orang yang hatinya tidak terikat ini bagaikan orang sakit yang selalu menghindari dokter, karena takut diberikan obat atau perawatan, karena tidak mau melewati proses sakitnya pengobatan, untuk mendapatkan kesembuhan setelah itu. Mereka memilih untuk berada dalam keadaan sakit selamanya, karena merasa tubuhnya kuat untuk itu. Inilah orang yang terlalu percaya diri, berakhir dengan sifat sombong tertanam dalam hati mereka. 

Lalu, bagaimanakah mengikat hati itu? Mengikat hati pada Allah itu banyak caranya. Dan sabar adalah kunci utamanya. Para ulama membagi sabar kedalam tiga jenis:
1. Sabar dalam mentaati/beribadah kepada Allah
2. Sabar dalam menjauhi larangan Allah/melawan hawa nafsu
3. Sabar dalam menerima takdir yang diluar kuasanya
Dengan bersabar untuk melaksanakan hal-hal diatas, akan menumbuhkan cinta Allah kepada kita, dan juga menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah dengan perlahan-lahan, baik sadar ataupun tidak sadar. Karena Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, 

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku maka Aku akan mengingatnya. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan orang, maka Aku akan mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatkan diri kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dalam keadaan berlari.”

Terikatnya hati ini akan melahirkan rasa ketergantungan yang mendalam kepada Allah. Dan dengan begitu Allah akan mencintai kita. Apalagi yang kita butuhkan selain Allah mencintai kita? Sesungguhnya cinta dari Allah itulah yang utama. Semoga kita tergolong orang-orang yang terikat dan diberikan hidayah olehNya hingga maut menjemput.

Wa billahi taufiq wal hidayah
Read More

Kamis, 05 Juli 2012

Tanabata...Antara Festival dan Kesyirikan...

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Kali ini saya ingin menuliskan sedikit kisah tentang tanabata. Hari kamis lalu, ketika kami sedang siap-siap untuk berbuka puasa, kami masuk ke sebuah ruangan tempat kami biasa makan bersama. Ternyata ada orang yang belajar bahasa jepang, lebih tepatnya ada kursus yang diberikan oleh para volunteer. Ahh, jadi teringat zaman dahulu, waktu itu saya merasa tanabata itu event yang bagus. Kita bisa melihat berbagai macam harapan orang lain yang mereka tuliskan lalu mereka gantung dipohon. Tapi, setelah itu, saya sempat berbicara dengan ustadz saya, dulu beliau juga kuliah di Jepang. Beliau kadang ikut belajar bahasa Jepang di sebuah les-les yang diadakan oleh para volunteer. Lalu kami pun bercakap-cakap.

Saya: Bagaimana menurut pak ** tentang 'tanabata' (saya manggilnya pak karena beliau tidak mau dipanggil ustadz :D ).
Ustadz: Oh iya, beberapa hari yang lalu saya juga ikut les bahasa Jepang, waktu itu dibagikan kertas untuk menuliskan permohonan.
Saya: ohh
Ustadz: Tapi saya kemarin nggak nulis apa-apa.
Saya: Loh kenapa pak?
Ustadz: Hmm, gimana yah, sepertinya hal seperti ini nggak boleh.
Saya: Hmm, memangnya kenapa pak?Ustadz: Yah itu, kan kita harus menuliskan permohonan, sedangkan permohonan itu hanya ditujukan kepada Allah.
Saya: (mangut-mangut) Terus gimana pak?Ustadz: Oh iya, di zaman para sahabat dulu ada yang pernah melakukan hal yang sama. Beberapa orang yang baru masuk islam menggantungkan pedang-pedangnya. (setelah itu saya mencoba mencari ternyata ada haditsnya Dari Abu Waqid Al Laysie, ia berkata: “Kami keluar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain, saat itu kami baru saja keluar dari kekufuran. Orang-orang musyrikin memiliki sebatang pohon yang besar, mereka duduk di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut pohon Dzâtu Anwâth. Lalu kami melewati sebatang pohon yang besar pula. Maka kami berkata:”Ya Rasulullâh jadikanlah untuk kami pohon Zatu Anwâth, sebagaimana mereka memiliki pohon Dzâtu Anwâth!” Rasululâh n pun bertakbîr (Allâhu Akbar) Demi Zat yang jiwaku berada ditangannya sesungguhnya ucapan kalian ini sebagaimana ucapan Bani Israil kepada Musa Alaihissallam: "Jadikanlah untuk kami sembahan sebagaiman mereka memiliki sesembahan! Musa berkata: sesungguhnya kalian kaum yang bodoh". Sesungguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang sebelum kalian"[HR Tirmidzi] )
Saya: Oh begitukah?  
Ustadz: Iya, karena itulah, sebaiknya kita menghindarkan diri dari hal-hal seperti ini.

Selain itu, hal ini juga menjurus kepada kesyirikan, karena hal tersebut adalah tulisan permohonan dengan harapan akan dikabulkan, yang bisa menjerumuskan kita kepada syirik yang tidak kelihatan. Saya juga mencoba mencari ke Wikipedia tentang apa sih tanabata ini, 

Apa itu tanabata?

Tanabata (七夕?) atau Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang, Tiongkok, dan Korea. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Di Tiongkok, perayaan ini disebut Qi Xi. 

Apa yang dilakukan di festival tersebut?


Perayaan dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di tengah malam bintang-bintang naik mendekati zenith, dan merupakan saat bintang Altair, bintang Vega, dan galaksi Bima Sakti paling mudah dilihat.
Kemungkinan hari cerah pada hari ke-7 bulan ke-7 kalender Tionghoa lebih besar daripada 7 Juli yang masih merupakan musim panas. Hujan yang turun di malam Tanabata disebut Sairuiu (洒涙雨?), dan konon berasal dari air mata Orihime dan Hikoboshi yang menangis karena tidak bisa bertemu.
Festival Tanabata dimeriahkan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku atau secarik kertas berwarna-warni. Tradisi ini khas Jepang dan sudah ada sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah, kuning, putih, dan hitam). Di Tiongkok, tali untuk mengikat terdiri dari 5 warna dan bukan kertasnya. Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis.
Kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik.

Mengapa dikatakan syirik?

Pasti orang-orang akan bertanya, "Loh kenapa syirik? Bukankah itu bukan perbuatan menyembah?". Kami akan menjawab, "Apa anda yakin itu bukan suatu perbuatan menyembah? Ketika anda menempel permohonan - permohonan anda di sebuah pohon sebagai sebuah pengharapan, dan apakah anda tahu anda mengharap kepada siapa?Pada Allah? tentu bukan, dan ingatlah pada penggalan ayat yang kita baca setiap harinya,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya: “Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”

Maknanya: “Kami hanya menujukan ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) kepada-Mu.” Di dalam ayat ini objek kalimat yaitu Iyyaaka diletakkan di depan. Padahal asalnya adalah na’budukayang artinya Kami menyembah-Mu. Dengan mendahulukan objek kalimat yang seharusnya di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, ‘Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Ibadah bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Ibadah itu ada yang tampak dan ada juga yang tersembunyi. Kecintaan dan ridha Allah terhadap sesuatu bisa dilihat dari perintah dan larangan-Nya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu dicintai dan diridai-Nya. Dan sebaliknya, apabila Allah melarang sesuatu maka itu berarti Allah tidak cinta dan tidak ridha kepadanya. Dengan demikian ibadah itu luas cakupannya. Di antara bentuk ibadah adalah do’a, berkurban, bersedekah, meminta pertolongan atau perlindungan, dan lain sebagainya. Dari pengertian ini maka isti’anah atau meminta pertolongan juga termasuk cakupan dari istilah ibadah. Lalu apakah alasan atau hikmah di balik penyebutan kata isti’anah sesudah disebutkannya kata ibadah di dalam ayat ini?

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”

Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39).

Lalu bagaimana harus menyikapinya?
Mungkin bisa dengan berterus terang, dan mengatakan bahwa hal ini bertentangan dengan agama kita. Saya yakin, orang Jepang menghormati apapun agama kita, termasuk menjelaskan tentang 'bertentangannya tanabata dengan ajaran agama kita'. Saat inilah ayat 'Lakum dinukum wa liyadin' digunakan, tidak seperti pemahaman orang awam kebanyakan yang menggunakan ayat tersebut pada orang yang pemahamannya berbeda dengannya. 

Tidak usah terlalu ekstrim
Ini hal yang kadang saya dengar dari orang lain ketika menyampaikan sesuatu hal. Memang kebenaran harus disampaikan walau itu pahit untuk diterima. Terus waktu kemarin ada ustadz yang kesini menjelaskan bahwa yang dimaksudkan hadits "aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit," adalah tentang pedagang yang mau menjelaskan keburukan dagangannya. Tapi menurut logikaku, Islam adalah agama haq yang juga sebuah jualan, yang sebenarnya memberikan kebaikan pada yang membeli dan menjual, walau kadang 'tidak sesuai dengan nafsu' sang penjual dan pembeli. Salah, jika kita melarang hal ini kepada orang Jepang yang non-muslim atau yang muallaf tentang hal ini karena mereka dalam masa penyesuaian. Tapi tidak salah, jika kita sampaikan kepada orang Indonesia yang sebelumnya tidak pernah melakukannya. Di Indonesia juga banyak hal-hal yang mengandung kesyirikan tapi kita tidak tahu dan terlalu banyak toleran karena itu sudah menjadi ajaran turun temurun. Wallahul musta'an.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk dan hidayahNya.


Sumber bacaan:

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.