Selasa, 21 Agustus 2012

Kemana ruh kita pergi ketika sedang tidur?

Dalam surah Az-Zumar ayat 42 Allah berfirman, 

"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan All
ah bagi kaum yang berpikir."

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa Allah memegang jiwa-jiwa manusia ketika sedang tidur. Dalam ayat lain, yakni surah Al-An'am ayat 60-61 disebutkan, 

"Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya."

Di dalam 2 ayat diatas, Allah menyebutkan kata wafat 2 kali, yakni pada kata "yatawaffakum" yang diartikan sebagai kata 'menidurkan' pada ayat diatas, juga pada kata "tawaffathu" yang berarti "diwafatkan". Hal ini adalah tentang 2 macam wafat, yakni wafat sementara dan wafat selamanya. Hal ini dijelaskan dalam ayat Az-Zumar ayat 42, "maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan."

Karena itulah, ketika kita tidur, menurut sunnah dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tempat tidurnya, kemudian kembali lagi, hendaklah ia mengibas-ngibaskan kainnya tiga kali (sebelum tibur pada tempat tidurnya). Sesungguhnya ia tidak mengetahui apa yang terjadi saat ia meninggalkannya. Dan apabila berbaring, hendaklah ia membaca : ‘Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, Rabb-ku, aku meletakkan lambungku (tidur), dan dengan-Mu pula aku mengangkatnya (bangun). Apabila Engkau menahan diriku (mati), sayangilah aku. Namun bila Engkau melepaskannya (hidup), peliharalah ia sebagaimana Engkau telah pelihara dengannya hamba-hamba-Mu yang shalih”.

*disarikan dari terjemahan Ibn Katsir Rahimahullah

Wallahu a'lam bishowwab...
Read More

Sabtu, 18 Agustus 2012

Sedikit cerita tentang Ramadhan di Fukuoka, Jepang

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Pada kesempatan kali ini, kami ingin sedikit bercerita tentang pengalaman kami berpuasa di Fukuoka, Jepang. Sangat banyak cerita yang kami dapatkan selama disini. Semua kisah ini berawal dari 1 ramadhan yang buka puasanya kami laksanakan di kampus. 

Biasanya, selama di kampus, kami melakukan buka puasa bersama dengan bermodalkan sumbangan masing-masing orang/grup yang ingin menyediakan buka puasa untuk di kampus.  Mulai dari makanan khas mesir yang dibeli dari toko halal yang ada di kampus, kebab turki yang dipesan jauh-jauh(sekitar 25-35 kilometer dari kampus), bahkan kadang ada masakan khas Indonesia, malaysia, bangladesh, dll. Sayangnya kami luput untuk mendokumentasikannya.

Satu hal yang menarik yang kami alami adalah i'tikaf di masjid An-Nour Fukuoka. Untuk penampakan masjid Fukuoka, mungkin anda bisa langsung mengunjungi websitenya disini. Nah, masjid ini memiliki banyak keutamaan, mulai dari kelas qur'an untuk anak-anak, sampai yang dewasa. Kadang ada program sejenis summer camp juga. Nah, kembali ke masalah i'tikaf, ada banyak cerita di dalamnya. Mulai dari anak-anak yang ribut sampai-sampai dimarahi oleh para pengurus masjid, sampai para peserta yang sangat rajin dalam beribadah karena memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin.

Salah satu hal yang paling digaris bawahi dalam masalah i'tikaf ini adalah masalah shalat Tahajjud. Bagi mereka yang sedang tidur, kadang kami saling membangunkan agar dapat shalat malam. Karena itulah, banyak diantara kami yang melaksanakan shalat malam. Biasanya ada sampai 3 shaf yang melaksanakannya. Bahkan pada malam ke 27 sampai ada 5 shaf. Berikut ini adalah foto yang kami ambil ketika mereka sedang melaksanakan shalat tahajjud:


Peserta Qiyyamul Lail yang sedang sujud

Selain shalat tahajjud, tentu ada sahur yang disediakan oleh pihak masjid untuk kami. Jika bukan berupa sisa dari makanan berbuka, tidak jarang kami diberikan makanan hanya berupa roti, yoghurt, dan campuran tuna,lemon, dan mayonnaise. Berikut salah satu foto makanan sahur yang sempat kami ambil:
Kari Kambing yang dicampur spagheti

Tidak lupa kami juga akan tampilkan apa yang kami nikmati dalam hidangan berbuka puasa di masjid. Sebelum shalat maghrib, biasanya dibuka dengan makanan kecil yang ringan berupa kue atau buah-buahan. Berikut makanan yang biasanya kami konsumsi sebelum maghrib.

Makanan pemecah puasa

Makanan pemecah puasa 2

Sebenarnya ada 5 hidangan, Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Arab, dan Pakistan. Sayangnya kami luput untuk mendapatkan foto untuk makanan Bangladesh. Karena itu yang akan kami tampilkan hanya empat saja. Berikut ini foto-fotonya

Nasi Lemak Khas Malaysia 

Nasi Putih dan berbagai macam lauk khas Indonesia


Makanan berisi penuh daging dari orang Arab 

Nasi Biryani yang dibuat oleh orang pakistan

Tapi sayang, tidak jarang, makanan yang disediakan untuk berbuka puasa terlalu banyak, sampai kadang harus dibuang karena takut basi dan tidak bisa dikonsumsi saat sahur. Padahal masih banyak saudara kita diluar sana yang tersiksa karena kelaparan, bahkan tidak jarang mereka sampai mati karenanya.

Malam ini akan diadakan rikyatul hilal, yang disambung dengan bersih-bersih masjid. Bahkan mungkin akan ada acara bungkus-membungkus makanan untuk anak-anak. Entah, ramadhan ini akan segera pergi menjauh. Banyak cerita yang menarik di dalamnya. Masih harap bisa bertemu dengan ramadhan di tahun depan, dengan persiapan yang lebih baik tentunya.

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua

Wa billahi taufiq wal hidayah

Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Read More

Rabu, 15 Agustus 2012

Seandainya aqidahku baik

Seandainya aqidahku baik, 
tentu aku akan memiliki sifat sabar pada setiap keadaan, 
karena ku tahu semua terjadi karena kehendak Allah...

Seandainya aqidahku baik, 
tentu aku tidak mengharapkan balasan setiap kebaikan yang kulakukan, 
karena kutahu Allah yang akan membalas setiap amalan kebaikan...

Seandainya aqidahku baik, 
tentu aku tidak akan suka riya dan mencari perhatian orang, 
karena kutahu hal itu akan membuat Allah cemburu...

Seandainya aqidahku baik,
tentu aku akan selalu memperbaiki amalan dan ibadahku,
karena aku tahu Allah selalu memperhatikan setiap gerak-gerikku...

Namun aqidahku rusak,
membuatku tidak sabar dan mudah putus asa,
membuatku lupa bahwa Allah yang mengatur segalanya...

Namun aqidahku rusak,
Aku selalu berharap mendapat balasan atas kebaikan dari orang lain,
membuatku lupa bahwa Allah yang bisa memberikan balasan terbaik...

Namun aqidahku rusak,
Kadang aku mencari perhatian orang,
Lupa bahwa Allah murka karena itu...

Namun aqidahku rusak,
Karena kadang ku beribadah dan beramal seadanya,
bagaikan sedang mengabaikan sang pencipta...

Karena itu, yang kubutuhkan adalah memperbaiki aqidah, dengan belajar ilmu, dengan memperbaiki amalan, belajar bersabar, dan yang paling penting belajar ikhlas beribadah karena Allah...
Read More

Senin, 13 Agustus 2012

Ketika saya ingin berhenti belajar Islam

Aku ingin kembali seperti dahulu, 
entah hidup serasa senang,
tak ada yang mengekang...

Aku ingin hidup seperti dahulu, 
mendengarkan musik dan kata2 penuh cinta, 
walau aku tahu konsekwensinya bisa meracuni hati dan menyebabkan luka...

Aku ingin seperti dahulu, 
Tak shalat pun tak perlu pusing,
Tak ada rasa bersalah yang bikin pening...

Tapi, jika ku kembali pada itu semua, 
aku bertanya pada diri sendiri,
apa ada yang berani menjamin surga, 
menjagaku dari siksa neraka yang akan membakarku dengan api...
Read More

Manusia Berpakaian Riya

Akulah manusia berpakaian riya...
Ibadahku yang kau lihat hanyalah kamuflase belaka...
Ku sempurnakan ibadahku didepan banyak orang agar tidak dicela...
Namun di dalam hati yang hanyalah riya...

Akulah manusia berjam tangan riya...
Kau temukanku di pojok sedang memanjatkan do'a...
Seakan aku sedang sungguh-sungguh dalam meminta...
Namun kenyataannya berbeda...

Aku hanya ingin terlihat khusyuk dalam berharap pada sang pencipta...

Akulah manusia berbaju riya...
Kau lihatku shalat dengan tekunnya...
Seakan tak terlihat celah pada gerakannya...
Namun tak ada yang bisa menilai di hati yang tak terlihat oleh mata...
Di dalamnya terdapat rasa harap dipuji oleh manusia...

Akulah manusia berkacamata riya...
Kau lihatku membaca quran dengan dalamnya...
Tanpa kau ketahui, aku berharap seorang wanita mendengarkan bacaanku dengan merdunya...Agar dia terpikat hatinya...

Akulah manusia bersandal riya...
Kau temukan aku mendatangi masjid untuk beritikaf karenaNya...
Namun, kau tak tahu didalamnya...
Aku hanya datang untuk tidur tanpa ibadah dan mendekatkan diri kepadaNya...
Hanya berharap kemuliaan di mata manusia...

Akulah manusia bersatung tangan riya...Tak jarang kau temukan aku di organisasi peduli sesama...Atau sekedar mengeluarkan uang untuk disumbangkan pada yang tak punya...Tapi itu semua hanyalah khayalan belaka...Aku menyumbang agar mereka mengira aku dermawan yang baik hati dan jiwa...

Akulah manusia bertopi riya...
Segalanya kulakukan karena manusia...Itulah yang ada di otakku yang hina...Tidak mengharapkan ridha yang maha membalas kebaikan makhluknya...Malah berharap pada mereka yang tidak mampu membalas apa-apa...Yang hanya mampu membalas dengan pujian kebohongan belaka...


Karena itulah, jangan kau nilai aku dari pakaianku...
Karena pakaianku hanyalah dzahir yang bisa menipu...
Namun, tetaplah berhudznuzon kepadaku...
Barangkali saja Allah memperbaiki hatiku...
Tapi, mungkin saja ini bukan hanya renunganku, tapi bisa menjadi bahan renungan untukmu...
Read More

Sabtu, 11 Agustus 2012

Cerita fiktif tentang Muroqobah

OJ: Hei, Oi, kamu sedang puasa yah?
OI: Iya, memangnya kenapa?
OJ: Pasti rasanya haus dan lapar, yah?
OI: Sedikit, rasanya sih tidak selapar mereka yang memang susah untuk cari makan sehari-hari...
OJ: Tapi, kamu kok rasanya bodoh yah, kan sebenarnya kamu bisa berbuka puasa tanpa harus ketahuan oleh orang lain di dalam toilet, lagipula di Jepang ini kan orang Islam hanya sedikit, mengapa kamu haru
s takut...Lagipula, mungkin Tuhanmu juga tidak akan tahu kalau kamu minum dan makan di dalam toilet...
OI: (dalam hati) Oh yah? Beritahu lebih lanjut tentang apa yang kamu tahu tentang Allah!
(yang dikatakan secara langsung) Tentu tidak, Allah Maha melihat dan Maha mendengar, Dia mampu melihat dan mendengar apapun yang kamu lakukan dimanapun kita berada, lagipula aku puasa karena Allah, bukan karena ingin dilihat oleh orang lain...
OJ: Tapi, kenapa masih ada saja muslim yang minum dan makan yang haram kalau mereka tahu seperti itu?
OI: Karena kurangnya rasa kepercayaan kepada Allah di dalam hati mereka...
OJ: Hmm...

OJ: Orang Jepang...
OI: Orang Islam...

#Believing is not simple, you have to show that you believe by practicing the theory~...
Read More

Penting mana? Shalat Tarwih atau Shalat Isya?

Dua anak manusia sedang sms-an

A: Assalamu'alaikum, bro, jam berapa tarawih sebentar?
B: Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh...Isyanya jam 9 bro...
A: Saya tanya tarawihnya, bukan isyanya...
B: Bro, kan isya wajib, masa cuma datang untuk tarawih. Bahkan para ulama mewajibkan kita untuk shalat berjama'ah di masjid jika tidak ada udzur...
A: Saya kan hanya mau datang untuk tarawih...Masa tidak boleh?
B: Bukan begitu seharusnya bro, seharusnya kamu datang sebelum Isya, biar bisa dengar ceramah, setelah itu baru shalat tarawih, rugi kalau hanya datang untuk tarawih loh...hehehe...
A: Oke deh, saya ikuti saranmu, terima kasih yah...

#cerita fiktif
Read More

Apakah yang terjadi ketika kita telah meninggal?

Dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “Kami bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada acara pemakaman seorang laki-laki dari kaum Anshar, ketika sampai di pemakaman dan jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat, beliau duduk dan kami pun ikut duduk di samping beliau, seolah-olah ada burung yang hinggap di atas kepala kami (tidak ada yang bergerak). Di tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada sebatang kayu yang beliau gunakan untuk menggores-gores tanah, kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat pandangannya ke langit sambil bersabda, ‘Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab kubur.’ Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengulangnya dua atau tiga kali, kemudian berkata, ‘Sesungguhnya seorang hamba yang beriman apabila telah terputus dari kehidupan dunia dan mendekati kehidupan akhirat, turunlah kepadanya para Malaikat dari langit dengan wajah mereka yang putih bersinar seperti matahari, mereka membawa kain kafan dan wewangian dari Surga lalu mereka duduk sejauh mata memandang, setelah itu datanglah Malaikat maut duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata, ‘Wahai jiwa yang suci, keluarlah menuju ampunan dan ridha Allah.’ Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka ruh itu pun keluar seperti air yang mengalir dari wadahnya, lalu Malaikat maut mengambilnya, setelah itu para Malaikat yang lainnya tidak membiarkan ruh itu di tangan Malaikat maut, mereka langsung mengambilnya dan meletakkannya di kain kafan yang mereka bawa, kemudian keluarlah darinya bau wewangian yang sangat harum. Beliau berkata, ‘Maka para Malaikat pun naik ke langit membawa ruh tersebut, dan tidaklah mereka melewati sekelompok Malaikat yang di langit kecuali mereka semua berkata, ‘Ruh siapakah yang sangat baik ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah ruhnya Fulan bin Fulan.’ Mereka memanggilnya dengan nama yang terindah yang dimilikinya di dunia, hingga mereka sampai di langit dunia. Lalu mereka meminta izin agar dibukakan pintu bagi ruh ini, maka pintu langit pun dibukakan bagi mereka, dan para Malaikat di setiap langit mengantar ruh itu ke langit berikutnya, hingga sampailah ia di langit yang ketujuh. Kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah kitab amal hamba-Ku di ‘Illiyiin dan kembalikanlah ia ke bumi karena darinyalah Aku menciptakan mereka dan kepadanyalah Aku mengembalikan mereka dan darinya pula Aku akan membangkitkan mereka.’ Beliau j bersabda, ‘Maka ruhnya pun dikembalikan ke jasadnya, lalu datang dua Malaikat kepadanya yang kemudian mendudukkannya dan bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabb-mu?’ Maka ia menjawab, ‘Rabb-ku adalah Allah.’ Lalu mereka bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Dia menjawab, ‘Islam agamaku.’ Mereka bertanya lagi, ‘Apa tugas lelaki yang diutus kepadamu?’ Dia berkata, ‘Dia adalah Rasulullah.’ Mereka bertanya lagi, ‘Apakah pengetahuanmu?’ Dia berkata, ‘Aku telah membaca al-Qur-an, kemudian aku mengimaninya dan mempercayai semua yang dikandungnya.’ Maka setelah itu ada suara yang terdengar dari langit, ‘Sungguh benar perkataan hamba-Ku, maka bentangkanlah jalannya ke Surga, kenakanlah padanya pakaian dari Surga, dan bukakanlah pintu baginya ke Surga.’ Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, ‘Maka, terciumlah olehnya wangi Surga, kemudian dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang.’ Lalu beliau berkata lagi, ‘Setelah itu dia didatangi oleh seorang laki-laki yang tampan wajahnya, indah pakaiannya, harum baunya, sambil berkata, ‘Berbahagialah engkau, ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu.’ Maka ia bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan.’ Orang itu menjawab, ‘Aku adalah amal kebaikanmu.’ Kemudian mayit itu berkata, ‘Ya Allah, segerakanlah hari Kiamat agar aku bisa kembali ke keluargaku dan hartaku.’

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, ‘Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila telah terputus dari kehidupan dunia dan mendekati kehidupan akhirat, turunlah para Malaikat kepadanya dari langit yang wajah mereka hitam pekat, sambil membawa kain yang kasar, lalu mereka duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat maut dan ia duduk di samping kepalanya dan berkata, ‘Wahai jiwa yang jelek, keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah.’ Beliau berkata, ‘Maka ruhnya berpisah dari badannya dan Malaikat maut mencabut ruhnya bagaikan mencabut besi dari kain wool yang basah, kemudian ia mengambil ruh tersebut. Ketika Malaikat maut mengambilnya, Malaikat yang telah lama duduk menunggu tidak membiarkan ruh itu berada di tangan Malaikat maut, mereka langsung menaruhnya di kain kasar yang mereka bawa, lalu keluarlah dari kain tersebut bau bangkai yang sangat busuk yang pernah ada di muka bumi. Kemudian mereka naik ke langit membawa ruh tersebut dan tidaklah mereka melewati se-kelompok Malaikat kecuali mereka semua bertanya, ‘Ruh siapakah yang sangat buruk ini?’ Malaikat-Malaikat yang membawanya berkata, ‘Ini adalah ruhnya Fulan bin Fulan.’ Mereka memanggilnya dengan nama yang terjelek yang pernah ia miliki di dunia, hingga akhirnya mereka sampai di langit dunia. Kemudian mereka meminta izin agar dibukakaan pintu bagi ruh tersebut, tetapi pintu langit tidak dibukakan baginya.’ Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah,

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

"Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lu-bang jarum....’ [Al-A’raaf: 40]

Kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah amal perbuatannya di Sijjin yang terletak di bumi lapisan bawah.’ Maka, ruhnya pun dilempar ke bumi. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah: 

وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

"Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.’ [Al-Hajj: 31]

Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya, lalu ia didatangi dua Malaikat yang kemudian mendudukkannya sambil bertanya, ‘Siapa Rabb-mu?’ Dia menjawab, ‘Ha... ha..., aku tidak tahu.’ Lalu mereka bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Dia menjawab, ‘Ha... ha... aku tidak tahu.’ Mereka bertanya lagi, ‘Apa tugas lelaki yang diutus kepadamu ?’ Dia berkata, ‘Ha...ha... aku tidak tahu.’ Lalu terdengarlah suara dari langit, ‘Sungguh dia telah berdusta, maka bentangkanlah jalannya ke Neraka, bukakanlah baginya pintu Neraka.’ Maka ia pun merasakan hawa panasnya Neraka, kemudian kuburnya dipersempit hingga tulang rusuknya bertemu, kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki yang jelek rupanya, jelek pakaiannya dan sangat busuk baunya, dan laki-laki itu berkata, ‘Celakalah engkau dengan kabar buruk yang engkau terima, ini adalah hari yang telah dijanjikan kepadamu.’ Lalu mayit itu bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang meampakkan keburukan.’ Laki-laki itu menjawab, ‘Aku adalah amal perbuatanmu yang jelek.’ Kemudian mayit itu pun berkata, ‘Wa-hai Rabb-ku janganlah engkau adakan hari Kiamat.’ Dalam riwayat lain dikatakan, ‘Kemudian didatangkan kepadanya seorang laki-laki yang buta, tuli, lagi bisu, dan di tangannya ada sebuah palu godam yang jika dipukulkan ke gunung niscaya akan hancur lebur menjadi debu. Lalu ia dipukul dengan godam tersebut hingga hancur menjadi debu, kemudian Allah mengembalikan tubuhnya seperti semula, lalu ia dipukul lagi dan ia pun berteriak dengan kencang yang bisa didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia.’"


Dari sebuah hadits shahih: [Ahkamul Janaa-iz, hal. 159], Ahmad (al-Fat-hur Rabbani) (VII/74, no. 53), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’bud) (XIII/89, no. 4727).
Diambil dari Almanhaj.or.id
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.