Selasa, 01 Januari 2013

Satu Januari 2013

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Hari ini, tanggal 1 Januari 2013. Bagi orang-orang kebanyakan, mereka merayakan atas bergantinya tahun masehi ini. Banyak yang menyalakan mercon, kembang api, dll. Banyak juga yang tinggal sampai larut malam untuk menonton. Tapi, bukan itu yang saya ingin bicarakan. Ada banyak hal yang terjadi di tahun 2012, baik yang baik-baik maupun buruk-buruk. Tidak jarang, orang-orang yang memasuki 2013 menjadikan waktu ini sebagai titik nol mereka untuk menjadi lebih baik.

Tapi, sebagai seorang muslim, kita senantiasa berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik setiap harinya. Namun, akan ada batas-batasan dimana kita akan mengalami masa-masa futur atau dalam masa dimana iman sedang mencapai palung yang terdalam. Hal yang biasa kita sebut futur ini adalah hal yang berbahaya jika tidak ditangani dengan cara yang sesuai dengan sunnah.

Diantara cara-cara penanganan yang tepat untuk hati yang futur adalah sebagai berikut

1). Memperbaharui keimanan.
Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjama’ah, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat Tahajjud dan Witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, birrul walidain, dan selainnya dari amal-amal ketaatan.
2). Merasa selalu diawasi Allah Ta’ala dan banyak berdzikir kepada-Nya.
3). Ikhlas dan takwa.
4). Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bid’ah dan maksiyat).
5). Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah, dan daurah-daurah syar’iyyah.
6). Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.
7). Mencari teman yang baik (shalih).
8). Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap suul khatimah (akhir kehidupan yang jelek).
9). Sabar dan belajar untuk sabar.
10). Berdo’a dan memohon pertologan Allah.[1]

Mungkin, solusi-solusi diatas justru terlihat sulit. Maka hal ini adalah dari syaithan yang ingin membiarkan kita berada dalam posisi futur, galau, bingung, lalu menyesatkan kita dengan cara-cara yang bathil. Padahal, Allah sendiri telah berfirman,

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.(Adh-Dhuha: 7)
Jadi, futur itu adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Tapi tidak jarang, orang yang futur akan jatuh ke palung yang paling dalam yang menjerumuskan dirinya ke dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Maka, hal seperti inilah yang bisa menjauhkan kita dari Allah. Penyebab utamanya adalah karena tidak adanya usaha untuk meraih hidayah tersebut. Bagaimana mungkin kita mendapatkan petunjuk dari Allah jika kita hanya berpangku tangan dan tidak berusaha. Allah memerintahkan Nabi Nuh A'laihissalam untuk membuat kapal saat Dia ingin mengirimkan bencana, padahal mudah bagiNya untuk menyelamatkan Nabi Nuh dari adzab yang Dia berikan pada kaum Nabi Nuh. Hal ini karena setiap kejadian mesti ada sebab. Dan sebab dari selamatnya nabi Nuh Alaihissalam adalah dengan membuat kapal. Maryam bin Imran diperintahkan untuk menggoyangkan pohon kurma walau dengan sedikit kekuatan, walaupun mudah baginya untuk menjatuhkan kurma tersebut, tapi Allah memerintahkan hal tersebut agar ada sebab dari jatuhnya kurma tersebut, dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Karena itulah, setiap hari kita butuh refleksi diri untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik. Dengan begitu Allah akan melihat 'sebab' agar bisa mengubah kita menjadi lebih baik juga. Karena setiap amalan perbuatan kita akan dilihat olehNya. Karena itu, tetap berusaha dan hilangkan futur. Agar tetap istiqamah menuju jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, bukan jalan orang yang dimurkai dan disesatkan. Karena itu, salah satu hal yang baik untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah dalam merayakan tahun baru yang lebih dekat kepada meniru kepada orang-orang musyrik di malam tahun baru, atau perayaan-perayaan lainnya. Ingat, 

“Barang siapa meniru/menyerupai suatu kaum, maka dia adalah bagian dari mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Wa billahi taufiq wal hidayah 

[1] Diambil dari artikel http://almanhaj.or.id/content/2351/slash/0/penuntut-ilmu-tidak-boleh-futur-tidak-boleh-putus-asa-dan-waspada-terhadap-bosan/
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

2 comments:

RahMa mengatakan...

semoga kita di mudahkan untuk istiqomah dalam kebaikan..

farid maricar mengatakan...

Aamiin yaa Rabbal Alamin

Diberdayakan oleh Blogger.