Kamis, 04 April 2013

Antara Kisah Rasulullah dan Para Sahabat dengan Kisah Naruto

Bismillahirrahmanirrahim


Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Para pembaca sekalian, pernahkah anda membaca Kisah Naruto? Mungkin sebagian besar pemuda yang besar di zaman atau dekade ini (2003~2013) pasti tidak asing dengan komik  yang satu ini. Tanpa perlu menggambarkan panjang lebar tentang Naruto ini, ada kisah yang menarik yang terdapat dalam komik ini yang membuat saya teringat pada kisah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Kisah yang membuat kami tertarik adalah ketika Shodaime Hokage(Hokage Pertama) yang menaklukkan Clan Uchiha, dan akhirnya membentuk desa Konoha. Dan akhirnya, pada tahun-tahun berikutnya Clan-Clan lain seperti Clan Sarutobi, dll.

Tentu, kisah ini tidak jauh berbeda dengan kisah ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melakukan penaklukkan Mekah yang lebih dikenal dengan sebutan Fathul Makkah. Pada beberapa tahun setelah itu, adalah tahun perutusan dimana para kabilah-kabilah bangsa Arab mengirim perutusannya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk menyatakan keislaman mereka.

Sebenarnya apa poin kami dalam menjelaskan hal ini? Tentu menjadi kesadaran kita baik bagi yang berkeluarga maupun yang belum berkeluarga untuk menyadari fenomena yang terjadi pada masa kita ini. Dimana anak-anak dan remaja lebih menggemari kisah-kisah tokoh kartun favoritnya melebih kisah-kisah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para salafush shalih(para sahabat Rasulullah dan generasi sesudahnya) yang seharusnya mereka contoh. Padahal, kalau dipikir seperti apa yang kami jabarkan diatas, kisah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidaklah jauh berbeda dengan kisah Naruto, kisah favorit anak-anak zaman sekarang. Akhirnya timbul akibat-akibat negatif yang merusak psikologis anak. Bahkan, tidak jarang di dalam film-film kartun diajarkan pembenaran sihir dan hal-hal lainnya yang dapat merusak aqidah pada anak. Bukan hanya psikologis dalam hal akhlak, tapi juga bisa merusak aqidah anak.

Oleh karena itu, kami mencoba mengambil dari postingan lain tentang tata cara melindungi anak dari hal-hal demikian, 

Beberapa cara yang dianjurkan bagi para orang tua untuk menghadapi serbuan tersebut terhadap anak-anak adalah;
1-     Memperhatikan agar anak-anak menghafal Al-Quran dan memanfaatkan waktu kecil mereka untuk hal tersebut.
2-     Mendidik mereka untuk mencintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam beserta para shahabatnya yang mulia dengan mempelajari sejarah mereka serta memilihkan buku yang cocok dalam masalah ini untuk mereka.
3-     Mengajarkan sedikit masalah akidah dengan cara yang mudah, seperti tauhid kepada Allah, mengagungkannya, mencintainya, takut kepada-Nya, kekuasaan-Nya di atas segala sesuatu, dan bahwa Dia Allah adalah sang Pencipta dan Pemberi Rizki. Serta prinsip lainnya yang sesuai dengan usia mereka.
4-     Mendidik mereka untuk melakukan penolakan terhadap kemungkaran (inkarul munkar) dan membencinya. Ajarkan agar dia tidak setuju dengan film yang ada musiknya atau kartun anak wanita yang bersolek, atau yang ada salib padanya. Bahkan seandainya dia melihat seseorang makan dan minum tanpa menyebut nama Allah, dia mengingkarinya. Jika dia melihat ada orang yang mencuri, menculik atau membunuh, maka dia mengingkarinya. Pendidikan-pendidikan semacam itu akan bermanfaat apabila dia menyaksikan film kartun insya Allah, karena boleh jadi dia akan menyaksikannya di luar rumahnya, maka dia akan cepat-cepat mematikannya atau tidak menyaksikannya. Banyak cerita menarik tentang anak-anak yang dididik dengan hal-hal tersebut dan menjadi sebab tercegahnya kemunkaran yang banyak.

Di antara alternatif untuk menghadapi film kartun yang merusak adalah;

1. Meproduksi acara serupa yang dapat menandingi film kartun yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak mengandung kemungkaran serta mengajarkan anak pada nilai-nilai mulia. Tidak mengapa jika menggunakan film kartun yang sama, akan tetapi di produk ulang kembali dengan membuang bagian-bagian yang munkar, kemudian diganti dengan kalimat yang boleh dan tidak bertentangan dengan syariat. Dalam hal ini televisi Al-Majd telah menempuh langkah yang baik dengan mengambil langkah tersebut. Dia memiliki acara khusus film kartun dengan melakukan dubbing yang bermanfaat terhadap film kartun yang cukup terkenal, sehingga tercapai dua sasaran sekaligus, yaitu memenuhi selera anak dan sampainya pesan pendidikan dan pengajaran di dalamnya.

Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata,
"Akhir-akhir ini ada fenomena sebagian studio Islam yang memproduksi film kartun. Mereka mengatakan ini adalah islami. Misalnya ada produk yang berjudul "Penakluk Konstantinopel" atau "Rihlatussalam (Perjalanan Perdamaian)" terakhir adalah film "Ghulan Najran (Anak Najran)" yang disebut dalam surat Al-Buruj atau dalam dalam hadits shahih Muslim. Film kartun ini mereka jadikan sebagai alternatif dari film kartun yang merusak. Apa hukum perkara ini?"

Maka beliau menjawab:

"Saya menilai bahwa hal itu, insya Allah, tidak mengapa, karena kenyataannya, sebagaimana anda sebutkan, ingin melindungi anak-anak dari perkara yang diharamkan. Paling tidak, jika hal tersebut memang harus, hal itu lebih ringan dari apa yang mereka sebut sebagai film kartun yang kami dengar dapat menimbulkan keraguan dalam akidah, atau mempertontonkan wujud tuhan ketika turun hujan, na'uzu billah, dan yang semacamnya. Secara umum, saya menganggap hal tersebut tidak mengapa....

Pendapat saya tersebut, jika di dalamnya hanya terdapat kebaikan, maka tidak mengapa, tapi jika diiringi musik, maka hal tersebut tidak dibolehkan. Karena musik termasuk perkara yang diharamkan."
(Liqo Bab Maftuh, 127/soal no. 10)

2. Memilih program pendidikan yang dapat menggambungkan antara hiburan dan pendidikan. Program seperti itu kini sudah banyak beredar baik audio maupun video. Ada yang membicarakan tentang dunia laut, dunia hewan. Chanel Al-Majid untuk program dokumentasi memiliki partisipasi bagus dalam masalah ini. Programnya juga tidak ada musiknya dan tampilan wanita.
Film karton dan tayangan-tayangan lainnya harus sesuai dengan ketentuan syariat. Saudari Huda Al-Gufaish telah menyebutkan sebagian dari prinsip-prinsip tersebut. Harian Al-Jazirah telah melaporkan terkait kajian tersebut;
"Kajian merekomendasikan tentang beberapa karakteristik yang hendaknya diperhatikan oleh mereka yang hendak membuat program untuk anak-anak, di antaranya; Menjauhi tayangan yang menimbulkan ketakutan dan mengakibatkan sifat penakut di kalangan anak-anak. Karena dalam fase seperti itu, secara kejiwaan bisa saja dia meyakini perkara-perkara menghantuinya. Karena anak kecil usia dua hingga lima tahun merasa takut dengan kesendirian, api, hewan dan segala sesuatu yang bersifat khayaan, seperti hantu, ifrit. Menayangkan tayangan-tayangan semacam itu, dapat mengganggu kejiwaan sang anak.

Hendaknya program anak-anak memperhatikan sosialisasi nilai-nilai dan jangan terlalu mengeksploitir tangisan, karena hal tersebut hanya akan membentuk pribadi yang lemah dan tidak kuat menanggung beban, akan tetapi hendaknya dia menyodorkan nilai-nilai positif dengan ragam acara menarik dan tayangan yang menumbuhkan rasa optimis serta membahagiakan.

Ditekankan pula bahwa dunia tayangan anak-anak merupakan ilmu dan seni sebelum dia menjadi sebuah hobi. Kita harus memperhatikan kode etik ilmiah dan seni, jangan mengeksploitir aspek fantasi, karena hal tersebut sangat berbahaya bagi penangkapan anak-anak. Hendaknya aspek teresbut dimasukkan sedikit saja.

Kajian tersebut juga menuntut pentingnya dilakukan sebuah kajian terhadap pengaruh film kartun berdasarkan ketentuan-ketentuan syariat agar tujuannya tidak semata hiburan dan memberikan alternatif. Agar kita mengetahui apa yang telah diberikan oleh alternatif islami bagi anak-anak. Karena yang cukup mengundang perhatian adalah bahwa mayoritas tayangan alternatif tersebut  sangat memperhatikan aspek bagaimana produk mereka tidak bertentangan dengan ketentuan syariat, akan tetapi mereka melupakan satu sisi yang sangat penting, yaitu bagaimana agar tayangan tersebut berhasil menanamkan nilai aqidah Islam berdasarkan langkah-langkah yang sudah dikaji dan sesuai dengan umur penontonnya. Penting juga para pakar ilmu syariat turun tangan untuk menghadapi serbuan yang menyerang akal anak-anak kita tanpa ampun." Selesai

3. Sibukkan anak-anak dengan kegiatan yang sehat dan bermanfaat. Seperti ikut kegiatan olah raga, renang, atau permainan lainnya yang dibolehkan. Hal tersebut akan menghimpun antara hiburan dan manfaat. Namun hendaknya dipilihkan club dan tempat pergaulan yang baik.

4. Membuka situs-situs islami yang memiliki link program untuk anak-anak. Yaitu yang menampilkan flash yang bermanfaat atau permainan yang menghibur atau film kartun para nabi dan orang saleh, atau juga menampilkan peperangan dalam sejarah Islam. Dalam situs Asy-Syabakah Islamiyah adalah space khusus untuk anak-anak yang sangat bermanfaat.*)

Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayahNya kepada kita semua.

Catatan kaki:
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.