Minggu, 07 April 2013

Beban Orang yang Berumur Sampai Enam Puluh Tahun

Bismillahirrahmanirrahim


Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam beliau bersabda, "Allah memberi kesempatan kepada seseorang yang dipanjangkan usianya sampai enam puluh tahun"(HR. Bukhari)

Syeikh Utsaimin menyebutkan mengenai arti hadits tersebut, bahwa Allah Ta'ala jika memberikan kesempatan usia kepada seseorang hidup selama enam puluh tahun, maka tidak ada argumen lagi baginya, karena ia hidup selama enam puluh tahun telah banyak mengetahui ayat Allah, apalagi jika ia hidup dalam negeri Islam, tentu merupakan argumen kuat, sehingga tidak ada lagi alasan baginya jika bertemu dengan Azza Wa Jalla kelak.

Seandainya usianya dipendekkan hanya lima belas tahun atau dua puluh tahun misalnya, bisa jadi ia memiliki alasan belum sempat mengkaji ayat-ayat Allah, tetapi jika ia diberi kesempatan hingga enam puluh tahun, maka tidak ada alasan baginya, karena manusia itu dituntut sejak ia usia baligh, sejak itu ia diberi tanggung jawab oleh Allah.


Maka kewajiban seseorang adalah mempelajari syariat Allah Ta'ala sesuai kebutuhannya, misalnya jika ia perlu berwudhu maka ia wajib belajar bagaimana cara berwudhu, ingin shalat wajib belajar bagaimana cara shalat, jika ia memiliki harta wajib mengetahui nishab hartanya dan berapa yang harus ia keluarkan, jika ingin puasa wajib belajar bagaimana ia berpuasa dan apa saja yang membatalkan puasa, jika ingin haji wajib belajar bagaimana ia menunaikan haji dan umrah, dan apa saja larangan dalam ihram, jika ingin jual beli maka harus mengetahui hukum riba, bentuk-bentuknya, syarat-syarat jual beli emas dengan emas, emas dengan perak, jika ia penjual makanan maka ia harus mengetahui bagaimana ia menjual makanan, mengenali sifat-sifat curang yang dilarang, dan sebagainya.

Yang penting seseorang yang mencapai usia enam puluh tahun tidak ada lagi alasan baginya sama sekali, setiap orang wajib mempelajari syariat yang ia butuhkan dalam semua syariat: shalat, zakat, puasa, haji, jual beli, wakaf, dsb sesuai dengan yang dibutuhannya.

Hadits ini sebagai dalil bahwa Allah Subhana wa Ta'ala memiliki alasan ketika hendak menghukum hambanya karena Allah telah menganugrahkan akal dan pemahaman, mengutus rasul, dan risalah yang abadi hingga hari kiamat kelak, karena risalah-risalah yang terdahulu adalah terbatas untuk kaumnya saja, karena setiap Rasul yang datang itu menghapuskan risalah yang sebelumnya.

Adapun umat ini yang Allah telah mengutus kepadanya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai penutup para nabi dan menjadikan ayat-ayatNya yang mulia ini kekal selamanya, karena ayat-ayat para Nabi terdahulu mati dengan wafatnya para nabi, tidak ada yang tersisa kecuali kenangan.

Adapun ayat-ayat Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah kekal hingga hari kiamat, sebagaimana Allah telah berfirman, 

Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata".Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.(Al-Ankabuut: 50-51)

Kitab Al Qur'an adalah cukup bagi orang membaca, mernungkan, memikirkan, menggali maknanya, dan mengambil manfaat dan pelajaran dari kisah didalamnya. Sungguh dengan kitab Al-Qur'an ini cukup baginya. 


Tetapi yang menjadikan kita tidak meresapi ayat-ayat Al-Qur'an ini karena kita tidak membacanya dengan merenungkan dan mengambil pelajaran darinya, tetapi mayoritas kaum muslimin membacanya sebagai untuk mendapatkan berkah dan pahala saja.

Kewajiban kita adalah membaca Al-Qur'an dengan merenungkan dan mengambilnya sebagai pelajaran yang berharga sebagaimana firman Allah Ta'ala,

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Shaad: 29)

Kami ketik ulang dari Terjemahan Syarah Riyadush Shalihin yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Penerbit Darus Sunnah Press Bab Anjuran Untuk Memperbanyak Amalan Shalih
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.