Jumat, 05 April 2013

Lagi Sakit Hati

Bismillahirrahmanirrahim


Sebelum memulai sebuah cerita, saya ingin bertanya pada anda, pernahkah anda merasakan sakit hati? Tentu banyak diantara kita yang pernah merasakan sakit hati. Sakit hati kenapa? Mungkin karena telah ditolak cintanya, atau diputuskan oleh sang kekasih, atau dikhianati teman, atau dihina oleh orang lain. Ada banyak cara yang bisa membuat seseorang sakit hati.

Tapi, hari ini saya merasa sangat sakit hati. Merasa terhina, dan tidak mampu lagi menghilangkan kehinaan dalam diri. Serasa jarum yang ditusuk berkali-kali kedalam hati. Namun tidak menimbulkan bekas. Tanpa ada luka di dada. Hanya ada perasaan takut, sedih, cemas, dan rasa berdosa menghantui. Mengapa bisa?

Mulai pekan lalu, orang tuaku, lebih spesifik lagi adalah ibuku, meninggalkanku sendiri di Fukuoka untuk melanjutkan sekolah. Tentu, hal yang sangat normal jika seorang ibu meninggalkan anaknya sendiri, apalagi sudah tua, sudah berumur 20 tahun. Sayapun salah satu dari manusia yang berfikir demikian. Mengapa? Tentu sudah saatnya bagiku untuk belajar hidup mandiri, tanpa hidup dibawah ketiak orang tuaku lagi.

Nah, sebenarnya tak ada masalah dengan hal tersebut. Saya pun sebenarnya cuek dengan hal tersebut. Tapi, ketika memasuki pekan ini, ada hal yang aneh menyelimuti sekitarku. Bukan perasaan rindu, tetapi lebih tepatnya perasaan bersalah. Kuakui, orang tuaku selama ini adalah orang yang suka mengatur. Sebagaimana anak normal lainnya, kadang saya menuntut kebebasan dalam berpendapat dan memilih yang kusukai. Walaupun pada awalnya saya selalu membantah, bahkan membentak orang tuaku pada hal yang tidak kusukai, tapi akhirnya sayapun pasrah karena tidak mampu membantah. Mungkin determinasi orang tua begitu kuat sehingga sayapun tidak bisa mengubahnya.

Nah, melanjutkan perasaan bersalah ini, mungkin Saya merasa sangat bersalah sebagai seorang anak. Mengapa? Seperti yang kujelaskan diatas, karena banyaknya keinginan untuk membantah dan membentak orang tua. Padahal, bukankah Rasulullah sudah mengajarkan kita bagaimana berlaku baik pada orang tua? Bukankah adab-adab yang telah diajarkan pada para sahabat oleh Rasulullah cukup menjadi teladan bagaimana seorang anak berlaku pada orang tuanya?

Kombinasi rasa bersalah ini lengkap ketika saya mendengarkan sebuah ceramah berdurasi satu jam yang kudengarkan dari bassfmsalatiga.com (Sebuah Radio Sunnah dari kota Salatiga), sebuah kajian yang membahas tentang birul walidain. Karena memang sedang nganggur berat, saya menyempatkan diri untuk mendengarkan kajian tersebut. Dan cukup tersentuh sebuah kalimat yang diucapkan oleh sang ustadz, "
seorang anak ketika ingin bekerja/sekolah di luar kota/negeri, atau intinya ditempat yang jauh dari orang tuanya, maka dia tetap harus meminta izin kepada orang tuanya...Karena bagaimanapun juga, orang tua akan rindu kepada anaknya..." Dan hal ini sangat kusetujui mengingat bagaimana rindunya ibuku ketika terpisah dari adik yang waktu itu harus pulang ke Indonesia untuk melanjutkan sekolahnya. Karena itu, sekarang saya mulai berpikir bahwa orang tuaku akan merasakan hal yang sama padaku.

Setelah beberapa hari berselang tibalah hari Jum'at, hari yang mulia dimana kita melaksanakan shalat jum'at berjamaah seperti biasanya di masjid. Ketika di dalam perjalanan ke masjid, sempat membaca postingan di FB seorang teman, yang beliau share dari postingan Darwis Tere Liye. Ada sebuah kata-kata yang begitu menyentuh, yakni "Lihatlah anak-anak, meski habis dimarahi, habis dibentak, saat kita pulang mereka berteriak berlarian senang, seolah lupa habis dimarahi". Mungkin hal itulah yang sering terjadi padaku sewaktu kecil mungkin sampai sekarang, tidak peduli seberapa keraskah saya dibentak dimarahi, atau apapun itu, tidak ada sedikitpun perasaan cinta pada orang tua yang hilang karena perhatian yang mereka berikan yang tiada putus-putusnya.

Puncaknya adalah ketika mendengarkan khutbah jum'at siang tadi. Kali ini tegurannya lebih keras lagi, tentu karena khutbah bukan hanya sekedar tulisan, tapi juga diambil dari sumber-sumber Qur'an dan Sunnah. Bukankah tidak ada kata-kata yang lebih tinggi dari perkataan Allah dan RasulNya? Hal ini merupakan teguran yang sangat keras bagiku, karena judul yang dibacakan oleh khatib adalah tentang birrul walidain. Ahh, apalagi kalau bukan petunjuk dari Allah jika sudah begini jadinya, berapa banyak lagi ceramah yang lewat didepanku untuk menyadarkanku tentang hal ini. Karena itu aku merasakan sakit hati yang amat sangat, karena Allah menegurku atas kesalahanku. Sakit hati ini, bukan sakit hati biasa karena disebabkan oleh kecengengan yang tidak jelas, tapi jujur karena merasa bersalah kepada kedua orang tua.

Ditambah dengan sedikit ceramah di perjalanan pulang, sebuah ceramah berjudul "And We Thought We Thanked Allah" yang dibawakan oleh Bro. Abu Mussab. Menjadi pelengkap, ketika beliau memberikan hadits yang berbunyi, 
“Siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)
Dan Rasulullah juga bersabda,
“Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud)

Bagaimana mungkin seorang anak mampu membalas kebaikan kedua orang tuanya, yang telah membuatnya ada di dunia ini. Benar kita harus berterima kasih pada Allah atas nikmat dan karuniaNya, tetapi tanpa adanya perantara ini(orang tua, red) kita tidak akan mampu untuk mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah begitu saja. Karena itulah, adalah salah satu kewajiban setiap muslim untuk mendoakan orang tua mereka.

Akhir tulisan, Saya berharap s
emoga kuliah ini menjadi berkah tersendiri buat ane, soalnya kata pak ustadz, lebih berkah tempat kerja/kuliah yang kita diridhoi oleh orang tua, ketimbang tempat kuliah/kerja yang kita inginkan walaupun kelihatannya lebih baik.

Wa billahi taufiq wal hidayah

About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

3 comments:

Lutfiani Nurul A. mengatakan...

Bagaimana dengan jurusan kuliah? Apakah jurusan yang dipilihkan orangtua pasti nanti akan sukses? Ataukah boleh memilih jurusan yang penting diridhoi ortu (atw terpaksa diridhoi)?

Lutfiani Nurul A. mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
farid maricar mengatakan...

Keduanya boleh, yang penting adalah adanya ridha dari orang tua atas jurusan yang dipilih...

Diberdayakan oleh Blogger.