Minggu, 24 Maret 2013

Emang Masalah Buat Lo?

Adalah sebuah kalimat 'gaul' yang sering kudengar, terutama setelah kedatangan kunjungan keluarga dari Indonesia. Tinggal di Jepang adalah sebuah pengurungan terbaik dari keinginan untuk mengikuti orang-orang Indonesia yang 'gaul' karena selalu mengikuti para trendsetter, baik itu artis, model iklan, dll. Tentu kalimat diatas adalah salah satu contoh jelek yang tidak sebaiknya kita katakan pada orang lain. Insya Allah kami akan mencoba membahas alasannya.

Kalimat "Emang Masalah Buat Lo?" adalah sebuah kalimat tantangan yang diberikan oleh seseorang yang bertanya kepada kita ketika melakukan sesuatu yang buruk. Seakan-akan perkataan itu bisa juga diungkapkan dengan kalimat, "Urus saja urusanmu, tidak usahlah memperdulikan aku". Padahal di dalam Islam kita diajarkan untuk beramar ma'ruf dan bernahi mungkar sebagai tanda kepedulian kita kepada sesama muslim. Kita juga diajarkan untuk saling menasehati dalam kebenaran sebagai kepedulian kita kepada saudara kita. Apalah jadinya jika ketika kita sedang menasehati seseorang lalu dibalas dengan perkataan "Emang Masalah Buat Lo?" Tentu ini adalah sebuah hal yang bisa menyakitkan hati yang sedang memberikan nasehat. Bukankah Allah telah berfirman, 

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.(Al-Ashr 1-3)


Berikutnya, kalimat "Emang Masalah Buat Lo?" adalah sebuah kalimat kesombongan. Mengapa? Karena kalimat ini memberikan kesan keindividuan karena merasa diri ini sudah paling benar dan yang lain salah, jadi tidak perlu lagi menerima nasehat. Padahal sebagai seorang muslim, kita ini tempatnya kesalahan, karena tidak ada manusia yang hidup 100% tanpa dosa. Padahal Rasulullah pernah bersabda,

Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)


Berikutnya, kalimat "Emang Masalah Buat Lo?" juga sebuah kalimat yang bisa merugikan kaum muslimin disekitarnya di mata non-Muslim. Contoh yang kami bisa berikan adalah pengalaman kami di negara mayoritas non-Muslim. Pertama, misalnya ada seorang muslim yang ketika party ikut minum sake(khamar khas Jepang), lalu berikutnya ada juniornya yang datang tapi tidak minum sake, maka orang ini mungkin akan dicap buruk oleh orang Jepang karena dia dianggap tidak ramah dan tidak mampu beradaptasi, contoh lain adalah masalah daging yang tidak disembelih dengan basmalah, dimana masih banyak orang-orang yang makan di kantin dengan bebas, tidak peduli bagaimana tanggapan non-Muslim lainnya kepada mereka yang menjaga kehalalan makanannya. Jika seandainya kalimat "Emang Masalah Buat Lo?" ini mereka lontarkan, tentu kita bisa mengatakan, "Ya, masalahlah buat gue"...hehehe...Padahal, seharusnya mereka menjaga adab dan ilmu mereka agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang mampu merugikan dirinya, dan umat islam disekitarnya.


Terakhir, mungkin sebaiknya kita menghindarkan diri dari menggunakan kata-kata atau kalimat-kalimat 'gaul' yang mungkin kita dengar dari media massa, karena penggunaannya ini bisa merusak diri kita luar dalam, disamping tidak berbuat sesuatu dengan akhlak yang baik, bisa juga kita dinilai sebagai orang yang suka ikut-ikutan. Semoga kita dilindungi dari hal yang demikian. Hanya kepada Allah tempat kita memohon ampun, dan hanya kepada Allah tempat kita memohon pertolongan.

Wa billahi taufiq wal hidayah
Read More

Sabtu, 16 Maret 2013

Kenapa Saya Ke Jepang? - Curhat -

Adalah pertanyaan umum yang akan ditanyakan seseorang ketika melakukan suatu pekerjaan. Mungkin, bagi banyak orang, pergi ke luar negeri dan bisa tinggal disana adalah sesuatu yang wah banget. Mungkin begitu kata orang lain, tapi berbeda dengan saya. Saya bukan orang yang senang meninggalkan zona nyaman, dimana kita harus berjibaku untuk menyelamatkan nyawa di dalam sebuah peperangan hidup dan mati. Kalau ada antara hidup yang penuh dengan peperangan untuk memperjuangkan kebebasan, atau hidup penuh dengan kedamaian walau berada dalam kediktatoran, mungkin saya akan lebih memilih yang kedua, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh Nabi kita Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan apa yang Allah tulis dalam firmanNya di dalam Al-Qur'anul Karim.

Kembali ke pertanyaan awal, kenapa sih saya mesti ke Jepang? Mungkin sudah pernah kutulis dalam tulisan-tulisan lain yang ada di blog ini. Tapi, jujur saja, datang ke Jepang tak lain dan tak bukan karena keinginanku hidup penuh kedamaian walau berada dalam kediktatoran. Mungkin orang akan bertanya, siapa sih yang mendiktatori? Tentu saja tak lain dan tak bukan, adalah orang yang mulia di hadapanku setelah Allah dan RasulNya, yakni orang tua saya sendiri. Ehhmm, mengapa merasa di diktatori? Karena pada awalnya saya lebih senang untuk berada di zona nyaman dan kuliah di Indonesia.

Sedikit demi sedikit, kehidupan di Jepang ini mulai kucoba untuk nikmati. Mencoba berbagai hal yang berhubungan dengan budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Namun, kenyataannya tak berbeda dengan di Indonesia, begitu banyak festival dan acara yang memiliki makna ibadah tersendiri di Jepang, tak jarang saya lebih senang menghindari acara-acara tersebut, ketimbang harus ikut dan harus mendapatkan balasan di akhirat kelak.

Saya juga bukan orang yang senang travel, jadi jangan berharap saya akan cerita tentang travel di sebuah tulisan "Kenapa Saya Ke Jepang?" ini. Perjalanan jauh adalah hal yang mungkin menjadi salah satu hal yang paling tidak kusukai dalam hidup ini. Melelahkan, menghabiskan uang, dan lain-lain. Bagiku, jalan-jalan adalah hal yang tidak mengenakkan. 

Namun, satu hal yang sangat amazing di Jepang ini. Minat orang-orang Jepang untuk mengenal budaya luar itu tinggi. Mereka banyak belajar bahasa selain bahasa mereka, mereka juga ramah dan mulai terbuka dengan orang-orang asing. Bukan tidak mungkin, mereka akan menjadi sasaran dakwah yang tepat bagi mereka yang ingin menyebarkan Islam yang mulia ini. Sebagai bukti, telah banyak masjid-masjid baru yang dibangun, maupun direnovasi dari gedung lama oleh kaum muslimin yang ada disini. Juga banyak ditemukan muallaf-muallaf yang menikah dengan kaum muslimin pendatang, bahkan banyak juga yang suami istri muallaf, wal hamdulillahi rabbil 'alamin.

Mulai merasa senang dengan Jepang, Fukuoka ini. Rasanya ingin tinggal dan melihat sendiri perkembangan islam disini. Namun, selain itu ada juga keinginan untuk menambah ilmu Islam yang selama ini kulalaikan. Kadang saya menyesali perbuatan saya karean sering menyia-nyiakan waktu ini, tapi apa daya, waktu tak dapat kuulang kembali. Karena itu, keinginan untuk belajar Islam lebih kuat.

Tulisan ini, tak lebih dari gambaran kesenanganku pada Jepang, yang awalnya hanya didasari oleh ke'diktator'an orang yang berakhir dengan kesan yang baik setelah mengenal tempat ini lebih dekat. Kalau kata Sherina di film jaman SD dulu, lihatlah segalanya lebih dekat, agar kau bisa menilai lebih bijaksana.

Oh iya, akhir-akhir ini sering dipanggil ikut membantu mengajar anak-anak oleh masjid. Hontou ni tanoshikatta. Kalau boleh bicara masalah bakat, bakatku adalah berteman dengan anak-anak. Dulu malah pernah punya keinginan jadi guru TK. Bertemu dengan anak-anak adalah sebuah hiburan bagiku, melepas kepenatan dengan kuliah yang dibebani dengan berbagai macam rasa sakit kepala yang diberikan oleh para dosen.

Terakhir, kalau boleh berharap sih, pengen juga punya istri orang Jepang. Biar kelak di masa depan ada alasan bagiku untuk selalu datang kesini dan melihat progress perkembangan Islam disini, karena keinginanku untuk melihat agama yang lurus ini menjadi pegangan oleh umat-umat Jepang yang akhlaknya sulit untuk dibandingkan dengan akhlak kaum negara lain.

Subhanaka Allahumma wa aihamdika, asyhadu Alla Ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atubu ilaika...
Read More

Rabu, 06 Maret 2013

Deadline

Deadline. Mungkin, kata ini sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia sekolah, kita sering mendengar deadline disubmitnya suatu tugas/paper(bagi mereka yang bersekolah di tingkat yang lebih tinggi). Di dunia kerja, kita sering mendengar deadline disubmitnya suatu pekerjaan kepada bos/atasan. Karena itu, tak jarang, ketika mencoba meminta pertolongan kepada orang lain, mereka akan menolak dengan halus dan berkata, "Maaf nih, lagi ada deadline, nanti yah saya bantu jika sudah tidak sibuk". Karena itulah, kata ini sudah sering kita dengar di kalangan masyarakat kita.

Apa sih arti 'Deadline' itu? Dalam kamus yang bisa kita temukan di internet, Deadline dideskripsikan sebagai batas waktu dimana sesuatu sudah sempurna untuk diproduksi/dikerjakan, dll. Mungkin anda bisa mencari makna lain dari kata tersebut. Namun, untuk makna umum, 'Deadline' lebih dikenal sebagai 'batas waktu'.

Setiap manusia, tertuntut untuk melakukan sesuatu dengan deadline. Yakni, jika melakukan sesuatu hal yang sudah melewati deadline, maka akan berdampak buruk bagi si pelaku. Contoh saja, mahasiswa yang mengumpulkan tugas setelah melewati deadline, mereka akan kena marah dari sang dosen. Atau pekerja yang menyelesaikan tugas dari sang bos setelah melewati deadline, maka sang bos mungkin saja marah dan memecatnya, dst. Ini adalah contoh dampak yang bisa kita terima karena melakukan sesuatu melewati deadline.

Kalau dilihat-lihat dari segi pemikiran kami yang dangkal, kata 'Deadline' jika dipisah, maka berubah menjadi 'Dead line'. Dead berarti mati, sedangkan line berarti garis. Yang jika diartikan lagi maknanya, bisa berarti 'batas matinya sesuatu'. Tentu hal ini bisa diaplikasikan pada makna yang kami bahas pada paragraf ketiga, dimana jika sudah melewati 'batas', maka apa yang kita lakukan bisa berimbas pada 'kematian'.

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, tak jarang kita bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukan pekerjaan kita karena kita takut tidak dapat memenuhi standar yang telah ditentukan. Kita berusaha menyelesaikan pekerjaan kita tepat pada waktunya karena takut deadline kita terlewati, dan akhirnya berimbas pada pekerjaan dan status yang kita punya.

Tapi tidak jarang, kita lupa dengan deadline 'hidup' kita. Kita sering bahkan selalu lalai pada kewajiban kita kepada Allah. Kita selalu disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Kita bahkan tidak mampu memenuhi 'deadline' yang lebih wajib kita penuhi. Kita sibukkan diri kita dengan bermaksiat kepada Allah, tanpa kita sadari bahwa 'deadline' kita sudah dekat. Garis, batas waktu kematian kita sudah dekat.

Kita lupa, bahwa penyakit yang kita derita adalah peringatan atas deadline yang semakin dekat. Kita juga lupa, bahwa deadline bisa datang kapan saja, mungkin saat tidur, saat di perjalanan, dll. Kita lupa, bahwa deadline ini tidak akan pernah disebutkan oleh Allah, melainkan kita yang harus siap sedia bagai tentara yang tidak kenal deadline, karena musuh bisa menyerang kapan saja.

Bukankah menyelesaikan pekerjaan diluar deadline adalah sia-sia? Bukankah bos yang memecat kita karena tidak mampu menyelesaikan pekerjaan setelah melewati deadline tidak akan menarik kata-katanya lagi? Lalu, masihkah kita akan menyia-nyiakan waktu kita yang belum 'mengumpulkan tugas' sebelum 'deadline tiba.

Sia-sialah orang yang bekerja setelah deadlinenya tiba, layaknya orang yang tak mampu berbuat apa-apa setelah kematian. Sia-sialah orang yang meminta kembali pekerjaan pada atasannya, setelah menyia-nyiakan amanat yang telah diberikan padanya sebelumnya. Allah berfirman,

Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalim."Allah berfirman: "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. (Al-Mu'minuun 106-108)

Karena itulah, kami buat tulisan ini untuk saling mengingatkan diri kami dan kaum muslimin karena kejauhan kami dari sikap orang-orang yang senantiasa bekerja karena paham deadline, orang-orang yang takut mati. Jangan sampai hanya bisa menjadi orang yang menyesal dan berkata,

"Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini."(Al-Fajr : 24)

Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kita semua. 
Read More

Selasa, 05 Maret 2013

Ketika Allah Berkehendak...

Ketika Allah berkehendak...
Seseorang yang cacat fisiknya, namun mampu melaksanakan shalat berjamaah di masjid secara rutin tiap harinya...

Ketika Allah berkehendak...
Seseorang yang rupawan, kaya raya, keturunan baik-baik, namun tidak menemukan jodohnya...

Ketika Allah berkehendak...
Sebuah team sepak bola yang seharusnya memenangkan pertandingan sepak bola dengan skor 1-0, malah berbalik kalah 1-2 dalam waktu satu sampai dua menit saja...

Ketika Allah berkehendak...
Seseorang yang tidak memenuhi standar dalam mendapatkan sesuatu, tapi malah mendapatkannya...

Ketika Allah berkehendak...
Seseorang yang dipenuhi dengan maksiat, bertaubat dan menjadi penghuni surga...

Ketika Allah berkehendak...
Seseorang yang kaya raya, bisa jatuh miskin dan melarat...

Ketika Allah berkehendak...
Seorang yang tua lagi mandul, bisa hamil dan melahirkan dengan lancar...

Ketika Allah berkehendak...
Seseorang yang buruk rupa, mampu mendapatkan pasangan yang bisa menawan hatinya...

Anda mungkin bisa menambah lagi kehendak Allah ke dalam tulisan ini...Ini hanyalah sedikit dari apa yang bisa kita dapat dari pengalaman sehari-hari dan dari dalam Al-Qur'an serta Hadits2 Shahih.
Mungkin banyak hal yang terjadi tetapi kita menganggap remeh, dan merasa semuanya wajar terjadi karena usaha kita, padahal itu tidak terlepas dari kehendak Allah...
Tidak ada batas bagi kehendak Allah, dan usaha kita memang terbatas...
Karena itu jangan hanya mengandalkan usaha kita saja, tapi juga berharaplah agar Allah berkenan memberikan hasil yang baik bagi usaha kita...

Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah...
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.