Sabtu, 20 April 2013

PHP (Pemberi Harapan Palsu)

Bismillahirrahmanirrahim



Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Salah satu istilah yang masyur di kalangan pemuda saat ini adalah istilah PHP. Apakah itu PHP? PHP adalah singkatan dari Pemberi Harapan Palsu. Untuk itu, pada tulisan ini kami insya Allah akan membahas lebih jauh tentang PHP ini.

Tentu anda akan bertanya-tanya, seperti apa sih contoh PHP itu. Ada begitu banyak contoh-contoh PHP yang bisa kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Terutama jika kita sering bergaul dengan lawan jenis, PHP bukan hal yang mudah dihindari dalam pergaulan dengan teman. Ketika kita akrab dengan lawan jenis non-mahram, secara tidak langsung syaithan akan menembakkan panah beracunnya, seperti dalam sabda Rasulullah, 
Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah Iblis. Maka, barang siapa yang menahan pandangannya karena Allah dari kecantikan seorang wanita, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.” (HR. Al-Hakim).
Karenanya, menjauhi pergaulan dengan lawan jenis adalah salah satu cara untuk menghindarkan diri dari menjadi korban ataupun pelaku PHP ini.

Contoh lain dari PHP adalah dengan memberikan perhatian lebih kepada lawan jenis. Tidak jarang kita lihat para pemuda sekarang meng-sms teman lawan jenisnya hanya dengan perkataan, "Sudah makan?", "Belum Tidur?", dll yang mungkin sebenarnya tidak ada perlunya. Hal seperti ini adalah hal yang sebaiknya dihindari. Karena selain bisa memberikan harapan palsu kepada yang ditanya, hal ini juga merupakan semi khalwat, yakni berdua-duaan walaupun dengan menggunakan perantara.

Selain itu, PHP bukan tidak mungkin diberikan dengan menggunakan gombalan-gombalan. Gombalan-gombalan ini biasanya diucapkan ketika sedang berkhalwat ataupun semi-khalwat karena syaithan akan menjadi orang ketiga yang membisikkan keinginan dan niat-niat untuk memberikan harapan palsu. Rasulullah bersabda, 
“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad)

Hal tabu lain yang biasa dilakukan oleh lelaki kepada wanita(ataupun sebaliknya) yang bisa dikategorikan sebagai PHP, adalah menanyakan perihal pernikahan wanita tersebut. Misalnya ketika seorang lelaki bertanya, "Kapan baru akan menikah? Sudah punya calon?". Atau memberinya semangat-semangat untuk segera menikah dan semacamnya. Hal ini bisa membuat wanita menjadi besar keinginannya untuk menikah, dan bukan tidak mungkin membuat mereka menjadi gede rasa dan merasa andalah yang akan menikahinya.

Jangan main booking aja, juga adalah salah satu hal yang perlu diingat para laki-laki. Misalnya dengan ucapan, “ukhti, nampaknya hati saya sudah bertaut kepada ukhti, insya Allah saya serius sama ukhti, nanti saya akan nikahi ukhti LIMA TAHUN LAGI setelah saya lulus dan dapat kerja” 
Hal Ini mungkin timbul dari kebingungan lelaki diatas kecemasannya. Dia sudah terlanjur suka, tetapi belum bisa melegalkanya sesegera mungkin. Atau ada akhwat “ngetop”, supaya tidak kedahuluan orang, yang penting maju dulu, urusan yang lain-lain nanti dulu. Yang penting akhwat itu sudah berada di beranda depan rumah kekuasaan. Padahal dia belum siap untuk nikah. Ikhwan yang seperti ini hanya sekedar maju dengan modal jenggot saja.
Hal ini bisa membuat wanita menggantung,
Dimana akarnya tidak tidak mengujam kebawah…
Dan dahannya tidak menjulang ke langit..
Lima tahun atau hitungan tahun sangat lama bagi wanita untuk menunggu, menambah kecemasan diatas kecemasan hari demi hari. Sebaiknya biarlah ia bebas, jika ada laki-laki yang lebih siap, biarlah mereka maju. Biarlah nantinya ia dipersunting oleh takdirnya yang namanya ada di lauhil masthur.
Kita tidak tahu apa yang terjadi selama lima tahun, bisa jadi:
- Selama itu tidak bisa menjaga kehormatan bersama, terjerumus dalam zina, awalnya saling sms, bertemu ditempat ramai, akhirnya bisa ber-khalwat dan selanjutnya mereka berdua yang lebih tahu
- Selama itu menemukan orang lain yang lebih baik darinya, lebih segala-galanya, maka bisa jadi salah satunya berkhianat cinta dan berpaling.
- Selama itu bisa terjadi hal-hal tertentu, misalnya salah satunya meninggal ketika penantian sudah berjalan 4,5 tahun. Tatau cacat karena kecelakaan. Dan akhwatnya sudah mulai berumur serta sudah menolak banyak ikhwan yang ingin maju.
Menebar pesona kepada ahkwat baik terang-terangan atau cara pengecut lewat sms atau inbox facebook. Dalam sms atau status facebook menunjukkan bahwa ia seorang yang sangat alim. Sering membuat sms atau status yang menunjukkan bahwa ia alim.
Tidak perlu khawatir masalah jodoh, yang terpenting sekarang kita menjadi lebih baik. Meningkatkan kualitas takwa dan keimanan. Sibuk belajar dikampus menunaikan kewajiban amanat orang tua, sibuk belajar bahasa arab, sibuk berdakwah,sibuk mengurus panitia kajian, sibuk menulis ilmu dan kesibukan yang bermanfaat lainnya dibanding sibuk mengurusi wanita. Daripada terlalu sibuk membicarakan tema pernikahan dan asmara. Membuat di status facebook tentang nikah saja. Tetapi tidak ada realisasinya. Yakinlah bahwa jika kita baik pasti juga akan mendapat yang baik, karena Allah ‘Azza wa Jalla sudah berjanji,
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” [An-Nur: 26]
Karena itu, kami menasihatkan kepada diri kami dan pemuda-pemudi dari kalangan muslimin dan muslimat untuk menghindarkan dirinya dari kemungkinan untuk menjadi pelaku atau korban PHP.
Ingat, tak satupun manusia yang mampu memberikan harapan yang pasti, karena manusia pun tak mampu menjamin segalanya. Bahkan ada sebuah kisah tentang Rasulullah yang tak mampu menepati janjinya dalam menceritakan tentang pemuda dalam gua Al-Kahfi(dan kisah ini bisa dilihat pada tafsir Al-Kahfi 23-24) karena yang bisa menepati janjinya hanyalah Allah semata. “Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” [Ar-Ra’d: 31]
 Wa billahi taufiq wal hidayah
Referensi:

Read More

Senin, 15 April 2013

Cinta dan Motivasi



Setiap perbuatan dan gerakan di alam semesta ini adalah berasal dari cinta dan keinginan. Kedua hal itulah yang mengawali segala pekerjaan dan gerakan, sebagaimana benci dan ketidaksukaan yang mengawali untuk meninggalkan dan menahan diri dari sesuatu.

Cinta menggerakkan seorang pecinta untuk mencari yang dicintainya, dan kecintaannya akan sempurna manakala ia telah mendapatkannya. Maka, cinta itulah yang menggerakkan pecinta Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), pecinta Al-Qur'an, pecinta ilmu dan iman, pecinta materi dan uang, pecinta berhala-berhala dan salib, pecinta wanita dan anak-anak, pecinta tanah dan air dan cinta pula yang menggerakkan pecinta saudara-saudaranya. Hatinya akan tergerak kepada yang dicintainya dari hal-hal di atas. Hatinya tergerak saat yang dicintainya disebutkan, dan tidak ketika disebutkan yang lain. Karena itu engkau dapati pecinta wanita dan anak-anak, pecinta nyanyian syetan, mereka tidak tergerak hatinya ketika mendengarkan ilmu dan kesaksian iman, juga tidak ketika dibacakan Al-Qur'an. Tetapi, saat disebutkan yang dicintainya, serta-merta bangkitlah jiwanya, tergeraklah lahir batinnya, karena rindu dan menikmati yang dicintainya, meski sekedar disebut namanya.

Semua kecintaan tersebut adalah batil kecuali kecintaan kepada Allah dan konsekwensi dari kecintaan pada-Nya, yaitu cinta kepada rasul, kitab, agama dan para kekasih-Nya. Berbagai kecintaan inilah yang abadi, dan abadi pula buah serta kenikmatannya sesuai dengan abadinya ketergantungan orang tersebut pada-Nya. Dan keutamaan cinta ini atas kecintaan kepada yang lain sama dengan keutamaan orang yang bergantung pada-Nya atas orang yang bergantung pada yang lain. Jika hubungan para pecinta itu terputus, juga terputus pula sebab-sebab cintanya, maka cinta kepada-Nya akan tetap langgeng abadi.

Allah befirman,
"(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali." (Al-Baqarah: 166).

Al-Asbab dalam ayat di atas menurut Atha', berdasarkan keterangan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berarti kecintaan. Mujahid berkata, "Artinya hubungan antar mereka di dunia." Adh-Dhahhak berkata, "Hubungan kekeluargaan mereka terputus dan tempat mereka di neraka berpencar di mana-mana." Abu Shalih berkata, "Artinya amal perbuatan."*

Semua pendapat di atas adalah benar, sebab al-asbab berarti hubungan antar mereka di dunia, dan sesuatu yang amat mereka butuhkan kemudian terputus.

Adapun orang-orang ahli tauhid dan mereka yang ikhlas kepada Allah, maka hubungan mereka itu akan tetap tersambung, ia akan kekal sekekal Dzat yang disembah dan dicintainya. Sebab hubungan itu tergantung kepada yang dijadikannya sandaran, baik dalam kekekalan maupun keterputusan.

*)Uhal Ad-Durrul Mantsur, (1/402).

Sumber : Dari sebuah buku terjemahan karya Ibnu Qayyim yang berjudul Manajemen Qalbu Melumpuhkan senjata syaithan hal 347~348

Read More

Sabtu, 13 April 2013

Ketika Keinginan Bunuh Diri Muncul

Bismillahirrahmanirrahim



Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.


Oke. Kita paham kalau dunia ini sempit. Kita juga paham kalau dunia ini hina. Kita juga paham kalau dunia ini penuh cobaan. Tapi kadang paling susah untuk bersabar dalam menjalani hidup ini. Well, bisa dibilang saya mau membuat pengakuan. Dulu, udah lama banget sih, saya pengen banget melakukan yang namanya bunuh diri. Sambil nyari tempat bagus buat lompat, tiba - tiba syaithan yang tadinya mengajak saya buat bunuh diri itu hilang, tiba - tiba saya teringat akan sesuatu, bahwa ternyata saya ingat bahwa saya belum nikah. *ahh gak nikmat banget alasannya.

Well, ide ini emang ide paling bodoh yang pernah ada dalam pikiranku, dan jujur aja, waktu itu saya belum belajar tentang tauhid sama sekali. Dan, dorongan itu menjadi semakin kuat setelah membaca sebuah komik berjudul "Alive" yang berisi tentang orang-orang yang terkena virus keinginan bunuh diri. Hanya beberapa orang yang selamat dari virus tersebut. Dan akhirnya orang tersebut mendapat kekuatan super. *sambil berharap mendapatkan kekuatan super waktu itu.

Faktor utama dari hal ini adalah rasa keputus asaan yang tiada akhir karena masalah yang juga tiada akhir. Semua orang di dunia ini pasti pernah merasakan hal yang sama, ketika tidak ada lagi tempat untuk berharap. Padahal kita lupa, ada Allah yang bisa selalu kita jadikan tempat curhat yang bisa memberikan penyelesaian masalah kita.

Sebenarnya hal tidak masuk akal apa sih yang membuat kita putus asa dan mau bunuh diri? Mungkin karena kita selalu berpikir negatif dan selalu memikirkan kemungkinan terburuk, dan melupakan bahwa Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya, yang sudah mengatur takdir itu sedemikian rupa. Sebuah ayat dari dalam Al-Qur'an dalam surah Al-Baqarah ayat 286 memperingatkan kita bahwa Allah tidak memberikan kita cobaan melebihi kemampuan kita. Well, emang saya gampang bicara kayak gini, tapi saya sendiri juga masih sulit mengatasi cobaan yang diberikan padaku dengan bersabar. Karena itu mari kita sama-sama berusaha untuk bersabar.

Tentang Bunuh diri? Lupain aja deh, gak ada gunanya. Jangan-jangan justru Allah memberikan kita umur lebih panjang supaya kita lebih banyak mendapat cobaan agar bisa menghapus dosa kita di masa lalu. Atau memberikan kita kesempatan untuk bertaubat. Sebagai penutup, saya mencopas beberapa hadits tentang ketidak bolehan kita berputus asa dan menginginkan mati dengan cepat,
Janganlah mengharapkan kematian, dan jangan pula berdoa memohon kematian sebelum datang waktunya! Karena amalnya akan terputus jika ajal menjemputnya, dan karena umur seorang mukmin tidak akan menambah keculi kebaikan baginya” (HR. Muslim)

Janganlah mengharapkan kematian, karena bisa jadi, ia adalah seorang yang baik, dan diharapkan kebaikannya akan bertambah. Dan bisa jadi, ia adalah seorang yang jelek, dan diharapkan ia berubah mengharapkan ridho Alloh (dengan taubat dan istighfar)” (HR. Bukhari).

Janganlah mengharapkan kematian karena tertimpa musibah duniawi, jika terpaksa, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Alloh panjangkan hidupku, jika kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku’!” (HR. Bukhari dan An-Nasa’i, dishahihkan oleh Albani)

Anas bin Malik Radhiallahu’anhu mengatakan: “Seandainya aku tidak mendengar Nabi –shollallohu alaihi wasallam pernah bersabda ‘Janganlah mengharapkan kematian’, tentunya aku sudah mengharapkannya” (HR. Bukhari)
Dan dosanya balasan terhadap dosa bunuh diri itu lumayan berat, berikut ada sebuah hadits,

Barangsiapa bunuh diri dengan besi, maka di neraka jahanam nanti besi itu selalu di tangannya, ia menusuk-nusukkannya ke perutnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, maka di neraka jahanam nanti ia akan terus meminumnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka di neraka jahanam nanti, ia akan menjatuhkan (dirinya) selama-lamanya” (HR. Muslim)

Hargailah hidupmu, Karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Beruntunglah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya“ (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim)

Ditulis 7 Desember 2011
Sebuah catatan lama dari saya

Wa billahi taufiq wal hidayah

Read More

Rabu, 10 April 2013

Rendah Diri, Sifat Malu yang Tercela

Bismillahirrahmanirrahim


Qâdhi ‘Iyâdh rahimahullâh dan yang lainnya mengatakan, “Malu yang menyebabkan menyia-nyiakan hak bukanlah malu yang disyari’atkan, bahkan itu ketidakmampuan dan kelemahan. Adapun ia dimutlakkan dengan sebutan malu karena menyerupai malu yang disyari’atkan.”[26] Dengan demikian, malu yang menyebabkan pelakunya menyia-nyiakan hak Allah Azza wa Jalla sehingga ia beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agamanya, menyia-nyiakan hak-hak dirinya sendiri, hak-hak orang yang menjadi tanggungannya, dan hak-hak kaum muslimin, adalah tercela karena pada hakikatnya ia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan.(*1)

Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syar’i, malu mengaji, malu membaca Alqur-an, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim, malu untuk shalat berjama’ah di masjid bersama kaum muslimin, malu memakai busana Muslimah yang syar’i, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela karena akan menghalanginya memperoleh kebaikan yang sangat besar.

Tentang tidak bolehnya malu dalam menuntut ilmu, Imam Mujahid rahimahullah berkata,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.

Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu.(*2)

Ummul Mukminin ‘Âisyah Radhiyallâhu ‘anha pernah berkata tentang sifat para wanita Anshâr,

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ ، لَـمْ يَمْنَعْهُنَّ الْـحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِـي الدِّيْنِ.

Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshâr. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu Agama.(*3)


Para wanita Anshâr radhiyallâhu ‘anhunna selalu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ada permasalahan agama yang masih rumit bagi mereka. Rasa malu tidak menghalangi mereka demi menimba ilmu yang bermanfaat.

Catatan kaki:

*1. Lihat Qawâ’id wa Fawâid (hal. 182).
*2. Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri secara mu’allaq dalam Shahîh-nya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ' fil ‘Ilmi dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jâmi’ bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/534-535, no. 879).
*3. Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahîhnya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ' fil ‘Ilmi secara mu’allaq.
Read More

Kriteria Wanita Idaman

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Setelah sebelumnya kita mengkaji siapakah pria yang mesti dijauhi dan tidak dijadikan idaman maupun idola, maka untuk kesempatan kali ini kita spesial akan membahas wanita. Siapakah yang pantas menjadi wanita idaman? Bagaimana kriterianya? Ini sangat perlu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, sehingga si pria tidak salah dalam memilih. Begitu juga kriteria ini dimaksudkan agar si wanita bisa selalu introspeksi diri. Semoga bermanfaat.
Kriteria Pertama: Memiliki Agama yang Bagus
Inilah yang harus jadi kriteria pertama sebelum kriteria-kriteria lainnya. Tentu saja wanita idaman memiliki aqidah yang bagus, bukan malah aqidah yang salah jalan. Seorang wanita yang baik agamanya tentu saja tidak suka membaca ramalan-ramalan bintang seperti zodiak dan shio. Karena ini tentu saja menunjukkan rusaknya aqidah wanita tersebut. Membaca ramalan bintang sama halnya dengan mendatangi tukang ramal. Bahkan ini lebih parah dikarenakan tukang ramal sendiri yang datang ke rumahnya dan ia bawa melalui majalah yang memuat berbagai ramalan bintang setiap pekan atau setiap bulannya. Jika cuma sekedar membaca ramalan tersebut, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya mengenai sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam.[1] Jika sampai membenarkan ramalan tersebut, lebih parah lagi akibatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kufur pada Al Qur’an yang diturunkan pada Muhammad.[2]
Begitu pula ia paham tentang hukum-hukum Islam yang berkenaan dengan dirinya dan juga untuk mengurus keluarga nantinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan seorang pria untuk memilih perempuan yang baik agamanya. Beliau bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”.[3] Sebenarnya makna “taribat yadakadalah
Inilah kriteria wanita idaman yang patut diperhatikan pertama kali –yaitu baiknya agama- sebelum kriteria lainnya, sebelum kecantikan, martabat dan harta.
Kriteria Kedua: Selalu Menjaga Aurat
Kriteria ini pun harus ada dan jadi pilihan. Namun sayangnya sebagian pria malah menginginkan wanita yang buka-buka aurat dan seksi. Benarlah, laki-laki yang jelek memang menginginkan wanita yang jelek pula.
Ingatlah, sangat bahaya jika seorang wanita yang berpakaian namun telanjang dijadikan pilihan. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”[4] Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah:
  1. Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
  2. Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang.[5]
Sedangkan aurat wanita yang wajib ditutupi adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, danjanganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.[6]
Kriteria Ketiga: Berbusana dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syar’i
Wanita yang menjadi idaman juga sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami sarikan dari berbagai dalil Al Qur’an dan As Sunnah.
Syarat pertama: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.
Syarat kedua: Bukan memakai pakaian untuk berhias diri.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[7]
Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.
Syarat keempat: Tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.”[8]
Inilah di antara beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang pantas dijadikan kriteria.
Kriteria keempat: Betah Tinggal di Rumah
Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).
Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”.[9]
Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”.[10]
Kriteria Kelima: Memiliki Sifat Malu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ
Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.[11]
Kriteria ini juga semestinya ada pada wanita idaman. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)
Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya".Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS. Qashash: 23-24). Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!
Demikianlah kriteria wanita yang semestinya jadi idaman. Namun kriteria ini baru sebagian saja. Akan tetapi, kriteria ini semestinya yang dijadikan prioritas.
Intinya, jika seorang pria ingin mendapatkan wanita idaman, itu semua kembali pada dirinya. Ingatlah: ”Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”. Jadi, hendaklah seorang pria mengoreksi diri pula, sudahkah dia menjadi pria idaman, niscaya wanita yang ia idam-idamkan di atas insya Allah menjadi pendampingnya. Inilah kaedah umum yang mesti diperhatikan.
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu mendapatkan keberkahan dalam hidup ini.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Diambil dari Artikel www.remajaislam.com

[1] HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[2] HR. Ahmad (2/492). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[3] HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1446, dari Abu Hurairah.
[4] HR. Muslim no. 2128, dari Abu Hurairah.
[5]Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/190-191, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua.
[6] Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14.
[7] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/133, Mawqi’ Al Islam.
[8] HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[9]Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11/150.
[10] HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.
[11] HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.
Read More

Minggu, 07 April 2013

Beban Orang yang Berumur Sampai Enam Puluh Tahun

Bismillahirrahmanirrahim


Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam beliau bersabda, "Allah memberi kesempatan kepada seseorang yang dipanjangkan usianya sampai enam puluh tahun"(HR. Bukhari)

Syeikh Utsaimin menyebutkan mengenai arti hadits tersebut, bahwa Allah Ta'ala jika memberikan kesempatan usia kepada seseorang hidup selama enam puluh tahun, maka tidak ada argumen lagi baginya, karena ia hidup selama enam puluh tahun telah banyak mengetahui ayat Allah, apalagi jika ia hidup dalam negeri Islam, tentu merupakan argumen kuat, sehingga tidak ada lagi alasan baginya jika bertemu dengan Azza Wa Jalla kelak.

Seandainya usianya dipendekkan hanya lima belas tahun atau dua puluh tahun misalnya, bisa jadi ia memiliki alasan belum sempat mengkaji ayat-ayat Allah, tetapi jika ia diberi kesempatan hingga enam puluh tahun, maka tidak ada alasan baginya, karena manusia itu dituntut sejak ia usia baligh, sejak itu ia diberi tanggung jawab oleh Allah.


Maka kewajiban seseorang adalah mempelajari syariat Allah Ta'ala sesuai kebutuhannya, misalnya jika ia perlu berwudhu maka ia wajib belajar bagaimana cara berwudhu, ingin shalat wajib belajar bagaimana cara shalat, jika ia memiliki harta wajib mengetahui nishab hartanya dan berapa yang harus ia keluarkan, jika ingin puasa wajib belajar bagaimana ia berpuasa dan apa saja yang membatalkan puasa, jika ingin haji wajib belajar bagaimana ia menunaikan haji dan umrah, dan apa saja larangan dalam ihram, jika ingin jual beli maka harus mengetahui hukum riba, bentuk-bentuknya, syarat-syarat jual beli emas dengan emas, emas dengan perak, jika ia penjual makanan maka ia harus mengetahui bagaimana ia menjual makanan, mengenali sifat-sifat curang yang dilarang, dan sebagainya.

Yang penting seseorang yang mencapai usia enam puluh tahun tidak ada lagi alasan baginya sama sekali, setiap orang wajib mempelajari syariat yang ia butuhkan dalam semua syariat: shalat, zakat, puasa, haji, jual beli, wakaf, dsb sesuai dengan yang dibutuhannya.

Hadits ini sebagai dalil bahwa Allah Subhana wa Ta'ala memiliki alasan ketika hendak menghukum hambanya karena Allah telah menganugrahkan akal dan pemahaman, mengutus rasul, dan risalah yang abadi hingga hari kiamat kelak, karena risalah-risalah yang terdahulu adalah terbatas untuk kaumnya saja, karena setiap Rasul yang datang itu menghapuskan risalah yang sebelumnya.

Adapun umat ini yang Allah telah mengutus kepadanya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai penutup para nabi dan menjadikan ayat-ayatNya yang mulia ini kekal selamanya, karena ayat-ayat para Nabi terdahulu mati dengan wafatnya para nabi, tidak ada yang tersisa kecuali kenangan.

Adapun ayat-ayat Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah kekal hingga hari kiamat, sebagaimana Allah telah berfirman, 

Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata".Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.(Al-Ankabuut: 50-51)

Kitab Al Qur'an adalah cukup bagi orang membaca, mernungkan, memikirkan, menggali maknanya, dan mengambil manfaat dan pelajaran dari kisah didalamnya. Sungguh dengan kitab Al-Qur'an ini cukup baginya. 


Tetapi yang menjadikan kita tidak meresapi ayat-ayat Al-Qur'an ini karena kita tidak membacanya dengan merenungkan dan mengambil pelajaran darinya, tetapi mayoritas kaum muslimin membacanya sebagai untuk mendapatkan berkah dan pahala saja.

Kewajiban kita adalah membaca Al-Qur'an dengan merenungkan dan mengambilnya sebagai pelajaran yang berharga sebagaimana firman Allah Ta'ala,

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Shaad: 29)

Kami ketik ulang dari Terjemahan Syarah Riyadush Shalihin yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Penerbit Darus Sunnah Press Bab Anjuran Untuk Memperbanyak Amalan Shalih
Read More

Jumat, 05 April 2013

Lagi Sakit Hati

Bismillahirrahmanirrahim


Sebelum memulai sebuah cerita, saya ingin bertanya pada anda, pernahkah anda merasakan sakit hati? Tentu banyak diantara kita yang pernah merasakan sakit hati. Sakit hati kenapa? Mungkin karena telah ditolak cintanya, atau diputuskan oleh sang kekasih, atau dikhianati teman, atau dihina oleh orang lain. Ada banyak cara yang bisa membuat seseorang sakit hati.

Tapi, hari ini saya merasa sangat sakit hati. Merasa terhina, dan tidak mampu lagi menghilangkan kehinaan dalam diri. Serasa jarum yang ditusuk berkali-kali kedalam hati. Namun tidak menimbulkan bekas. Tanpa ada luka di dada. Hanya ada perasaan takut, sedih, cemas, dan rasa berdosa menghantui. Mengapa bisa?

Mulai pekan lalu, orang tuaku, lebih spesifik lagi adalah ibuku, meninggalkanku sendiri di Fukuoka untuk melanjutkan sekolah. Tentu, hal yang sangat normal jika seorang ibu meninggalkan anaknya sendiri, apalagi sudah tua, sudah berumur 20 tahun. Sayapun salah satu dari manusia yang berfikir demikian. Mengapa? Tentu sudah saatnya bagiku untuk belajar hidup mandiri, tanpa hidup dibawah ketiak orang tuaku lagi.

Nah, sebenarnya tak ada masalah dengan hal tersebut. Saya pun sebenarnya cuek dengan hal tersebut. Tapi, ketika memasuki pekan ini, ada hal yang aneh menyelimuti sekitarku. Bukan perasaan rindu, tetapi lebih tepatnya perasaan bersalah. Kuakui, orang tuaku selama ini adalah orang yang suka mengatur. Sebagaimana anak normal lainnya, kadang saya menuntut kebebasan dalam berpendapat dan memilih yang kusukai. Walaupun pada awalnya saya selalu membantah, bahkan membentak orang tuaku pada hal yang tidak kusukai, tapi akhirnya sayapun pasrah karena tidak mampu membantah. Mungkin determinasi orang tua begitu kuat sehingga sayapun tidak bisa mengubahnya.

Nah, melanjutkan perasaan bersalah ini, mungkin Saya merasa sangat bersalah sebagai seorang anak. Mengapa? Seperti yang kujelaskan diatas, karena banyaknya keinginan untuk membantah dan membentak orang tua. Padahal, bukankah Rasulullah sudah mengajarkan kita bagaimana berlaku baik pada orang tua? Bukankah adab-adab yang telah diajarkan pada para sahabat oleh Rasulullah cukup menjadi teladan bagaimana seorang anak berlaku pada orang tuanya?

Kombinasi rasa bersalah ini lengkap ketika saya mendengarkan sebuah ceramah berdurasi satu jam yang kudengarkan dari bassfmsalatiga.com (Sebuah Radio Sunnah dari kota Salatiga), sebuah kajian yang membahas tentang birul walidain. Karena memang sedang nganggur berat, saya menyempatkan diri untuk mendengarkan kajian tersebut. Dan cukup tersentuh sebuah kalimat yang diucapkan oleh sang ustadz, "
seorang anak ketika ingin bekerja/sekolah di luar kota/negeri, atau intinya ditempat yang jauh dari orang tuanya, maka dia tetap harus meminta izin kepada orang tuanya...Karena bagaimanapun juga, orang tua akan rindu kepada anaknya..." Dan hal ini sangat kusetujui mengingat bagaimana rindunya ibuku ketika terpisah dari adik yang waktu itu harus pulang ke Indonesia untuk melanjutkan sekolahnya. Karena itu, sekarang saya mulai berpikir bahwa orang tuaku akan merasakan hal yang sama padaku.

Setelah beberapa hari berselang tibalah hari Jum'at, hari yang mulia dimana kita melaksanakan shalat jum'at berjamaah seperti biasanya di masjid. Ketika di dalam perjalanan ke masjid, sempat membaca postingan di FB seorang teman, yang beliau share dari postingan Darwis Tere Liye. Ada sebuah kata-kata yang begitu menyentuh, yakni "Lihatlah anak-anak, meski habis dimarahi, habis dibentak, saat kita pulang mereka berteriak berlarian senang, seolah lupa habis dimarahi". Mungkin hal itulah yang sering terjadi padaku sewaktu kecil mungkin sampai sekarang, tidak peduli seberapa keraskah saya dibentak dimarahi, atau apapun itu, tidak ada sedikitpun perasaan cinta pada orang tua yang hilang karena perhatian yang mereka berikan yang tiada putus-putusnya.

Puncaknya adalah ketika mendengarkan khutbah jum'at siang tadi. Kali ini tegurannya lebih keras lagi, tentu karena khutbah bukan hanya sekedar tulisan, tapi juga diambil dari sumber-sumber Qur'an dan Sunnah. Bukankah tidak ada kata-kata yang lebih tinggi dari perkataan Allah dan RasulNya? Hal ini merupakan teguran yang sangat keras bagiku, karena judul yang dibacakan oleh khatib adalah tentang birrul walidain. Ahh, apalagi kalau bukan petunjuk dari Allah jika sudah begini jadinya, berapa banyak lagi ceramah yang lewat didepanku untuk menyadarkanku tentang hal ini. Karena itu aku merasakan sakit hati yang amat sangat, karena Allah menegurku atas kesalahanku. Sakit hati ini, bukan sakit hati biasa karena disebabkan oleh kecengengan yang tidak jelas, tapi jujur karena merasa bersalah kepada kedua orang tua.

Ditambah dengan sedikit ceramah di perjalanan pulang, sebuah ceramah berjudul "And We Thought We Thanked Allah" yang dibawakan oleh Bro. Abu Mussab. Menjadi pelengkap, ketika beliau memberikan hadits yang berbunyi, 
“Siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)
Dan Rasulullah juga bersabda,
“Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud)

Bagaimana mungkin seorang anak mampu membalas kebaikan kedua orang tuanya, yang telah membuatnya ada di dunia ini. Benar kita harus berterima kasih pada Allah atas nikmat dan karuniaNya, tetapi tanpa adanya perantara ini(orang tua, red) kita tidak akan mampu untuk mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah begitu saja. Karena itulah, adalah salah satu kewajiban setiap muslim untuk mendoakan orang tua mereka.

Akhir tulisan, Saya berharap s
emoga kuliah ini menjadi berkah tersendiri buat ane, soalnya kata pak ustadz, lebih berkah tempat kerja/kuliah yang kita diridhoi oleh orang tua, ketimbang tempat kuliah/kerja yang kita inginkan walaupun kelihatannya lebih baik.

Wa billahi taufiq wal hidayah

Read More

Kamis, 04 April 2013

Single


Single
Kata orang-orang itu adalah hal yang menyesakkan...
Tapi tidak bagiku yang belum cukup bekal untuk menanggung beban setelah pernikahan...
Itu bukan hal yang menyesakkan...
Tetapi untuk melatih kesabaran...

Kesabaran dalam menanti kematangan...
Kesabaran dalam mempersiapkan masa depan...
Kesabaran dalam mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab atas sang wanita idaman...
Kesabaran dalam menanti dia yang mungkin belum pernah muncul dalam pandangan...

Mungkin, waktu dapat mengobati rindu karena LDR ini...
LDR dengan sang istri yang tak ada di masa kini...
Atau, bagaimana jika seandainya ku akan tetap single sampai mati...
Aku tetap ridha, daripada harus menjadi orang yang terburu-buru tapi berdosa karena tak mampu menanggungi istri...

Dalam salah satu sabda Rasulullah berkata...
Bahwa cukuplah seorang berdosa jika membiarkan orang yang ada dalam tanggungannnya menjadi sia-sia...
Itu salah satu gambaran beratnya menjadi seorang suami yang menjadi pemimpin rumah tangga...
Tanggung jawab menafkahi itu adalah satu dari hal yang utama...

Walau kadang hati diliputi rasa cemas...
Ketika melihat pasangan disekitar yang membuat hati panas...
Atau sekedar rasa cemburu karena belum ada mengisi hati ketika sedang was-was...
Tapi tak satupun keraguan dalam iman ketika menanti takdir yang telah ditentukan yang Diatas...

Sekedar ingin menjelaskan...
Ini bukan puisi galau yang menunjukkan kelemahan...
Tapi mengutarakan isi hati yang sedang ingin dikuatkan...
Agar tidak menjadi sarang syaithan...

Single adalah waktu yang tepat bagimu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mencari ilmu...
Sebagai bekal yang akan kau ajarkan nanti kepada istri dan anak-anakmu...
Juga sebagai penunjuk jalan di duniamu...
Dan penentu takdir tempat tinggal terakhirmu...
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.