Selasa, 16 Desember 2014

Tentang Harta dan Ilmu

“Permisalan umat ini seperti empat kelompok manusia:
a. Seseorang yang Allah beri harta dan ilmu agama, maka dia beramal dengan hartanya sesuai ilmunya, dia infakkan hartanya sesuai kewajibannya.
b. Seseorang yang Allah beri ilmu, tapi tidak Allah beri harta. Dia berkata, ”Andai aku punya harta seperti dia (kelompok pertama), niscaya aku akan berbuat seperti yang dia lakukan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi catatan,
”Mereka berdua mendapatkan pahala yang sama.”
c. Seseorang yang Allah beri harta, namun tidak Allah beri ilmu. Dia menghabiskan hartanya dan dia keluarkan hartanya pada tempat yang bukan haknya.”
d. Seseorang yang tidak Allah beri harta dan tidak pula ilmu. Maka dia berangan-angan, ”Andai aku punya harta seperti dia (kelompok ketiga), niscaya aku akan berbuat seperti orang itu.”
lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi catatan,
”Mereka berdua mendapatkan dosa yang sama.”
(HR. Ahmad 18024, Ibn Majah 4228, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Read More

Jumat, 12 Desember 2014

Ketika Memilih Dosen Pembimbing...(Tipe-Tipe Dosen)

Masuk golongan apakah anda? Sanguin? Koleris? Melankolis? Pleghmatis? Apakah anda sedang menyusun tugas akhir?

Jika anda termasuk golongan pleghmatis atau sanguinis, ada baiknya jika anda mencari dosen pembimbing yang bertipe dominan melankolis. Karena dosen bertipe melankolis, khususnya yang berpengalaman, biasanya paling tahu bagaimana cara memperlakukan anak didiknya. Dia tahu yang mana yang harus dikerasi dan yang mana yang harus diberikan motivasi. Dia tahu apa yang paling pantas untuk si A dan si B. Mereka kreatif dalam menyelesaikan masalah, mereka bahkan akan memahami masalah sebelum masalah itu muncul. Karenanya, mereka tipe pendidik terbaik menurut saya.

Bagaimana cara mendeteksi tipe2 tersebut? Untuk petunjuknya mungkin bisa dibaca disini http://muslimafiyah.com/benang-merah-syariat-dan-empat-sifat-dasar-melankolis-koleris-sanguin-dan-plegmatis.html

Untuk menganalisa mereka dalam tiap pertemuan dalam kelas itu penting, jadi anda harus perhatikan dia ketika mengajar, karena untuk bisa membaca sifat mereka, anda perlu memperhatikan caranya berpakaian, caranya mengajarnya, caranya berbicara, bahkan kalau bisa, add facebooknya sekalian, karena kita bisa mengenali sifat orang dari facebooknya.  

Misalnya dosen melankolis, beliau cenderung rapi, mengajar dengan pakaian lengkap, perfeksionis, biasanya dia tidak akan langsung marah jika melihat sesuatu yang tidak disukai, tapi disimpan dihati, dan semua perasaannya kepada anda akan terlihat melalui nilai anda, dan mengajar sampai benar2 yakin kalau muridnya mengerti, dll. 

Dosen koleris, mereka cenderung gampang marah, perfeksionis, dan suka mengeluarkan aturan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan materi kuliah. Biasanya dosen-dosen ini diberi gelar 'dosen killer' oleh para mahasiswanya. Dosen yang satu ini ekspektasinya tinggi, tapi tidak memberikan perhatian lebih kepada muridnya.

Dosen sanguin, biasanya super cuek. Pernah ada dosen yang saya duga sanguin, pada saat sedang mengajar ada murid yang tidur terlentang sampai ngorok keras sekali, apalagi murid di kelas waktu itu cuma 15, dan beliau berbalik dan hanya tertawa kecil. Kalau mengajar, tidak mengajar sampai yakin muridnya paham, yang penting dia sudah mengajar dengan baik (menurut pemahamannya). Penampilan juga ala kadarnya, dan cenderung 'baik' dalam memberi nilai. 

Kalau dosen pleghmatis...hmmm...agak susah menggambarkannya, soalnya mereka misterius. Tapi dari tampang bisa dikenali, dan mereka cenderung anti sama konflik. Kalau memberi nasehat bijak sekali, tapi nggak bakal ngasih nasehat sampai diminta. Mereka juga senang dapat masukan dari muridnya. Jauh berbeda sama koleris yang cenderung menyalahkan muridnya jika beda pendapat.

Mmm, mungkin segitu aja. Tulisan ini bisa benar, bisa juga salah, karena tiap orang berbeda, begitu juga dengan kecenderungan sifat mereka. Hanya saja, jika melihat kencenderungan sifat diatas pada dosen anda, maka pilihlah yang melankolis. Teori ini juga hanya berdasar pada pengalaman pribadi dan baca sebuah buku, bukan karena fokus ilmu.

Ditulis sebagai iseng-iseng, ketika sedang nungguin bus setelah berbelanja huhuhu...
Read More

Kamis, 11 Desember 2014

Membaca Cepat

Mungkin anda tidak memperhatikan bahwa hampir di setiap tulisan yang saya tulis di facebook, dalam satu kalimat ada saja kata yang sangat penting hilang. Tetapi, ada beberapa orang yang memberikan jempol pada tulisan tersebut tanpa memberikan kritikan. Kemungkinannya ada dua, apakah beliau memberikan jempol dengan sukarela, bisa juga karena beliau membaca kelompok kalimat. Artinya, ketika membaca beliau tidak membaca per kalimat, tetapi membacanya per beberapa kalimat. Hal ini sangat efektif karena akan memudahkan kita untuk memahami sebuah paragraf tanpa menghabiskan waktu lebih. 
Katanya membaca cepat itu bisa mengurangi pemahaman. Tapi kenyataannya tidak begitu. Kurangnya pemahaman justru karena ketika membaca kita 'gagal fokus', bukan karena terlalu cepat membaca. Kalaupun memang membaca cepat itu bisa mengurangi pemahaman, maka itu berarti kita butuh latihan agar bisa terbiasa untuk membaca cepat.

Untuk meraih keberhasilan dalam membaca cepat, tentu hal ini juga perlu latihan. Pertama-tama kita coba dengan membatasi akan membaca per beberapa baris, lalu ditingkatkan menjadi satu paragraf, dstnya. Untuk lebih efektif lagi, gunakan timer untuk membatasi diri anda, karena hal ini juga bisa meningkatkan kemampuan kita untuk membaca cepat.

Selain itu, berikut ini ada beberapa tips agar kita mampu membaca cepat:

1. Tinggalkan teknik membaca dengan lisan, lakukanlah dengan membaca dengan hati
2. Gunakan pengetahuan bahasa Anda, seperti pola, kalimat, logika berpikir, kata perangkai kalimat, dan kata kunci (keywords). Sebaliknya, hindari kata-kata tugas karena tidak pentng untuk pemahaman. Cara ini bisa menghemat 10-50% kata2 yang tidak penting.
3. Gunakan gerakan mata, bukan gerakan kepala.
4. Terapkan pengetahuan membaca yang Anda dapat, yaitu previewing, scanning and skimming.
5. Biasakan diri dengan deadline waktu. Adanya tekanan waktu (time pressure) akan membantu anda untuk lebih konsentrasi pada materi bacaan.
6. Cara terbaik membaca adalah dengan mata dan otak (konsentrasi), bukan dengan lisan (bicara), gerakan kepala, atau memakai jari. Slogan yang perlu diingat: " Bacalah ide pada teks, bukan kata-kata".

*hasil serapan dari sebuah buku, Smart Reading for Muslim yang diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Musa Asy-Syarif
Read More

Rabu, 26 November 2014

Kisah Awal Permulaan Mulai Menulis di Blog

Bismillahirrahmanirrahim

Setuju atau tidak, menurut saya Indonesia itu kaya dengan penulis. Mulai dari penulis fiksi, kisah nyata, naskah sinetron, sampe yang kerjanya cuma curhat di blog. Tapi yang bikin saya terpukau adalah mereka yang menghabiskan waktunya untuk nulis tentang ilmu untuk mengenal Allah dan RasulNya.

Jadi ingat waktu pertama kali mengenal blog di zaman SMA. Waktu itu ada teman ngegame yang mulai jarang ngegame, tapi lebih sering nongkrong di bagian 'internet' dari tempat kami ngegame.

"Lagi ngapainko", tanya saya
"Lagi ngeblog", jawab dia
"Apa sede itu blog? Baku temanji sama friendster ato facebookkah?", lanjut saya
"Bukan, tapi untuk nulis", jawab dia lagi
"Ooo", saya pun mengakhiri percakapan. Ini percakapan dari memori lupa-lupa ingat, jadi mungkin saja salah.

Lalu, suatu hari ada teman yang lagi ngenet di warnet langganan saya itu. Karena tiap hari ngenet saya pun nanya ke dia, dan dengan alasan yang sama ternyata dia juga lagi ngeblog. Yang lebih norak, dia curhat tentang permasalahannya disana. Belakangan saya sadar kalau saya lebih norak karena nulisnya di Facebook yang bisa dibaca oleh banyak orang, bukan di blog.

Akhirnya saya pun ikut membuat blog, waktu itu masih tahun 2009. Tapi pada waktu itu belum ada minat buat nulis ini dan itu. Mungkin waktu itu sosok saya masih misterius, miskin rasa percaya diri, dan cenderung hidup di dunia sendiri. Tapi, semua berubah ketika negara api menyerang, ehh maksud saya ketika nganggur setahun di rumah dan menghabiskan waktu untuk hal yang membosankan. Lalu, saya kembali menengok blog lama saya di wordpress. Saya lupa namanya apa, kalau nggak salah 'faridanimeotaku.wordpress.com'. Mungkin anda tidak akan menemukannya lagi karena sudah dicuci bersih oleh saya dengan kekuatan 10 jari.

Lalu, saya pindah ke lain hati. Dengan membuat blog baru, yang sampai sekarang masih saya pakai. Genrenya nggak beda, cerita fiktif dari berbagai kartun yang digabung dan dijadikan cerita konyol yang bisa mengocok perut. Tapi, pada suatu ketika, saya mendapatkan hidayah (#ehh), lalu saya menghapus semua cerita konyol itu dan menuliskan isi ceramah di blog maupun di Facebook.

Tapi, saya sadar untuk menuliskan isi ceramah perlu berbagai sumber agar menghasilkan catatan kaki yang bagus. Tapi berhubung saya nggak bisa bahasa Arab, saya pun mencoba untuk mengurangi intensitas menulis tentang hal tersebut. Karena saya paham kalau saya bukan orang yang berilmu. Akhirnya, saya hanya menuliskan isi buku yang saya baca untuk kembali di posting di blog.

Saya belum pernah membaca buku-buku yang best seller di Indonesia, karena saya terlalu 'malas' untuk memvisualisasikan tulisan. Saya lebih senang membaca tulisan-tulisan ilmiah, terutama ilmu Islam. Yah setidaknya menurut saya itu lebih bermanfaat daripada membaca novel, kisah nyata, atau yang sejenisnya. Kalaupun butuh hiburan, komik adalah pilihan. Entah mengapa, saya begitu tergila-gila pada literatur Jepang yang berupa manga dan anime.

Selain itu, sejak awal nulis, saya jadi suka memperhatikan gaya tulisan orang lain. Dari saya kita bisa melihat karakternya. Saya juga bisa membaca karakter saya sendiri dari tulisan saya, tapi tentu saya nggak bakal bilang-bilang, soalnya pada tulisan saya tampak begitu banyak kekurangan pada diri saya.

Awalnya saya begitu suka dengan tulisan-tulisan Raditya Dika, tapi entah mengapa sekarang malah nggak suka. Demi menjaga perdamaian dan privasi sang penulis, tentu saya tidak akan membeberkan kenapa saya nggak suka. Sekarang, saya lebih cenderung suka pada yang suka menulis tulisan yang berhubungan dengan Islam, salah satunya adalah ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. 

Tujuan saya menulis ini adalah untuk mengajak teman sekalian ikut berpartisipasi dan ikut menulis untuk memperkaya bangsa ini dengan bahan untuk dibaca. Coba ingat setiap kisah yang kita miliki, mungkin hal tersebut adalah hal unik yang tak pernah dialami oleh orang lain. Mungkin saja, dari kisah kita ini manusia mengambil pelajaran untuk mencontohnya, atau sebagai proteksi bagi manusia lainnya jika pengalaman yang kita ceritakan adalah hal yang buruk. Kalaupun tidak punya bahan, tulis ulanglah faedah, kesimpulan, atau ilmu yang anda temukan pada buku-buku cetak yang mungkin tak mampu ditemukan di dunia maya. 

Selain itu menulis banyak manfaatnya loh, diantaranya adalah mengikat ilmu. Ilmu itu bagaikan air, jika dibiarkan tergenang, maka akan menjadi keruh. Tapi bila dialirkan maka dia akan memberikan manfaat bagi disekitarnya. Ada juga yang mampu menambah sifat percaya dirinya ketika mulai menjadi penulis, contohnya adalah saya. Yang tadinya introvert dan cenderung menutup diri, jadi lebih percaya diri dalam mengekspresikan segala sesuatu.

Read More

Selasa, 25 November 2014

Puropoozu (propose) = Lamaran

Ceritanya hari ini pas lagi jikken(eksperimen), dan seperti biasanya anggota lab kami ngobrol ngalur ngidul sambil jikken. Salah satu perbincangan kami mengarah ke suatu pembicaraan yang agak gimanaaaa gitu. Ya, kami ngomongin masalah propoozu, atau melamar. Saya juga tidak ingat dengan alur ceritanya, tapi tiba2 saja mereka berbicara tentang iklan, dan mengatakan propoozu.
Saya : S, A : orang 1, B :orang 2, dst
S : Nee propoozu tte nani?
A : Sore wa kekkon shitai hito wa kanojou ni propoozu suru yo.
S : Eee, sokka
A : Sou yo
Setelah kerja dikit, saya nanya lagi,
S: Ano saa, nihonjin tte dono gurai tsukiatte, kekkon suru no?
A: eee, sore wa saa, hitori hitori wa chigau ndesu yo, nee B san
B: maa daitai, 3nenkan ijou dayou ne, riyuu wa, minna ga hatarakanakattara kekkon shinai yo, kane ga nai kara, girlfriendo ga mou "selamat tinggal" ni suru yo. (Temen lab pada seneng belajar bahasa Indonesia dari saya, fufufu)
S : eee, sou desuka, jaa hatachi kara tsukiatteru hito wa sono 3 nenkan ijou kakaru ndesu nee.
A: maa, sou iu kamo nee.
B: tokorode, farido tte docchi to kekkon shitai no? Indonesia jin ka, nihon jin ka?
S: maa, boku nara, indonesia jin no houga ii desu yo
A: eee, nanka nihonjin no houga kawaii to itta janai no?
S: maa, nihon jin no houga kawaii kedo, kekkon tte kawaii no koto dake janai yo, iro2na koto wo kangaeteru yo...
B: maa sore wa sou desu yo...
(Terjemahan)
S: ehh, propose itu apaan?
A: kalau misalnya ada orang yang mau nikah, nah orang ini ngelamar pacarnya.
S: ohh, gitu toh
A: iyaa
S: ehh saya mau tanya, orang jepang itu setelah berapa lama pacaran baru nikah?
A: tergantung orangnya masing2, ya kan B
B: iya, biasanya sih pacaran 3 taun baru nikah, soalnya kalau nggak punya pekerjaan nggak bisa nikah, ntar malah diucapin "selamat tinggal" sama pacarnya.
S: ohh begitu ya, jadi misalnya kita kenal dengan seseorang saat umur kita 20, maka butuh waktu lebih dari 3 tahun buat pacaran ya?
A: mungkin aja begitu
B: btw farid kamu mau nikah sama orang mana? Orang Indonesia apa orang Jepang?
S: orang indonesia
A: loh katanya orang Jepang lebih cute daripada orang Indonesia
S: yaaa, orang jepang mungkin lebih cute, tapi nikah itu kan bukan cuma masalah itu doang, ada banyak hal yang saya pikirkan
B: iya juga sih.
Dari percakapan ini bisa dipahami bahwa orang Jepang itu tidak mau menikah sampai mereka mampu mandiri dan menafkahi istri mereka, menggambarkan bagaimana tanggung jawab mereka sebagai seorang lelaki. Yang mungkin tidak sesuai dengan pemahaman kita adalah pacaran yang waktunya diperlama, bahkan tidak jarang orang yang pacaran tinggal bersama, dll. Hal lain yang saya pelajari, orang jepang ini kalau lagi nganggur dan cerita-cerita, ceritanya cuma masalah makan apa, makan dimana, masalah entertainment, dll. Jarang sekali mereka berbicara tentang hal2 yang tidak diilmuinya (disini jarang nemu orang yang ngomongin politik).
Diterjemahkan, dan ditulis secara bebas dengan banyak perubahan karena ketidak mampuan saya dalam menghapal percakapan ini , jadi kalau terdapat buaaanyak kesalahan dalam grammar yah wajar aja karena bahasa jepang saya masih jauh dibawah rata2 
Ditulis ditengah kegalauan menanti komputer baru setelah digantung berminggu2, jadi nganggur di lab sejak balik dari Indo nih 


Ditulis 17 Januari 2014
Read More

Senin, 24 November 2014

Cara supaya tidak patah hati karena putus dari pacar

Ada seorang pemuda bertanya ke pemuda lainnya...
A: Bro, tau nggak caranya supaya saya nggak merasakan rasanya diputusin pacar, kata orang diputusin pacar itu rasanya sakit bener...
B: Cuma ada 2 bro.
A: Gimana bro? Ajarin dong...
B: Yang pertama jangan pacaran, dan yang kedua adalah dengan cara nikah...Insya Allah ente nggak bakal pernah merasakan yang namanya 'patah hati karena putus cinta', karena putus itu adalah proses yang terjadi pada masa pacaran, jadi dengan tidak pacaran ente gak bakal putus, dan yang kedua dengan menikah, maka gak bakal ada kata putus...
A: Oooo...
B: Ngomong-ngomong ente lagi pacaran atau nggak?
A: Nggak...
B: Enak dong, gak perlu pake patah hati...
A: Tapi ane gak pacaran bukan karena nggak mau, tapi karena ditolak bro...
B: Sabar, itu mungkin cara Allah menghindarkan ente dari maksiat, coba buka Al-Baqarah 216...
A: Hmm...Tapi aku cinta dia...
B: Bro,
Tidak ada yang lebih menderita di dunia ini daripada seorang pecinta
Meskipun ia mendapatkan rasa manisnya cinta
Engkau melihatnya menangis sepanjang waktu
Karena khawatir berpisah ataupun karena rindu
Dia menangis ketika berjauhan karena rindu
dan diapun menangis ketika berdekatan karena takut berpisah
Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan
dan matanya pun berkaca-kaca ketika dia berjumpa
Mabuk cinta memang mendatangkan kenikmatan pada diri pelakunya, namun sesungguhnya dia adalah sebesar-besar siksa yang ada di hati… (kata ibnu Qayyim)
Jadi cara terbaik untuk menghindarkan diri dari derita ini adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah, karena hanya cinta kepadaNya lah tidak berakhir dengan kesia-siaan dan penderitaan yang berkepanjangan...
A: Hmmm...btw makasih bro atas nasehatnya...Semoga Allah memberikan kita yang terbaik...
B: Aamiin...
Read More

Rabu, 12 November 2014

Belajar Islam

Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa tahun yang lalu, pertama kalinya saya mengenal salafi. Sejak saat itu, saya sering memposting hadits, dll. Entah mengapa saat ini saya jadi merasa bersalah, karena kadang masih kurang bijak dalam menyampaikan. Misalnya memberikan hadits-hadits yang justru membuat orang semakin benci untuk belajar agama, karena orang-orang akan menganggap belajar agama itu membuat seseorang menjadi keras.
Satu hal yang tidak saya sukai waktu itu adalah ketika orang mulai menyematkan gelar-gelar seperti 'ustadz'. Padahal kan saya sendiri tahu bahwa saya hanya copy paste. Sakit, sakitnya tuh disini (sambil nunjuk hati). Karenanya, saya mau berbagi tips untuk mencari ilmu Islam, daripada orang nanya ke saya padahal saya juga belum berilmu, hanya berlandaskan pada ilmu copas.
Pertama, ikhlaskan niat untuk mencari kebenaran, dan tidak menggunakan hawa nafsu dalam berfikir. Betapa banyak orang yang diberikan peringatan namun tidak mendapatkan manfaat karena masih menggunakan hawa nafsunya dalam berpikir.
Kedua, gunakanlah http://yufid.com/ sebagai media untuk mencari hadits-hadits, ilmu fiqh, dll. Tinggal ketik kata kunci, maka akan muncul berbagai macam link, dan insya Allah sumbernya sudah diseleksi oleh tim yufid.com.Kenapa mesti di yufid? Karena pada link-link yang anda dapatkan di google ditulis bebas oleh orang-orang, termasuk yang tidak menyertakan sumber dalam menulis, jadinya kita tidak tahu, apakah yang dia tulis itu dari seorang ustadz, ulama, hadits, qur'an, atau pemikirannya sendiri. Berbeda dengan link-link pada yufid yang menyertakan catatan kaki pada setiap tulisannya (selama ini saya belum nemu tulisan yang nggak pakai catatan kaki). Disana juga anda bisa mencari berbagai macam rekaman kajian (dalam bentuk video/audio).
Ketiga, jangan percaya pada orang yang berkata 'Jangan belajar ilmu dari internet', karena sesungguhnya belajar dari internet TIDAK SEPENUHNYA SALAH, yang penting kita harus tahu mengambil sumber darimana. Toh orang-orang yang mencari ilmu dunia pun akan mencari artikel-artikel yang mereka butuhkan dari google, beberapa dari mereka menggunakan 'google scholar'.
Keempat, mulailah dari belajar hal-hal yang dasar. Begitu banyak orang diluar sana yang begitu sombong dan memaksakan diri untuk membahas ilmu yang berat, padahal diluar kapasitasnya. Jika memang tidak tahu akan sesuatu hal lebih baik diam walaupun ditanya. <=yang ini ngena banget ke saya nih.
Kelima, jangan biarkan syaithan bersenang-senang diatas kerendahan ilmu agama kita (bahkan untuk ilmu dasar yang wajib kita ketahui). Pergaulan di dunia semakin meluas dan mampu merusak pemahaman kita tanpa kita sadari.
Keenam, senantiasa berdo'a kepada Allah agar diberikan petunjuk dan pemahaman yang lurus.

Read More

Jumat, 31 Oktober 2014

Pengen Nulis Lagi

Bismillahirrahmanirrahim

Wah wah...Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Padahal akhir-akhir ini aktivitas saya jauh dari kata sibuk. Namanya juga mahasiswa baru, yang kami lakukan hanya kelas...kelas...dan kelas...Karenanya ingin sekali saya kembali menyibukkan diri untuk menulis. Apapun itu, entah ilmu syar'i, ilmu dunia, asal jangan ilmu hitam aja.

Anyway, hanya sempat bingung dengan kejadian yang ada di Indonesia akhir-akhir ini. Entah mengapa, rasanya begitu kesal dengan media yang ada. Semakin lama, pemikiran-pemikiran liberal dan pluarisme semakin menyebar dengan luas. Terus kamu bisa apa rid? Nggak ada!!! Saya paham ketidak mampuan saya dalam berbuat apa-apa. 

Situasi panas pra pilpres dan pasca pilpres belum mereda. Terlalu banyak situasi heboh yang membuat orang-orang sulit menjaga lisannya/tangannya dari berbicara. Tapi. mau gimana lagi? Mungkin hal yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah menjaga lisan dan tulisan dari hal-hal yang membahayakan diri kita ke depannya. Jangankan kita yang golongan mahasiswa, golongan kecil macam tukang sate saja bisa ditangkap. Ngeri sekali negaraku. Saya setuju kalau para penghina pemimpin di tangkap. Tapi jika kelasnya macam tukang sate, yang perkataannya tidak membawa pengaruh, kenapa mesti dipermasalahkan. Toh para penghina keluarga dan sahabat nabi malah tidak ditangkap. Banyak juga tindak kriminalitas yang sebenarnya lebih penting untuk dieksekusi daripada itu. Kesimpulannya, bahwa penangkapan itu hanya sekedar ancaman bagi yang lain, jadi marilah kita menjaga lisan kita saudara-saudara.

Oh iya, hari ini umurku sudah menjadi 22. Entah mengapa, saya sama sekali tidak merasa spesial. Yang ada hanyalah tambahan tanggung jawab. Umur 22 tahun berarti saya harus semakin menyiapkan diri untuk menjadi lebih dewasa. Walaupun saya sadar kalau saya sebenarnya masih imut-imut (gubrak). 

Di umur 22 tahun ini, untuk sementara saya ingin mengurungkan niatku untuk nikah. Bukan berarti saya tidak mau, tapi hanya menunda. Saya sepertinya butuh untuk mempersiapkan diri untuk menjadi lebih dewasa lagi. Kadang saya berpikir lagi, ya Allah, kenapa saya terlalu menggampangkan masalah. Nikah? It's not a simple thing at all. Setelah mengkaji kembali, begitu banyak gana gini yang mesti diurusi untuk pernikahan. Keberadaan diri ini pada sebuah keluarga dimana menikah 'syar'i' jauh dari paham-paham keluarga ini. Bahkan pada suatu kali saya sempat menunjukkan seorang calon pada keluarga namun mereka tidak setuju karena orang tersebut anggota salah satu ormas Islam. Ya, keluarga kami moderat saudara-saudara.

Tapi, bukan berarti saya mau mengurungkan niat untuk belajar Islam lebih dalam. Keluargaku insya Allah toleran. Mereka tidak akan marah hanya karena saya tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun. Mereka tidak akan marah hanya karena saya jenggotan, pake celana gantung, atau apalah. Bahkan, ibuku sendiri yang menjahitkan celana yang kadang kulipat karena melewati mata kaki ini (terharu). Ini yang membuat Jepang begitu asing bagiku, walaupun diriku telah bermukim disini 5 tahun.

Lima tahun itu bukan waktu yang singkat saudara-saudara. Betapa banyak luka, kenangan, dll yang tersimpan di hati dalam waktu 5 tahun tersebut. Segala macam hal yang kulalui begitu berkesan. Terutama ketika akhirnya saya mampu memegang ijazah sebagai seorang lulusan teknik sipil di Universitas Kyushu yang tidak pernah kubayangkan sama sekali. Siapalah saya? Saya hanya anak IPS dengan tingkat kemampuan rendah, yang masuk ke sebuah jurusan teknik sipil dimana kami belajar berbagai macam rumus. Tapi, Alhamdulillah semuanya berhasil kulewati.

Kini, aku memasuki bulan pertamaku sebagai mahasiswa program master, atau biasa disebut s2 kalau di Indonesia. Semuanya berjalan Alhamdulillah lancar, dan semoga ini akan terus berlanjut sampai 2 tahun ke depan. Mudah-mudahan dalam 2 tahun ini saya bisa lebih banyak belajar dan menulis agar bisa berbagi kebaikan terhadap sesama. Karena terus terang, saya merasa tidak berguna sebagai manusia, apalagi untuk Islam. 

Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayahNya kepada kita semua.
Read More

Jumat, 17 Oktober 2014

20 Facts about me

Walaupun katanya nulis 20 facts about me itu mesti ada yang ngetag, tapi karena akhir-akhir ini saya lagi nggak produktif, saya memutuskan untuk menulis ini.


#1. Nama saya Farid, lengkapnya Muhammad Farid Maricar, kayaknya sih gabungan nama dari pace (Farouk), dan mace (Rita), tinggal huruf t nya diganti dengan d biar lebih mirip nama orang. Kalau ditulis Farit, bisa-bisa orang ngira nama asli saya Ifrit, padahal kan itu nama jin. -.-a
#2. Saya anak sulung dari 2 bersaudara, nggak penting kan? Lanjut ke nomer 3
#3. Saya masuk SD sebelum umur 5 tahun, jadinya lulus SMA 16 tahun lebih, padahal nggak pernah masuk akselerasi, yang ada malah dekselerasi karena sempat nganggur 1 taun setelah lulus SMA.
#4. Saya kuliah di Kyushu University, Fakultas Teknik Sipil, Lab Sungai, padahal saya lulusan IPS.
#5. Saya keturunan mandar, tapi tidak suka makan ikan, dan itu aneh, kata ibuku.
#6. Saya pernah disuruh jadi dokter sama ortu, tapi nolak karena saya takut sama darah, luka, dan hal semacam itu.
#7. Saya adalah seorang pencinta Anime, kalau ada anime keren yang belum saya nonton, berarti saya memang khilaf atau memang kurang suka. Doraemon adalah salah satu anime yang banyak penggemarnya tapi saya nggak suka.
#8. Pencinta sajak, suka banget bikin sajak, walau akhirnya berakhir nggak jelas dan nggak bermakna.
#9. Pernah juara 1 kejuaran Scrabble waktu SMP, ngalahin ketua OSIS pula, mungkin itu adalah prestasi terbesarku.
#10. Pencinta Indomie, seperti mahasiswa lainnya. 
#11. Pengen jadi pendidik, bangsa ini sudah rusak dan butuh untuk dididik, walaupun saya tahu saya juga masih jauh dari sempurna.
#12. Pernah punya cita-cita pengen jadi guru TK, biar bisa bergaul dengan anak-anak unyu setiap hari.
#13. Tertarik untuk belajar agama pada orang-orang salafi. Kenapa? Karena keilmiahan mereka dalam memaparkan ilmu agama.
#14. Paling anti sama MLM, kenapa? Karena teman baik saya saat SMA dan SMP berubah bak serigala pencari mangsa ketika masuk MLM.
#15. Orang bilang saya kekanak-kanakan, ada juga yang bilang dewasa, mungkin karena saya terlalu banyak bergaul sama anak-anak dan bapak-bapak tapi jarang bergaul sama teman seumuran.
#16. Pertama kali suka sama 'NARUTO' gara-gara cewek gebetan juga suka sama anime tersebut.
#17. Sampai SMA, nggak bisa menghapal surah Al Quraisy, padahal surah itu cuma 4 ayat, tapi Alhamdulillah sekarang udah bisa.
#18. Belum pernah pacaran, apalagi langkah-langkah selanjutnya. Alhamdulillah 'alaa kulli haal, selalu ditolak sama cewek.
#19. Half melankolis-sanguin, super sensitif, bahkan lebih sensitif daripada orang-orang NewType.
#20. Hobby ngegame, banget, banget dan buaaanget. Semoga Allah memberikan hidayah untuk meninggalkannya.
Read More

Jumat, 10 Oktober 2014

Graduation

Finally, I reached one of my checkpoint of life. Thanks to all of my families, friends, labmates, professors, etc for supporting me until now. And special thanks to my supervisor, my parents, and my 'dai sempai' in my lab for their helps. If I missed any of you I won't be able to reach this point. 

皆さんのおかげで、今僕は卒業した。皆さんがいるから、この4年間を楽しかった。だから、僕は本当に感謝する。でも、これからも長い道があって、僕は頑張りたいと思います。だから、これからも、よろしくお願いします。
これからも目標を狙う目指す。

Akhirnya, saya bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepada saya, karena telah memberikan rezeki yang begitu tak mungkin terhitung walau seluruh umur ini habis digunakan untuk menghitungnya. Semoga segala kenikmatan, hidayah, dan segala hal yang telah saya dapatkan disini, menjadi sebuah jalan bagi saya untuk mendapatkan kehidupan yang layak di dunia dan akhirat. Semoga kelak saya bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi Islam, bangsa Indonesia, dan bumi yang kita cintai ini.


Read More

Senin, 29 September 2014

Sedikit Catatan tentang Riya

Hari ini saya sempat membaca sebuah postingan teman tentang humblebrag, pengertian humblebrag adalah  

An ostensibly modest or self-deprecating statement whose actual purpose is to draw attentionto something of which one is proud:social media status updates are basically selfies, humblebrags, and rantsAll of the dresses I thought about wearing are too big! #humblebrag (1)
Selain itu, ada juga teman yang memposting seperti ini,

"Obrolan Pagi Sepasang Suami Istri

Mama: Papa Jahat!!! Kenapa papa nggak bilang-bilang kalau papa menikah lagi?

Papa: lho mama ini gimana...
Nikah itu Ibadah, kalau bilang-bilang jadinya riya'. Gak dapat pahala dong papa :") "

Sekilas ketika kita membaca tulisan ini, ada berbagai macam tanggapan, ada yang bilang lucu, ada juga yang menganggap ini mempermainkan agama. Karena istilah-istilah yang digunakan adalah istilah dalam islam, tapi malah digunakan pada konteks yang jelek.

Suatu hari saya juga pernah memposting di Facebook, "Wah, dompet saya ketinggalan di rumah, tapi Alhamdulillah mushaf nggak pernah ketinggalan". Membaca hal itu, seseorang menasehati saya agar menjaga diri dari sifat riya' karena menunjukkan diri ini suka membawa qur'an ke kampus.

Karenanya, saya mencoba untuk mencari makna riya' dengan cara mencoba mencari kumpulan artikel para ustadz tentang riya'. Tentu, ada banyak sekali tulisan yang berhubungan dengan itu, karenanya, saya mau mencoba menghimpun dan mencoba merangkumnya.
Seperti yang kita ketahui, bahwa persyaratan diterimanya amalan adalah karena 2 hal, yang pertama, ikhlas karena Allah ta'ala, yang kedua adalah ittiba' atau mengikuti Rasulullah. Karenanya, sikap riya' jelas menggugurkan syarat pertama, karena sikap riya' akan menghilangkan keikhlasan dalam beramal.

Apa sih riya' itu?

Riya’ adalah menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain. Jadi riya’ berarti melakukan amalan tidak ikhlas karena Allah karena yang dicari adalah pandangan, sanjungan dan pujian manusia, bukan balasan murni di sisi Allah. Penyakit inilah yang banyak menimpa kita ketika beribadah. Padahal riya’ ini benar-benar Nabi khawatirkan.
Hadits yang bisa jadi renungan kita,
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً »
Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad 5: 429. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Riya’ yang dilakukan oleh seorang muslim biasanya dilakukan dengan maksud menampakkan amalan di hadapan orang lain. Ini termasuk syirik khofi, yaitu syirik yang tersembunyi (tidak nampak). Syirik ini meniadakan kesempurnaan tauhid. Allah Ta’ala mengatakan mengenai syirik,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. ” (QS. An Nisa': 48). Ayat “sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik“, termasuk juga di dalamnya syirik khofi (syirik yang tersembunyi), begitu pula syirik ashgor. Artinya, jika tidak bertaubat dari riya’ hingga mati, syirik tersebut akan masuk dalam timbangan kejelekan.
Lalu, apakah menampakkan amalan itu sudah pasti riya'? Belum tentu
Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Seseorang yang menceritakan amalan-amalan taat yang dilakukannya tidak terlepas dari dua keadaan:
Pertama, motivasi utama pelakunya adalah ingin dikatakan saleh dan orang baik serta memamerkan amal kebaikannya. Ini sangat berbahaya karena bisa membatalkan amalan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hambanya menyucikan diri-diri mereka dengan firmna-Nya, “Janganlah kalian sucikan diri-diri kalian, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).
Kedua, motivasi dia melakukan hal itu adalah untuk menceritakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang-orang yang mendengar kabar tersebut darinya ikut terdorong untuk mencotoh apa yang mereka saksikan. Tentu saja menceritakan amalan pada saat ini adalah perbuatan terpuji, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan terhadap nikmat dari Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Barangsiapa di dalam Islam mencontohkan suatu perbuatan yang baik, maka baginya ganjaran seperti ganjaran orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat.” (Nur ‘Ala Darb, 12:30).
Imam Ath-Thabary rahimahullah mengatakan, “Ada sebuah atsar (amalan generasi salaf) tentang keutamaan membaca Alquran dengan memperdengarkan suara dan ada pula atsar tentang melirihkan bacaan. Atsar ini dapat dikompromikan dengan cara, melirihkan bacaan lebih baik bagi siapa yang khawatir disusupi riya’ dan membaca dengan suara yang keras lebih baik bagi siapa yang tidak khawatir riya’ dengan syarat tidak mengganggu orang yang salat, tidur, atau yang lainnya. Amal yang zahir (nampak) itu terkadang berpengaruh bagi orang lain, maksudnya oarang lain bisa mendengarkan, memetik pelajaran, terpengaruh, atau sebagai syi’ar agama. Perbuatan ini juga bisa berpengaruh bagi orang yang membaca dengan keras tersebut; bisa membangunkan hatinya yang lalai, menghimpun semangatnya, mengusir rasa kantuk, dan menjadikan orang lain semangat untuk beribadah. Ketika seseorang memiliki salah satu dari motivasi ini, maka membaca dengan suara yang keras lebih baik dibanding dengan suara yang samar-samar.” (Tuhfatul Ahwadzi, 8:191).
Apabila menceritakan nikmat Allah termasuk menisbatkan keutamaan kepada Allah, pengakuan atas anugerah-Nya kepada hamba-Nya, pengakuan bahwasanya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia, atau memberikan teladan kepada orang-orang untuk berbuat kebajikan sehingga setiap orang yang mencontohnya beramal ia juga medapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, maka ini disyariatkan.
Namun sebaliknya, apabila hal itu dimotivasi untuk menyucikan diri, supaya jadi orang mulia, ingin dilihat dan didengar orang, mendapatkan kedudukan agar ditaati, yang demikian perkara yang tercela dan jelek.
Kedua, apabila seseorang menceritakan nikmat Allah dalam koridor yang disyariatkan, tetapi orang-orang tetap memujinya sehingga ia merasa tersanjung, namun di hatinya tidak terselip ingin dilihat dan didengar orang, maka hal ini termasuk kabar gembira yang Allah segerakan bagi orang-orang beriman.
Disegerakannya kabar gembira seorang mukmin apabila ia beramal saleh dengan mengharap wajah Allah. Orang-orang pun menghormatinya tanpa bergantung padanya dikarenakan amal saleh yang sering ia tampakkan. Ia pun tampak terhormat di hadapan orang dan dipuji dengan pujian yang baik. Ia pun kagum dengan kabar gembira ini.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Dzar radhiallahu’anhu ia mengatakan, “Ada yang mengatakan kepada rasulullah, ‘Apa pendapatmu jika seseorang yang beramal saleh, lalu orang-orang pun memujinya?’ Beliau bersabda, ‘Itulah kabar gembira yang disegerakan bagi orang yang beriman’
Lalu, bagaimana jika saya meninggalkan amalan karena takut dikatakan sebagai orang yang riya'? Meninggalkan amalan karena manusia itu termasuk riya.
Apa yang dimaksud meninggalkan amal karena manusia termasuk riya’? Perkataan ini pernah kita dengar dari Al Fudhail bin ‘Iyadh. Bagaimana penjelasan para ulama mengenai perkataan tersebut?
Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ
“Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174).
Ulama Al Lajnah Ad Daimah ditanya mengenai perkataan Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, yaitu meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia itu syirik. Kami dan saudara kami biasa meninggalkan amal sunnah karena khawatir pada manusia boleh jadi karena akan jadi bencana bagi diri kami atau merendahkan kami. Atau ada yang meninggalkan amalan karena takut cemoohan saudara yang lain atau takut ditindak secara hukum. Apakah seperti itu termasuk riya’? Lalu bagaimana cara berlepas diri darinya?
Jawab dari para ulama Al Lajnah Ad Daimah -Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia-,
Pernyataan, beramal karena manusia termasuk syirik. Pernyataan ini benar adanya karena berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan kewajiban ikhlas karena Allah dalam ibadah dan diharamkannya riya’ (pamer amalan). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebut riya’ dengan syirik ashgor dan perbuatan inilah yang paling dikhawatirkan menghidap pada umatnya.
Adapun pernyataan, meninggalkan amalan karena manusia itu riya’, maka itu tidak secara mutlak. Ada perincian dalam hal itu dan intinya tergantung pada niat.  Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” Jadi niat ini yang jadi patokan, ditambah amalan tersebut harus bersesuaian dengan tuntunnan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini berlaku pada setiap amal. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang beramal tanpa tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Jika seseorang meninggalkan amalan yang tidak wajib karena menyangka bahwa hal itu dapat membahayakan dirinya, maka tidak termasuk riya’. Ini termasuk strategi dalam beramal. Begitu pula jika seseorang meninggalkan amalan sunnah di hadapan manusia karena khawatir dipuji yang dapat membahayakan diri atau memudhorotkannya, maka ini bukanlah riya’. Adapun amalan wajib tidak boleh ditinggalkan karena takut dipuji manusia kecuali jika ada udzur syar’i.
Wa billahit taufiq. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, 1: 768-769, Fatwa ini ditandatangani oleh: Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh 'Abdurrozaq 'Afifi selaku wakil ketua, Syaikh 'Abdullah bin Ghudayan selaku anggota, Syaikh 'Abdullah bin Qu'ud selaku anggota]
Semoga Allah menyelamatkan kita dari syirik dan riya’, serta menunjukkan kita agar selalu ikhlas pada-Nya.

Catatan Kaki :
(1)http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/humblebrag
http://muslim.or.id/aqidah/riya-penghapus-amal.html
http://rumaysho.com/aqidah/riya-seorang-muslim-dan-munafik-6876
http://rumaysho.com/aqidah/riya-yang-paling-nabi-khawatirkan-2946
http://muslim.or.id/al-quran/meninggalkan-amalan-karena-manusia-termasuk-riya.html
Read More

Kamis, 28 Agustus 2014

LDR (Long Distance Relationship)

Entah mengapa tiba-tiba tertarik untuk menulis dengan tema ini. Ehemm. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali anak muda yang melakukan LDR(Long Distance Relationship). Hal ini terjadi ketika mereka sudah terlanjur lama pacaran saat SMA, lalu mereka harus berpisah saat lulus dan kuliah di kota yang berbeda. Bukan tidak mungkin hal yang sama juga terjadi pada mereka yang pacaran saat kuliah, dan harus terpisah jarak karena berbeda tempat kerja. Sejujurnya, saya terheran-heran pada mereka yang bisa melakukannya. Bagaimana mungkin mereka bisa menjaga kelanggengan hubungan mereka, padahal terpisah jauh dari kekasih hati (uhuuk...uhuuk). Kepercayaan pada satu sama lain sangatlah dibutuhkan. Kalau tidak, pasti akan terjadi banyak percekcokan dan sebagai hasilnya, kita semua sudah tahu, Loe gue end (entahlah, saya bukan anak gaul, jadi nggak tahu cara pengucapan kalimat ini dengan benar).

Hal ini tidak hanya terjadi pada anak muda yang berpacaran saja. Hal ini juga terjadi pada beberapa orang yang sudah menikah. Di kota tempat saya tinggal sekarang, banyak yang memiliki gelar bujin(alias bujang internasional), dalam artian sebenarnya mereka sudah punya istri/suami, tetapi mereka meninggalkannya di Indonesia. Mungkin lagu yang pas untuk mereka adalah lagu tempo doeloe yang berjudul 'Nantikanlah Aku di Teluk Bayur'. Tentu hal ini pasti akan sangat berat bagi mereka, karena setelah menyatukan hati dan menggenapkan separuh agama mereka, mereka harus meninggalkan yang terkasih. Dan, tentu akan semakin sakit jika mereka mengingat bagaimana pasangan mereka akan merasakan hal yang sama.

Saya jadi teringat dengan sebuah cerita yang pernah saya baca waktu kecil. Saya lupa judul bukunya, tapi saya ingat tokoh yang diceritakan. Dalam buku itu diceritakan tentang Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu. Setelah Yufiding(temennya googling), saya menemukan kisah ini disana. Beginilah kisahnya: 

Diriwayatkan sebuah atsar dari Umar ibnul Khathathab Radhiallahu Anhu saat beliau menjadi Amirul Mukminin. Dikisahkan, suatu malam Umar mengelilingi kota Madinah guna memeriksa keadaan rakyatnya. Bertepatan ketika melewati sebuah rumah, Umar mendengar suara seorang wanita yang sedang mendendangkan syair:

Amat panjangnya malam ini dan tertutup sisinya
Ia menaruh belas kasihan kepadaku karena tidak ada teman berbaring yang kudapat bersenda gurau dengannya
Aku bersenda gurau dengannya setingkat demi setingkat
Seakan-akan bulan yang memunculkan alisnya dalam kegelapan malam
Orang yang bermain dengannya dibuat senang karena berdekatan dengannya
Lunak pangkuannya, tidak dimiliki oleh kerabatnya
Maka demi Allah, seandainya bukan karena Allah, aku tidak peduli dengan selain-Nya
Niscaya akan bergerak sisi-sisi tempat tidur ini
Akan tetapi aku takut dengan malaikat yang dekat yang ditugasi mencatat amal diri-diri kita
Pencatat amal itu tidak pernah berhenti mencatat sepanjang masa
Karena takut kepada Rabbku dan juga rasa malu menahanku
Demikian pula karena memuliakan suamiku untuk dicapai martabatnya

Umar pun menanyakan kepada orang-orang tentang siapa wanita tersebut. Dikabarkan kepada Umar, wanita itu adalah Fulanah yang suaminya sedang pergi jauh untuk berperang fi sabilillah. Maka ‘Umar pun mengirim utusan untuk memanggil suami wanita itu agar pulang menjumpai istrinya. Kemudian Umar masuk ke tempat putrinya, Hafshah Radhiallahu Anha untuk bertanya, “Wahai putriku, berapa lama seorang wanita dapat bersabar berpisah dengan suaminya dan tidak bergaul dengan suaminya?”

Hafshah menjawab, “Subhanallah, orang yang semisal ayah bertanya kepadaku tentang perkara seperti ini?”
“Kalaulah bukan karena ingin memerhatikan urusan kaum muslimin, aku tidak akan bertanya kepadamu,” tukas Umar.
“Lima bulan… dan bisa juga enam bulan,” Hafshah menjelaskan.
Setelah mendapatkan keterangan dari putrinya, ‘Umar pun menetapkan waktu peperangan bagi pasukannya selama enam bulan. Dengan perincian mereka berjalan selama sebulan, tinggal di tempat peperangan empat bulan dan berjalan pulang selama sebulan. (Tuhfatul ‘Arus, Al-Istambuli, hal. 200)
Godaannya pun tidak hanya sampai disitu. Bagaimana jika di tempat yang baru kita menemukan 'seseorang' yang lebih baik? Tentu hal ini akan menggalaukan bukan? Kesetiaan, sampai kapankah kita percaya pada kesetiaan. Bukankah kita tahu bahwa Allah Maha membolak-balikkan hati? Maka dari itu, penting bagi kita untuk senantiasa berusaha dan berdoa kepada Allah, agar mampu menjadi orang yang setia (setiap tikungan ada? ehh). Yang lebih penting lagi bagi orang yang pacaran LDR adalah segera menikah, karena selain menyempurnakan separuh agama, insya Allah itu juga akan menambahkan ketaqwaan, selama niatnya benar.

Selain itu, jika memang mau melakukan perantauan jauh, mungkin lebih baik jika menahan diri dari cinta. Karena hal itu akan menghilangkan fokus, dan juga bisa menghilangkan cinta yang mungkin sangat sulit untuk dibangun. Para orang shaleh terdahulu, banyak yang tidak menikah karena harus merantau jauh, sekali mencari ilmu bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan tidak pulang-pulang. Tentu berbeda dengan zaman kita dimana terdapat transportasi yang hanya menempuh beberapa jam sampai beberapa hari saja.

Hal ini memberikan sebuah pelajaran besar bagi saya, untuk bersabar dan menahan diri untuk tidak berencana menikah dulu. Jalan ini masih panjang, walaupun saya tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Saat ini saya hanya ingin LDR dengan sang calon yang berada di masa depan (hallahhh). Walau tak tahu apakah, saya akan benar-benar menemukannya atau tidak. Teringat sama sebuah lirik,

一万年と二千年前から愛してる
八千年過ぎた頃からもっと恋しくなった
一億と二千年あとも愛してる

I loved you ten thousand and two thousand years ago
I had fallen in love with you even more when eight thousand years passed
I’ll love you even one hundred million and two thousand years later

Ya, takdir ini sudah ditentukan sejak beribu tahun yang lalu, bahkan lebih dari itu. Mengkutip terjemahan dari pertanyaan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin : "Apakah rezqi dan jodoh juga telah tertulis di Lauh Mahfudz ?".

Sebagaiamana rezqi telah tertulis dan ditaqdirkan bersama sebab-sebabnya, maka jodoh juga telah tertulis (beserta sebab-sebabnya). Masing-masing dari suami istri telah tertulis untuk menjadi jodoh bagi yang lain. Bagi Allah tidak rahasia lagi segala sesuatu, baik yang ada di bumi maupun di langit.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua.


Catatan kaki:
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.