Kamis, 13 Maret 2014

Kisah Tentang Takdir Seorang Penghuni Surga dan Seorang Penghuni Neraka

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu’anhu, dia berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan: ’Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah(air mani), kemudian menjadi ‘alaqoh(segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi mudhghoh(segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya. Maka demi Alloh yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapka atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)[1]

Ada dua buah kisah yang menjadi penguat atas dua bagian dari hadits ini. Yang pertama adalah bagian "Maka demi Alloh yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya."

Ketahuilah, bahwa hadits ini terikat dengan lafazh lain, yaitu orang itu beramal dengan amal ahli surga menurut kaca mata manusia, tetapi pada hakikatnya ia beramal amalan penghuni neraka. Tetapi bagi orang yang beramal amalan ahli surga dengan penuh keikhlasan, maka Allah tidak akan menelantarkanmu, Allah lebih mulia dibandingkan hambaNya, barangsiapa yang melakukan amalan ahli surga dengan penuh keikhlasan -semoga kita termasuk diantaranya- maka Allah tidak akan pernah menelantarkannya, bahkan amalan yang menurut kacamata manusia.

Dalil untuk hal ini adalah sebuahg hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari bahwasanya ada seseorang yang berperang bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Dengan berani menghadapi musuh, menumpas setiap musuh yang berada di hadapannya, kemudian orang terkagum-kagum dengan kepahlawanannya, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkata, "Sungguh ia termasuk penghuni neraka." [2]

Naudzu billah, seorang yang pemberani ini masuk neraka? Selanjutnya hal itu menjadikan para sahabat penasaran dan bertanya-tanya, mereka sangat khawatir, bagaimana ia termasuk penghuni neraka?

Kemudian seseorang berkata, "Demi Allah, aku akan mengikuti jejaknya dan mengawasinya, agar aku menyaksikan bagaimana akhir kehidupan orang ini?" Ia mendekatinya dan di tengah berkecamuknya peperangan lelaki itu terkena panah dan kalut, ia mengambil pedangnya lalu menempatkannya di dada, ia bersandar di atas pedangnya sampai pedang itu keluar menembus punggungnya, ia melakukan bunuh diri karena kalut (putus asa), kemudia ia menghadap Nabi dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulullah," beliau bertanyam "Kenapa?" Orang itu menjawab, "Sungguh ia termasuk penghuni neraka karena ia melakukan begini, begitu."

Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya orang tu benar-benar sedang mengamalkan amalan ahli surga menurut kaca mata manusia." Segala puji bagi Allah yang telah membuat batasan ini, orang itu mengerjakan suatu amalan yang menurut kacamata manusia adalah baik, sedangkan ia termasuk ahli neraka, manusia mengira shalih, tetapi dalam hatinya terdapat kerusakan, dan akhirnya termasuk ahli neraka.

Beliau bersabda dalam hadits Ibnu Mas'ud, "Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapka atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya."

Hadits ini kebalikan dari yang pertama, pertama dikuatkan oleh kisah seorang lelaki pemberani. Yang kedua ini juga dikuatkan dengan sebuah kisah pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ada seorang bernama Al-Ushairam dari kabilah Bani Abdul Al-Asyhal, seorang kafir yang sangat menentang dakwah kaum muslimin, ketika perang Uhud, orang-orang Madinah keluar untuk berperang, kemudian Allah menurunkan hidayah ke dalam hatinya dan ia masuk Islam, ia pun keluar ikut berjihad. 

Kemudian setelah peperangan berakhir banyak kaum muslimin yang mati syahid, lalu para syahabat memeriksa mereka, ternyata disana terdapat Al-Ushairam ini, salah seorang dari kaumnya bertanya kepadanya, "Apakah orang yang menentang dakwah ini, apakah kedatanganmu hanya untuk membela kaummu atau ingin masuk Islam?" Ia menjawab, "Saya ingin masuk Islam, mohon sampaikan salam saya kepada Rasulullah, sampaikan bahwa saya telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, " kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya, dan syahid, kemudian para sahabat mengadukan hal tersebut pada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan saya kira beliau bersabda, "Sungguh, ia termasuk dari penghuni surga." [3]

Orang ini menghabiskan seluruh hidupnya dalam kekufuran dan menentang Islam, melawan orang-orang muslim, tetapi akhir hidupnya begitu mengharukan. Selama hayatnya ia melakukan amalan ahli neraka sehingga jarak antara dia dengan neraka hanya sehasta, tetapi karena ia telah tercatat sebagai ahli surga, ia pun melakukan amalan ahli surga sampai akhirnya dia masuk surga. "

Penulis menyebutkan hadits ini untuk mengingatkan kita agar senantiasa takut dan berharap kepada-Nya, kita takut dari fitnah yang menimpa kita. Oleh karena itu, hendaknya seseorang selalu berdoa memohon keteguhan iman kepada Allah, "Ya Allah, teguhkan kami dengan ucapan yang kuat, "Rasulullah selalu berdoa kepada Allah, yang artinya

“Ya Allah, Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah, Dzat yang mengalihkan hati manusia, alihkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu." [4]

Faedah yang dapat kita ambil dari hadits ini:

1. Janganlah kita berputus asa mendakwahi orang kafir atau orang fasik, barangkali Allah akan memberikan hidayah-Nya pada akhir hayat orang tersebut, sehingga ia meninggal dalam keadaan beriman.
2. Kita memohon kepada Allah agar meneguhkan kita sekalian dengan ucapan yang kokoh di dunia dan akhirat, dan mewafatkan kita dalam keimanan dengan taufik dan karunia-Nya.

Catatan Kaki

[1] Shahih Al-Bukhari (3208), Shahih Muslim (2643)
[2]HR. Bukhari (2898, 4202, 4207)
[3]Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya (5/428) dari hadits Ibnu Ishak ia menyebutkan bahwa Rasulullah jelas mensabdakan itu.
[4] Hadits hasan, driwayatkan Tirmidzi (2140,3522), Ibnu Majah (3834). Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al-Albani Rahimahullah dalam kitab Zhilalul Jannah (223) dan Ibnu Abu Syaibah dalam Takhrijul Iman (55-58)


Tulisan ini diketik kembali dari Terjemahan Buku Syarah Riyadush Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

2 comments:

Mochammad Farid Wajdi mengatakan...

thanks, sesama Farid

Anonim mengatakan...

Faedah tambahan dari saya :
3. Jangan sekali-kali kita merasa ujub dengan amalan kita, sebanyak dan sebagus apapun amalan kita. Karena kita belum tahu bagaimana akhir kehidupan kita, apakah ditutup dengan kebaikan atau keburukan.

Kisah iblis bisa menjadi pelajaran buat kita. Betapa dahulu Iblis sempat diangkat menjadi pemimpin para malaikat karena ibadah nya yg luar biasa. Tapi sifat ujub telah menghinakan iblis dari posisi yang tinggi menjadi posisi yang hina.

Diberdayakan oleh Blogger.