Rabu, 20 Agustus 2014

Tidaklah Seseorang akan Masuk Surga Kecuali Karena Rahmat dan Karunia Allah

Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, katanya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kepada keyakinan kalian. Ketahuilah! Bahwasanya tidak seorangpun yang dapat selamat karena amal perbuatannya." Para sahabat bertanya: "Tidak juga engkau ya Rasulullah?" Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak juga aku kecuali Allah melimpahkanku dengan rahmat dan karuniaNya." (Riwayat Muslim).

Para ulama mengatakan, "Makna istiqamah adalah senantiasa melaksanakan ketaatan kepada Allah". Dan mereka juga mengatakan bahwa istiqamah termasuk ungkapan yang memiliki makna yang luas dan mengatur segala sesuatu. Hanya Allahlah yang memberi taufik.

Hadits ini menunjukkan bahwa istiqamah itu sesuai dengan kemampuan. Ini adalah sabda Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, "Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kepada keyakinan kalian", yakni menujulah kepada apa yang diperintahkan kepada kalian dan jagalah untuk selalu mendekat sesuai dengan kadar kemampuan. 

Sabda, "saddidu", bergegaslah dalam melakukan, yakni jagalah agar amalan kalian selalu menetapi kebenaran sesuai dengan kemampuan. Sesungguhnya seseorang walaupun sudah mencapa sesuatu dari ketakwaan, maka bisa saja ia keliru sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits dari Nabi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, "Setiap Bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat". Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jika kalian tidak berdosa maka Allah akan melenyapkan kalian, kemudian mendatangkan satu kaum yang berdosa kemudian mereka meminta ampun kepada Allah sehingga Dia mengampuni mereka." Maka setiap orang diperintahkan untuk mendekat dan menuju kepada ibadah dan melakukannya dengan benar sesuai dengan kemampuan.

Kemudian beliau bersabda, "Ketahulah bahwa sesungguhnya tidak akan selamat seseorang di antara kalian dengan amalnya" yakni tidak akan selamat dari neraka dengan amalnya. Demikian itu karena amal tidak mencapa apa yang diwajibkan oleh Allah seperti agar bersyukur, dan menunaikan hak-hak Allah. Akan tetapi, Allah telahb meliputi hamba-Nya dengan rahmat-Nya sehingga Dia mengampuninya. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang ini, mereka berkata kepadanya, "Tidak juga engkau?" Maka beliau menjawab, "Tidak juga saya kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunianya." Ini menunjukkan bahwa walaupun seseorang telah mencapai derajat dan martabat yang tertinggi, bukan berarti ia selamat dengan amalnya, bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pun tidak. Kalau bukan karena Allah memberikan anugerah kepada beliau dengan ampunan atas dosa yang telah lalu dan dosanya yang akan datang, maka beliau tidak akan diselamatkan oleh amalnya. Jika ada yang mengatakan, "Banyak nash dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa amal-amal shaleh menyelamatkan seorang hamba dari neraka dan memasukkannya ke dalam surga, sebagaimana firman Allah, 

"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl: 97). 

Maka bagaimana mengkorelasikan ayat ini dengan hadits yang telah lalu?

Jawabannya, bahwa korelasi antara dua nash tersebut adalah penafian seseorang masuk surganya dengan amalnya dari sisi perbandingan langsung. Adapun yang ditetapkan bahwa amal itu adalah sebab bukan sebagai ganti, amal tidak diragukan lagi adalah sebab masuk surga dan keselamatan dari neraka, tetapi ia bukan sebagai pengganti, bukan sebagai satu-satunya yang memasukkan orang ke surga. Akan tetapi, karunia Allah dan rahmat-Nyalah yang menjadi sebab orang masuk surga dan selamat dari neraka. 

Di dalam hadits ini ada beberapa faedah, di antaranya:
1. Seseorang tidak boleh berbangga dengan amalannya walau bagaimanapun amalnya. Amal kita itu sedikit jika dibandingkan dengan apa yang Allah berikan kepada kita.
2. Seyogianya bagi seseorang untuk memperbanyak mengingat Allah. Meminta kepada Allah untuk diliputi dengan rahmat-Nya. 
3. Kegigihan para sahabat Radhiallahu Anhum dalam mencari ilmu sehingga mereka meminta dirinci apakah permasalahan ini umum mencakup  bagi beliau juga atau tidak, sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan kepada mereka bahwa itu juga mencakup baginya. Barangsiapa merenung perihal para sahabat, maka akan mendapatkan bahwa mereka orang yang paling memiliki perhatian dengan ilmu. Mereka tidak pernah meninggalkan sesuatu yang mereka butuhkan didalam perkara-perkara agama dan dunianya, kecuali mereka bersegera mendapatkannya.

Hanya Allahlah yang memberikan taufik.

Tulisan ini diketik kembali dari Terjemahan Buku Syarah Riyadush Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Bab Istiqamah, hal 576-578
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.