Kamis, 28 Agustus 2014

LDR (Long Distance Relationship)

Entah mengapa tiba-tiba tertarik untuk menulis dengan tema ini. Ehemm. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali anak muda yang melakukan LDR(Long Distance Relationship). Hal ini terjadi ketika mereka sudah terlanjur lama pacaran saat SMA, lalu mereka harus berpisah saat lulus dan kuliah di kota yang berbeda. Bukan tidak mungkin hal yang sama juga terjadi pada mereka yang pacaran saat kuliah, dan harus terpisah jarak karena berbeda tempat kerja. Sejujurnya, saya terheran-heran pada mereka yang bisa melakukannya. Bagaimana mungkin mereka bisa menjaga kelanggengan hubungan mereka, padahal terpisah jauh dari kekasih hati (uhuuk...uhuuk). Kepercayaan pada satu sama lain sangatlah dibutuhkan. Kalau tidak, pasti akan terjadi banyak percekcokan dan sebagai hasilnya, kita semua sudah tahu, Loe gue end (entahlah, saya bukan anak gaul, jadi nggak tahu cara pengucapan kalimat ini dengan benar).

Hal ini tidak hanya terjadi pada anak muda yang berpacaran saja. Hal ini juga terjadi pada beberapa orang yang sudah menikah. Di kota tempat saya tinggal sekarang, banyak yang memiliki gelar bujin(alias bujang internasional), dalam artian sebenarnya mereka sudah punya istri/suami, tetapi mereka meninggalkannya di Indonesia. Mungkin lagu yang pas untuk mereka adalah lagu tempo doeloe yang berjudul 'Nantikanlah Aku di Teluk Bayur'. Tentu hal ini pasti akan sangat berat bagi mereka, karena setelah menyatukan hati dan menggenapkan separuh agama mereka, mereka harus meninggalkan yang terkasih. Dan, tentu akan semakin sakit jika mereka mengingat bagaimana pasangan mereka akan merasakan hal yang sama.

Saya jadi teringat dengan sebuah cerita yang pernah saya baca waktu kecil. Saya lupa judul bukunya, tapi saya ingat tokoh yang diceritakan. Dalam buku itu diceritakan tentang Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu. Setelah Yufiding(temennya googling), saya menemukan kisah ini disana. Beginilah kisahnya: 

Diriwayatkan sebuah atsar dari Umar ibnul Khathathab Radhiallahu Anhu saat beliau menjadi Amirul Mukminin. Dikisahkan, suatu malam Umar mengelilingi kota Madinah guna memeriksa keadaan rakyatnya. Bertepatan ketika melewati sebuah rumah, Umar mendengar suara seorang wanita yang sedang mendendangkan syair:

Amat panjangnya malam ini dan tertutup sisinya
Ia menaruh belas kasihan kepadaku karena tidak ada teman berbaring yang kudapat bersenda gurau dengannya
Aku bersenda gurau dengannya setingkat demi setingkat
Seakan-akan bulan yang memunculkan alisnya dalam kegelapan malam
Orang yang bermain dengannya dibuat senang karena berdekatan dengannya
Lunak pangkuannya, tidak dimiliki oleh kerabatnya
Maka demi Allah, seandainya bukan karena Allah, aku tidak peduli dengan selain-Nya
Niscaya akan bergerak sisi-sisi tempat tidur ini
Akan tetapi aku takut dengan malaikat yang dekat yang ditugasi mencatat amal diri-diri kita
Pencatat amal itu tidak pernah berhenti mencatat sepanjang masa
Karena takut kepada Rabbku dan juga rasa malu menahanku
Demikian pula karena memuliakan suamiku untuk dicapai martabatnya

Umar pun menanyakan kepada orang-orang tentang siapa wanita tersebut. Dikabarkan kepada Umar, wanita itu adalah Fulanah yang suaminya sedang pergi jauh untuk berperang fi sabilillah. Maka ‘Umar pun mengirim utusan untuk memanggil suami wanita itu agar pulang menjumpai istrinya. Kemudian Umar masuk ke tempat putrinya, Hafshah Radhiallahu Anha untuk bertanya, “Wahai putriku, berapa lama seorang wanita dapat bersabar berpisah dengan suaminya dan tidak bergaul dengan suaminya?”

Hafshah menjawab, “Subhanallah, orang yang semisal ayah bertanya kepadaku tentang perkara seperti ini?”
“Kalaulah bukan karena ingin memerhatikan urusan kaum muslimin, aku tidak akan bertanya kepadamu,” tukas Umar.
“Lima bulan… dan bisa juga enam bulan,” Hafshah menjelaskan.
Setelah mendapatkan keterangan dari putrinya, ‘Umar pun menetapkan waktu peperangan bagi pasukannya selama enam bulan. Dengan perincian mereka berjalan selama sebulan, tinggal di tempat peperangan empat bulan dan berjalan pulang selama sebulan. (Tuhfatul ‘Arus, Al-Istambuli, hal. 200)
Godaannya pun tidak hanya sampai disitu. Bagaimana jika di tempat yang baru kita menemukan 'seseorang' yang lebih baik? Tentu hal ini akan menggalaukan bukan? Kesetiaan, sampai kapankah kita percaya pada kesetiaan. Bukankah kita tahu bahwa Allah Maha membolak-balikkan hati? Maka dari itu, penting bagi kita untuk senantiasa berusaha dan berdoa kepada Allah, agar mampu menjadi orang yang setia (setiap tikungan ada? ehh). Yang lebih penting lagi bagi orang yang pacaran LDR adalah segera menikah, karena selain menyempurnakan separuh agama, insya Allah itu juga akan menambahkan ketaqwaan, selama niatnya benar.

Selain itu, jika memang mau melakukan perantauan jauh, mungkin lebih baik jika menahan diri dari cinta. Karena hal itu akan menghilangkan fokus, dan juga bisa menghilangkan cinta yang mungkin sangat sulit untuk dibangun. Para orang shaleh terdahulu, banyak yang tidak menikah karena harus merantau jauh, sekali mencari ilmu bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan tidak pulang-pulang. Tentu berbeda dengan zaman kita dimana terdapat transportasi yang hanya menempuh beberapa jam sampai beberapa hari saja.

Hal ini memberikan sebuah pelajaran besar bagi saya, untuk bersabar dan menahan diri untuk tidak berencana menikah dulu. Jalan ini masih panjang, walaupun saya tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Saat ini saya hanya ingin LDR dengan sang calon yang berada di masa depan (hallahhh). Walau tak tahu apakah, saya akan benar-benar menemukannya atau tidak. Teringat sama sebuah lirik,

一万年と二千年前から愛してる
八千年過ぎた頃からもっと恋しくなった
一億と二千年あとも愛してる

I loved you ten thousand and two thousand years ago
I had fallen in love with you even more when eight thousand years passed
I’ll love you even one hundred million and two thousand years later

Ya, takdir ini sudah ditentukan sejak beribu tahun yang lalu, bahkan lebih dari itu. Mengkutip terjemahan dari pertanyaan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin : "Apakah rezqi dan jodoh juga telah tertulis di Lauh Mahfudz ?".

Sebagaiamana rezqi telah tertulis dan ditaqdirkan bersama sebab-sebabnya, maka jodoh juga telah tertulis (beserta sebab-sebabnya). Masing-masing dari suami istri telah tertulis untuk menjadi jodoh bagi yang lain. Bagi Allah tidak rahasia lagi segala sesuatu, baik yang ada di bumi maupun di langit.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua.


Catatan kaki:
Read More

Rabu, 20 Agustus 2014

Keberhasilan Ditentukan oleh Cinta

Bismillahirrahmanirrahim

Dulu, saya pernah berusaha untuk belajar bahasa Arab dasar. Namun, setiap kali mencoba memulai, hanya baru 15-30 menit mendengarkan kelas (dalam bentuk audio), saya sudah tertidur pulas (cocok nih buat dijadiin obat tidur). Setelah berkali-kali mencoba saya menyerah. Apalagi kesibukan mulai melanda. Tapi akhirnya saya mencobanya lagi karena libur. Dan kali ini saya harap lebih mantap. Setelah introspeksi diri, ahh ternyata mungkin tekad saya yang kurang, atau mungkin doa saya yang masih kurang. Karenanya, saya mau mencoba mengubah niat, menambah usaha dan doa, dan bertawakkal pada Allah. Melihat masalah yang ada, saya pun bertanya kepada sahabat saya. Karena beliau lebih berpengalaman masalah belajar bahasa Arab otodidak. Bahkan buku yang saya pakai untuk belajar pun disarankan dan dibelikan oleh dia. Sisanya, tinggal mencari audionya yang banyak berseliweran untuk dicari di Yufid.com.

Beliau ini hebat, dalam waktu singkat, beliau bisa menambah banyak hapalan Qur'an, belajar bahasa Arab, belajar bahasa Jepang, dan menyelesaikan studinya (disini) sekaligus. Mungkin juga ditambah dengan mendengarkan kajian di kala sedang lapang. Who knows? Karenanya saya ingin bisa sepertinya. Lalu saya pun bertanya, gimana caranya belajar bahasa Arab? Dan beliau pun memberikan saran agar bersabar dalam belajar tahap awal. Memang seperti itulah ilmu, ketika memulai dari dasar, akan banyak tantangan yang akan dihadapi. Tapi seiring berjalannya waktu, semuanya akan terasa mudah, insya Allah.

Saya pun teringat ketika saya harus meneruskan kuliah disini. Hal ini mungkin sudah berulang kali saya tulis. Jadi ceritanya saya harus meneruskan kuliah disini (Universitas Kyushu) sebagai mahasiswa Teknik Sipil. Padahal, saya adalah lulusan IPS dari SMA. Banyak orang yang bertanya-tanya mengapa saya bisa lulus. Saya sendiripun sebenarnya ingin bertanya hal yang sama. Tapi biarlah itu menjadi misteri hii hii hii hii. Tapi, saya teringat sebuah perkataan, "Kau tidak perlu risau memikirkan tentang bagaimana mungkin kau bisa lulus, tapi yang perlu kau pikirkan saat ini adalah tanggung jawab karena telah diberi amanah berupa kelulusan". Ini adalah sebuah quotes yang saya modifikasi sedemikian rupa, yang saya dengar dari sebuah Anime.Tidak mau, tidak mau, tidak mau. Mungkin itu adalah tanggapan pertamaku ketika menerima kenyataan harus kuliah di Jepang. Mengingat bahasa inggrisku yang masih dibawa standar. Dan yang lebih heboh, yah itu tadi, karena saya harus banting stir dari IPS ke Teknik. Mau tidak mau saya harus belajar matematika dari dasar. Saya bahkan tidak tahu apa itu sin cos tan 90. Satu hal, saya jago dalam menghapal, tidak dalam menghitung.

Lalu, bagaimana cara melalui semua ini. Katanya sih mesti sabar, tapi jujur saya orangnya kurang sabaran. Tapi Alhamdulillah, semua bisa berlalu step by step, walaupun banyak sekali rintangan yang menghadang. Lalu, apa kuncinya? CINTAAAA. Itu sih kata ibu saya. Katanya, kalau kita mencintai sesuatu maka kita akan bisa menaklukkannya. Karena rasa cinta itu, kita pasti akan bisa bersabar untuk menjalani proses. Karena rasa cinta itu, maka kita akan melakukan effort lebih untuk melakukan suatu hal. Karena rasa cintalah, kita akan mampu melupakan semua hal negatif dalam hal yang kita lalui. Proses belajar memang susah, kuliah kalau ada tugas yang membuat kepala pusing tujuh keliling, eksperimen yang tidak jarang terjadi kegagalan di dalamnya, atau proses penulisan yang kadang disapu bersih sama si bos. Tapi, kalau ada CINTAAAA, semuanya akan dilalui dengan indah. Susah senang akan membuat hati berbunga-bunga. Dan insya Allah akan berbuah keberhasilan.

Akhirnya, hasil yang sesungguhnya bisa saya dapatkan ketika saya ikut ujian masuk program Master di Kyushu University. Saya sangat-sangat tidak pede dengan yang namanya ujian. Karenanya, saya sebenarnya sudah pesimis dengan ujian tersebut. Dan diluar dugaan, saya bisa lulus dengan nilai yang bagus (kata sensei sih gitu, nggak tau aslinya gimana), yang mungkin kalau sudah gagal, saya sudah siap pulang untuk buka usaha jadi penjual Mango Lassi di Makassar (ini satu-satunya minuman enak khas India yang belum pernah saya temukan di Makassar). Saat saya lulus, hal yang dikatakan ibu saya adalah "Gimana? Kamu sudah jatuh cinta kan dengan teknik sipil?". Saya hanya diam, karena kadang cinta yang ikhlas itu tidak bisa dirasakan atau ungkapkan dengan jelas, tapi effort dan usahalah yang menggambarkannya dengan jelas. Kayak main game yang berkali-kali kalah, tapi masih main juga, namanya juga cinta, pantang yang namanya menyerah.

Begitu juga dengan semua pelajaran yang kadang bikin ngantuk, bikin bosan, dan tentu juga pelajaran yang kita tidak bisa kita taklukkan, semuanya bisa diselesaikan dengan menumbuhkan cinta padanya. Karenanya, saya sekarang tidak percaya lagi dengan kata 'jatuh cinta', semuanya tentang bagaimana mem'bangun cinta'. Karena setiap orang punya kesempatan dan kemampuan yang sama, karena kita semua terlahir dari nol, tanpa tahu apa-apa. 
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (An-Nahl: 78)

Jadi, sekarang semuanya tergantung pada kita bagaimana membangun cinta pada apa yang kita ingin capai, kita ingin pelajari, dll.

Termasuk dengan 'kehidupan kedua', dimana semuanya akan kekal abadi selamanya. Betapa banyak diantara kita yang terlalu mudah menyerah dalam menjalankan sunnah, dan menampakkan keislaman kita karena takut cemoohan orang-orang. Hal ini karena kita melakukannya dengan terpaksa, bukan dengan cinta. Karenanya cintailah orang yang kita ikuti tersebut (Rasulullah), dan cintailah Allah agar ketaatan ini tidak dilakukan dengan terpaksa, yang menyebabkan kesia-siaan.

Sekian dulu curcol saya hari ini...Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik dan hidayah, dan memberikan kita kemampuan untuk mencintai diri, orang lain, Allah dan RasulNya, agar mampu memotivasi diri untuk melakukan hal-hal baik yang juga kunci untuk mencapai keberhasilan dunia dan akhirat. 
Read More

Tidaklah Seseorang akan Masuk Surga Kecuali Karena Rahmat dan Karunia Allah

Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, katanya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kepada keyakinan kalian. Ketahuilah! Bahwasanya tidak seorangpun yang dapat selamat karena amal perbuatannya." Para sahabat bertanya: "Tidak juga engkau ya Rasulullah?" Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak juga aku kecuali Allah melimpahkanku dengan rahmat dan karuniaNya." (Riwayat Muslim).

Para ulama mengatakan, "Makna istiqamah adalah senantiasa melaksanakan ketaatan kepada Allah". Dan mereka juga mengatakan bahwa istiqamah termasuk ungkapan yang memiliki makna yang luas dan mengatur segala sesuatu. Hanya Allahlah yang memberi taufik.

Hadits ini menunjukkan bahwa istiqamah itu sesuai dengan kemampuan. Ini adalah sabda Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, "Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kepada keyakinan kalian", yakni menujulah kepada apa yang diperintahkan kepada kalian dan jagalah untuk selalu mendekat sesuai dengan kadar kemampuan. 

Sabda, "saddidu", bergegaslah dalam melakukan, yakni jagalah agar amalan kalian selalu menetapi kebenaran sesuai dengan kemampuan. Sesungguhnya seseorang walaupun sudah mencapa sesuatu dari ketakwaan, maka bisa saja ia keliru sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits dari Nabi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, "Setiap Bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat". Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jika kalian tidak berdosa maka Allah akan melenyapkan kalian, kemudian mendatangkan satu kaum yang berdosa kemudian mereka meminta ampun kepada Allah sehingga Dia mengampuni mereka." Maka setiap orang diperintahkan untuk mendekat dan menuju kepada ibadah dan melakukannya dengan benar sesuai dengan kemampuan.

Kemudian beliau bersabda, "Ketahulah bahwa sesungguhnya tidak akan selamat seseorang di antara kalian dengan amalnya" yakni tidak akan selamat dari neraka dengan amalnya. Demikian itu karena amal tidak mencapa apa yang diwajibkan oleh Allah seperti agar bersyukur, dan menunaikan hak-hak Allah. Akan tetapi, Allah telahb meliputi hamba-Nya dengan rahmat-Nya sehingga Dia mengampuninya. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang ini, mereka berkata kepadanya, "Tidak juga engkau?" Maka beliau menjawab, "Tidak juga saya kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunianya." Ini menunjukkan bahwa walaupun seseorang telah mencapai derajat dan martabat yang tertinggi, bukan berarti ia selamat dengan amalnya, bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pun tidak. Kalau bukan karena Allah memberikan anugerah kepada beliau dengan ampunan atas dosa yang telah lalu dan dosanya yang akan datang, maka beliau tidak akan diselamatkan oleh amalnya. Jika ada yang mengatakan, "Banyak nash dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa amal-amal shaleh menyelamatkan seorang hamba dari neraka dan memasukkannya ke dalam surga, sebagaimana firman Allah, 

"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl: 97). 

Maka bagaimana mengkorelasikan ayat ini dengan hadits yang telah lalu?

Jawabannya, bahwa korelasi antara dua nash tersebut adalah penafian seseorang masuk surganya dengan amalnya dari sisi perbandingan langsung. Adapun yang ditetapkan bahwa amal itu adalah sebab bukan sebagai ganti, amal tidak diragukan lagi adalah sebab masuk surga dan keselamatan dari neraka, tetapi ia bukan sebagai pengganti, bukan sebagai satu-satunya yang memasukkan orang ke surga. Akan tetapi, karunia Allah dan rahmat-Nyalah yang menjadi sebab orang masuk surga dan selamat dari neraka. 

Di dalam hadits ini ada beberapa faedah, di antaranya:
1. Seseorang tidak boleh berbangga dengan amalannya walau bagaimanapun amalnya. Amal kita itu sedikit jika dibandingkan dengan apa yang Allah berikan kepada kita.
2. Seyogianya bagi seseorang untuk memperbanyak mengingat Allah. Meminta kepada Allah untuk diliputi dengan rahmat-Nya. 
3. Kegigihan para sahabat Radhiallahu Anhum dalam mencari ilmu sehingga mereka meminta dirinci apakah permasalahan ini umum mencakup  bagi beliau juga atau tidak, sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan kepada mereka bahwa itu juga mencakup baginya. Barangsiapa merenung perihal para sahabat, maka akan mendapatkan bahwa mereka orang yang paling memiliki perhatian dengan ilmu. Mereka tidak pernah meninggalkan sesuatu yang mereka butuhkan didalam perkara-perkara agama dan dunianya, kecuali mereka bersegera mendapatkannya.

Hanya Allahlah yang memberikan taufik.

Tulisan ini diketik kembali dari Terjemahan Buku Syarah Riyadush Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Bab Istiqamah, hal 576-578
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.