Kamis, 26 Maret 2015

Penantian Panjang Nabi Yaqub

Nabi Yaqub mengalami cobaan berat dalam hidupnya. Beliau telah menyaksikan kesalehan putranya, Yusuf, ketika dia masih kecil. Dalam salah satu mimpinya, Yusuf mengaku melihat ada 11 bintang, matahari, dan bulan, bersujud kepadanya. Sejak itu Nabi Yaqub memberikan perhatian khusus kepada Yusuf. 

Perhatian khusus tersebut disalah-pahami oleh saudara-saudara Yusuf (saudara seayah, tapi berbeda ibu). Mereka merasa Nabi Yaqub telah bersikap pilih-kasih, tidak adil, dan lebih mementingkan Yusuf dan adiknya, Bunyamin. Bahkan mereka menuduh, Nabi Yaqub telah salah jalan.

"Mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata." (Yusuf: 8)

Kata-kata "la fi dhalalin mubin" ni biasanya ditujukan untuk orang-orang kafir, orang musyrik, atau orang durhaka. Tetapi ia oleh saudara-saudara Yusuf ditujukan pada ayahnya, Nabi Yaub. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Saudara-saudara Yusuf lalu melakukan konspirasi untuk memisahkan Yusuf dari ayahnya, supaya mereka mendapatkan perhatian lebih besar dari ayahnya. Dan mereka berjanji, kalau Yusuf sudah tidak ada lagi di tengah keluarga; mereka akan menjadi orang yang shaleh. Hal itu mereka katakan pada kalimat "Wa takunu min ba'dihi qauman shalihin" (agar kalian setelah itu menjad kaum yang shaleh). (Yusuf: 9)

Logika seperti ini diikut para koruptor dan penjahat anggaran negara. Mereka mula-mula melakukan korupsi. Kalau berhasil, mereka berjanji melakukan ibadah Haji, menyantuni anak yatim, membantu pesantren, membantu fakir-miskin, dll. Bahkan mereka punya rumus, setelah melakukan korupsi, segera menjalankan Umrah atau Haji; karena keutamaan dari amal itu bisa menghapuskan dosa-dosa seluruhnya. Tentu saja rumus demikian tidak benar, karena Islam tidak mengajarkan melakukan amal saleh dengan cara yang salah.

Setelah bersandiwara sedemikian rupa, akhirnya mereka berhasil memisahkan Yusuf dari ayah dan seluruh keluarga. Sejak itu Yusuf hidup terasing tidak karuan kemana rimbanya. Tentu saja peristiwa itu membuat Nabi Yaqub sangat bersedih. Bertahun-tahun lamanya beliau menangis, sehingga matanya menjadi buta (lihat Yusuf: 84)

Yakub berkata: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya." (Yusuf: 86)

Sikap sayang Nabi Yaqub kepada Yusuf tidaklah semata-mata karena faktor biologis atau fisik; tetapi lebih karena kesalehan putranya. Sama seperti kakeknya Ibrahim, beliau mencintai putranya karena ingin mewariskan nilai-nilai kesalehan kepadanya. Nabi Yaqub melihat potensi kesalehan besar dalam diri Yusuf. 

Di sini kita bisa berandai-andai. Misalnya ada sebuah keluarga kehilangan anaknya, apa yang mereka rasakan? Pastilah mereka akan berduka-cita, sampai anak itu ditemukan atau kembali. Lalu bagaimana kalau mereka kehilangan seorang anak yang paling saleh dalam keluarganya? Pasti kesedihannya lebih besar lagi. Bagaimana pula kalau hilangnya anak saleh itu karena kesalahan saudara-saudaranya sendiri? Tentu sedihnya lebih perih lagi.

Namun Nabi Yaqub tidak berputus asa. Meskipun Yusuf sudah lama hilang, beliau terus mengusahakan berbagai cara untuk menemukannya kembali. Beliau berpesan kepada putra-putranya (yang pernah berkonspirasi untuk menyingkirkan Yusuf):

"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (Yusuf: 87)

Sikap ketegaran Nabi Yaqub ini sangat layak kita ambil sebagai hikmah. Dalam situasi sesulit aapun, beliau tidak patah semangat atau putus harapan. Beliau terus mencoba dan mencoba. Bahkan kesadaran beliau adalah bentuk dari usaha itu sendiri. Dalam kesedihannya, beliau selalu berdoa kepada Allah berharap kebaikan kepadaNya. 

"Kesabaran itu indah. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (Yusuf: 83)

Buah dari kesabaran ini, Nabi Yaqub akhirnya bertemu dengan Yusuf, Bunyamin, dan semua anak dan keluarganya. Allah benar-benar mengabulkan doanya. Mereka berkumpul menjadi satu dan mendapat terhormat di mata penguasa Mesir.

Bahkan saat kafilah yang membawa baju gamis milik Yusuf baru keluar dari Mesir, Nabi Yaqub bisa mencium aroma khas putranya itu. Setelah gamis Yusuf sampai di hadapannya, diusapkan ke wajahnya sehingga penglihatan matanya kembali. Dengan bijak sana beliau menyangkal tuduhan-tuduhan buruk yang selalu mereka tujukan kepada dirinya. 

Berkata Yakub: "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya". (Yusuf: 96)

Hikmah menarik, bahwa Nabi Yaqub memiliki nama lain, Israil. Bani Israil dan Kaum Yahudi dinasabkan kepada beliau. Nenek moyang Ban Israil ternyata memiliki sifat luhur, saleh, penuh kesabaran. Cara demikian beliau tempuh untuk menghadapi anak-anaknya yang mendengki, melakukan konspirasi, berbohong, keras hati, dan sebagainya. Lewat sikapnya ini, seolah Nabi Yaqub ingin mengajari kaum muslimin cara terbaik menghadapi konspirasi kaum Yahudi, yaitu dengan kesabaran, istiqamah, dan memohon pertolongan Allah.

Diketik ulang dari buku 'The Power of Optimism' ditulis oleh AM. Waskito Hal. 272-276

About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

1 comments:

imopi mengatakan...

Sangat bermanfaat tulisannya. Terima kasih.

Diberdayakan oleh Blogger.