Senin, 27 Juli 2015

Nyari Jodoh

Bismillahirrahmanirrahim

Ternyata nyari jodoh itu susah, pake banget pula. Begitu banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Mulai dari fisik, materi, keluarga, dll. Padahal, kalau ketemu orang-orang, pasti ditanya 'kapan nikah?'. Kapan nikah dari Hongkong? Pasangan aja belum punya. Kalau saya ditanya, "Kapan pertama kali saya dikomporin masalah beginian?" Sudah lamaa, sejak Naruto belum belajar sama raja kodok, Luffy belum pake Haki, si Eren belum bisa jadi Titan, yah kira-kira sejak 3-4 tahun lalu. Tapi, alasan yang paling gampang dikemukakan ketika itu, masih kuliah, belum kerja, belum punya penghasilan. Sebenarnya, alasan yang sama pun masih bisa dikeluarkan saat ini. Tapi, bukan di situ intisari dari tulisan ini.

Beberapa waktu lalu, ada orang yang tiba-tiba nanya apa saya udah mau nikah atau belum, karena orang tersebut menawarkan diri untuk menikah. Tapi ya jelas saya tolak. Bagaimana mungkin mau nerima orang yang kenal aja belum, apalagi memang dari awal tidak ada keinginan. Akhirnya ketika saya pulang, saya sempat membeli sebuah buku berjudul "Panduan Lengkap Nikah dari A-Z". Pada sebuah bab disebutkan tentang kriteria-kriteria kebagusan Islam seseorang. Dan isinya WOW!!! Ini nyari yang memenuhi 2-3 aja kayaknya susah sekali, apalagi semuanya (ada sekitar 13).

Karenanya, saya mencoba menyederhanakannya dan mencari kriteria-kriteria yang pas berdasarkan teori yang lebih mudah. Saya pun mencoba konsultasi dengan orang sekitar saya, apalagi sebagian besar dari mereka sudah menikah. Pernah seseorang memberikan nasehat, carilah istri yang sesuai dengan cita-citamu. Cita-cita di sini adalah cita-cita dalam berumah tangga. Misalnya kamu ingin hidupmu lebih terarah, carilah istri yang disiplin, jika ingin punya anak yang pintar, carilah istri yang pintar, dstnya. Ini adalah suatu masukan yang berharga, karena lebih mudah mencarinya daripada yang ada pada buku di atas.

Selain itu, saya juga dinasehati untuk fleksibel oleh seseorang. Dalam arti, jangan sampai hanya terpaku dan jatuh cinta pada seseorang. Terkadang di usia yang muda, gejolak cinta dan rasa keinginan pada lawan jenis yang menggebu-gebu menjadikan kita tak mampu lagi berpikir dengan akal sehat. Membuat kita bermudah-mudahan dalam mengambil keputusan, padahal begitu banyak resiko yang harus dihadapi di kemudian hari. Beberapa waktu yang lalu (beberapa tahun silam), saya sempat minta didoakan sama beberapa orang melalui inbox, agar bisa dimudahkan proses pernikahannya dengan seseorang. Waktu itu, 'mereka' mengatakan, semoga diberikan yang terbaik oleh Allah. Awalnya saya sempat mikir, "loh, kenapa yah nggak didoain agar si fulanah ini menjadi jodoh yang terbaik buat saya", kesannya seakan-akan mereka tidak mau mendukung jika nikah dengan fulanah. Nah, beberapa waktu kemudian saya mendengarkan ceramah baru saya temukan jawabannya. Mungkin mereka mendoakan seperti itu bukan karena tidak mendukung, tapi bisa jadi karena mereka paham, pilihan saya saat itu belum tentu pilihan yang terbaik, tapi pilihan Allah sudah pasti yang terbaik. Jangan sampai berdoa macam ini, "Ya Allah, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah... Tapi kalau bukan jodohku, jodohkanlah.... Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh... Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapat jodoh yang lain,selain aku... Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku, jangan sampai dia dapat jodoh yang lain, biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku... Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali... Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah denganku.... Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain dan kemudian jodohkan kembali dia dengan ku", kan ini namanya pemaksaan.

Sempat terpikir juga untuk pacaran. Tapi saya berpikir berapa banyak pemuda-pemudi yang sekarang pacaran dan akhirnya menikah walaupun tahu bahwa pasangannya memiliki kekurangan-kekurangan yang tidak mampu dia toleransi. Alasannya apa? Karena dia memang jatuh cinta, dan bagaikan orang yang jatuh di sebuah palung laut, walau tahu gelap dan menakutkan tetap saja diterjang, toh sudah terlanjur masuk dan tertekan oleh air. Kalau kata ustadz, jangan buat PR dalam rumah tangga. Sudah tahu dia playboy, suka begini begitu, tapi masih menikah dengannya juga, berarti yang salah siapa? Atau misalnya dia bertentangan prinsip dengan kita. Misalnya kita berjenggot dia protes, atau misalnya protes karena berjilbab besar bagi yang wanita misalnya. Untuk hal-hal pokok seperti ini jika memang tidak bisa diterima memang lebih baik mundur teratur. Toh mas Teuku Wisnu yang akhirnya jenggotan dan turun dari panggung sinetron didukung full sama istrinya yang juga sama-sama artis sinetron. Trus apa alasan kita nerima orang yang seperti itu? Karenanya jika Allah menunjukkan kekurangan seseorang yang kita inginkan untuk jadi istri sebelum nikah, itu adalah sebuah petunjuk yang baik, agar menghindarkan diri dari yang buruk.

Karenanya, dalam proses pencarian jodoh saya membaginya ke dalam dua tipe, kecocokan dan kesukaan. Ada yang sebenarnya cocok sama kita, tapi kitanya nggak suka, begitu juga sebaliknya. Biasanya yang kita sukai itu kita cocok2in, sedangkan yang cocok susah untuk kita sukain. Disinilah fungsi ayat Al-Baqarah ayat 216 difungsikan. Apakah kita bisa menerima orang yang kita cocok tapi tidak disukai atau tidak, semua tergantung dengan kesabaran kita dalam menerima takdir. Benar, ini hanya teori, dan prakteknya akan sangat jauuuh dari apa yang dipahami/dipelajari. Tapi, untuk menentukan kehidupan di masa depan, tidak ada salahnya kita mencari dengan menggunakan teori tertentu, selama tidak bertentangan dengan ajaran islam. Yang terpenting adalah bagaimana menggantungkan diri pada Allah atas segala sesuatu, dan menerima segala hal yang telah dituliskanNya di lauhul mahfudz. 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Nb. Kalau ada yang mau protes karena posting teori terus tanpa praktek, biarin aja deh, toh ini hanya curhat :3
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.