Selasa, 17 November 2015

Mencela Tanpa Menyebutkan Nama

'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash mengatakan, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku "Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, dahulunya ia suka melakukan shalat Tahajjud, lalu tidak melakukannya lagi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu pelajaran dari hadits ini adalah tentang bagaimana Rasulullah dalam memberikan celaan pada sesuatu. Mengingat bahwa yang penting adalah hal yang terkandung di dalamnya, bukan nama yang bersangkutan. Inilah metode Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika ingin melarang sesuatu tidak menyebutkan seseorang tetapi bersabda, "Kenapa suatu kaum melakukan ini itu...".
Beliau tidak menyebutkan nama seseorang terdapat dua hikmah utama:
Pertama, menjaga rahasia orang yang bersangkutan,
Kedua kemungkinan orang yang bersangkutan akan berubah dan setelah berubah tidak lagi mendapatkan stigma itu, karena yang menggengam hati itu hanya Allah Azza wa Jalla yang berubah setiap saat.
Misalnya, "Sungguh saya melihat seseorang berbuat fasik...", "Janganlah seperti fulan yang mencuri, minum khamer, berzina...", karena kemungkinan orang ini akan berubah dan tidak menyandang label buruk ini, maka lebih baik tidak disebutkan nama dan merahasiakannya.
Dari buku terjemahan Syarah Riyadush Shalihin Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bab Menjaga Amal Shalih
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.