Minggu, 22 Februari 2015

Di situ kadang...


Berbuat kebaikan...
Harapannya dapat balasan...
Dapatnya cuma "terima kasih" dan pujian...
Di situ kadang saya merasa berada dalam kebodohan...
Padahal seharusnya melakukan semuanya dengan keikhlasan...

Melakukan ibadah...
Harapannya mendapatkan pahala dari Allah...
Tapi masih riya' dan sum'ah...
Di situ kadang saya merasa amalan ini tidak mendapat pahala dan berkah...
Walau sudah berusaha dengan bersusah payah...

Melakukan maksiat...
Tapi tidak pernah bertaubat...
Malah kian hari, kian giat...
Di situ kadang saya merasa saya merasa hati berwarna hitam pekat...
Semakin sulit untuk mengubah tabiat...

Maunya sih masuk surga...
Tapi selalu melakukan dosa...
Amalan yang wajib dan sunnah tak pernah dikerja...
Di situ kadang saya merasa saya adalah seorang ahli neraka...
Padahal kadang sudah paham ilmunya...

Tapi Allah adalah Maha Mengampuni...
Selama hayat masih dikandung badan ini...
Akan ada selalu waktu untuk kembali kepada kebenaran yang hakiki...
Di situlah kita akan merasakan kebahagiaan yang abadi...
Kelak di hari akhir yang waktu datangnya tidak akan pernah kita ketahui...
Read More

Minggu, 15 Februari 2015

Futur

Bismillahirrahmanirrahim
Beberapa pekan ini mendapatkan banyak pelajaran berharga. Pelajaran yang paling penting dari semua itu adalah tentang 'futur'. Mungkin beberapa dari kita sudah pernah membaca di sini . Tapi, apa yang ingin saya tulis adalah pengalaman pribadi saya bukan dari bacaan yang ada saja.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan seseorang perihal futurnya diri ini dari melakukan berbagai ibadah, dan diri ini rutin melakukan kemaksiatan. Setelah bercerita panjang lebar, ada beberapa kata kunci yang saya pikirkan, yaitu; pelarian, 'ekstrim', dan pergaulan.
Pelarian yang saya maksud disini adalah 'kita' yang belajar agama sebagai suatu pelarian karena ketidak mampuan untuk melakukan hal yang lain. Jika sejak awal kita tidak mampu melakukan sesuatu, maka kita akan berusaha keras untuk melakukan hal yang kita rasa belum banyak orang lain melakukan. Itu fitrah, seperti halnya seseorang yang mencari 'originalitas' dalam risetnya, tentu dia akan berusaha untuk mencari hal yang belum diteliti oleh orang lain. Karena saya sadar bahwa kemampuan ilmu dunia saya jauh di bawah orang lain, maka saya mempelajari ilmu Islam adalah ilmu yang mudah dipelajari selama kita mendapatkan hidayah dari Allah. Apakah ada kesalahan dengan hal tersebut? Ada. Jika kita tidak benar-benar ikhlas dalam mempelajari ilmu Allah, maka ilmu tersebut tidak akan benar-benar masuk ke dalam dada kita.
Kedua adalah 'ekstrim'. Seperti apa sih 'ekstrim' yang saya maksud disini? Yang saya maksud dengan ekstrim adalah ketika kita terlalu kaku dalam menerapkan Islam, dan menginginkan orang lain untuk menerapkan hal yang sama dengan anggapan bahwa "Islam adalah agama anda, dan anda wajib taat dan patuh pada peraturan yang ada". Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut, tapi yang salah adalah cara kita berpikir keluar. Apakah kita merasa bahwa semua orang akan berpikiran yang sama? Tentu tidak mungkin bukan. Sasaran utama Rasulullah dalam berdakwah adalah para penyembah patung, bukan para ahli tauhid. Karenanya, kita juga butuh untuk memahami jalan pikiran mereka dan menasehati dengan bijak setelah berpikir masak-masak. Bukan dengan ekstrim menangkap ayat dan hadits secara mentah-mentah lalu memuntahkannya ke masyarakat banyak yang mungkin belum pada level 'sami'na wa ato'na'. Misalnya saja kita mendapatkan hadits tentang 'haramnya musik', lalu kita menyampaikannya kepada seorang pemusik, padahal yang penting terlebih dahulu adalah bagaimana meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, agar shalat 5 waktu, dstnya. Tidak jarang saya menjadi 'hakim' bagi orang lain dan menghakimi perilaku orang sekitar yang tentu tidak enak untuk dirasakan.
Ketiga adalah pergaulan. Tentu banyak di antara kita yang sudah tidak asing dengan hadits 'minyak wangi dan tukang pandai besi', atau 'agama seseorang bisa dinilai dari agama temannya'. Betapa indahnya sebuah pergaulan jika kita bertemu sedangkan yang dibicarakan adalah tentang hadits, atau tentang ketaqwaan. Inilah sebaik-baik teman. Salah satu hal yang membuat saya kehilangan adalah karena kehilangan teman untuk mendiskusikan tentang ilmu yang didapatkan dari kajian-kajian yang didengarkan melalui MP3, Youtube, dll.
Lalu, harus bagaimana? Apakah dengan kondisi sekarang saya harus menyerah karena tidak mampu mengubah diri menjadi orang yang bertaqwa? Lalu apakah saya harus menjadi orang yang begini-begini saja? Tentu tidak. Allah memberikan seseorang umur panjang agar bisa berubah ke arah yang lebih baik. Selain itu, harus dipahami bahwa belajar Islam tidak seharusnya menjadikan seseorang itu futur, tetapi menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, hanya saja, harus pelan-pelan dan membiasakan diri sebelum mendakwahkan apa yang diketahui dan harus lebih bijak dalam menyampaikan kepada orang lain. Selain itu, walaupun sudah belajar, hendaknya tetap bergaul dengan orang lain tanpa menghakimi mereka, melainkan mengajak, merangkul, dan mengajar agar mereka ikut bersemangat untuk mempelajari Islam. Jika kita tidak pernah berbicara, atau sekadar memberi salam, bagaimana mungkin orang lain mau mendengarkan kita, toh kenal aja nggak.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua, dan menjadikan diri kita bijak dalam berdakwah kepada orang lain.

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.