Jumat, 23 Oktober 2015

Sepeda

Waktu itu menunjukkan pukul 7.56 pagi. Pada hari ini, ada sebuah kelas pada jam 8.40 di kampus. Saat itulah melintas bapak dosen yang akan mengajar mata kuliah tersebut dengan 'sepeda ibu-ibu'nya, menuju kampus sambil menyapa sang murid yang sedang nunggu bus (sambil tersipu malu karena harusnya bisa jalan kaki sih). Pemandangan yang cukup biasa di sini. Para dosen tidak gengsi dengan 'sepeda ibu-ibu'nya untuk pergi ke kampus. Mungkin karena mereka tahu, gengsi-gengsian itu nggak ada gunanya. Lah orang di negeri kita, mau pergi warung jarak berapa ratus meter saja naik motor, terus pas BBM naik mengeluh tanpa tahu kalau kebiasaannyalah salah satu pemicu naiknya harga BBM. :v *dah gitu aja*
Read More

Minggu, 18 Oktober 2015

Shiddiq


Seringkah kita mendengarkan kata tersebut? Mungkin sudah sangat sering, apalagi jika kita mendengarkan nama Abu Bakr, yang selalu disandingkan dengan kata tersebut. Alasan beliau digelari Ash-Shiddiq, karena beliau membenarkan kabar dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan kepercayaan yang sangat tinggi.
Seperti hari-hari sebelumnya, saya terkadang masih memulai pagi dengan mendengarkan musik, biasanya dari youtube. Padahal saya yakin dari dalil-dalil yang ada bahwa itu adalah haram. Lalu kenapa tidak bisa meninggalkan semua itu, padahal saya dulu pernah meninggalkannya?
Selain itu, saya juga mendengarkan lagi kisah tentang Abu Bakr, yang saya share beberapa hari yang lalu melalui postingan facebook. Sesampaiku di kampus, saya pun kembali memutar ulang ceramah dari ustadz syafiq basalamah yang berjudul 'aku akan berubah' yang juga sempat saya share beberapa waktu yang lalu.
Lalu, apa korelasi dari semua ceramah di atas? Satu kata kunci yang saya dapatkan, yaitu 'shiddiq'. Kenapa seseorang yang mau dan berusaha berubah tidak mendapatkan hasil? Bisa jadi karena belum tertanamnya sifat shiddiq di dalam dirinya.
Terkadang, kita menanamkan rasa ingin meninggalkan hal yang Allah haramkan, mulai dari A-Z, tetapi begitu besar rasa takut yang ditanamkan oleh syaithan sehingga akhirnya kita tetap mengerjakannya karena takut tidak akan mendapatkan pengganti yang baik. Coba bandingkan dengan Abu Bakr, yang keimanannya tidak akan mampu dikalahkan oleh keimanan penduduk bumi secara keseluruhan.
Lalu, bagaimana mungkin saya berdakwah untuk Allah jika belum memiliki keimanan? Bagaimana mungkin saya bisa meyakinkan orang lain jika saya sendiri belum yakin? Bagaimana bisa mengalahkan musuh-musuh Allah, jika keyakinan masih seperti ini? Semuanya yang mampu menjawab hanya diri saya sendiri.
Bahkan rasa was-was untuk melakukan hal duniawi pun seharusnya mampu dihilangkan, jika kita memiliki rasa percaya diri. Karenanya, keimanan pada Allah, adalah kunci untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat, karena Allah-lah sebaik-baik penjamin, jika kita bersedia meninggalkan segala hal yang diharamkanNya, insya Allah akan ada ganti yang lebih baik. Keimanan, bukanlah jualan kaum-kaum yang merasa percaya pada diri sendiri untuk melangkah pada syubhat-syubhat yang akhirnya terjatuh ke dalam sebuah dosa, melainkan mereka yang beriman dan berusaha untuk menjauhi syubhat maupun yang benar-benar haram.
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad)
Semoga hadits di atas tidak hanya jadi bacaan saja, namun mampu saya dan anda praktekkan agar mampu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Mohon doakan saya untuk berubah, sambil saya usahakan juga. Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua.
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.