Jumat, 27 November 2015

Membongkar Aib Orang Lain

Saya rasa kita sepakat kalau tidak ada orang yang suka kalau aibnya dibongkar. Sayangnya pengertian kita tentang aib itu berbeda-beda. Ada yang merasa kalau mereka sudah melakukan zina itu bukan aib, bahkan merasa wajar saja jika diberitahukan kepada teman-temannya, malahan mencela teman mereka yang masih perawan/perjaka, terutama di negara-negara yang bebas.

Akhirnya, tidak jarang kita kelepasan membuka aib orang tanpa sengaja hanya karena kekurangan rasa peka dalam diri kita untuk mengerti tentang hal tersebut. Ada yang tanpa sengaja mengomentari, atau sekedar melike foto teman yang tadinya belum berjilbab tapi sekarang sudah berjilbab, mungkin dia sedang berusaha istiqamah, hanya lalai saja karena lupa menghapus foto dia yang telah lama. Ada juga yang berupa postingan alay, galau, dan semacamnya, lalu diangkat kembali hanya untuk mempermalukan orang tersebut. Tanpa sadar mereka membuka aib seseorang yang telah berusaha ditutupi oleh sang korban.

Kemarin saya diperingatkan oleh seorang sahabat saya, agar tidak menyebar-nyebarkan aib diri sendiri.
Rasulullah pernah bersabda, “Setiap umatku mendapat pemaafan kecuali orang yang menceritakan (aibnya sendiri). Sesungguhnya diantara perbuatan menceritakan aib sendiri adalah seorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari dan sudah ditutupi oleh Allah kemudian di pagi harinya dia sendiri membuka apa yang ditutupi Allah itu.” [HR. Bukhori dan Muslim]

Kalau-lah aib kita sendiri saja tidak boleh kita sebarkan, bagaimanakah dengan aib orang lain? Semoga bisa menjadi bahan renungan untuk kita bersama, terutama diri saya sendiri.

“Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara, dia tidak boleh berbuat zhalim dan aniaya kepada saudaranya. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang membebaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)
Read More

Berdo'a

Terkadang ketika mau membalas email dosen, kita menimbangnya berulang kali sebelum menekan tombol 'send'. Mulai dari gaya menulis, konten, sampai masalah titik koma. Itu baru hal-hal yang berupa tulisan, belum lagi kalau berupa lisan secara langsung. Tetapi mengapa kita tidak memperhatikan kata-kata, intonasi, serta cara menyampaikan do'a kita kepada Allah? 

Masih banyak di antara kita yang kalau berdoa seperti orang mau lari ke WC, kumur-kumur, komat-kamit, ngunyah permen karet, seakan-akan Allah begitu remeh. Padahal kita semua tahu kalau minta sesuatu itu harusnya memelas, merayu, berserah diri, dan tentu dengan kalimat yang baik.

Ketika kita mau mengajukan aplikasi beasiswa, kita juga pasti akan berusaha memenuhi berbagai kualifikasi jauh-jauh hari sebelum itu. Memperbaiki nilai kuliah, menjaga sikap (supaya bisa dapat surat keterangan kelakuan baik dan rekomendasi dosen), dan lain-lain. Tapi kita enggan menjaga adab dan memenuhi hal-hal yang menyebabkan diterimanya do'a oleh Allah.

Semoga saya menjadi orang paling pertama yang tertegur dengan tulisan ini dan segera memperbaiki diri. Karena hanya Allah satu-satunya tempat meminta.
Read More

Selasa, 17 November 2015

Menghabiskan Waktu Mengejar Sebuah 'Kemasan'...


Di saat banyak orang yang tidur di kasur...
Di saat itu pula banyak yang tidur di trotoar jalan...
Tujuannya sama-sama tidur, memberikan energi...
Bedanya cuma masalah 'kemasan'...
Di saat banyak orang yang makan-makanan 4 sehat 5 sempurna...
Di saat itu banyak orang yang makannya cuma nasi sama garam...
Tujuannya sama-sama mengisi perut...
Bedanya cuma masalah 'kemasan'...
Di saat banyak orang yang naik mobil sport, mewah, dll...
Di saat itu banyak orang yang hanya naik angkot...
Tujuannya sama-sama untuk pergi di suatu tempat...
Bedanya cuma masalah 'kemasan'...
Di saat banyak orang yang punya rumah besar dan indah...
Di saat itu banyak orang yang hanya tinggal di kontrakan...
Tujuannya sama-sama sebagai tempat tinggal...
Bedanya cuma masalah 'kemasan'...
Di saat banyak orang yang kuliah di universitas terbaik di luar negeri...
Di saat itu juga banyak orang yang hanya kuliah di universitas yang gratisan...
Tujuannya sama-sama untuk mencari ilmu...
Bedanya cuma masalah 'kemasan'...
Memang, kita ini patut mengasihani diri...
Terlalu sibuk mencari kemasan...
Sampai lupa mengisi yang di hati...
Dengan berbagai syukur dan rasa kecukupan...
Tidak jarang semua hal yang kita kejar...
Hanya untuk mendapatkan pujian orang...
Ohh hebat yah si fulan, punya mobil keren...
Ohh hebat yah si fulan, punya hape keren...
Ohh hebat yah si fulan, punya rumah mewah...
Ohh hebat yah si fulan, punya jabatan tinggi...
Ohh hebat yah si fulan, kuliahnya di sana...
Tidak jarang kita capek berusaha untuk mencari harta dunia, tapi yang menikmati orang lain, yang kita dapatkan cuma pujian yang enaknya nggak kerasa begitu lama...
*terinspirasi dari Ustadz Kholid Basalamah
Read More

Setiap Kenikmatan Pasti akan Ditanyakan

Di dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pada suatu siang atau malam hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?”
Abu Bakar dan Umar menjawab, “Rasa lapar wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”.
Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”.
Beliau bertanya, “Dimana suamimu?”
Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar yang segar bagi kami.”
Pada saat itu sahabat yang dimaksudkan datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya. Dia berkata, “Segala puji bagi Allah, pada hari ini aku tidak mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.”
Lalu orang sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma segar dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum.
Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.”
Lalu orang sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.”
Jika makanan yang halal tersebut akan Allah tanyakan. Bagaimana pula dengan banyaknya harta yang kita kumpulkan dalam perlombaan bermegah-megahan? Dan kenikmatan-kenikmatan lain yang kita nikmati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ
“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Read More

Mencela Tanpa Menyebutkan Nama

'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash mengatakan, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku "Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, dahulunya ia suka melakukan shalat Tahajjud, lalu tidak melakukannya lagi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu pelajaran dari hadits ini adalah tentang bagaimana Rasulullah dalam memberikan celaan pada sesuatu. Mengingat bahwa yang penting adalah hal yang terkandung di dalamnya, bukan nama yang bersangkutan. Inilah metode Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika ingin melarang sesuatu tidak menyebutkan seseorang tetapi bersabda, "Kenapa suatu kaum melakukan ini itu...".
Beliau tidak menyebutkan nama seseorang terdapat dua hikmah utama:
Pertama, menjaga rahasia orang yang bersangkutan,
Kedua kemungkinan orang yang bersangkutan akan berubah dan setelah berubah tidak lagi mendapatkan stigma itu, karena yang menggengam hati itu hanya Allah Azza wa Jalla yang berubah setiap saat.
Misalnya, "Sungguh saya melihat seseorang berbuat fasik...", "Janganlah seperti fulan yang mencuri, minum khamer, berzina...", karena kemungkinan orang ini akan berubah dan tidak menyandang label buruk ini, maka lebih baik tidak disebutkan nama dan merahasiakannya.
Dari buku terjemahan Syarah Riyadush Shalihin Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bab Menjaga Amal Shalih
Read More

Kamis, 12 November 2015

Belajar Islam

Beberapa tahun yang lalu, pertama kalinya saya mengenal salafi. Sejak saat itu, saya sering memposting hadits, dll. Entah mengapa saat ini saya jadi merasa bersalah, karena kadang masih kurang bijak dalam menyampaikan. Misalnya memberikan hadits-hadits yang justru membuat orang semakin benci untuk belajar agama, karena orang-orang akan menganggap belajar agama itu membuat seseorang menjadi keras.
Satu hal yang tidak saya sukai waktu itu adalah ketika orang mulai menyematkan gelar-gelar seperti 'ustadz'. Padahal kan saya sendiri tahu bahwa saya hanya copy paste. Sakit, sakitnya tuh disini (sambil nunjuk hati). Karenanya, saya mau berbagi tips untuk mencari ilmu Islam, daripada orang nanya ke saya padahal saya juga belum berilmu, karena hanya berlandaskan pada ilmu copas.
Pertama, ikhlaskan niat untuk mencari kebenaran, dan tidak menggunakan hawa nafsu dalam berfikir. Betapa banyak orang yang diberikan peringatan namun tidak mendapatkan manfaat karena masih menggunakan hawa nafsunya dalam berpikir.
Kedua, gunakanlah http://yufid.com/ sebagai media untuk mencari ilmu islam, baik yang berupa hadits-hadits, ilmu fiqh, dll. Tinggal ketik kata kunci, maka akan muncul berbagai macam link, dan insya Allah sumbernya sudah diseleksi oleh tim yufid.com. Kenapa mesti di yufid? Karena pada link-link yang anda dapatkan di google ditulis bebas oleh orang-orang, termasuk yang tidak menyertakan sumber dalam menulis, jadinya kita tidak tahu, apakah yang dia tulis itu dari seorang ustadz, ulama, hadits, qur'an, atau pemikirannya sendiri. Berbeda dengan link-link pada yufid yang menyertakan catatan kaki pada setiap tulisannya (selama ini saya belum nemu tulisan yang nggak pakai catatan kaki). Disana juga anda bisa mencari berbagai macam rekaman kajian (dalam bentuk video/audio).
Ketiga, jangan percaya pada orang yang berkata 'Jangan belajar ilmu dari internet', karena sesungguhnya belajar dari internet TIDAK SEPENUHNYA SALAH, yang penting kita harus tahu mengambil sumber darimana. Toh orang-orang yang mencari ilmu dunia pun akan mencari artikel-artikel yang mereka butuhkan dari google, sedangkan beberapa yang lainnya mencari dari sumber paper/jurnalnya langsung.
Keempat, mulailah dari belajar hal-hal yang dasar. Begitu banyak orang diluar sana yang begitu sombong dan memaksakan diri untuk membahas ilmu yang berat, padahal diluar kapasitasnya. Jika memang tidak tahu akan sesuatu hal lebih baik diam walaupun ditanya. <=yang ini ngena banget ke saya nih.
Kelima, jangan biarkan syaithan bersenang-senang diatas kerendahan ilmu agama kita (bahkan untuk ilmu dasar yang wajib kita ketahui). Pergaulan di dunia semakin meluas dan mampu merusak pemahaman kita tanpa kita sadari.
Keenam, senantiasa berdo'a kepada Allah agar diberikan petunjuk dan pemahaman yang lurus.
Semoga bermanfaat. Bagi yang ingin menambahkan, atau ingin mengkritik, saya persilahkan. Semoga Allah memberikan petunjukNya kepada kita semua.
*repost dari postingan tahun lalu* *diposting kembali ke notes supaya tidak tertimbun*
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.