Selasa, 24 Mei 2016

Kuliah di negara maju (minoritas muslim)

Banyak orang yang memandang kuliah di negara maju (yang minoritas muslim) sebuah kemuliaan. Tapi, terkadang kita lupa risiko yang mungkin didapatkan dari melakukannya. Kalau tidak memiliki basis agama yang benar, maka tidak jarang gaya hidup orang di negara tersebut, atau bahkan orang-orang dari negara lain pada komunitas belajar akan mempengaruhi kita.
Tidak jarang saya melihat orang yang kuliah di luar negeri selulusnya dari SMA yang memiliki pemikiran liberal pada dirinya tanpa dia sadari. Saya sudah melihat banyak contoh, jadi saya bukan mengatakan ini tanpa basis yang kuat. Dugaan kuat saya adalah karena usia remaja yang merupakan usia mencari jati diri, yang sayangnya mereka gunakan pada 'tempat' yang salah.
Ternyata, tidak hanya yang selepas SMA saja, bahkan yang melanjutkan studi S-2, S-3, tidak jarang berubah menjadi berpemikiran liberal selepas dari studi dari negara-negara tertentu. Mengapa? Bisa jadi sebenarnya hal tersebut terjadi karena dari awal memang mereka telah berpikiran liberal, atau bisa jadi dikarenakan mereka gagal fokus. Gagal fokus di sini maksudnya adalah karena apa yang mereka dapatkan melenceng dari apa yang mereka tuju. Misalnya, niat mereka yang awalnya adalah memperoleh ilmu dunia demi menyambung hidup atau mengembangkan diri, tetapi mereka ikut terseret oleh arus kehidupan dan pergaulan di luar negeri sana.
Harus saya akui, bahwa kuliah di luar negeri akan membuka cakrawala berpikir seseorang, yang tadinya berpikir sempit akan menjadi lebih fleksibel karena telah teruji untuk membiasakan hidup di lingkungan heterogen. Hal tersebut juga menyebabkan kita lebih kritis dalam menanggapi sesuatu, tidak 'taklid' terhadap doktrin apa yang dikatakan oleh seseorang, walaupun orang tersebut adalah guru atau orang tua kita sendiri. Hal ini justru memicu seseorang untuk menjadi liberal, karena mereka menganggap bahwa akal pikirannya adalah hal absolut yang tidak bisa dibantah.
Karenanya, basis pemikiran agama yang kuat dibutuhkan oleh seseorang sampai benar-benar mampu menolak segala syahwat dan syubhat yang mungkin didapatkan selama berada di luar negeri. Tentu tidak lupa, untuk membawa serta pasangan yang mengingatkan kita ketika salah jalan karena terbawa arus pergaulan yang mungkin juga terlahir karena rasa kesepian yang harus dibunuh karena kesendirian.
Saya merasa benar-benar bersyukur dengan kajian Golden Week lalu, yang membahas tentang 'Menjadi Islam di Jepang'. Mengingat saya benar - benar sampai ke sini tanpa punya ilmu agama yang mumpuni, dan merasa begitu banyak fitnah dan cobaan yang saya dapatkan, terutama di tahun-tahun awal, yang Alhamdulillah mampu teratasi seiring berjalannya waktu.
Saya tidak akan menyalahkan orang tua yang telah membawa saya ke sini, karena berbicara dengan kata 'lau' atau juga berarti 'seandainya' itu akan membuka pintu syaithan. Tetapi banyak hal positif yang saya dapatkan di sini, seperti mengenal Islam lebih dalam, belajar banyak hal termasuk di dalam studi maupun organisasi sosial, dll saya jadikan sebagai alasan untuk terus menambah syukur. Tetapi, saya tidak pernah lepas dari rasa kewajiban untuk memperingatkan mereka yang memiliki keluarga, entah itu adik, anak, dsb untuk mempertimbangkan banyak hal, terutama psikologis mereka sebelum melepasnya ke luar negeri.
Terakhir, untuk menjadi bahan renungan....Seberapa banyak sih ilmu yang kita dapatkan di negara maju tersebut akan bermanfaat di dalam kubur kita? Ingat saudaraku, hidup kita tidak akan lama...
Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua
Read More

Sabtu, 07 Mei 2016

Catatan Kajian Golden Week part 2: Prinsip dan Metode Mendidik Anak Menurut Para Ulama Bagi Orang Tua

Bismillahirrahmanirrahim


Hari Kamis, 5 Mei 2016, kami mengikuti sebuah kajian yang bertepatan dengan liburan golden week di Jepang. Pada kesempatan ini, kami sempat mencatat beberapa faedah yang kami dapatkan dari kajian tersebut. Berikut ini adalah pembahasannya.



Akhir-akhir ini, di Indonesia sedang booming pemberitaan tentang adik kita Musa, yang ikut di dalam kompetisi hafalan Qur’an di Mesir beberapa waktu yang lalu. Akhirnya banyak orang-orang yang memasukkan anaknya ke pondok-pondok tahfidz dengan tujuan agar memperbanyak hapalan. Tentu hal tersebut adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, tujuan utama dari hal tersebut (mengajarkan Qur’an) adalah agar anak-anak mampu untuk melakukan shalat.



Mengapa mendidik anak?


  • Anak adalah perhiasan dunia yang akan memberi manfaat bagi orang tuanya 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً



“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Qs.al-Kahfi: 46)


Berarti kehadiran anak itu sendiri sudah menjadi sebuah perhiasan dunia, akan tetapi jika tidak dipoles maka dia tidak akan bermanfaat bagi orang tuanya di akhirat kelak. 


Sebaik-baik hal yang dinikmati seseorang, adalah hasil yang didapatkan dari usahanya sendiri. Seperti halnya ketika kita bekerja, tentu kita akan lebih menghargai sesuatu jika hal yang kita dapatkan itu merupakan hasil dari keringat kita sendiri. Begitu juga dengan anak, karena anak itu adalah bagian dari usahanya. 



Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” Dari sebab istighfar anakmu kepadamu”. [1] 


Di dalam sebuah riwayat disebutkan,dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakek ayahnya yaitu Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash, ada seorang yang menemui Nabi lalu mengatakan, 



“Sesungguhnya ayahku itu mengambil semua hartaku.” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk jerih payah kalian yang paling berharga. Makanlah sebagian harta mereka.” (HR. Ibnu Majah, no. 2292, dinilai sahih oleh Al-Albani). 



Dan juga hadits yang tentunya sudah sangat masyhur berikut,  Dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.



Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya. (HR. Bukhari dan Muslim)



Tentu, kita akan ‘kecolongan’, jika menyerahkan pendidikan anak yang masih mampu kita lakukan kepada orang lain semisal guru TPA, pesantren, dll. 



Terkadang kita masih bingung, sebenarnya pengertian anak yang baik itu seperti apa? Pengertian anak baik adalah anak yang akhlaknya bersih, adabnya baik, dan anak ini bisa menyempurnakan agama dirinya sendiri, orang lain, dan orang tuanya.


  • Anak adalah tanggung jawab kepemimpinan orang tua



Selain manfaat yang bisa kita dapatkan dari mereka, sebagai orang tua kita juga memiliki tanggung jawab atas apa yang dilakukan anak.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 


“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi) 


Lalu, apakah yang harus diajarkan kepada anak-anak ?


  • Akidah yang benar


  1. Rasulullah mengajarkan Iman sebelum Al-Qur’an, tetapi kita mengajarkan Qur’an sebelum iman.
  2. Yang perlu diajarkan pada anak-anak ketika dia mulai bisa berbicara, adalah kalimat tauhid, laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah
  3. Setelah mengajarkan mereka berbicara, maka selanjutnya adalah memilihkan mereka teman
  4. Sesungguhnya agama sang anak tergantung pada agama sang guru 


  • Al-Qur’an


  1. Harus langsung kepada guru, agar bisa mempelajari lafalnya secara langsung
  2. Tidak tergesa-gesa dalam menghapalkan


  • Perintah kepada shalat dan ilmu tentang thaharah


  1. Ilmu thoharoh, pada umur-umur awal mereka wajib belajar tentang wudhu, setelah umur dewasa mereka mesti belajar tentang hal-hal yang perlu mereka lakukan untuk mandi janabah


  • Mengajarkan ilmu-ilmu syar’i yang berguna baginya


  1. Aurat
  2. Tidak boleh menyentuh lawan jenis setelah baligh
  3. Tidak boleh mencuri, berdusta, dll


  • Mengajarkan puasa


  1. Shalat tarawih, 
  2. Pembatal-pembatal puasa 
  3. Dan lain-lain


  • Akhlak dan adab yang baik (terutama perempuan)


  1. Di antara adab yang paling penting untuk dipelajari dalam islam adalah adab kepada orang tua (hadits tentang yang tidak menghormati orang tua dan menyayangi yang lebih muda)


  • Mengajarkan anak hal-hal yang baik dan menjauhkan mereka dari yang buruk


  1. Memerintahkan untuk hal-hal yang sunnah
  2. Melarang dari hal-hal yang diharamkan


  • Mengajarkan anak berpakaian yang baik

Dan yang terpenting adalah


Orang tua HARUS memberi contoh dalam proses pendidikan tersebut...



[1] Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/294, 2954, dan dikeluarkan Ahmad di dalam Musnad, 2/509. *dicopas dari https://almanhaj.or.id/3032-buah-hati-antara-perhiasan-dan-ujian-keimanan.html
Read More

Catatan Kajian Golden Week part 1: Menjadi Seorang Muslim di Jepang

Bismillahirrahmanirrahim


Hari Kamis, 5 Mei 2016, kami mengikuti sebuah kajian yang bertepatan dengan liburan golden week di Jepang. Pada kesempatan ini, kami sempat mencatat beberapa faedah yang kami dapatkan dari kajian tersebut. Berikut ini adalah pembahasannya.



Kehidupan sebagai muslim di Jepang terdapat banyak kesulitan. Masalah makanan, minuman, dan lain-lain. Tetapi, yang menjadi kesulitan terbesar adalah kesulitan dalam bertauhid. Misalnya saja, ketika kita ikut-ikutan mempersembahkan koin di dalam kuil sepertinya yang dilakukan oleh orang Jepang.



Di dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji)  sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.” Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.” [1]



Lalu, yang menjadi pertanyaan, bolehkah seseorang muslim tinggal di Jepang? Jawabannya adalah tidak boleh



Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari muslim yang tinggal di negeri yang nampak nyata kemusyrikannya. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,  



dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir bin Abdullah sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Saya berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal bersama-sama dengan orang-orang musyrik” Mereka bertanya : “Kenapa wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Tidak boleh saling terlihat api keduanya” [2]



Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku membaiatmu agar engkau beribadah kepada Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap muslim, serta memisahkan diri dari orang musyrik. [3]



Tetapi, pada kasus-kasus tertentu, melakukan perjalanan bahkan tinggal di negeri kafir pun diperbolehkan, seperti yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah semisal pada saat melarikan diri ke habasyah atau untuk mengirimkan delegasi-delegasi kaum muslimin ke negara-negara kafir untuk berdakwah.



Namun, sebelum melakukan hal tersebut perlu untuk menimbang maslahat dan mudharatnya. Di dalam ilmu ushul fiqh, kita mempelajari bahwa di dalam menimbang suatu permasalahan kita harus meninggalkan sesuatu yang mudharatnya lebih besar ketimbang maslahat yang bisa didapatkan. Yang perlu digaris bawahi, mudharat yang dimaksud adalah mudharat pada diri sendiri.



Karenanya, ketika kita berniat ke Jepang, selain memastikan bahwa ada maslahat yang bisa kita dapatkan darinya, kita juga harus menimbang syubhat dan syahwat yang ada di sini. 



Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin , bepergian ke negeri kufur itu boleh, tetapi harus memenuhi tiga syarat berikut:


  1. Memiliki ilmu yang dapat menjaganya dari syubhat
  2. Memiliki kekuatan agama yang diharapkan dapat menjaganya dari syahwat
  3. Adanya keperluan atas hal tersebut (bahkan, status hukum ilmu yang tadinya mubah bisa berubah menjadi fardhu kifayah)
Lalu, ilmu apa sajakah yang dibutuhkan? Ilmu yang dapat menjaga diri dari syubhat dan syahwat secara garis besar ada dua,

  1. Ilmu akidah, yang termasuk di dalamnya rukun iman dan rukun islam
  2. Ilmu syariat yang membentengi dirinya dari hal-hal yang mungkar (haram dan maksiat).
Lalu, bagaimana dengan yang sudah terlanjur di Jepang?

PELAJARILAH AGAMA ANDA, sebelum semuanya TERLAMBAT…

[1] Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud hal. 15, dari Thoriq bin Syihab dari Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 1: 203, Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya 6: 477, 33028. Hadits ini mauquf shahih, hanya sampai sahabat. Lihat tahqiq Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal. 49, terbitan Darus Salam. *dicopas dari https://rumaysho.com/3014-hanya-karena-sesaji-berupa-lalat-membuatnya-masuk-neraka.html

[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Kitabul Jihad, bab “Larangan Membunuh Orang yang Menyelamatkan Diri Dari Bersujud”, dan At-Tirmidzi, Kitabus Siar, bab “Makruhnya Tinggal Di Antara Orang-Orang Musyrik” *dicopas dari https://almanhaj.or.id/999-syarat-tinggal-di-negeri-kafir.html

[3] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i


Read More

Kamis, 31 Maret 2016

Menerjemahkan dokumen berbahasa Jepang dengan menggunakan aplikasi google translate pada iPhone

Bismillahirrahmanirrahim
Berikut ini cara untuk menerjemahkan dokumen berbahasa Jepang dengan menggunakan aplikasi google translate pada iPhone (mungkin juga ada pada android, tetapi berhubung saya tidak punya jadi saya tidak tahu pasti).
1. Siapkan dokumen yang akan diterjemahkan
2. Buka aplikasi google translate, lalu klik icon kamera yang ada di bawah ini
3. Setelah itu klik icon album yang ada bagian kiri bawah
4. Pilih foto dari dokumen yang ingin diterjemahkan
5. Lalu akan muncul gambar seperti yang ada di bawah ini,
6. Setelah proses pembacaan selesai, anda punya dua pilihan ;
  • Menerjemahkannya word by word dengan cara menyentuh sebagian kata atau kalimat dengan jari seperti di bawah ini,
  • Menerjemahkan seluruh tulisan yang ada di foto dengan menekan tombol yang saya tunjukkan di bawah ini,
Setelah itu akan muncul hasilnya seperti gambar di bawah ini, lalu klik tanda panah putih di dalam lingkaran biru

Lalu, akan muncul hasil seperti yang ada di bawah ini.
IMHO, menerjemahkan kata/kalimat satu per satu lebih mudah dilakukan, terutama jika kita sudah paham ‘grammar’ bahasa Jepang. Selain itu, jika anda memiliki kemampuan lisan untuk bertanya dalam bahasa Jepang, tentu akan lebih baik jika ditanyakan pada orang-orang Jepang terdekat di sekitar anda.
Akhir kata, semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Read More

Rabu, 23 Maret 2016

Tawadhu'

Abu Hurairah meriwatkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikan(derajat)nya.” (HR. Muslim)

Tawadhu' karena Allah mengandung dua makna:
1. Tawadhu' terhadap agama Allah, jangan bersikap sombong terhadap agama-Nya dan jangan sombong untuk menjalankan hukum-hukumnya.
2. Tawadhu' terhadap hamba-hamba Allah karena Allah, bukan karena takut kepada mereka, bukan pula karena mengharapkan apa yang ada di sisinya, akan tetapi karena Allah Ta'ala.

Kedua makna tersebut benar. Barangsiapa tawadhu' karena Allah, maka Allah Ta'ala akan angkat derajatnya di dunia dan di akhirat. Ini merupakan perkara yang banyak disaksikan bahwa orang yang bertawadhu' mendapatkan posisi tinggi di hati orang-orang, namanya baik, dan orang-orang pun mencintainya.*)

Semoga Allah melapangkan hati kita agar kita lebih mampu untuk bersikap tawadhu', untuk meraih keridhaan Allah, dan semoga Allah menghindarkan kita dari kesombongan, yang sekecil apapun kita memilikinya akan menghindarkan kita dari surga.

Sumber: diketik ulang dari terjemahan Syarah Riyadush Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bab Rendah Hati kepada Sesama Mukmin
Read More

Senin, 25 Januari 2016

Mendekati Bapak si Cewek

Teringat sebuah kalimat dari sebuah ceramah, "Dulu, pada zaman Rasulullah, ketika para sahabat yang memiliki anak wanita ingin menikahkan anaknya, maka yang dia lakukan adalah mencari lelaki shaleh, dimanapun itu, entah di masjid atau tempat lainnya."
Kalau dipikirkan lagi, orang yang akan menerima lamaran si wanita adalah ayahnya atau walinya, lalu mengapa harus ada istilah pacaran untuk mendekati sang wanita? Bukankah hal itu adalah hal yang sia-sia? Karena dibalik sebuah hubungan juga pasti ada kebohongan, saling menutup-nutupi hanya membaguskan diri sebatas pandangan? Seandainya si wanita akhirnya jatuh cinta pada anda tetapi ternyata orang tuanya sangat tidak suka kepada anda, bukankah anda sedang mengajarkan seseorang untuk menjadi anak yang membangkang kepada orang tuanya?
Saya juga teringat kisah tentang seseorang yang saya kenal, yang telah lama pacaran dengan pacarnya, namun akhirnya sang pacar malah dinikahkan dengan wanita lain pilihan ayahnya...Hmm...Artinya, sebuah ikatan bernama 'pacaran' pun tidak akan pernah menjadi jaminan yang kuat.
Di antara keuntungan 'mendekati' bapak si cewek
1. Melawan arus mainstream, karena macarin sang cewek sudah terlalu mainstream
2. Tidak perlu takut mendekati zina
3. Bisa sekalian nambah relasi dan menyambung ukhuwah
4. Kalau mau merayu pake metode 'bapak kamu', tinggal nyari pekerjaan si bapak dan bilang ke dia kayak gini;
"Bapak dosen yah?"
Si bapak bakalan jawab
"Kok tahu?"
Trus jawab aja
"Anak bapak telah mengajarkan saya cinta"
Kalau merayu kayak gini, nggak bakal ada juga yg klepek2 kecuali si bapak yang emang ganjen, tapi kayaknya nggak mungkin sih...
Read More

Senin, 04 Januari 2016

Catatan Dauroh part 4 - Jerat-Jerat Syaithan

Sebenarnya setiap keburukan dikategorikan sebagai setan. Setiap orang yang menghalangi orang lain untuk melakukan perbuatan baik, maka dia disebut setan. Salah satu sifat syaithan adalah sombong. Pengertian sombong di sini bukanlah ketika memiliki sesuatu yang bagus, karena sombong sebenarnya adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim)
Iblis lalu meminta umur yang panjang untuk menggoda manusia. Tidak ada cuti untuk syaithan, bahkan ketika kita akan meninggal. Terkadang kita terlalu lalai dalam menghadapi Iblis. Sesungguhnya manusia cenderung berbuat buruk. Manusia dikeroyok oleh 2 hal untuk keburukan, yakni syaithan dan hawa nafsu.
Hal yang terkadang kita lupakan adalah kewajiban kita untuk menjadikan syaithan sebagai musuh. Banyak diantara kita yang mengetahui hakikat syaithan, tetapi masih menjadikan syaithan sebagai teman. Mengapa kita tidak boleh menjadikannya sebagai teman? Karena tujuannya adalah mengajak orang untuk masuk ke dalam neraka sair.
Yang telah ditetapkan terhadap setan itu, bahwa barang siapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka (Sair). (Al-Hajj: 4)
Cara Syaithan dalam mengajak manusia
  • Menghiasi kebatilan dengan kebaikan (seolah-olah yang buruk itu baik)
  • Menunda-nunda seseorang dalam berbuat amalan, serta menambahkan sifat malas pada seseorang, termasuk untuk bangun shalat di waktu subuh,
Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari
  • Dengan cara seolah-olah memberikan nasehat (Ingatlah kisah adam dan syaithan, yang menjanjikan buah khuldi, padahal itu hanya tipuan belaka, dan syaithan menggunakan sumpah demi Allah tentang kebaikan buah tersebut, padahal Allah jelas-jelas mengharamkannya)
  • Melalui tahapan-tahapan tertentu, contoh; kisah Barshisa. *pernah saya masukkan di blog saya pada link ini http://www.faridkun.com/2012/03/kis...
  • Menjadikan manusia lupa dengan hal-hal yang baik
  • Menakut-nakuti manusia
  • Membisikkan kita dengan hal yang kita sukai
  • Mempunyai rencana jangka pendek dan panjang.
  • Dengan skala prioritas
    • Syirik/kufur
    • Menjerumuskan ke dalam perbuatan dosa/maksiat
    • Bid’ah
    • Merusak badan atau jiwa
    • Merusak rumah
    • Ikut makan dan tinggal di rumah kita jika tidak membaca do’a sebelum masuk dan sebelum makan.
    • Dengan merasuki, merusak kekhusyukannya, merusak pahalanya.
Semoga Allah memberikan kita ilmu untuk mengenal hakikat syaithan, dan juga memberikan kita hidayah agar senantiasa mampu menjauh dari mereka.
Read More

Catatan Dauroh part 3 - Perjalanan Setelah Kematian dan Petaka Hari Hisab

Bismillahirrahmanirrahim
Ketika berbicara tentang kematian, maka kita berbicara tentang hal yang ghaib. Adapun hal yang ghaib, adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah saja. Karenanya, yang memiliki informasi tentang hal ghaib adalah Rasulullah dan para Rasul lainnya, melalui malaikat. Masalah ghaib termasuk tentang surga, neraka, apa yang akan datang maupun yang telah lalu. Karenanya kita tidak boleh mengambil informasi tentang hal tersebut melainkan dari Rasulullah. Karenanya, jika ada yang mengatakan bahwa dia mengetahui hal yang ghaib, maka orang tersebut adalah ‘kafir’. Karena informasi tersebut adalah sesuatu adalah informasi yang disampaikan khusus kepada Rasul-rasul Allah saja.
Sering kali kita mendengar kata ‘Alam barzakh’. Alam barzakh itu sendiri berarti alam pembatas, yakni pembatas antara alam dunia dengan alam akhirat.
Dalil-dalil tentang adanya adzab kubur
Rasulullah senantiasa membaca sebuah do’a, yang biasanya dibaca diakhir shalat, agar dilindungi dari sifat pengecut,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Yang artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, aku berlindung kepada-Mu kepada serendah-rendahnya usia (pikun), aku berpindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (HR. Bukhari )
Ada pula riwayat lain yang menceritakan, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena dosa besar. Salah satunya adalah karena ia mengadu domba, adapun yang lainnya karena tidak bertabir dari kencingnya. Kemudian beliau minta satu pelepah kurma yang basah lalu membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan. Mereka bertanya heran: ‘Ya Rasul Allah mengapa anda melakukan ini?’. Beliau menjawab: ‘Semoga diringankan siksa itu dari meraka berdua selama kedua pelepah tidak kering". (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika hendak dicabut nyawanya, syaithan akan mendatangi manusia. Karenanya, Rasulullah juga mengajarkan doa perlindungan dari berbagai jenis kematian, dan syaithan ketika akan meninggal.
“Dari Abul Yasar ia berkata, ‘Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepada-Mu dari campur tangan syetan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal karena tersengat hewan beracun’”(HR. al-Nasa’i)
Di dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah bersabda,
“Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur.” Beliau ulangi dua atau tiga kali. Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (tiga kali).
Kemudian beliau menceritakan proses perjalanan ruh mukmin dan kafir.
Sesungguhnya hamba yang beriman ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat dari langit, wajahnya putih, wajahnya seperti matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan hanuth (minyak wangi) dari surga. Merekapun duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut ‘alaihis salam. Dia duduk di samping kepalanya, dan mengatakan, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.’ Keluarlah ruh itu dari jasad, sebagaimana tetesan air keluar dari mulut ceret, dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut.
Mereka memberinya kafan dan hanuth itu. Keluarlah ruh itu dengan sangat wangi seperti bau parfum paling wangi yang pernah ada di bumi. Para malaikat inipun naik membawa ruh itu. Setiap kali ketemu dengan malaikat yang lain, mereka akan bertanya: ‘Ruh siapakah yang baik ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan bin Polan’ – dengan nama terbaik yang pernah dia gunakan di dunia –. Hingga sampai di langit dunia. Mereka minta agar pintu langit dibukakan, lalu dibukakan. Mereka naik menuju langit berikutnya, dan diikuti para malaikat langit dunia. Hingga sampai di langit ketujuh. Kemudian Allah berfirman, ‘Tulis catatan amal hamba-Ku di Illiyin.’
“Tahukah kamu Apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis, Disaksikan oleh para malaikat”
“Kembalikan hamba-Ku ke bumi, karena dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.” Maka dikembalikanlah ruhnya ke jasadnya. Kemudian mayit mendengar suara sandal orang yang mengantarkan jenazahnya sewaktu mereka pulang setelah pemakaman.
Kemudian datanglah dua malaikat yang keras gertakannya. (dalam riwayat lain: warnanya hitam biru) Lalu mereka menggertaknya, dan mendudukkan si mayit.
Mereka bertanya: ‘Siapa Rabmu?’ Si mukmin menjawab, ‘Rabku Allah.’ ‘Apa agamamu?’, tanya malaikat. ‘Agamaku islam’ jawab si mukmin. ‘Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?’ Si Mukmin menjawab, ‘Dia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Sang malaikat bertanya lagi, ‘Bagaimana amalmu?’ Jawab Mukmin, ‘Saya membaca kitab Allah, saya mengimaninya dan membenarkannya.’
Pertanyaan malaikat: ‘Siapa Rabmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?’ Inilah ujian terakhir yang akan diterima seorang mukmin. Allah memberikan keteguhan bagi mukmin untuk menjawabnya, seperti firman-Nya,
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat..” (QS. Ibrahim: 27)
Sehingga dia bisa menjawab: Rabku Allah, agamaku islam, Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tiba-tiba ada suara dari atas, “Hambaku benar, bentangkan untuknya surga, beri pakaian surga, bukakan pintu surga untuknya.” Diapun mendapatkan angin surga dan wanginya surga, dan kuburannya diluaskan sejauh mata memandang.
Kemudian datanglah orang yang wajahnya sangat bagus, pakaiannya bagus, baunya wangi. Dia mengatakan, ‘Kabar gembira dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Kabar gembira dengan ridha Allah dan surga nan penuh kenikmatan abadi. Inilah hari yang dulu kamu dijanjikan.’ Si mayit dengan keheranan bertanya, ‘Semoga Allah juga memberi kabar gembira untuk anda. Siapa anda, wajah anda mendatangkan kebaikan?’ Orang yang berwajah bagus ini menjawab, ‘Saya amal sholehmu.’ [suhnahallah.., amal shaleh yang menemani kita di kesepian, menemani kita di kuburan]
Kemudian dibukakan untuknya pintu surga dan pintu neraka. Ketika melihat ke neraka, disampaikan kepadanya: ‘Itulah tempatmu jika kamu bermaksiat kepada Allah. Dan Allah gantikan kamu dengan tempat yang itu.’ Kemudian si mayit menoleh ke arah surga.
Melihat janji surga, si mayit berdoa: ‘Wahai Rabku, segerakanlah kiamat, agar aku bisa berjumpa kembali ke keluarga dan hartaku.’ Lalu disampaikan kepadanya: ‘Tenanglah.’
Sementara hamba yang kafir, ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah para malaikat dari langit, yang bengis dan keras, wajahnya hitam, mereka membawa Masuh (kain yang tidak nyaman digunakan) dari neraka. Mereka duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut, dan duduk di samping kepalanya. Dia memanggil, ‘Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju murka Allah.’
Ruhnya ketakutan, dan terpencar ke suluruh ujung tubuhnya. Lalu malaikat maut menariknya, sebagaimana gancu bercabang banyak ditarik dari wol yang basah. Sehingga membuat putus pembuluh darah dan ruang tulang. Dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut. Kemudian diberi masuh yang mereka bawa. Ruh ini keluar dengan membawa bau yang sangat busuk, seperti busuknya bau bangkai yang pernah ada di muka bumi. Merekapun naik membawa ruh ini. Setiap kali mereka melewati malaikat, malaikat itupun bertanya, ‘Ruh siapah yang buruk ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan bin Fulan.’ – dengan nama yang paling buruk yang pernah dia gunakan ketika di dunia – hingga mereka sampai di langit dunia. Kemudian mereka minta dibukakan, namun tidak dibukakan. Ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,
لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
(Orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya), tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A’raf: 40)
Kemudian Allah berfirman, ‘Tulis catatan amal hamba-Ku di Sijjin, di bumi yang paling dasar.’ Kemudian dikatakan, ‘Kembalikan hamba-Ku ke bumi, karena Aku telah menjanjikan bahwa dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.’ Kemudian ruhnya dilempar hingga jatuh di jasadnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Haj: 31)
Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya, sehingga dia mendengar suara sandal orang mengiringi jenazahnya ketika pulang meninggalkan kuburan. Kemudian datanglah dua malaikat, gertakannya keras. Merekapun menggertak si mayit dan mendudukkannya. Mereka bertanya: ‘Siapa Rabmu?’ Si kafir menjawab, ‘hah..hah.. saya gak tahu.’ ‘Apa agamamu?’, tanya malaikat. ‘hah..hah.. saya gak tahu,’ jawab si kafir. ‘Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?’ Si kafir tidak kuasa menyebut namannya. Lalu dia digertak: “Namanya Muhammad!!”, si kafir hanya bisa mengatakan, ‘hah..hah.. saya gak tahu. Saya cuma mendengar orang-orang bilang seperti itu.’ Diapun digertak lagi: “Kamu tidak tahu dan tidak mau tahu.” Tiba-tiba ada suara dari atas, “Hambaku dusta, bentangkan untuknya neraka, bukakan pintu neraka untuknya.”
Diapun mendapatkan panasnya neraka dan racun neraka. Kuburnya disempitkan hingga tulang-tulangnya berserakan. Lalu datanglah orang yang wajahnya sangat buruk, berbaju jelek, baunya seperti bangkai. Dia mengatakan: ‘Kabar buruk untukmu, inilah hari dimana dulu kau dijanjikan.’ Si mayit kafirpun menjawab, ‘Kabar buruk juga untukmu, siapa kamu? Wajahmu mendatangkan keburukan.’ Orang ini menjawab, ‘Saya amalmu yang buruk.’ – Allahul musta’an, amal buruk itu semakin menyesakkan pelakunya di lahatnya – kemudian dia diserahkan kepada makhluk yang buta, tuli, dan bisu. Dia membawa pentungan! Andaikan dipukulkan ke gunung, niscaya akan jadi debu. Kemudian benda itu dipukulkan ke mayit kafir, dan dia menjadi debu. Lalu Allah kembalikan seperti semula, dan diapun memukulnya lagi. Dia berteriak sangat keras, bisa didengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia. Lalu dibukakan untuknya neraka dan disiampkan tempatnya di neraka. Diapun memohon: ‘Ya rab, jangan Engkau tegakkan kiamat.’
(Hadis ini diriwayatkan Ahmad)*https://konsultasisyariah.com/18139...*
Salah satu hal penting yang perlu kita ingat bahwa, Perkara gaib bukanlah perkara yang tidak masuk akal, tetapi yang belum kita nalar.
Penyebab adzab kubur :
  1. Diratapi oleh keluarganya yang ditinggalkan, karena tidak pernah mengajari keluarganya agar tidak meratapi mayatnya.
  2. Tidak beristinja ketika buang air kecil
  3. Mereka yang mengadu domba
Petaka Hari Hisab
Hisab di dalam bahasa arab memiliki beberapa arti;
  • Hitungan (Al an’am : 96)
  • Muhasabah, Muhasabatun nafs
  • Luas, lapang (Ali Imran: 38)
  • Balasan
Siapakah pemilik hari kiamat? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (Ghafir: 16/Al-Mu’minun:16). Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. (Ghafir: 17/Al-Mu’minun:17)
Biasanya di dunia kita menerima hukuman karena 2 hal;
  • Karena mengakui kesalahan
  • Karena takut untuk protes, walaupun pengadilannya tidak adil.
Hal ini tentu berbeda dengan Allah yang mengadili kita dengan adil.
Kriteria keadilan Allah ketika menghisab manusia:
  1. Al-adl = adil, tidak ada kezaliman
  2. Tidak terpengaruh oleh nasab (Al-Mu’minun 201, Abasa: 37-40)
  3. Tidak ada sogokan (Az zumar 47, Ar-Ra’d 18)
  4. Akan mendatangkan saksi – saksi, yakni:
    • saksi pertama adalah Allah (Mujadalah: 7),
    • saksi kedua adalah para Rasul (hadits bahwa para nabi akan dipanggil dengan kaumnya),
    • saksi ketiga adalah para Malaikat,
    • yang keempat adalah anggota badan (Fushilat: 21),
    • yang kelima adalah bumi tempat kita berpijak (Az-zalzalah: 4),
    • yang keenam adalah catatan amalan
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Pada hari kiamat nanti, seorang dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk. Lalu dibentangkan sembilan puluh sembilan gulungan miliknya. Setiap gulungan sejauh mata memandang.
Lalu dikatakan, ‘Adakah sesuatu yang engkau ingkari dari gulungan-gulungan ini? Apakah para pencatatku yang menjaga amalmu telah mendzolimimu?’
Dia menjawab, ‘Tidak ada wahai Rabbku’
Lalu dikatakan, ‘Apakah engkau memiliki sebuah udzur atau kebaikan?’
Maka orang ini merasa segan lantas menjawab, tidak ada.
Lalu dikatakan, ‘Benar, sesungguhnya engkau memiliki sebuah kebaikan dan engkau tidak akan didzolimi pada hari ini.’
Kemudian dikeluarkan satu kartu miliknya yang bertuliskan, Asyhadu an La ilaaha illallah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya).
Maka dia berkata, ‘Wahai Rabbku apa nilai kartu ini dibanding gulungan-gulungan itu?’
Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didzolimi.’
Kemudian diletakkan gulungan-gulungan itu pada satu anak timbangan dan kartu ini pada anak timbangan yang lain. Ternyata timbangan gulungan-gulungan itu ringan dan timbangan kartu ini berat”.
(HR. Turmudzi)
Hal yang ditanyakan oleh Allah pada hari perhitungan,
  • Segala kenikmatan, “kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-takatsur: 8)
  • Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya
    • tentang umurnya, untuk apa dia habiskan;
    • tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan;
    • tentang hartanya, darimana dia peroleh dan ke mana dia belanjakan; dan
    • tentang badannya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi. )
  • Amalan Ibadah (dan amalan yang paling utama yang akan ditanyakan adalah shalat), Amalan muamalah (yang paling utama adalah darah).
Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”
Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud)
  • Amanah
Bagaimana cara Allah menghisab
  • Allah memudahkan hisab seseorang (hisabnya antara Allah dengannya saja, Allah akan merahasiakan amalan buruknya yang tidak disebarkan), karenanya Rasulullah mengatakan bahwa kita harus menjaga aib seseorang, karena hal itu memudahkan hisab kita. Terkadang kita tidak mencari-cari aib seseorang, tetapi secara tidak sengaja aib orang tersebut nampak di hadapan kita, karenanyalah, Allah tidak hanya melarang kita untuk mencari aib, tetapi juga melarang kita untuk menggunjing (walaupun kita mendapatkannya tanpa mencari-carinya). Selain itu, kita juga harus menjaga diri dari menceritakan aib kita, agar kita mendapatkan hisab yang mudah
  • Allah mempersulit hisab seseorang, yakni ketika setelah seseorang diinterogasi secara detail, mungkin karena seseorang menggunjing temannya, atau tidak menutupi aibnya.
Semoga Allah menjadikan kita orang yang senantiasa mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja, tanpa kita perhitungkan. Semoga kita mendapatkan perjalanan yang terbaik setelah kematian, dan menjadi penghuni jannah/surgaNya kelak.

Read More

Catatan Dauroh part 2 - Rumah Tangga Idaman

Bismillahirrahmanirrahim
Rumah tangga idaman, tidak hanya diinginkan oleh para mukmin, tapi juga oleh orang-orang kafir. Islam mengajarkan adab-adab antara orang tua dan anak, suami dan istri, dsbnya untuk menciptakan rumah tangga idaman. Rumah tangga idaman ini tujuannya agar bisa menciptakan kondisi agar ketenangan di dalam hati. Rumah tangga idaman tidak akan tercipta kecuali dengan pernikahan yang sah.
Hadits yang memotivasi para pemuda untuk segera menikah
Rasulullah bersabda, “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi )
Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka segeralah menikah, karena nikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (Muttafaqun alaihi)
Proses pencarian
Di dalam proses pencarian kita harus mengutamakan yang shalihah agar memperoleh keuntungan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim).
Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemuiNya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman." (Al-Baqarah: 223)
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Allah berfirman: “Dan istri-istri kalian telah mengambil dari kalian suatu perjanjian yang kuat.” (QS. An-Nisaa': 21)
Pernikahan adalah tanggung jawab, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. “Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.”(Muttafaqun alaihi). Karenanya perlu diingat bahwa pernikahan yang idaman, tidak hanya kekal di dunia tapi juga sampai di akhirat.
Jangan harapkan untuk mendapatkan diri dengan pasangan dalam sama-sama bagus, tetapi yang dibutuhkan adalah harmonisasi dan saling pengertian dari tiap-tiap personal. Karenanya, prioritaskan wanita yang sudah shalehah.
Poin - poin penting yang perlu diperhatikan di dalam membuat sebuah rumah tangga idaman :
  • Istri yang taat akan membuka pintu menuju surga, “Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad )
  • Seorang istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumah tanpa izin dari suami. Karenanya, suami harus terbuka dalam mengungkapkan ketidak sukaannya pada jenis-jenis tamu yang tak disukainya. Begitu juga hal-hal lainnya.
  • Berilmu bagi keduanya, supaya mampu mengerjakan amalan shaleh.
  • Sebagai istri, hendaklah mengikuti suami dalam hal yang berbau maksiat
  • Wanita tidak boleh menghalangi laki-laki dari kemauan(berhubungan biologis).
  • Istri tidak boleh mengeluarkan harta suami, kecuali dengan izin suami.
  • Baik suami maupun istri harus saling menjaga penampilan, agar saling senang ketika melihat
  • Tidak boleh memukul wajah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila seorang di antara kalian memukul, jauhilah muka. (HR. Abu Dawud)
  • Seorang suami harus bisa memberi nasehat kepada istri
  • Jika ada masalah yang sulit jika hanya diselesaikan berdua, maka boleh meminta orang lain untuk membantu menyelesaikan masalah
  • Seorang suami harus bisa menjadi orang yang senang berbasa-basi
  • Sang suami harus mampu memiliki kepekaan terhadap sang istri
  • Dilarang menceritakan masalah ranjang kepada orang lain
  • Harus bisa berpandai-pandai untuk saling berkomunikasi
Semoga Allah memudahkan kita semua untuk membuat sebuah rumah tangga idaman, yang akan kekal hingga akhirat kelak

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.