Sabtu, 07 Mei 2016

Catatan Kajian Golden Week part 1: Menjadi Seorang Muslim di Jepang

Bismillahirrahmanirrahim


Hari Kamis, 5 Mei 2016, kami mengikuti sebuah kajian yang bertepatan dengan liburan golden week di Jepang. Pada kesempatan ini, kami sempat mencatat beberapa faedah yang kami dapatkan dari kajian tersebut. Berikut ini adalah pembahasannya.



Kehidupan sebagai muslim di Jepang terdapat banyak kesulitan. Masalah makanan, minuman, dan lain-lain. Tetapi, yang menjadi kesulitan terbesar adalah kesulitan dalam bertauhid. Misalnya saja, ketika kita ikut-ikutan mempersembahkan koin di dalam kuil sepertinya yang dilakukan oleh orang Jepang.



Di dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji)  sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.” Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.” [1]



Lalu, yang menjadi pertanyaan, bolehkah seseorang muslim tinggal di Jepang? Jawabannya adalah tidak boleh



Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari muslim yang tinggal di negeri yang nampak nyata kemusyrikannya. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,  



dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir bin Abdullah sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Saya berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal bersama-sama dengan orang-orang musyrik” Mereka bertanya : “Kenapa wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Tidak boleh saling terlihat api keduanya” [2]



Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku membaiatmu agar engkau beribadah kepada Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap muslim, serta memisahkan diri dari orang musyrik. [3]



Tetapi, pada kasus-kasus tertentu, melakukan perjalanan bahkan tinggal di negeri kafir pun diperbolehkan, seperti yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah semisal pada saat melarikan diri ke habasyah atau untuk mengirimkan delegasi-delegasi kaum muslimin ke negara-negara kafir untuk berdakwah.



Namun, sebelum melakukan hal tersebut perlu untuk menimbang maslahat dan mudharatnya. Di dalam ilmu ushul fiqh, kita mempelajari bahwa di dalam menimbang suatu permasalahan kita harus meninggalkan sesuatu yang mudharatnya lebih besar ketimbang maslahat yang bisa didapatkan. Yang perlu digaris bawahi, mudharat yang dimaksud adalah mudharat pada diri sendiri.



Karenanya, ketika kita berniat ke Jepang, selain memastikan bahwa ada maslahat yang bisa kita dapatkan darinya, kita juga harus menimbang syubhat dan syahwat yang ada di sini. 



Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin , bepergian ke negeri kufur itu boleh, tetapi harus memenuhi tiga syarat berikut:


  1. Memiliki ilmu yang dapat menjaganya dari syubhat
  2. Memiliki kekuatan agama yang diharapkan dapat menjaganya dari syahwat
  3. Adanya keperluan atas hal tersebut (bahkan, status hukum ilmu yang tadinya mubah bisa berubah menjadi fardhu kifayah)
Lalu, ilmu apa sajakah yang dibutuhkan? Ilmu yang dapat menjaga diri dari syubhat dan syahwat secara garis besar ada dua,

  1. Ilmu akidah, yang termasuk di dalamnya rukun iman dan rukun islam
  2. Ilmu syariat yang membentengi dirinya dari hal-hal yang mungkar (haram dan maksiat).
Lalu, bagaimana dengan yang sudah terlanjur di Jepang?

PELAJARILAH AGAMA ANDA, sebelum semuanya TERLAMBAT…

[1] Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud hal. 15, dari Thoriq bin Syihab dari Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 1: 203, Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya 6: 477, 33028. Hadits ini mauquf shahih, hanya sampai sahabat. Lihat tahqiq Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal. 49, terbitan Darus Salam. *dicopas dari https://rumaysho.com/3014-hanya-karena-sesaji-berupa-lalat-membuatnya-masuk-neraka.html

[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Kitabul Jihad, bab “Larangan Membunuh Orang yang Menyelamatkan Diri Dari Bersujud”, dan At-Tirmidzi, Kitabus Siar, bab “Makruhnya Tinggal Di Antara Orang-Orang Musyrik” *dicopas dari https://almanhaj.or.id/999-syarat-tinggal-di-negeri-kafir.html

[3] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i


About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.