Sabtu, 07 Mei 2016

Catatan Kajian Golden Week part 2: Prinsip dan Metode Mendidik Anak Menurut Para Ulama Bagi Orang Tua

Bismillahirrahmanirrahim


Hari Kamis, 5 Mei 2016, kami mengikuti sebuah kajian yang bertepatan dengan liburan golden week di Jepang. Pada kesempatan ini, kami sempat mencatat beberapa faedah yang kami dapatkan dari kajian tersebut. Berikut ini adalah pembahasannya.



Akhir-akhir ini, di Indonesia sedang booming pemberitaan tentang adik kita Musa, yang ikut di dalam kompetisi hafalan Qur’an di Mesir beberapa waktu yang lalu. Akhirnya banyak orang-orang yang memasukkan anaknya ke pondok-pondok tahfidz dengan tujuan agar memperbanyak hapalan. Tentu hal tersebut adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, tujuan utama dari hal tersebut (mengajarkan Qur’an) adalah agar anak-anak mampu untuk melakukan shalat.



Mengapa mendidik anak?


  • Anak adalah perhiasan dunia yang akan memberi manfaat bagi orang tuanya 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً



“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Qs.al-Kahfi: 46)


Berarti kehadiran anak itu sendiri sudah menjadi sebuah perhiasan dunia, akan tetapi jika tidak dipoles maka dia tidak akan bermanfaat bagi orang tuanya di akhirat kelak. 


Sebaik-baik hal yang dinikmati seseorang, adalah hasil yang didapatkan dari usahanya sendiri. Seperti halnya ketika kita bekerja, tentu kita akan lebih menghargai sesuatu jika hal yang kita dapatkan itu merupakan hasil dari keringat kita sendiri. Begitu juga dengan anak, karena anak itu adalah bagian dari usahanya. 



Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” Dari sebab istighfar anakmu kepadamu”. [1] 


Di dalam sebuah riwayat disebutkan,dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakek ayahnya yaitu Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash, ada seorang yang menemui Nabi lalu mengatakan, 



“Sesungguhnya ayahku itu mengambil semua hartaku.” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk jerih payah kalian yang paling berharga. Makanlah sebagian harta mereka.” (HR. Ibnu Majah, no. 2292, dinilai sahih oleh Al-Albani). 



Dan juga hadits yang tentunya sudah sangat masyhur berikut,  Dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.



Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya. (HR. Bukhari dan Muslim)



Tentu, kita akan ‘kecolongan’, jika menyerahkan pendidikan anak yang masih mampu kita lakukan kepada orang lain semisal guru TPA, pesantren, dll. 



Terkadang kita masih bingung, sebenarnya pengertian anak yang baik itu seperti apa? Pengertian anak baik adalah anak yang akhlaknya bersih, adabnya baik, dan anak ini bisa menyempurnakan agama dirinya sendiri, orang lain, dan orang tuanya.


  • Anak adalah tanggung jawab kepemimpinan orang tua



Selain manfaat yang bisa kita dapatkan dari mereka, sebagai orang tua kita juga memiliki tanggung jawab atas apa yang dilakukan anak.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 


“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi) 


Lalu, apakah yang harus diajarkan kepada anak-anak ?


  • Akidah yang benar


  1. Rasulullah mengajarkan Iman sebelum Al-Qur’an, tetapi kita mengajarkan Qur’an sebelum iman.
  2. Yang perlu diajarkan pada anak-anak ketika dia mulai bisa berbicara, adalah kalimat tauhid, laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah
  3. Setelah mengajarkan mereka berbicara, maka selanjutnya adalah memilihkan mereka teman
  4. Sesungguhnya agama sang anak tergantung pada agama sang guru 


  • Al-Qur’an


  1. Harus langsung kepada guru, agar bisa mempelajari lafalnya secara langsung
  2. Tidak tergesa-gesa dalam menghapalkan


  • Perintah kepada shalat dan ilmu tentang thaharah


  1. Ilmu thoharoh, pada umur-umur awal mereka wajib belajar tentang wudhu, setelah umur dewasa mereka mesti belajar tentang hal-hal yang perlu mereka lakukan untuk mandi janabah


  • Mengajarkan ilmu-ilmu syar’i yang berguna baginya


  1. Aurat
  2. Tidak boleh menyentuh lawan jenis setelah baligh
  3. Tidak boleh mencuri, berdusta, dll


  • Mengajarkan puasa


  1. Shalat tarawih, 
  2. Pembatal-pembatal puasa 
  3. Dan lain-lain


  • Akhlak dan adab yang baik (terutama perempuan)


  1. Di antara adab yang paling penting untuk dipelajari dalam islam adalah adab kepada orang tua (hadits tentang yang tidak menghormati orang tua dan menyayangi yang lebih muda)


  • Mengajarkan anak hal-hal yang baik dan menjauhkan mereka dari yang buruk


  1. Memerintahkan untuk hal-hal yang sunnah
  2. Melarang dari hal-hal yang diharamkan


  • Mengajarkan anak berpakaian yang baik

Dan yang terpenting adalah


Orang tua HARUS memberi contoh dalam proses pendidikan tersebut...



[1] Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/294, 2954, dan dikeluarkan Ahmad di dalam Musnad, 2/509. *dicopas dari https://almanhaj.or.id/3032-buah-hati-antara-perhiasan-dan-ujian-keimanan.html
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.