Selasa, 24 Mei 2016

Kuliah di negara maju (minoritas muslim)

Banyak orang yang memandang kuliah di negara maju (yang minoritas muslim) sebuah kemuliaan. Tapi, terkadang kita lupa risiko yang mungkin didapatkan dari melakukannya. Kalau tidak memiliki basis agama yang benar, maka tidak jarang gaya hidup orang di negara tersebut, atau bahkan orang-orang dari negara lain pada komunitas belajar akan mempengaruhi kita.
Tidak jarang saya melihat orang yang kuliah di luar negeri selulusnya dari SMA yang memiliki pemikiran liberal pada dirinya tanpa dia sadari. Saya sudah melihat banyak contoh, jadi saya bukan mengatakan ini tanpa basis yang kuat. Dugaan kuat saya adalah karena usia remaja yang merupakan usia mencari jati diri, yang sayangnya mereka gunakan pada 'tempat' yang salah.
Ternyata, tidak hanya yang selepas SMA saja, bahkan yang melanjutkan studi S-2, S-3, tidak jarang berubah menjadi berpemikiran liberal selepas dari studi dari negara-negara tertentu. Mengapa? Bisa jadi sebenarnya hal tersebut terjadi karena dari awal memang mereka telah berpikiran liberal, atau bisa jadi dikarenakan mereka gagal fokus. Gagal fokus di sini maksudnya adalah karena apa yang mereka dapatkan melenceng dari apa yang mereka tuju. Misalnya, niat mereka yang awalnya adalah memperoleh ilmu dunia demi menyambung hidup atau mengembangkan diri, tetapi mereka ikut terseret oleh arus kehidupan dan pergaulan di luar negeri sana.
Harus saya akui, bahwa kuliah di luar negeri akan membuka cakrawala berpikir seseorang, yang tadinya berpikir sempit akan menjadi lebih fleksibel karena telah teruji untuk membiasakan hidup di lingkungan heterogen. Hal tersebut juga menyebabkan kita lebih kritis dalam menanggapi sesuatu, tidak 'taklid' terhadap doktrin apa yang dikatakan oleh seseorang, walaupun orang tersebut adalah guru atau orang tua kita sendiri. Hal ini justru memicu seseorang untuk menjadi liberal, karena mereka menganggap bahwa akal pikirannya adalah hal absolut yang tidak bisa dibantah.
Karenanya, basis pemikiran agama yang kuat dibutuhkan oleh seseorang sampai benar-benar mampu menolak segala syahwat dan syubhat yang mungkin didapatkan selama berada di luar negeri. Tentu tidak lupa, untuk membawa serta pasangan yang mengingatkan kita ketika salah jalan karena terbawa arus pergaulan yang mungkin juga terlahir karena rasa kesepian yang harus dibunuh karena kesendirian.
Saya merasa benar-benar bersyukur dengan kajian Golden Week lalu, yang membahas tentang 'Menjadi Islam di Jepang'. Mengingat saya benar - benar sampai ke sini tanpa punya ilmu agama yang mumpuni, dan merasa begitu banyak fitnah dan cobaan yang saya dapatkan, terutama di tahun-tahun awal, yang Alhamdulillah mampu teratasi seiring berjalannya waktu.
Saya tidak akan menyalahkan orang tua yang telah membawa saya ke sini, karena berbicara dengan kata 'lau' atau juga berarti 'seandainya' itu akan membuka pintu syaithan. Tetapi banyak hal positif yang saya dapatkan di sini, seperti mengenal Islam lebih dalam, belajar banyak hal termasuk di dalam studi maupun organisasi sosial, dll saya jadikan sebagai alasan untuk terus menambah syukur. Tetapi, saya tidak pernah lepas dari rasa kewajiban untuk memperingatkan mereka yang memiliki keluarga, entah itu adik, anak, dsb untuk mempertimbangkan banyak hal, terutama psikologis mereka sebelum melepasnya ke luar negeri.
Terakhir, untuk menjadi bahan renungan....Seberapa banyak sih ilmu yang kita dapatkan di negara maju tersebut akan bermanfaat di dalam kubur kita? Ingat saudaraku, hidup kita tidak akan lama...
Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.