Rabu, 14 Juni 2017

Antara Aku dan Non Mahramku...

Di dalam lingkungan masyarakat kita, permasalahan tentang siapakah mahram masih menjadi khilafiyyah. Padahal ada aturan yang jelas tentang hal tersebut di dalam islam. Dilematis memang, terutama bagi mereka yang memiliki keluarga besar. Ketika lebaran tiba, timbul rasa tidak enak jika bertemu di kampung, dan ada anggota keluarga yang tidak salaman. Apatah lagi jika orang tersebut sangat sering kita temui.

Masyarakat Indonesia sangat dikenal dengan keramahannya. Apalagi pada orang-orang yang memang dikenal dengan baik. Ketika terjadi pertemuan dengan mereka, akan sangat rancu jika kita tidak memberikan penghormatan dengan jabatan tangan. Ada kesan sombong di dalamnya. Dari pemantauan saya selama ini, ada banyak cara untuk memberikan salam tanpa harus berjabatan tangan. Salah satu contoh yang sering saya lihat adalah membungkukkan badan ala Jepang. Tapi, di dalam Islam pun, kita dilarang untuk rukuk, kecuali pada Allah Azza wa Jalla.

Lalu, bagaimana??? Seperti saya bilang tadi, ada banyak cara untuk memberikan salam tanpa harus berjabatan tangan. Entah dengan merapatkan tangan ke dada, sambil melemparkan senyum, asal jangan sambil lirik-lirik manja, karena yang dilemparkan senyum akan merasa digoda :P .
Atau bisa juga dengan mendekatkan (tanpa menyentuh) ujung-ujung jari kepada lawan bicara. Ada banyak cara untuk mengakali hal tersebut.

Larangan berhubungan dengan non mahram tidak hanya pada wilayah sentuhan saja, tapi juga dalam berbagai macam interaksi, termasuk dalam hal berduaan, saling pandang, dan hal lainnya. Satu hal penting lain yang mesti diketahui adalah perihal aurat. Ketika ditanya tentang aurat, maka kebanyakan dari kita tidak peduli jika kita tidak menutup aurat di depan non-mahram, bahkan di muka umum. Contoh saja ketika bermain sepak bola. Sangat banyak yang bermain sepak bola di depan umum tanpa menutup auratnya, padahal bisa saja menggunakan celana panjang. Begitu juga saat bertemu dengan non-mahram, banyak yang cuek saja, tanpa menggunakan hijab. Padahal kan seharusnya menggunakan hijab. Bisa jadi, hal itu karena belum paham tentang definisi mahram.

Dan yang terpenting adalah bagaimana senantiasa menjaga komunikasi. Karena komunikasi ini sangat penting agar tidak timbul kesalah pahaman dari pihak lain. Terkadang kita dianggap strict dan ekslusif hanya karena buruknya komunikasi kita dengan orang lain.

Bersamaan dengan tulisan ini, saya berharap agar keluarga-keluarga saya bisa lebih memahami tentang 'siapa mahram', begitu juga dengan teman-teman. Hal ini agar kita semua tetap bisa menjaga diri dari perbuatan dosa, menghilangkan rasa tidak enak, tapi tetap bisa nyambung dan klop dengan orang lain.

Adapun tentang, siapa mahram kita? Silahkan merujuk pada postingan yang saya share semalam. Semoga Allah memberikan kita semua hidayahNya. :)

Catatan Kaki:

Tentang tidak bolehnya ruku
http://ustadzaris.com/hukum-mencium-tangan-dan-membungkukkan-badan

Tentang siapa saja mahram kita
https://muslim.or.id/8481-siapakah-mahram-anda.html

Tentang larangan berjabatan tangan dengan non mahram
https://rumaysho.com/10109-hukum-berjabat-tangan-dengan-lawan-jenis.html

Tentang larangan bermain bola dengan celana di atas lutut
https://rumaysho.com/1807-aturan-islam-dalam-olahraga-sepakbola.html
About Muhammad Farid Maricar

Saya adalah seorang Muslim, seorang anak, seorang mahasiswa S-2, seorang warga negara Indonesia, yang sedang merantau di negeri Anime

You Might Also Like

0 comments:

Diberdayakan oleh Blogger.